
“Apah? Teriak jeno dengan keras, sehingga membuat seisi restoran kaget saat mendengarnya.
"Kenapa dia?bikin kaget saja!" memangnya dia siapa sih?" Gumam para pengunjung restoran dengan Raut wajah kesal.
Karena tiba-tiba bosnya berteriak, Galu lantas mencoba mendekatinya "Kenapa bos?" tanya galu, semakin gelisah di buatnya.
Mendengar Pertanyaan yang di lontarkan padanya, Jeno hanya mengacuhkan semuanya, dengan raut wajah yang masih terlihat kesal, marah yang bercampur begitu saja "Gak mungkin! kamu pasti bohong Jena!" Tak percaya jeno, dengan ucapan Jena yang baru saja di lontarkan nya.
"Aku tidak berbohong! Aku sudah menemukan calon yang tepat untukku! Apa kamu ingin mendengar suaranya...?" Tanya Jena, sembari senyum menyeringai, menatap laki-laki yang sedang duduk di kursinya, sembari mengunyah beberapa makanan.
"Heh, Memangnya Kamu pikir aku bodoh? kamu gak mungkin akan mendapatkan laki-laki yang cocok secepat itu, dan lam kurun waktu yang singkat! Sudah lama aku mengenalmu! kau sangat tidak suka dengan laki-laki yang baru kau kenal beberapa saat!" Tak percaya Jeno.
"Hahaha.. bilang saja kamu iri karena kamu belum menemukan wanita satupun yang mau sama kamu! atau mungkin seleramu yang ketinggian!" Ejek Jena dengan menatap sahabatnya yang ikut tersenyum.
"Kau?" Kesalnya mulai meluap.
"Sudah-sudah! Aku hanya ingin memberitahumu itu saja. Taruhan ini aku yang memenangkannya! Aku juga sudah mendapatkan laki-laki yang baik, yaitu Kevin hahaha...!" ketawa Jena dan langsung menutup telponnya.
Mendengar Ucapan Jena di akhir telpon, seketika membuat jeno sangat kaget saat mendengar. Dia lantas berteriak lagi dengan keras sembari memukul meja makannya.
"Apa? Kevin?"
Teriaknya lagi keras, yang membuat seisi ruangan semakin kesal pada jeno. melihat kekesalan semua pengunjung restoran, Galu mencoba menenangkan Bosnya itu dengan menepuk-nepuk punggung kekar Jeno.
"Bos tenang Bos! semua orang memperhatikan kita!" ucap Galu, menenangkan majikannya.
"Mana bisa aku tenang? jena sudah mendapatkan laki-laki untuk dijadikan suami dan apa kau tahu laki-laki itu siapa? dia Kevin!" kesal jeno, sembari mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.
"Apah?" kevin yang selalu mengejar nona Jena saat di sekolah dulu, Bos?"Kaget Galu, Atas ucapan bosnya itu.
"Iya! ini semua salahmu! gara-gara kau aku kalah dari Jena!" Marah Jeno tak terbendung.
"Ma-Maaf bos! tapi ini juga tidak semuanya salah saya bos! wanita itu saja yang terlalu lama!" Ucap Galu membela dirinya sendiri
"Sudah, batalkan saja pertemuannya! lebih baik aku mencari wanita yang dapat dikontrak selama setahun, dan ku jadikan istriku sementara! wanita seperti itu bisa ku atur!" kesal Jeno dan mulai beranjak pergi dari kursinya
"Wah, bos sangat mengerikan !" Gumam Galu, dengan tubuh yang gemetar hebat " Bos Tunggu..!" teriak Galu dan langsung mengekor bosnya itu dari belakang
Sesaat Jeno akan membuka pintu untuk keluar dari restoran itu, Tiba-tiba jeno berpapasan dengan wanita yang sudah janjian dengannya itu.
"Ma-maaf, aku terlambat!" ucapnya dengan terengah-engah dan gugup, pada Jeno yang sedang berdiri persis di hadapannya.
"Apakah wanita sialan itu adalah anda? beraninya anda membuat saya kesal dengan kehadiran anda ini? Gara-gara anda ini, saya sudah kalah!" Ucap Jeno begitu menusuk dan lantas berjalan pergi melewati wanita di hadapannya.
"Apah?" Wanita itu sontak terlihat sangat kaget, mendengar perkataan jeno yang terlihat marah besar padanya. Hal tersebut membuatnya mematung seketika.
Di saat yang bersamaan, galu ingin mengejar bosnya. Akan tetapi, Tiba-tiba matanya tertuju pada satu gadis yang berdiri kaku di depan pintu restoran di hadapan bosnya itu.
"Nina?"kamu nina kan?" tanya galu, Sedikit Ragu.
"Iya Galu! Aku Nina, teman sekolahmu dulu!" ucapnya dengan Begitu lesu.
"Jadi kamu yang mendaftar menjadi calon istri jeno? Aku lupa melihat wajahmu dan malah melihat identitas saja! jadi aku tidak berpikir itu kamu!"
"Iya! tapi sepertinya tidak jadi!" ucap Nina dengan Raut wajah yang begitu sedih dan kepala di tekuk menatap lantai.
Dari kejauhan, mendengar perkataan Galu dan Nina. Seketika raut wajah Jeno terlihat kaget, karena iya dipertemukan dengan Nina! orang yang iya kenal saat di sekolah dulu.
Tanpa basa-basi, Jeno lantas membalikan badannya dan langsung menghampiri Nina kembali.
"Apa kau benar -benar hina?" tanya jeno memastikan.
"Iya Jeno! Aku Nina! Maaf ya, Karena aku terlambat datangnya! tadi di jalan sangat macet sekali! Sekali lagi, maaf membuatmu kecewa!" ucap Nina dengan merasa bersalah.
"Aku tadinya kecewa! tapi karena itu kamu , aku bisa memaafkannya!" Ucap jeno sembari tersenyum, yang sontak membuat Galu kaget di buatnya. Karena dari dulu, Jeno tidak terlalu dekat dengan Nina, di karenakan Jena tidak menyukai Nina, yang di anggapnya bermuka dua.
" bos kenapa? kenapa dia tiba-tiba berubah seperti ini? apa dia depresi karena nona Jena memenangkan taruhannya?atau Bos sedang Kesambet? wah wah sangat misterius!" Gumam Galu, dengan menggelengkan kepalanya.
"Be-benarkah jeno? Jadi, kamu sudah memaafkan ku?" Terimakasih Jeno!" senang Nina, tak terbendung.
"Iya! sekarang kamu boleh pulang!" ucap Jeno, yang membuat raut wajah Nina kembali sedih.
"Apah? Jadi maksud kamu itu, kamu tidak menerima aku menjadi calon istrimu?"
Kecewa Nina.
"Tidak! Siapa bilang aku tidak akan menjadikan mu calon istriku? aku menerimamu! akan aku hubungi kamu lagi, saat pertemuan kita berikutnya! sekarang Aku sangat lelah!" ucap jeno dengan begitu manis.
"ka-kamu serius Jeno?" tanya Nina memastikan
"iya!"
__ADS_1
"Apah?' Teriak Galu keras, atas keputusan bosnya itu.
karena Teriakan Galu, semua orang sangat kaget di buatnya, termasuk juga Jeno " berisik kau!" bentaknya dengan keras.
"Ma-maaf Bos! saya tidak sengaja!" ucap galu sembari menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangannya.
"Nina! aku pulang dulu ya? nanti aku akan hubungi kamu lagi! Dan sekali lagi aku minta maaf karena telah membentak mu"
"Iya Jeno! Terimakasih banyak, karena kamu sudah menerimaku!" ucap Nina berbunga-bunga
"Hmm, Ayo cepat Galu!" ucap jeno kembali dingin dan langsung pergi meninggalkan Nina ,sembari di ikuti Galu dari belakang dengan raut wajah yang masih tak menyangka, atas kepuasan bosnya.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil. galu langsung bertanya kepada bosnya itu, dengan alasan menerima Nina sebagai istrinya dengan begitu mendadak.
"Bos! Kenapa bos menerima Nina begitu saja? Bos kan tahu nona Jena sangat tidak suka dengan nona Nina!" ucap Galu mengingatkan.
"Itu adalah tujuanku! aku ingin membuatnya kesal dan marah padaku! lagian aku lihat Nina cukup baik! saat di sekolah dia sangat lugu, dia juga pintar! jadi apa salahnya memilih dia?" Ucap Jeno, sembari memejamkan matanya
"Tapi bos! Apa Bos lupa? nona jena pernah bilang kalau Nina itu bermuka dua! dia hanya pura-pura baik di sekolah tapi aslinya tidak seperti itu!"
"Aku tidak peduli! mungkin saja jena hanya mengompori, agar semua orang menjauhi Nina!" elak Jeno.
"Tapi bos! nona Jena tidak seperti itu!" bela galu, dengan sangat yakin
" Sekali lagi kau membelanya! akan ku pecat kau!" Ancam Jeno, sembari menatap Tajam Galu yang sedang mengemudi
Mendengar hal tersebut galu hanya bisa diam
" Apa artinya Bos sudah dibutakan dengan kekalahan ini? bos akan sadar sendiri l, tapi menurutku nona jena pasti tidak pernah bohong!" Percaya Galu dalam lubuk hatinya.
di sisi lain, Jena dan Kevin sudah selesai makan. Setelah makan, mereka berdua menyempatkan diri untuk mengobrol bersama tak mengenal waktu. Tak berselang lama, kevin berpamitan kepada Jena dan maya, yang kebetulan sudah tidak bersembunyi lagi.
Maya dan Jena lantas mengantarkan Kevin sampai ke depan Restoran tersebut
"Jena! Maya! aku pulang ya? dah..!" Teriak kevin dalam mobil sembari Melambaikan tangannya yang kekar ke arah Jena dan Maya
Mereka Yang melihat hal tersebut lantas menganggukkan kepalanya dan juga melambaikan tangan mereka ke arah Kevin. Tak selang lama, mobil Kevin melaju meninggalkan Restoran tersebut.
Setelah Memastikan Kevin sudah pulang. Jena dan Maya juga pulang dari restoran tersebut dengan mobil mereka masing-masing, meninggalkan para Bodyguardnya yang sedang asik makan di restoran tersebut dengan begitu lahap
***
Setelah masuk ke dalam rumah. Dengan Lelah Jena membaringkan Tubuhnya di ranjangnya yang empuk, sembari tersenyum, mengingat dirinya sudah Memenangkan Taruhannya dengan Jeno.
"Bagaimana Tuan muda Jeno? Apa kamu sekarang sedang menangis karena meratapi kekalahan mu itu? sungguh kasihan sekali!" Ucapnya dengan Tertawa pelan. "Siapa suruh kau sombong padaku! Dasar laki-laki!" lanjutnya.
Ruang kerja Jeno
Jeno sedang duduk di ruang kerjanya, dengan ditemani oleh Galu yang sedang duduk di sofa, tapi raut wajah Galu terlihat sangat ketakutan dan tubuhnya yang terlihat gemetar, saat dirinya terus di tatap tajam oleh bosnya itu.
"Galu!" panggil jeno dingin.
"Siap bos!" Ucapnya lantang dan langsung berdiri dari duduknya dan menghadap jeno lebih dekat ." bisa saya bantu Bos?" Tanya Galu dengan hormat
"Kau boleh pergi sekarang!" Suruh jeno datar, sembari mengalihkan pandangannya pada pekerjaannya yang lumayan menumpuk di meja
"Wah pasti Bos sudah memaafkan ku!, baik juga!" ucapnya dalam hati.
"Baik Bos, terimakasih!" Ucap Galu senang sembari mulai berjalan keluar dari ruang kerja Jeno.
Sebelum galu membuka pintu ruangan tersebut, tiba-tiba Jeno bergumam dengan agak keras.
"Kamu harus membersihkan kantor selama sebulan, dan tidak digaji untuk bulan ini!" ucap jeno singkat, namun sangat menyayat hati kecil Galu.
Mendengar ucapan Bos nya, Galu sangat kaget kaget kaget se kaget kaget nya! iya ingin memberi pembelaan tapi iya tidak bisa melakukannya karena takut mendapatkan hukuman yang semakin parah.
"Ba- baik bos...!" pasrah galu dan langsung meninggalkan ruangan jeno dengan hati yang terasa tersayat.
"Teganya kamu bos..bos...,huh! ini semua gara-gara kamu Nina!" Kesal Galu dalam hatinya.
Melihat galu yang sudah pergi dari ruangan ya, Jeno langsung mengambil handphonenya dan segera menelepon Jena.
Di sisi lain jena baru saja selesai mandi. Saat sedang mengeringkan rambutnya yang basah, Tiba-tiba terdengar Hanphonenya berbunyi. Dengan raut wajah kesal, Jena lantas menghampiri Hanphonenya, yang iya simpan di Meja riasnya.
"Siapa sih yang telepon? pengen istirahat saja ada yang ganggu!" keluhnya.
Saat sudah duduk di meja riasnya, Jena lantas mengambil Hanphonenya. Alangkah kagetnya iya, Saat melihat panggilan dari Jeno yang cukup banyak di Hanphonenya. Karena merasa panggilan itu penting, jena lantas mengangkat teleponnya. Baru saja Telphone nya iya angkat, Jeno langsung marah-marah padanya dari telphone, Yang seketika membuat telinga Jena terasa sakit saat mendengarnya.
"Kamu Kenapa lama sekali mengangkat teleponku?" Tanya Jeno sangat kesal.
"Diam! Kau sangat berisik! Aku baru saja keluar dari kamar mandi!" kesal Jena " Memangnya ada apa kamu meneleponku?" lanjutnya.
__ADS_1
"Aku hanya mau memberitahu mu! Di rumahmu tidak ada siapa-siapa! hati-hati di sana! jangan lupa kunci pintu!" Ucap Jena mengingat kan.
"Kenapa kamu tahu di rumahku tidak ada siapa-siapa?" tanyanya penasaran, atas ucapan Jeno.
"Semua orang yang ada di rumahmu Dan di rumahku, sedang pergi ke suatu tempat! mereka lupa memberitahumu! jadi mereka meminta aku memberitahumu, karena ibu mu khawatir kamu mencarinya!" Ucap Jeno jutek.
"Memangnya mereka semua kemana?" Tanya Jena penasaran.
"Aku juga tidak tahu! Oh iya, jangan lupa kunci pintu Rumah! sebentar lagi malam tiba jika ada sesuatu telepon saja aku!" ucap jeno dingin dan langsung mematikan teleponnya secara sepihak.
"Apah?"
tiit.....
Mendengar Suara telphone yang terputus, Jena lantas menaruh Hanphonenya dengan kesal di meja rias. Sembari menatap dirinya sendiri di depan cermin "Cih! dia mematikan teleponnya begitu saja? dasar laki-laki aneh!". Kesal Jena, atas perilaku Jeno yang selalu susah di tebak.
Malam hari
Di sebuah Kamar yang mewah dan Luas, Terlihat Jena sedang berbaring di ranjangnya, dengan perasaan Yang campur aduk. Sesekali iya melihat Sekeliling kamarnya yang terlihat begitu luas dan sunyi. yang membuatnya merinding ketakutan karenanya.
"Baru kali ini aku di tinggalkan sendirian di rumah sebesar ini! Bahkan semua penghuni rumah pergi dan Hanya aku seorang diri! Satpam pun di ajak pergi! Bagaimana Coba, jika ada pencuri Yang datang? Memangnya mereka semua tidak memikirkan putri kecilnya ini? Bagaimana jika aku terluka? tega sekali, Huaaaa!" Ucap Jena, Sangat kebingungan dan ketakutan.
Tuk..tuk...tukk
Saat sedang meratapi dirinya, yang seperti tidak di Butuhkan. Tiba-tiba Jena mendengar suara ketukan dari jendela luar kamarnya. Mendengar hal Tersebut, Sontak saja Jena semakin Ketakutan di buatnya.
"Ba-bagaimana bisa ada suara di balik jendela kamar ku?" kamar aku kan berada di lantai tiga? bahkan pepohonan pun tidak ada yang sampai! jadi itu suara apa?" Pikir Jena, dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya.
Saat Iya sedang berpikir mengenai suara tersebut, Tiba -tiba ketukan itu semakin keras Terdengar. Yang sontak membuat Jena sangat takut dan langsung menutupi badannya dengan selimut yang Tebal.
"Aaa.. itu apa?" Panik Jena.
Di sisi lain
Di Taman Yang berada di samping Kamar Jena, Terlihat Maya sedang berdiri bersama dengan sahabatnya Yang bernama Sino. Maya Terus Mengumpulkan kerikil dan memberikannya pada Sino. Sini yang Di beri kerikil Tersebut, lantas terus Melempari Kaca jendela Jena, tanpa Jena ketahui. Karena mereka berdua, sudah di Utus oleh Ibu Jena untuk menakuti Jena di rumahnya.
"Sino! cepat lempari lagi! kata Tante Marisa, kita harus membuat Jena takut! Cepat! lempar terus yang tinggi, Biar Jena semakin takut! Supaya Jeno datang dan menemani Jena!" ucap Maya pelan, pada sahabatnya.
"Iya-iya! lagian bukannya Jena sudah punya pasangan baru? kau sendiri yang memberitahu ku! Lalu kenapa Kau mendukung Jena harus tetap sama Jeno?" Tanyanya penasaran.
"Sudah jangan bahas itu! kita harus mendukung Tante Marisa! Jadi cepat terus lempari!" Suruh Maya, pada sahabatnya itu.
"Iya-iya! Aku mengerti!" Angguknya.
Dengan Sekuat tenaga, Sino terus menerus melempari batu kerikil ke arah jendela kamar Jena, Yang begitu tinggi. Hal itu sangat mudah baginya, karena iya seorang Atlet lempar jauh yang terkenal.
Di Kamar Jena
Karena Suara Tersebut yang tak kunjung berhenti, Jena sudah Terlihat sangat ketakutan. Iya tidak tahan mendengar suara Tersebut, yang terus Muncul tanpa henti. Dengan Perasaan yang campur aduk, Jena segera mengambil handphonenya dan langsung menghubungi Jeno dengan sepontan.
Di waktu yang bersamaan.
Terlihat Jeno sedang duduk di Kursi kerjanya, Sembari mengecek dokumen-dokumen yang begitu penting. Yang iya tinggalkan karena kejadian Kemarin.
Saat sedang Sibuk-sibuknya memeriksa semua dokumen. Tiba-tiba Hanphonenya Berbunyi terus menerus. Jeno Yang mendengar Hanphonenya Berbunyi lantas mengangkat telponnya.
"Iya?" ucapnya, dengan mata yang masih tertuju pada pekerjaannya.
"Jeno!...Huaaaa!"' Teriak Jena sembari menangis dengan keras.
Mendengar Suara Jena yang menangis, sepontan Jeno langsung menghentikan pekerjaannya"loh? kamu kenapa?"bingung Jeno, dengan raut wajah panik.
"Jeno! ada yang mengetuk jendelaku terus menerus! Aku takut! Huaaa!" Tangis Jena semakin Keras.
"Mana mungkin ada yang bisa mengetuk jendela kamarmu? kamarmu sangat tinggi Jena! kamu jangan membohongiku!" Ucap Jeno dengan Ragu.
"Huaaaa....aku tidak berbohong ! Aku serius!" Tangis Jena semakin keras.
"Sudahlah jangan membohongi ku! aku sedang banyak kerjaan! Dan ku tidak mungkin tertipu oleh mu!" Ucap Jeno, semakin meragukan
"Aku tidak bohong! aku......"
Sebelum Jena menyelesaikan ucapannya.l, Tiba-tiba
"Prakkk"
Kaca kamar Jena pecah, oleh sebuah Batu besar yang menghantam Kaca, hingga hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai kamar Jena. melihat Hal tersebut, Sontak Jena Melempar Handphone dan berteriak dengan Keras.
"Ahhhhhhhh"
..
__ADS_1