Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy

Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy
Bab 10


__ADS_3

Kanaya merasa terhina, mengapa harus selalu tentang uang, pertama dengan Doni dan sekarang dengan Alex meskipun di tempat yang berbeda.


Kanaya membalas tatapan Nyonya Maria, "Aku tidak bisa meninggalkan suamiku." Ia menjawabnya dengan sopan, tapi tegas dan wajah mama mertuanya seketika menjadi marah dan tanpa sepatah kata pun meninggalkan ruangan.


***


Kanaya bangun keesokan paginya. Namun, ia tidak mendapati Alex disampingnya, membuat ia bertanya-tanya dimana dia menghabiskan malamnya. Ia tahu bahwa pernikahan mereka hanya sebuah sandiwara, tetapi dia harus memperlakukannya sebagai seorang istri, di mata kedua orang tuanya.


Terdengar ketukan pintu, akhirnya, ia memilih untuk menurunkan kedua kakinya untuk melihat siapa yang datang. Pasti itu mama mertuanya yang akan menghujat ia lagi.


"Sarapan sudah siap, Noan," pelayan berbicara dengan ramah seraya menundukkan kepalanya kebawah. 


"Jangan seperti itu!" ucap Kanaya yang tidak terbiasa dengan perlakuan seperti ini. "Siapa namamu?" tanya Kanaya. Ia merasa bukan orang yang harus dihormati.


"Sary, nona Kanaya," jawabnya masih ragu-ragu menatap wajah istri sang majikannya.


 "Kamu punya nama yang bagus," puji Kanaya.


Mary menatap mata nona mudanya sesaat dan mengangguk. Ia tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapi pujian itu, ia takut salah dan menyebabkan ia kehilangan pekerjaan.


"Dengar, Sary, kamu tidak harus terlalu formal denganku, oke. Kamu tahu, aku baru disini dan kita bisa jadi teman, apakah kamu keberatan menjadi temanku?"


“Tidak, nona Muda,” Sary menjawab dengan antusias. Ia melirik istri baru bosnya dan bertanya-tanya wanita seperti apa dia? Sehingga dia ingin berteman dengan seorang pelayan belaka seperti dirinya.


 Kanaya tersenyumnya, lega rasanya, ia bisa memiliki seorang teman dirumah ini, di mana ia tidak mengenal siapapun dan mama mertuanya memusuhi ia.

__ADS_1


"Jadi, sarapan apa?" tanya Kanaya agar mencoba akrab dengan teman barunya itu. Ia sudah tidak punya teman lagi, satu-satunya teman telah berkhianat.


 "Nasi goreng, telur, dan beberapa sayuran," Sary menjawab dengan cepat.


 "Kedengarannya sangat nikmat, aku akan segera turun setelah mandi," ucap Kanaya.


"Apakah kamu butuh bantuan?"


"Tidak Sary, aku baik- baik saja, kamu bisa pergi," jawab Kanaya.


Kanaya dengan cepat mengenakan salah satu gaun yang ia pilih sebelum ia turun.


Di meja makan banyak disajikan makan, yang menurutnya akan mubazir jika tidak habis dimakan oleh mereka. Ia melihat sekeliling rumah, berharap untuk melihat Alex yang dari malam tidak ia lihat.


 "Jangan repot- repot mencarinya," ucap Nyonya Maria muncul dan semua para pelayan bergegas pergi.


"Sepertinya kamu tidak menghabiskan malam bersamanya," ucap Nyonya Maria.


Kanaya mendelik mendengar sindirannya, "Tidak masalah, kami baik-baik saja."


"Apakah kamu yakin kalian berdua baik-baik saja? Jika kalian baik-baik saja, dia akan menghabiskan malam dan bahkan sepanjang hari dengan istri barunya dan tidak di luar sana, mungkin saat ini dia sedang berpelukan dengan wanita lain," ucap Nyonya Maria.


"Kalian baru saja datang ke sini, bukankah seharusnya dia menemani kamu untuk menetap sebelum melakukan yang lain?" ucap Nyonya Maria lagi, saat melihat Kanaya terdiam.


"Aku percaya apapun yang dia lakukan, dia tidak akan meninggalkanku sendirian. Dia akan segera kembali," ucap Kanaya berbalik dan kembali ke kamarnya sebelum ia mengisi perutnya.

__ADS_1


Ia harus merubah dirinya untuk menjadi kuat, dan berani melawan orang yang menindasnya agar ia tidak ditindas oleh mereka. Jujur ia merutuki dirinya yang tidak pernah mendapatkan takdir yang mujur. Mungkin memang ini garis hidupnya yang selalu berkelok-kelok untuk menuju titik kebahagian.


***


Alex telah menelepon asisten pribadi papanya pada malam sebelumnya, mengatur pertemuan dengannya, mereka akan bertemu di kedai kopi keesokan harinya. Ia tahu asisten itu setia kepada papanya dan akan membantunya dengan apa pun yang ia inginkan.


Malam itu ia telah menghabiskan malam di ruang kerja papanya mencoba membaca katalog bisnis, ia harus bertanggung jawab atas perusahaan papanya sampai dia bangun dari komanya. Ia akan melakukan segalanya untuk menjaga perusahaan tetap berjalan sampai papanya bangun dan akan menyerahkan pada siapa nanti. Sebenarnya ia tidak tertarik dengan bisnis ini, matanya terasa sakit karena melihat begitu banyak angka dan tulisan-tulisan yang begitu banyak.


Ia menggosok matanya dan melirik arlojinya, sudah menunjukan 03.00 pagi, ia tahu seharusnya ia berada di kamarnya bersama Kanaya. Tetapi ia berpikir untuk memberinya waktu, lagipula, dia hanya orang asing baginya. Dia mungkin perlu waktu sendirian untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru ini, sehingga ia memutuskan untuk tidur di ruang kerja.


Alex bangun sebelum siapapun bangun dan berangkat untuk menemui asisten pribadi papanya, Jake. 


"Saya senang Tuan Muda kembali ke rumah. Tuan besar akan sangat senang kalau tuan muda pulang," ucap Jake.


Alex mengangguk. Kemudian Jake perlihatkan jadwal  tuan besarnya sebelum dia jatuh sakit, dia memiliki banyak pertemuan yang telah dibatalkan. Jake menunjuk pertemuan yang  dilewatkan, yang mempengaruhi bisnis pada perusahaan.


Alex dan Jake bicara panjang lebar, hampir satu jam mereka membahas papa dan perusahaan.


 "Aku akan meneleponmu saat aku membutuhkan bantuanmu," ucap Alex yang di jawab anggukan oleh Jake.


 Setelah Jake pergi, Alex duduk sejenak merenungkan apa yang akan ia lakukan ke depan. Kini ia harus pulang dan berganti untuk janji yang ia miliki hari ini.


Alex berdiri untuk keluar, tetapi saat ia melangkah ia menabrak seseorang.


"Ya Tuhan! Maafkan aku."

__ADS_1


Alex mendengar suara sangat familiar, ia segera mendongakan kepalanya. 


"Alex," ucap wanita itu.


__ADS_2