Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy

Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy
Bab 12


__ADS_3

Alex menatapnya sejenak atas penolakan Kanaya. Selama ini ia dapat memiliki wanita manapun yang ia inginkan, tidak ada yang pernah menolaknya. Sementara Kanaya. 


Alex segera masuk ke dalam kamar mandi, untuk mengguyur tubuhnya yang telah panas dingin di buat oleh wanita yang tak mau bertanggung jawab itu.


Kanaya sedang duduk di tempat tidur, ketika Alex keluar dari kamar mandi, ia merasa bersalah atas apa yang terjadi. Tak seharusnya ia bersikap seperti itu, dia telah menolong dirinya. Ia harus meminta maaf dan menjelaskan kepadanya bahwa ia takut akan perasaannya jika ia melakukannya tadi. 


Ia tidak ingin mengalami patah hati untuk kedua kalinya.


"Alex," panggil Kanaya. 


Kanaya menatap Alex yang kini memakai pakainya. 


"Aku perlu bicara denganmu," ucap Kanaya lagi saat Alex tetap tidak merespon panggilannya.


"Alex, tolong dengarkan aku. Maafkan aku, oke?" pinta Kanaya.


"Kamu tidak perlu minta maaf," jawab Alex dingin sambil mengambil kunci mobil dan meninggalkan ruangan.


Kanaya mondar-mandir dengan perasaan gelisah, mengapa dia tidak mendengarkannya? Pokoknya saat dia kembali, amarahnya pasti berkurang dan dia harus mendengarkannya penjelasannya.


***


Keesokan harinya, Kanaya berada di meja makan untuk mengisi perutnya yang sejak kemarin siang tak ia isi. Saat ia sibuk menikmati makanannya, tiba-tiba mertuanya masuk dan duduk bergabung. 


Kanaya meliriknya, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa padanya karena Alex belum kembali sejak semalam. Ia juga bingung kemana perginya dia.


"Kau sudah melihat majalah tadi pagi?" Nyonya Maria bertanya.


"Aku tidak tertarik membaca koran atau majalah," jawab Kanaya singkat.


"Oh, kupikir kamu pasti tertarik," ucap Nyonya Maria. 


Nyonya Maria segala meletakkan majalah yang baru saja terbit kemarin itu di atas meja. Pastinya dengan memperlihatkan Alex dengan Zuna yang sedang berciuman.


Kanaya yang melihat gambar suaminya sedang berciuman dengan seorang wanita yang tidak memperlihatkan wajah wanitanya. Serta gambar lain menunjukkan Alex sedang berpelukan dan tangan wanita yang memakai pakaian yang sama itu dikalungkan di leher suaminya.


Seketika dadanya merasa sangat sesak. Ia bingung kenapa ia merasa sedikit kecewa.


"Dia siapa?" lirih Kanaya tanpa sadar.


"Dia adalah cinta pertama Alex, mereka juga bertunangan sebelumnya. Sepertinya mereka telah baikan lagi," ucap Nyonya Maria dengan senang hati menjelaskannya kepada Kanaya. Ia pun tersenyum penuh kemenangan. 


Kanaya yang tidak tahan lagi mendengar penjelasan dari mama mertuanya, ia berdiri dan pergi menuju ke kamarnya. Ia juga bingung dengan hatinya saat ini, ia jatuh cinta dengan Alex atau mungkin ia hanya sedih karena mengingat pengkhianatan Doni dan sahabatnya. 

__ADS_1


***


Alex terusik karena suara getaran ponselnya. Ia bergegas untuk bangkit, namun kepalanya terasa berdenyut hebat. Mungkin efek dari semalam yang terlalu banyak minum.


"Ya, Jake, ada apa?" tanya Alex.


"Tuan Alex, saya ingin memberitahu Anda," ucap Jake terbata-bata.


Alex mengerutkan kening dan berpikir apa yang akan disampaikan oleh tangan kanan papanya. Dengan cepat ia bersandar di dipan ranjangnya.


"Bicaralah Jake, ada apa?" pinta Alex yang tak sabar akan mendengar apa itu.


"Tuan, apakah Anda sudah melihat majalah atau berita pagi ini?" ucap Jake.


Alex mengerutkan kening, ia baru saja bangun. Jelas ia belum membaca berita itu.


"Tidak Jake, apa yang terjadi?" 


"Tuan, saya pikir Anda perlu melihatnya, saya pikir itu mungkin mempengaruhi janji temu Anda dengan rekan bisnis Tuan Besar," ucap Jake.


Dengan cepat Alex menutup sambungan teleponnya. Ia bergegas mencari dalam gawai pintarnya untuk melihat berita terkini.


"Cinta Lama bersemi kembali." Alex membacanya dengan memperhatikan fotonya yang terpampang jelas di halaman depan. Kini tangannya mengepal, ia merasa ada yang sedang menjebak dirinya.


 "Apa karena berita itu semua akan batal, jangan bercanda," ucap Alex.


"Tapi Tuan Alex, mereka meminta Anda menunda pertemuan ini," jawab Jake.


Alex menarik napas dalam-dalam lalu berbicara, "Aku tidak membatalkan, jika kamu ingin tetap bekerja denganku."


Setelah berbicara Alex menutup telepon, pertemuannya tidak akan dibatalkan dengan alasan apapun, apalagi untuk berita gosip murahan itu. 


Ia bergegas bersiap untuk pergi ke tempat rapat yang telah dijadwalkan kemarin, berharap yang dikatakan oleh Jake tak benar.  


Di tempat berbeda, Kanaya mondar-mandir di kamar, mungkin inilah penyebab dia tidak pernah bermalam di rumah.


Kanaya yang merasa lelah, ia menggosok matanya yang sedikit sembab akibat menangis. Kini ia lelah selalu berada di dalam ruangan, ia perlu melakukan sesuatu. Saat ia beranjak berdiri, ia mendengar seseorang sedang mengetuk pintu kamarnya.


"Sary, yo masuk!" ajak Kanaya merasa sangat. "Sary, adakah yang bisa aku bantu, aku bosan di sini?" ucap Kanaya.


Mata Sary terbelalak, "Kamu adalah istri tuan muda, kamu tidak boleh melakukan apa-apa. Apa yang ingin kamu lakukan, aku akan melakukannya untukmu?"


Kanaya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak, Sary, aku merasa sangat bosan, aku hanya ingin sibuk, untuk menjauhkan pikiranku dari beberapa acara," ucap Kanaya menundukkan wajahnya ke bawah.


Sary menatap Kanaya, ia merasa bersimpati pada istri tuannya itu.


 "Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu tenang saja, itu semua  tidak benar," tutur Sary.


Kanaya menatapnya, "Apa maksudmu?" 


"Maksudku, wanita itu menyakiti tuan muda di masa lalu, aku yakin taun muda juga akan setia dengan kamu. Kamu istri yang cantik dan baik, berbeda dengan dia, yang licik dan jahat," jelas Sary.


Kanaya tersenyum tipis, "Aku tahu kamu bicara seperti ini tadi untuk menghiburku agar tidak sedih. Akan tetapi gambar itu tadi tidak bisa berbohong, kan?" 


"Pasti ada kesalahpahaman," sahut Sary. "Kalau begitu aku pamit untuk melakukan  pekerjaanku kembali, aku tidak mau nenek lampir murka lagi," imbuhnya lagi dan Kanaya mengangguk.


"Tuan mudamu bebas melakukan apa yang dia inginkan, dia tidak berhutang penjelasan apapun padaku," lirih Kanaya mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan kata-kata itu seraya menatap punggung Sary yang hilang dibalik pintu kamarnya.


Untuk menghilangkan rasa bosan, ia keluar kamarnya untuk berjalan-jalan disekitar mansion mewah keluarga suaminya.


Saat ia sedang berjalan di sepanjang koridor, tanpa sengaja ia mendengar suara rintihan datang dari dalam kamar. Ia akhirnya mengikuti suara dan memasuki kamar itu. 


Sebelumnya ia mengetuk pintu berulang kali, tapi tidak ada respon. Ia pun akhirnya masuk, dan kedua netranya mengarah ke seorang pria sedang berbaring di tempat tidur dan seorang perawat sedang mencoba memberinya makan.


"Ini pasti papanya Alex," batin Kanaya. Ia mendekat untuk lebih mengenal papa mertuanya yang akan ia anggap papanya sendiri nanti.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Kanaya.


Perawat yang terkejut itu hampir menjatuhkan piring yang berisi makanan karena melihat Kanaya di kamar.


"Kabarnya …." ucapannya dipotong oleh Nyonya Maria yang tiba-tiba masuk.


"Kenapa kamu berani masuk ke dalam kamarku," hardik Nyonya Maria yang tidak suka ada yang masuk ke dalam kamarnya tanpa seizin dirinya.


 "Ak … aku  hanya …," belum selesai Kanaya menyelesaikan ucapannya juga sudah dipotong oleh Nyonya Maria.


 "Simpan penjelasanmu untuk lain hari, silakan pergi," usir Nyonya Maria.


"Tapi …." Kanaya menyela.


 "Aku bilang pergi!" teriak Nyonya Maria.


Kanaya hanya mampu berbalik dan keluar, ia harus ingat kalau ia pendatang baru.


"Jangan lupa tutup pintu! Sekali lagi kamu harus tahu batasanmu disini," ucap Nyonya Maria.

__ADS_1


Kanaya berlari keluar rumah, mengapa Nyonya Maria  sangat marah. Padahal ia masuk ke dalam hanya ingin melihat bagaimana keadaan Tuan Damar.


__ADS_2