Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy

Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy
Bab 34


__ADS_3

"Tolong Alex, aku ingin berbicara denganmu," ucap Kanaya dengan menatap Alex. Tatapannya memohon agar Alex mau mendengarkannya, tetapi Alex melewatinya begitu saja.


 "Aku punya urusan penting."


"Tolong Alex, tunggu sebentar!" pinta Kanaya  berlari mengejar Alex.


Alex yang melihat Kanaya mengejarnya ia berputar, "Aku tidak punya waktu walaupun itu hanya sebentar."


"Ku mohon, Alex," pinta Kanaya.


Setelah terdiam.


"Aku akan punya waktu tetapi …." Alex menjeda ucapannya lalu menatap ke arah Kanaya yang kini tampak berseri bahagia mendengarkan ucapannya. “Setelah kamu menandatangani surat cerai kita," lanjut Alex menyelesaikan ucapannya.


Kanaya merasa seolah-olah ia diangkat tinggi lalu dihempaskan begitu saja ke tanah. Ia terhuyung-huyung, kehilangan keseimbangan. Ia menatap Alex seraya bertanya berharap yang baru saja ia dengar salah, "apa?"

__ADS_1


"Aku akan mengirimkan surat cerai kepadamu dengan cepat, dan segera tandatangani," ucap Alex. "Mungkin setelah itu aku punya waktu luang," ucap Alex.


"Aku tidak akan menandatangani surat cerai." Kanaya berbisik tepat di telinga Alex. Lalu ia berjalan mundur dan berhenti sejenak, ia pikir dia akan mendekatinya tetapi dia tidak mengatakan apa-apa saat dia berjalan keluar pintu.


Kanaya sedang duduk di kamarnya di kamar pelayan lebih tepatnya. Ia merasa tertekan, Alex ingin menceraikannya, ia sepertinya tidak bisa memikirkan hal lain selain itu.  Ia tidak akan menandatangani surat cerai, ia tidak akan pergi, dengan begitu, ia harus melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah.


Ketukan terdengar di pintunya dan ia melihat Sari masuk.


Sari memandang Kanaya dengan penuh simpati. Ia berjalan mendekat lalu ia duduk di tempat tidur dekat dengan Kanaya, "Kamu belum makan sejak tadi, kamu harus mengisi perut kamu."


"Tapi kamu harus makan sesuatu, Tuan Alex hanya marah padamu, pasti besok juga tidak lagi," ucap Sary meyakinkan Kanaya.


Kanaya mencemooh kata-katanya, "Tidak semudah itu. Dia marah dan ingin kita bercerai, padahal aku tidak melakukannya, aku dituduh dan difitnah," kata Kanaya. Ia sekarang sangat membutuhkan seseorang untuk mempercayainya. "Menurut kamu apakah aku melakukan hal seperti itu?" tanya Kanaya.


Tatapan Sary tidak jelas sambil mengangkat kedua bahunya. Ia baru mengenal Kanaya, maka ia tidak tahu pasti bagaimana wanita yang kini ada di depannya. 

__ADS_1


 "Bukan masalah apakah benar atau salah, kamu tidak bisa menyalahkan tuan karena marah kepada kamu, dia melihat kamu dan pria itu di tempat tidur. Berita ada di mana-mana di koran, aku yakin itu akan mempengaruhi bisnisnya juga," jelas Sary.


Kanaya merasakan kepedihan di hatinya, hal terakhir yang ia inginkan adalah Alex mengalami kesulitan karena ia, ia menggelengkan kepalanya, "Aku tahu dia marah mengingat dia memperingatkanku untuk menjauh dari Stefan, tapi percayalah. Aku, aku tidak tahu bagaimana akhir aku bisa di tempat tidur dengan dia."


Sary menyentuh tangannya dengan penuh simpati, "Berikan waktu, semuanya akan terungkap. Kamu harus makan dan menjaga kesehatanmu untuk mencari bukti kalau kamu memang benar tidak bersalah."


"Tapi dia ingin bercerai secepatnya." Kanaya berbisik kini air mata mengalir di pipinya.


 Sary dengan cepat memeluknya.


"Jangan pikirkan itu," ucap Sary. Ia melepas pelukannya lalu menyeka air mata Kanaya dengan telapak tangannya. "Aku akan ke dapur untuk mengambil sesuatu untuk dimakan," lanjut Sary berdiri dengan cepat untuk pergi ke dapur.


Kanaya masih memikirkan apa yang harus dilakukan ketika ia mendengar teriakan, kepalanya tersentak. Ia dengan cepat berdiri dan mengikuti keributan itu ke dapur, Mariana mengumpat pada Sary, sepiring makanan dilempar ke lantai.


"Jadi, kamu pikir kamu masih nyonya sehingga kamu punya nyali untuk mengirim pelayan untuk melayanimu," ucap Mariana menyalakan Kanaya yang kini berdiri tak jauh darinya. "Aku ingatkan bahwa kamu sekarang tidak lebih dari budak di rumah ini?"

__ADS_1


__ADS_2