Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy

Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy
Bab 14


__ADS_3

Siang itu, Kanaya diberi tahu oleh Sary, akan tempat tinggal Alex. Dengan bermodalkan alamat yang ada di kertas itu, ia bergegas untuk kesana. Ia ingin meminta solusi dan membahas hubungan ini, walaupun hanya sebuah perjanjian, ia tak bisa tinggal diam disini dan diperlakukan tidak baik oleh Nyonya Maria.


 


Kanaya membayar ojek yang membawanya dan berlari masuk ke dalam. Saat ia berada di lantai dimana Alex tinggal, ia satu persatu melihat angka yang terpasang di pintu. 


"Ini dia," lirih Kanaya.


Tangannya terulur untuk menekan tombol, akan tetapi pintu sedikit terbuka. Ia pun dengan lancangnya memasukkan sedikit kepalanya untuk mengintai.


"Alex," ucap Kanaya. Kini detak jantungnya berdebar kencang. Tangannya mengepal, melihat suaminya yang berada dalam dekapan seorang wanita. 


Alex mendengar samar-samar suara yang familiar, ia berusaha  untuk membuka matanya. Dengan perlahan akhirnya ia mampu  membuka kedua matanya dengan sempurna.


"Kamu," ucap Alex.


Kanaya hanya mampu berdiri ditempatkan, tubuhnya seketika terasa kaku. Otaknya hanya berisi keluh kesahnya yang menganggap takdir ini tidak adil baginya. Mungkin juga ini semua karna atau kutukan baginya. Tapi, siapa yang tega mengutuk dirinya padahal selama ini ia tak pernah melukai siapapun, seingat dirinya.


Alex membuka matanya dan mencoba berdiri dan ia mulai memutar kembali ingatan. Pasti dia telah memasukkan sesuatu ke dalam minumannya, 


"Apa yang kamu masukkan ke dalam minumanku?" erang Alex.


"Aku tidak melakukan apa-apa, tidakkah kamu ingat? Kita berciuman dan kamu sangat menyukainya, bukan begitu yang kamu katakan tadi," ucap Nicole berbohong.


"Pembohong, kamu sangat murahan, sekarang keluar dari sini sebelum aku berubah pikiran dan mencekikmu, kamu tahu, jika aku harus membunuhmu di sini tidak ada yang akan tahu atau mencurigaiku," ucap Alex dengan mata yang menghunus tajam bagaikan pisau yang baru saja di asah.


Nicole terlihat sedikit ketakutan tetapi ia menguatkan tekadnya.


 "Bagaimana kamu bisa mengatakan itu padaku setelah bercinta denganku, tahukah kamu, itu adalah ciuman pertama," ucap Nicole.


"Aku tahu aku tidak menyentuhmu, sekarang untuk terakhir kalinya keluar!" tegas Alex 


"Kamu tahu, aku mengambil foto kita bersama, kalau kamu tak percaya nanti aku akan mengirim ke kamu," ucap Nicole.


"Buat saja untuk kenang-kenangan," Alex menjawabnya.


Setelah wanita murahan suruhan mama tirinya itu pergi, ia memegangi kepalanya yang berdenyut dan terasa sangat sakit.

__ADS_1


"Kanaya, tolong kesini," pinta Alex yang melihat dia masih berdiri di ambang pintu.


"Aku mau pulang, maaf aku mengganggu kalian," lirih Kanaya.


"Tenang saja, tidak seperti yang kamu pikirkan. Oya, kamu kamu bisa tahu apartemenku?" tanya Alex penasaran. Ia belum memberi tahu dia, serta mereka juga belum bertukar nomor ponsel.


"Aku, tahu dari Sary. Sary, bilang tak sengaja mendengar percakapan mama kamu dengan orang yang ada di sambungan teleponnya. Dia akhirnya memberitahu aku," jelas Kanaya.


"Oh, duduklah!" 


Kanaya akhirnya duduk. Namun, ia duduk sedikit jauh dari Alex.


Kanaya diam-diam memperhatikan  Alex yang kesakitan, tapi ia sangat enggan untuk membantunya. Biarlah dia kesakitan, itu pantas untuk orang yang telah suka bermain dengan banyak wanita.


Kanaya ingin tanya, tetapi niatnya ia urungkan. Andai ia tanya minta berpisah, ia takut Doni akan memaksakan lagi untuk menikah dengannya. Ia tak mau dengan bajingan itu, yang telah berkhianat. Namun, nyatanya suaminya juga memiliki sifat yang sebelas dua belas dengan Doni.


***


Di kediaman Damaputra, Alex memasuki kamarnya untuk melihat Kanaya setelah kejadian tadi siang. Ia melihat Kanaya berbaring dengan punggung menghadapnya dan ia ikut berbaring, berbaring membelakangi. Ini adalah pertama kalinya ia tidur di rumah sejak pernikahan mereka, ia tahu ia telah menyakitinya dengan tindakannya yang pergi begitu saja dan bersama wanita-wanita yang berbeda.


Alex bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang membuat dia melarikan diri pada hari pernikahannya dan menemui orang asing untuk meminta perlindungan.


Saat ia memikirkan itu, ia mengerutkan kening, mengapa rasanya ia pernah melihatnya sebelumnya. Ia mendengarkan napasnya sebentar sebelum berbaring dan segera tertidur lelap.


Kanaya merasakan tangan kekar yang ada di atas tubuhnya, matanya perlahan terbuka. Mereka saling menatap selama dua detik kemudian Kanaya mendorong Alex, tetapi ia yang jatuh dari tempat tidur. 


Kanaya yang marah segera mengambil bantal dengan cepat ia melemparkannya ke arah Alex. 


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alex yang tidak terima di lempari bantal.


Kali ini Kanaya memukulnya tepat di wajah Alex karena ia tidak terima Alex memeluk tubuhnya tanpa seizinnya.


"Maukah kamu berhenti memukulku dengan itu?" pinta Alex yang cukup lelah menghindari pukulan Kanaya.


"Tidak."


"Haruskah aku mengingatkanmu bahwa ini juga kamarku?" jelas Alex.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mengizinkan aku disini, lebih baik aku pergi bersama wanita-wanita itu," bisik Alex tepat di telingan Kanaya.


Rasa sakit menusuk hati Kanaya mendengar kata-katanya. 


"Pergilah, habiskan siang dan malammu dengan wanita- wanita itu dan biarkan aku sendirian. Aku bukan salah satu mainanmu," ucap Kanaya menjauh.


Alisnya berkerut, "Kau adalah istriku."


"Aku senang kau ingat itu," gerutunya dalam hati.


"Aku melihat istriku sedang cemburu," ucap Alex menyeringai.


"Apakah ia cemburu?" batin Kanaya.


Kanaya dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Kalau tidak cemburu mengapa kamu memerah seperti itu? Itu juga tangan kamu mengepal," sindir Alex.


"Mengepal?! Mana?" teriak Kanaya yang tidak terima. "Ini tanganku," lanjutnya lagi.


"Jelas sekarang tidak, yang aku bilang tadi."


Kanaya mendengus kesal, ia pun duduk di tepi ranjang dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


Alex juga ikut duduk disamping Kanaya. Entah mengapa dirinya kini sangat tergoda dengan Kanaya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Kanaya.


"Siapa juga yang menatap kamu, itu ada semut di kening kamu," tutur Alex.


"Mana?"


Tangan Alex mulai terulur untuk membelai kening Kanaya. Masalah semut, itu hanya modus ia untuk bisa menyentuh wajah mulus Kanaya yang menurutnya sangat sempurna.


"Kamu modus, ya." Kanaya sedikit menggeser duduknya.


"Tidak, sudah jangan bergerak," pinta Alex yang mencari waktu yang tepat untuk melahap bibir mungil Kanaya.

__ADS_1


Ia dengan cepat mendekat dan ia mengecup bibir Kanaya, ia sedikit mengigit bibir bawa Kanaya agar membuka bibirnya sepenuhnya. Ia tak menghiraukan pukulan di dadanya. Baginya pukulan dari Kanaya tak sebanding dengan nikmat yang kini ia rasakan. Semakin cepat ritme Kanaya, semakin cepat juga ia melakukannya.


__ADS_2