
"Baiklah, aku akan mengampuni kamu kali ini," ucap Alex.
Kanaya lega, akhirnya ia tidak akan mendapatkan hukuman malam ini.
"Aku pergi dulu," pamit Alex yang dibalas anggukan kepala oleh Kanaya. "Tunggu! Aku hanya sebentar, jangan tidur!" ucap Alex yang ada di ambang pintu.
Beberapa menit kemudian.
"Apa itu?" Kanaya bertanya begitu dia masuk sambil membawa bingkisan kecil di tangannya.
"Sesuatu," ucap Alex meletakkan bungkusan kotak di atas meja dan membukanya, "Cupcake."
"Rasa apa itu? Apakah mint?" tanya Kanaya yang dapat mengerti karena mencium aromanya.
Alex terkekeh lagi, "Indera penciuman cukup bagus juga."
"Kenapa kamu tiba-tiba membawa kue?" tanya Kanaya. Ia menopang kedua dagunya dengan tangannya dan menatap tatapan Alex untuk menunggu jawaban dari dia.
"Aku selalu meminta untuk dibuatkan kue yang sama persis dengan rasa yang sama setiap tahun, di hari yang sama. Sebab hari ini seharusnya ulang tahun ibuku, serta aku sangat menyukai kue ini," jelas Alex.
"Aku minta maaf," lirih Kanaya yang melihat mata Alex mengembun.
"Tidak apa-apa, aku trauma dengan kematiannya yang tiba-tiba. Tapi aku sudah melupakannya sekarang, dia meninggal karena penyakit liver," tutur Alex.
Kanaya memeluknya.
"Aku tidak bisa membayangkan menjadi kamu. Kamu hebat bisa kuat dan tegar," ucap Kanaya yang masih dalam posisinya.
__ADS_1
"Ya, aku tidak bisa melupakan kesedihan ini selama bertahun- tahun."
Kanaya tahu dia masih bersedih atas kematian ibunya, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.
Alex berjalan ke laci dan mengeluarkan foto seorang wanita, wanita itu memiliki mata biru yang sangat mirip dengan milik Alex dan tersenyum.
Alex menatap foto itu selama beberapa menit.
"Ini dia, aku membawanya keluar pada hari ulang tahunnya untuk makan bersamanya," ucap Alex meletakkan foto itu di atas meja.
"Ibumu cantik," puji Kanaya pelan.
"Terima kasih," ucap Alex.
Alex berdoa untuk ibunya, setelah mendoakannya, mereka memakan kue itu bersama.
Kanaya mengangguk.
"Ya, meski sulit tumbuh tanpa ayah, tapi aku lebih bahagia saat tidak punya ayah," lirih Kanaya yang mengingat perjalanan hidupnya.
Kanaya sudah menceritakan semua kehidupannya kepada Alex, termasuk Doni dan Nisa. Ia juga menceritakan pada dia.
"Maafkan aku."
"Sudah lupakan percakapan itu, lebih baik kita nikmati ini," ucap Kanaya. "Jangan buat suasana sedih," lanjut Kanaya.
__ADS_1
"Aku melihat kamu menyukai kue itu," ucap Alex saat Kanaya dengan lahap memakannya.
Dia mengangguk, "Enak, aku ingin lebih dari ini."
Alex mengerutkan kening, di atas meja kini sekarang telah habis.
"Aku akan memberimu lebih banyak jika kamu sangat menyukainya, tapi besok," kekeh Alex.
"Oh, rasanya aku tidak sabar," ucap Kanaya.
Tidak lama setelah ia mengucapkan kata-kata tidak sabar, ia memegangi perutnya.
"Apakah kamu baik- baik saja?" Alex bertanya dengan tatapannya yang prihatin.
Alih-alih menjawab, Kanaya dengan cepat berdiri dan berlari ke kamar mandi. Ia mengeluarkan semua yang ada dalam perutnya.
"Ada apa?" tanya Alex yang mengikuti Kanaya ke kamar mandi.
Jujur Alex cemas karena tiba-tiba menjadi pucat, mungkinkah karena kue nya atau dia makan terlalu banyak.
"Tidak apa-apa, kurasa aku hanya perlu berbaring sebentar," ucap Kanaya.
Alex mengangguk dan membantu tidur, beberapa menit kemudian dia tertidur.
Kanaya tidak merasa lebih baik keesokan harinya, ia bangun dan segera berlari ke kamar mandi, muntah-muntah, ia merasa sangat lemah dan lelah, tubuhnya bergetar.
"Aku akan membawamu ke dokter," ucap Alex memberitahunya begitu Kanaya keluar dari kamar mandi. Tatapan khawatir akan kondisi wanita di depannya.
__ADS_1
"Aku akan baik-baik saja, aku yakin kemarin makan terlalu banyak kue itu. Mungkin perutku tidak setuju karena aku makan dengan sangat rakus," jelas Kanaya.
Alex tampak tidak yakin, "Apakah kamu yakin?"