
"Nanti kamu akan tahu," jawab Stefan.
Kanaya mengangguk.
Stefan turun, berjalan ke sampingnya dan membuka pintu Kanaya. Mereka berdua berjalan ke rumah sakit, meskipun, Kanaya tidak tahu mengapa Stefan membawanya ke sini.
Mereka masuk ke sebuah ruangan dan seorang wanita berpenampilan lemah mendongak ketika pintu tersenyum ketika dia melihat Stefan.
"Stefan, apakah itu kamu?" suara wanita itu bergetar ketika ia mencoba untuk duduk dan ia terbatuk.
Stefan berjalan ke arahnya dan segera menjawab, "Ya, bu, tolong berbaring."
Stefan memegang pundaknya untuk menghentikannya agar duduk santai.
Wanita tua itu melirik Kanaya seraya bertanya, "Apakah kamu sudah membawa pacarmu? Dia cantik."
Kanaya tersipu mendengar kata pujian ibunya Stefan.
Stefan dengan cepat mengoreksi ucapan ibunya agar tidak salah paham.
__ADS_1
"Tidak ibu, bukan pacar tapi dia seorang teman dan dia sudah menikah," jelas Stefan.
"Sayang sekali dia sudah menikah, kalian berdua tampak sempurna," ucap ibu Stefan.
"Aku membawanya ke sini agar ibu bisa melihat wajah lain selain wajahku," kekeh Stefan.
Kanaya duduk disisi tempat tidurnya dan melirik Stefan, "Ada apa dengannya?"
Wajahnya tampak sedih saat dia menjawab, "Kanker." Stefan menarik napas dalam-dalam sebelum menambahkan ucapannya, "Tahap terakhir."
Kanaya terdiam, ia merasa simpati terhadap Stefan.
Kanaya tidak bisa menahan air matanya, dia terus menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Jangan mengkhawatirkan dia oke, Stefan orang yang baik, dia banyak teman di sekitarnya," Kanaya yang melihat itu, ia mencoba untuk menenangkannya dan menyakinkannya. "Yakin, ibu akan segera sembuh," ucap Kanaya.
Cukup lama mereka berbicara, dan akhirnya ibu Stefan tertidur. Kanaya dan Stefan segera meninggalkan ruangan tersebut.
"Terima kasih sudah ikut denganku," ucap Stefan berdiri menghadap ke arah Kanaya memegang tangannya.
__ADS_1
Ia sadar telah membuat Kanaya merasa tidak nyaman, ia dengan cepat menarik genggaman tangannya dari tangan Kanaya.
"Aku senang kamu merasa lebih baik, tolong antar aku kembali," pinta Kanaya yang tidak ingin membuat suaminya marah lagi.
Stefan memasuki mobil dan ia masuk ke sampingnya.
"Maaf, jangan marah dengan apa yang terjadi hari ini ya," ucap Stefan terlihat tulus.
Kanaya terdiam. Ia memikirkan apa yang akan ia jelaskan pada Alex setelah ia tiba di rumah.
"Aku terbawa suasana, aku melihat ibuku tersenyum hari ini, sejak dia sakit! Hampir tidak melihat senyum di wajahnya," jelas Stefan memandang Kanaya dan tersenyum sedih.
"Terima kasih dan maaf telah menyeretmu jauh-jauh ke sini, aku hanya ingin dia merasa bahagia di sisa umurnya, aku akan harus segera membawamu pulang," ucap Stefan.
"Ini harus menjadi yang terakhir kali kita bertemu, aku berjanji pada suamiku aku akan menjauh darimu, aku melakukan apa yang harus aku lakukan karena aku berutang padamu, sekarang kita impas," jelas Kanaya yang telah memikirkan ucapanya ini matang-matang.
Stefan tersenyum sedih, “Tidak apa- apa, aku mengerti. Suamimu tidak menyukaiku dan seorang istri harus patuh serta menyenangkan suaminya bukan begitu?"
Kanaya tidak memberikan tanggapan.
__ADS_1
Stefan yang mengantarnya pulang melihat dia masuk ke dalam senyum dingin di wajah Stefan, pekerjaannya selesai. Ia mengeluarkan gawai nya