
"Kamu sangat berani, aku harus memujimu sekarang," teriak Alex.
"Apa maksudmu, Alex?" tanya Kanaya. Ia tahu apa maksud Alex yang sebenarnya. Namun, ia masih berusaha untuk menjelaskan dan mendapat maaf dari suaminya.
"Ini rumahku," kata Alex. "Kamu itu hanya wanita murahan," hina Alex.
Kanaya menggigil, ia tidak tahan dengan penghinaannya, hatinya terasa sangat sakit. Ia telah untuk menjelaskan apa yang terjadi hari itu tapi apa yang bisa dijelaskan.
"Kumohon Alex, percayalah. Saat itu aku baru saja minum dan setelah beberapa detik kepalaku pusing. Setelah itu aku tak sadar," jelas Kanaya lagi.
"Beritahu aku tentang bagaimana kamu bisa memeluk pria lain," ucap Alex.
Wajah Kanaya memerah dan air mata berkumpul disudut matanya. Kanaya menggerakkan tangannya untuk menyentuh lengan Alex. Ia berupaya untuk membuatnya percaya padanya, tetapi dia menjauh dari sentuhannya. Air mata mengalir di pipinya saat dia menatapnya.
"Alex, suamiku, percaya padaku," ucap Kanaya.
Alex tertawa keras lalu ia berkata, "cintamu?! Kamu bisa memenangkan penghargaan untuk aktingmu ini."
__ADS_1
"Kamu menyuruhku untuk menjauh dari Stefan dan aku melakukannya, percayalah," kata Kanaya sambil sedikit berteriak.
Alex mengangkat alisnya yang mengejek, ia pergi ke meja untuk mengambil sesuatu di laci. Ia mengambil beberapa lembar foto dan melemparkan ke lantai.
"Kalau begitu tolong jelaskan ini!" pinta Alex.
Kanaya bingung, oa mengambil foto-foto itu dari lantai dan menatapnya. Itu adalah foto dirinya dan Stefan, dari saat ia secara tidak sengaja menabraknya pada hari ia hampir mengalami kecelakaan. Serta yang lain adalah foto mereka berdua di pintu masuk rumah sakit, ketika dia memegang tangannya dan yang lain ketika dia memeluknya. Kanaya bingung, Stefan telah merencanakan semua ini dan ia hanya orang bodoh yang tidak menyadarinya.
"Aku tahu kamu tidak bisa lagi bicara untuk menjelaskannya," ucap Alex dengan geram. "Wanita pembohong," hina Alex.
"Kamu sebenarnya mengakui kalau kalian …." Alex memotong ucapan Kanaya, namun kali ini ucapannya juga dipotong oleh dia.
"Dia memohon padaku untuk menemui ibunya dan ...."
"Cukup kebohonganmu, tidak sepatah kata pun darimu aku percaya. Kamu benar- mbenar pergi menemui ibunya? Ibu yang mana, satu tahun yang lalu?" Alex tertawa sumbang.
Kanaya merasakan tubuhnya merosot mendengar kata-kata yang diucapkan Alex. Ia mundur perlahan seolah-olah gerakannya melambat.
__ADS_1
"Mati? Ibu Stefan sudah mati? Tapi, yang di rumah sakit itu," ucap Kanaya.
"Aku tidak mau mendengar sepatah kata pun. Sekarang keluar!" Alex mengusir Kanaya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu.
Otak Kanaya berputar-putar dan jantungnya terengah-engah. Kini otaknya terlalu lambat untuk memproses apa yang sedang terjadi, ia menatap Alex dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merasa seperti sedang tenggelam, tenggelam dalam kesedihan, kesengsaraan, ia membuka mulutnya tapi tidak ada kata yang keluar.
"Kubilang keluar!" teriak Alex yang melihat Kanaya tidak kunjung meninggalkan kamarnya.
"Tidak tolong, jangan mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu, aku mencintaimu," ucap Kanaya.
Alex tertawa sumbang.
"Kamu terlalu mencintai uangku, bukan?" sindir Alex dengan rahangnya membentuk garisnya.
Kini Alex memegang pergelangan tangannya dan menyeret Kanaya keluar dari kamar.
"Tolong Alex, dengarkan aku sekali saja," pinta Kanaya dengan sekuat tenaga berjuang untuk melepaskan cengkraman tangan Alex.
__ADS_1