Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy

Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy
Bab 33


__ADS_3

Alex menarik paksa Kanaya hingga ke lantai bawa, lalu ia melepas dengan sedikit melemparnya hingga Kanaya jatuh ke lantai tersungkur. 


Para pelayan mendengar keributan yang ada di dapur segera berlari keluar untuk melihat keributan apa yang terjadi.


"Dengar, kalian semua, untuk selanjutnya, Kanaya akan tidur di kamar pelayan dan tidak ada dari kalian yang boleh melayaninya lagi. Dia sekarang salah satu dari kalian, hanya pelayan," ucap Alex  berbicara kepada para pelayan dengan kata penekanan.


Alex berbalik untuk menaiki tangga ketika ia sampai di puncak tangga, ia berhenti dan berbalik, menghadap ke arah Kanaya yang juga menatapnya.


 "Jangan pernah menginjakkan kaki di ruangan ini lagi dan jangan repot-repot tentang barang-barangmu, akan ada Sari yang mengantarkan kepadamu," ucap Alex yang berteriak dari lantai atas.


Alex melangkahkan kakinya  masuk ke dalam kamar seraya membanting pintu dengan keras hingga tertutup rapat.


Kanaya berusaha berdiri dari tempat dia melemparkannya, ia tidak percaya ini terjadi. Jantungnya menegang dengan menyakitkan, tidak, tidak bisa, ia tidak bisa hidup tanpanya.

__ADS_1


Kanaya menyentakkan kepalanya ke atas, para pelayan menatapnya dengan simpati.


"Aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak melakukan apa-apa," ucap Kanaya seraya berjuang berdiri.


Ia kembali  berlari menuju anak tangga, tetapi sebuah tangan tiba-tiba mencengkram pergelangan tangannya sambil menyeret nya. Kanaya  berbalik ia memberi tatapan marah pada Mariana.


"Mama tidak mengerti, aku perlu berbicara dengannya," ucap Kanaya.


"Kamu sekarang adalah seorang pelayan dan tidak memiliki kebebasan untuk berbicara dengan Alex. Penjaga," teriak Mariana.


"Bawa ****** ini ke kamar pelayan," ucap Mariana memberikan instruksikan pada kedua penjaga.


Kedua penjaga saling memandang dengan canggung sebelum dengan hati-hati memegang tangan Kanaya.

__ADS_1


"Tolong, Nona kerjasamanya," ucap salah satu mereka.


Bahu Kanaya merosot, pandangannya mengabur karena air mata, ia membiarkan para penjaga menggiringnya pergi dari tempatnya berdiri.


Mariana menyeringai ketika melihat penjaga membawa Kanaya pergi. Ia berharap Alex  akan mengusir wanita ****** itu, tetapi ia harus menerima keputusannya, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Langkah selanjutnya dari rencananya adalah yang lain, ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Sudah waktunya," ucap Mariana sedikit bisik. Ia dengan cepat segera menutup sambungan teleponnya sebelum Alex mengetahuinya.


***


Getaran alarm dari ponselnya berbunyi membuat Alex membuka kedua matanya, melihat ke ranjang yang kosong, ingatan tentang apa yang terjadi pada dirinya.  Segera ia menutup matanya seolah untuk menghilangkan rasa sakit yang kini ia rasakan. Rasanya baru kemarin ia  ingin mempercayainya tetapi ia tidak bisa membiarkan dirinya di berbohong lagi. Kanaya telah menemui Stefan tanpa sepengetahuannya dan menyembunyikannya darinya. Ketika ia pulang hari itu setelah menerima foto-foto mereka, ia telah mendengar mereka berbicara kalau Kanaya bersamanya demi uang yang ia miliki.


Ia sangat bodoh karena jatuh ke dalam perangkapnya dan ia tidak akan menjadi bodoh lagi. Mungkin bisa bertahan dari rasa sakit pengkhianatannya tetapi ia tidak akan bisa melupakan rasa sakit kehilangan calon anaknya.  Ia sangat bahagia berpikir bahwa mimpinya akhirnya menjadi kenyataan sebagai anak tunggal, ia selalu memimpikan sebuah keluarga sendiri dan ia mengira akhirnya mendapatkannya tetapi dia menghancurkan mimpinya. Ia perlahan berjalan ke kamar mandi dan mandi, ia segera berpakaian saat mendengar sebuah ketukkan pintu.

__ADS_1


Matanya menyipit saat melihat Kanaya berdiri didepan pintu.


 "Apa yang kamu lakukan di sini?" Alex bertanya dengan dingin.


__ADS_2