
Kanaya berlari ke kamar dan mengunci pintu di belakangnya, ia bersandar di pintu untuk menenangkan hatinya yang gemetar. Kini air mata membanjiri kedua pipinya, ia meletakkan telapak tangannya di dadanya, rasanya seolah-olah akan meledak karena rasa sakit, ia tersedak.
Ia hampir menyerahkan dirinya kepadanya hanya beberapa jam dalam sekejap, lalu dia sudah pelukan pada wanita lain, apa yang dikatakan wanita itu? Apa dia menganggap dirinya menyedihkan? Apa kini ia sebagai penghalang antara dia dan cintanya?
Ia membenamkan kepalanya di antara lututnya saat ini, membiarkan air mata mengalir deras, ia mengabaikan ketukan di pintu, ia hanya ingin bersembunyi.
"Kanaya, buka pintu ini sekarang!" teriak Alex.
"Apakah dia peduli? Pasti dia akan menertawakan dirinya," batin Kanaya.
"Jika kamu tidak membuka pintu ini, aku harus mendobraknya," ucap Alex memberikan peringatan.
Kanaya tahu dari nadanya bahwa dia bersungguh-sungguh, ia berdiri diam dan membuka pintu. Ia segera memunggungi dia untuk berjalan masuk, menyeka air mata darinya matanya, ia tidak akan membiarkan dia melihat bagaimana miliknya tindakan mempengaruhi dirinya.
"Apa kekasihmu sudah pergi?" Kanya bertanya dengan nada tinggi saat pintu terbuka lebar.
Alex menatapnya selama beberapa menit, mendekatinya.
"Naya," ucap Alex dengan lembut.
"Jadi dia sudah pergi ya, dia pasti sangat merindukanmu datang mencarimu malam seperti ini," ucap Kanaya menyembunyikan kesedihannya.
Alex memegang pundak Kanayabdan memutarnya untuk menghadapnya, "Dia bukan kekasihku."
"Oh? Bukan itu yang aku lihat atau dengar," ucap Kanaya.
__ADS_1
"Ibuku mengatur pernikahanku dengannya sebelum aku menikah denganmu, aku tidak pernah tahu dulu," jelas Alex.
"Betapa nyamannya, dan sekarang kamu tiba-tiba berada di dekatnya, kamu mengenalnya sekarang setelah menikah dan pasti menyesal menyetujui pernikahan ini, maaf telah membebanimu Tuan Playboy," desis Kanaya.
Alex menyipitkan matanya padanya, ia merasa kesal dengan pernyataan Kanaya yang menyebutnya sebagai seorang playboy.
"Aku sudah menjelaskan kepada kamu bahwa dia bukan kekasihku." Alex merengut pada Kanaya.
"Begini, ini hanya pernikahan palsu, lagipula, kau tidak berutang penjelasan padaku dan aku peduli bagaimana kau memilih untuk hidup atau siapa yang kau miliki di tempat tidurmu, oke, jadi beritahu aku detailnya karena aku tidak peduli," ucap Kanaya ketus.
Kemarahan memuncak dalam hati Alex pada kata-kata yang Kanaya bilang jika dia tidak peduli.
"Bisakah kau tinggalkan aku sendiri," ucap Kanaya dipenuhi dengan kebencian.
"Lagipula kenapa kau begitu marah?"
"Oh ya?"
"Aku tidak peduli, apa pun yang kamu pikirkan, kamu dapat pergi dan melanjutkan bersamanya. Berhenti untuk pedulikanku," lirih Kanaya.
"Baiklah, aku akan melakukannya," Alex berbalik dan berjalan keluar ruangan, menutup pintu dengan keras hingga suara menggema.
Setelah Alex pergi, Kanaya membiarkan dirinya jatuh di tempat tidur dan air mata mengalir deras. .
Alex pergi ke club malam, tempat dimana ia menenangkan pikiran dari berbagai masalah.
__ADS_1
"Wow, Alex, sudah lama sejak kamu mengunjungi tempat ini," ucap Rosi, pengurus klub berjalan ke arahnya. "Kamu sangat tampan seperti biasanya, sepertinya seseorang sibuk dengan istri barunya," ledek Alex.
Alex mencibir dan menyentuh wajahnya, "Tidak terlalu sibuk sehingga aku tidak akan punya waktu untuk datang kesini.
Rosi tertawa, menikmati sindiran Alex.
Alex tersenyum pahit, ia berharap bahwa tentang Kanaya, yang dia lakukan hanyalah menuduhnya dan membuatnya kesal.
"Aku akan minum seperti biasa," pinta Alex melirik ke sekeliling klub dan menatap para wanita, menari dan merengek pada para tamu yang datang, bau rokok, alkohol memenuhi udara.
Rosi melihat sekeliling dan memberi isyarat kepada salah satu pramusaji untuk membawa minumannya, segera diletakkan di depannya, ada botol tambahan.
Alex minum lebih banyak botol sampai dia merasa sangat mabuk, bicaranya tidak jelas, ia berdiri dan mulai menari mengikuti irama musik. Ia membuat wanita jatuh semua bahkan dalam keadaan mabuk, yang bisa ia pikirkan hanyalah Kanaya. Dia begitu jahat dan membuatnya kesal dengan terus menerus ke dalam berpikir.
Alexia melihatnya di klub, ia berkedip beberapa kali untuk menjernihkan penglihatannya yang kabur. Ketika ia melihatnya menari dengan pria lain, bagaimana dia di sini berdansa dengan pria lain?
Alex berjalan gontai ke pria yang kini sedang berdansa dengan Kanaya. Ia segera memberinya beberapa pukulan.
"Lepaskan dia," ucap Alex.
"Karena kamu orang kaya kamu pikir kamu bisa datang ke sini dan melakukan apapun yang kamu mau? Siapa kau menyuruhku melepaskan gadisku?" teriak laki-laki itu sambil berdiri tidak terima dipukul begitu saja.
"Dia bukan pacarmu, dia istriku," umpat Alex.
Orang-orang yang berdiri di sekitar tertawa sumbang melihat Alex.
__ADS_1
"Kamu mabuk," ucap laki-laki itu meraih pacarnya untuk menjauh dari Alex.
Akan tetapi Alex meletakkan tangan di bahu laki-laki itu untuk menghentikan langkah kaki mereka. Sementara laki-laki itu kesal dan meninjunya, Alex yang sudah tidak stabil berdiri jatuh. Alex mengerang dan terhuyung-huyung kembali berdiri, mengacungkan botol yang kini ada di tangannya untuk memukul kepala pria itu. Alex tidak terima jika wanita kecilnya di bawa oleh dia.