
"Kemarilah, duduk sebentar," ucap Stefan meraih tangan Kanaya dan membawanya ke toko terdekat.
Kanaya ingin mencoba memprotes tetapi Stefan tidak mendengarkannya.
"Apakah suamimu akhirnya meyakinkanmu bahwa aku orang jahat yang harus dihindari?" ucap Stefan dengan Nada suaranya ringan.
Kanaya mengernyit, tiba-tiba ia merasa bersalah atas usahanya untuk menjauh dari Stefan. Ia juga baru saja mencobanya menjauh darinya padahal dia hanya berusaha membantu. Dia tersenyum lemah ketika dia menawarkan airnya, ia dengan cepat meminumnya dan tiba-tiba merasa sedikit lebih baik.
"Terima kasih sekali lagi," ucap Kanaya.
"Sama-sama," jawab Stefan.
"Aku sedikit lebih baik sekarang, aku harus pergi," pamit Kanaya.
Stefan juga berdiri, "Izinkan aku mengantarmu kemanapun kau mau pergi."
"Oh tidak! Kamu sudah melakukan cukup banyak untukku. Aku tidak mau merepotkan kamu lagi," tolak Kanaya.
"Apakah teman tidak boleh saling membantu? Atau apakah kita telah putus dari persahabatan?" tanya Stefan dengan tatapannya yang tajam.
"Tidak mungkin, kita masih berteman," ucap Kanaya seraya tersenyum padanya. "Baiklah kalau begitu, jika kamu yakin aku tidak akan mengganggumu, maka boleh juga," ucap Kanaya.
__ADS_1
"Tidak sama sekali, itu akan menjadi berkah untukku memiliki penumpang wanita cantik sepertimu di mobilku," kata Stefan sambil tertawa.
Kanaya ikut tertawa mengikuti Stefan ke mobil.
Stefan duduk di kursi pengemudi, "Kemana tujuan kita?"
Kanaya tiba-tiba tidak ingin pergi berbelanja setelah kejadian ini, "Rumah."
"Baiklah."
Stefan menghentikan mobilnya di depan sebuah toko es krim.
Kanaya segera kembali membawa dua buah es krim, satu untuk dirinya sendiri, satu lagi untuk ia tawarkan pada Stefan.
"Ini untuk kamu, aku pikir kamu akan suka ini," ucap Kanaya.
"Aku selalu membeli es krim di sini," ucap Stefan mengambil satu es cream pemberian Kanaya. "Dan kini aku memakannya dengan seseorang hari ini," lanjut Stefan.
Kanaya tersenyum dan mengangguk. Ketika ia melihat Stefan memakan es cream, itu mengingatkan ketika Alex membelikan es krim untuknya. Rasanya kini ia tidak sabar untuk bersamanya, mereka segera selesai dengan es krim mereka dan Stefan akan segera mengantarnya pulang.
Kanaya menghentikan mobil Stefan agak jauh beberapa meter dari rumahnya.
__ADS_1
"Kenapa berhenti di sini? Kamu nggak mempersilahkan aku singgah di rumahmu?" tanya Stefan yang melihat Kanaya melepas sabuk pengamannya.
"Lain kali saja," ucap Kanaya turun dari mobil Stefan.
"Tapi, aku ingin mampir," teriak Stefan yang di jawab dengan lambaian tangan.
"Dari mana saja kamu?" Alex menggonggong begitu Kanaya melangkah masuk.
Kanaya mendongak untuk melihat Alex dan melangkah ke arah Alex yang menatapnya marah.
"Aku, aku ... baru saja keluar sebentar," ucap Kanaya menatapnya.
"Apakah kamu lupa, kamu seharusnya berada di tempat tidur untuk kondisi kamu saat ini?"
"Aku tidak lupa, tapi pergi keluar sebentar juga tidak ada salahnya, itu tidak akan membuatku sakit," jelas Kanaya untuk meyakinkan Alex.
"Dan kamu pergi tidak dengan sopir dan jalan kaki? Itu membuat kamu akan semakin lelah," erang Alex.
"Aku bisa jaga diri, bagaimanapun juga sopir itu hanya akan mengikuti instruksi kamu saja, aku tak ingin di tekan atau terlalu diatur," ucap Kanaya.
"Ini untuk kesehatanmu, Kanaya. Jangan membuat seperti kamu sedang di atur olehku."
__ADS_1