
"Bahwa kita akan menikah, tetapi kamu harus ingat akan janjian kamu. Tak hanya itu, kamu harus patuh dengan apa yang aku ucapkan," jawab Alex.
Kanaya mengerutkan kening mengingat kondisinya saat ini, ia mengangguk menerima persyaratannya. Mungkin patuh ucapan dia, itu lebih baik daripada ia harus disakiti dan dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya.
"Baiklah, ayo menikah! Nanti aku akan kembali setelah aku melunasi tagihan rumah sakitmu," ucap Alex berdiri dan tersenyum pada wanita di depannya yang akan jadi istrinya sebentar lagi.
Napas Kanaya tercekat, saat ia tiba-tiba teringat di mana dia pernah melihatnya, dia adalah pria yang sama yang telah menawarkan sapu tangan ketika ia di rumah dan sedang menangis. Dia pasti orang baik? Pikir Kanaya positif.
"Ngomong-ngomong, aku Alex," ucap Alex mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Naya menatap tangannya sejenak sebelum mengambilnya dan menjawab.
"Kanaya."
Beberapa jam kemudian, mereka baru saja menandatangani akta buku pernikahan di kantor urusan agama.
"Sekarang ayo pulang ke rumah!"
"Rumah," kata itu spontan keluar dari mulut Kanaya. "Aku nggak mau kembali ke rumah," tolak Naya. Kembali ke rumah sama saja ia sedang cari masalah.
"Pulang ke rumahku," ucap Alex santai.
__ADS_1
Kanaya mengangguk patuh.
Kini setelah perjalan yang cukup jauh, Kanaya tertidur yang bersandar pada bahu Alex yang tadi sibuk mengemudi.
"Hai bangun," ucap Alex menepuk pipi wanita yang kini menyandang status nyonya Alex.
Kanaya gemetar saat ada yang memanggil namanya, ia membuka matanya dan melihat sekeliling, awalnya bingung dengan lingkungannya. Matanya tiba-tiba menangkap mansion yang sangat mewah di depannya dengan tertulis di atasnya saat Damarputra dan jantungnya berdebar kencang, apakah ia baru saja menikah dengan pangeran dan pewaris Damar? Kini pertanyaan itu memenuhi pikirannya.
Alex turun dari sisi mobilnya dan bergegas ke sisi kiri, dia membuka pintu mobil agar Kanaya turun.
"Ayo turun!"
"Ini rumah siapa?"
"Jangan banyak tanya! Sudah cepat turun," ucap Alex pelan. Namun, sedikit membentak.
"Alex, kamu pulang," kata wanita itu sebagai cara untuk menyapa, tetapi nada suaranya terdengar dipaksakan. "Siapa dia?" tanyanya lagi seperti tolak suka akan kedatangan Kanaya.
Alex memeluk Kanaya dan berbisik pelan,
"Sayang, temui Mamaku."
"Mama, ini Kanaya, istriku," ucap Alex memperkenalkan istrinya.
__ADS_1
"Istri kamu?!" ucap Mamanya Alex dengan nada terkejut. "Tapi ... tapi ...."
"Tapi apa, Mah?" Alex menyela.
"Kupikir ...," Mama Alex tergagap.
Alex memotongnya, "Itulah masalahmu, Mah. Kamu selalu berpikir, maaf aku tidak memberitahumu tentang dia. Akan tetapi saat ini istriku harus beristirahat dulu."
"Oh! Tentu," mama Alex mempersilahkan masuk dengan kode tangannya. Namun, matanya melirik ke araha Kanaya. "Kamarmu telah disiapkan," ucap Mama Alex, sebut saja Maria.
"Terima kasih, Mah. Sekarang aku ingin melihat Papa, di mana dia?" tanya Alex.
"Dia ada di kamarnya," jawab Maria.
"Kupikir dia seharusnya ada di rumah sakit, kenapa dia ada di rumah?"
"Ya, Mama mencoba untuk menghindari terlalu banyak media. Dokter datang ke sini untuk memberikan perawat yang terbaik yang merawatnya 24 jam dan itu Mama pikir lebih baik dari pada banyak yang memberitakan yang tidak-tidak," jelas Maria.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menemuinya sebentar lagi," ucap Alex kemudian ia menoleh ke Kanaya. "Sayang, ini jalan ke kamar kita," ucap Alex memberi isyarat agar dia mengikutinya langkah kakinya yang dari tadi ia berjalan berdampingan dengan mamanya.
Kanaya mengangguk, lalu ia melirik wanita paruh baya yang kini menjadi mertuanya. Ia
bisa merasakan tatapannya dingin sang mertua. Setelah mertuanya pergi, ia bergegas melangkah mengekor Alex.
__ADS_1
"Ini kamarku, sekarang kamar kita," ucap Alex memberitahu Kanaya sambil mengangkat tangannya lebar- lebar. "Selamat datang di rumah, Ny. Alex Damarputra," lanjut Alex.
"Hmm, sepertinya mamamu tidak terlalu menyukaiku," lirih Kanaya. Kini ia mendaratkan bobotnya di tepi ranjang yang berukuran king.