
"Sejak tadi," ucap Kanaya ketus.
"Kamu tidak bisa berteman dengannya," tegas Alex lalu ia pergi menjauh.
"Mengapa tidak bisa berteman dengannya?" tanya Kanaya.
"Stefan adalah pria muda yang baik dan menawan serta baik," teriak Kanaya.
Tamu satu persatu sudah pulang, menyisakan mereka dan beberapa orang yang masih ingin menikmati hidangan yang ada.
Alex berhenti tiba-tiba, ia berbalik menghadap ke arah istrinya yang telah dengan lantang memuji pria lain. Ia menarik Kanaya, dan tangannya melingkari di pinggang Kanaya.
Mata Kanaya Membulat saat ia tiba-tiba menemukan dirinya dalam pelukan Alex.
"Jangan memuji orang lain selain suami kamu," tegas Alex.
"Kamu tidak bisa menghentikanku untuk berteman dengan Stefan," jelas Kanaya.
"Ada apa dengan dia sehingga kamu begitu bersemangat untuk menjadi temannya?" tanya Alex penasaran dengan menatap dia.
"Karena dia baik dan menawarkan pertemanannya," balas Kanaya sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
"Ada wanita baik lain di luar sana untuk diajak berteman," kata Alex dengan dingin.
"Jadi aku tidak boleh berteman dengan laki-laki, tapi kamu boleh berteman dengan perempuan?" Kanaya menembaknya.
"Aku seorang playboy jadi diperbolehkan, tapi kamu bukan Playgirl jadi tidak diperbolehkan," ujar Alex.
Alis Kanaya berkerut, "Kamu sangat bangga menyandang playboy, bukan?"
"Sama seperti kamu, yang sangat bangga selalu mengingatkanku bahwa aku adalah playboy."
"Tapi aku akan tetap berteman dengan Stefan dan itu sudah dia baik, tampan, dan ...."
__ADS_1
Alex menghimpit Kanaya serta memotong kata-katanya, "Ya, teruskan, dan apa?"
"Sudah hentikan aku nggak bisa nafas," pinta Kanaya yang nafas tersengal-sengal akibat himpitan tubuh kekar Alex.
Alex perlahan menjauh, dan kini ia mendaratkan bobot tubuhnya di sofa.
***
Sejak pengumuman pernikahan itu, hubungan Alex dan Kanaya semakin dekat. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Kanaya. Alex menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersamanya, ia selalu menantikan dia pulang kerja. Rasanya ia selalu tidak sabar untuk bersamanya.
Malam ini, sesuai janji. Mereka pergi untuk makan malam bersama. Keduanya duduk saling berhadapan, pelayan segera berlari ke arah mereka untuk mencatatan pesanan mereka. Mereka tidak makan di tempat mewah, hanya di tempat sederhana sesuai permintaan Kanaya.
Setelah menunggu setengah jam, makan mereka telah datang. Dengan keheningan mereka menikmati makanan mereka
"Kebetulan bertemu dengan sejoli ini di sini," seseorang tiba-tiba berbicara dari sisi mereka.
Alex dan Kanaya menoleh untuk melihat siapa yang menyapa mereka. Mereka melihat Stefan berdiri di samping Kanaya, seketika mata Alex tiba-tiba menjadi melotot karena ketidaksenangan atas gangguan yang tidak diinginkannya. Sementara Kanaya tersenyum menyapa.
"Stefan, apa yang kamu lakukan di sini?" Kanaya bertanya, suaranya terdengar senang.
"Oh," Kanaya tersipu mendengar jawaban Stefan, akhirnya ia tersenyum dan terkekeh.
"Apa aku bebas duduk bersamamu?" Stefan bertanya melihat mereka berdua.
"Tentu saja." Kanaya dengan cepat menjawab. Berbeda dengan Alex yang menjawab, "Tidak."
Stefan melirik Alex, "Bagaimana?"
Alex tidak menjawab, ia bergegas berdiri untuk pergi. Kanaya yang melihat Alex marah, ia meminta maaf kepada Stefan sebelum berdiri dan berlari mengejar Alex.
Stefan memperhatikan mereka pergi.
"Alex, dia hanya mencoba bersikap ramah." Kanaya mencoba menenangkannya, berjalan dan berlari di belakang Alex.
__ADS_1
"Jangan mengurusiku, Nay! Jika kamu sangat ingin berteman dengan dia, lalu lanjutkan. Dia masih di sana, duduk bersamanya dan lakukan apapun yang kamu inginkan." Alex berbicara sedikit membentak.
"Dengarkan aku," pinta Kanaya.
Alex tidak menjawab, ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, ia membantingnya dengan keras dan menyalakan mobilnya. Sementara Kanaya dengan cepat masuk ke sisi penumpang.
Kini dengan cepat mobil melesat keluar dari tempat parkir tanpa menanyakan akan kemana perginya.
"Mengapa kamu begitu marah? Jika kamu sangat membencinya, lalu mengapa kamu mengundangnya ke pesta kita?" tanya Kanaya.
Alex melirik Kanaya, rahangnya mengeras.
"Aku mengundang rekan bisnisku dan aku tidak mengundangnya secara pribadi, itu adalah undangan terbuka untuk semua," jelas Alex yang menatap Kanaya sekilas dan mengalihkan pandangannya ke jalan. "Aku tidak mengundangnya untuk merayu istriku," tegas Alex.
"Aku akan melakukan apa yang kamu mau, aku akan menjauh darinya, jangan marah lagi," kata Kanaya kepada Alex mengikutinya ke dalam rumah.
Alex terus berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mulai masuk ke dalam rumah, dia masih tidak menjawabnya saat dia membuka pintu dan berjalan masuk.
"Tunggu sebentar," ucap Kanaya memohon. Ia sedih karena dia mengabaikannya.
Alex masih sama, tetap diam tidak bicara.
Kanaya perlahan berjalan ke arahnya dan memeluknya dari belakang, meletakkan kedua tangannya di perut Alex.
"Tolong Alex, jangan seperti ini lagi," bisik Kanaya.
Alex menutup matanya dan mendesah, hatinya meleleh dan amarahnya memudar, ia memeluknya dan mencium kening Kanaya.
"Sebelum aku memaafkanmu, aku harus menghukummu," ucap Alex.
"Apa?" Kanaya menjauh dari pelukannya.
"Oh, ya istriku sayang, kamu akan menghabiskan sisa malam ini di ranjang size sebagai hukumanmu," ucap Alex menggoda.
__ADS_1
"Tidakkah kamu akan mengasihani aku?"