
"Iya, aku minta maaf," lirih Kanaya.
"Lebih baik kamu istirahat sekarang," ucap Alex.
Kanaya mendengar peringatan Alex, ia bergegas menuju kamarnya. Dengan gerakan malas ia menaiki ranjangnya dan berbaring dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
***
Sinar matahari mengintip dari balik gorden dan ventilasi kamar luas itu. Cahaya matahari menerpa wajah cantik yang kini terganggu karena silau. Ia bangun, satu hal yang menyambutnya, pusing yang hingga harus membuatnya memegang kepalanya.
Kanaya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, tak luput melirik jam yang sudah menunjukan pukul 09.00 WIB. Tidak ada yang membangunkannya.
Kanaya menurunkan kakinya di lantai dan memakai sandal rumahnya, Baru ia sadari ia masih memakai pakaian tadi malam.
Pintu kamarnya yang tidak terkunci terbuka, membuat sang pemilik kamar menoleh ke sumber suara itu. Disana sudah ada Alex yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan lagi dengan membawa nampak berisikan bubur ayam dan susu.
"Cepat sarapan setelah itu aku akan menunggu kamu di bawah," ucap Alex uang dibalas anggukan kepala oleh Kanaya.
Dua jam telah berlalu, ia yang bosan bergegas untuk turun ke bawah dan berkeliling rumahnya. Ketika ia menuruni anak tangga, ia mendengar sesuatu jatuh dan teriak papa mertuanya itu berasal dari kamar papa Alex.
Kanaya segera bergegas kesana dan sejenak berdiri melihat adegan di depannya. Wajah papa Alex merah karena marah.
"Beraninya kamu menolak obatmu, kamu bahkan membuangnya, kamu benar-benar bodoh, beraninya kamu membuang usahaku," teriak Alex.
Kanaya mengerutkan kening, Tuan Dama bersikap tidak rasional dan bereaksi berlebihan, ia melirik Tuan Dama yang hanya menatapnya, tetapi tidak bisa bergerak.
__ADS_1
"Kamu bisa memberinya obat lain, tidak perlu memperlakukannya seperti itu," tegur Kanaya.
Dama berputar dan alisnya berkerut, "Sudah berapa lama kamu berdiri di sana?"
Kanaya menggelengkan kepalanya.
"Apakah itu penting?" tanya Alex.
Seharusnya ia memang mendengarkan mama tirinya untuk tidak mengajak tinggal serta papanya.
Kanaya melirik ranjang lelaki tua itu, "Mungkin saja ini kesalahan, Alex. Bersabarlah menghadapinya."
"Biar Sary merawatnya, sekarang kita keluar saja," ajak Alex.
"Aku ada rapat pagi ini, ingat jangan pergi tanpa izinku," pinta Alex.
Teleponnya berdering ketika ia sibuk dengan pemikirannya. Melihat nama Stefan, ia menggeser tombol hijau.
"Halo," sapa Kanaya meletakkan pada daun telinganya.
"Bisakah aku bertemu denganmu? Tolong, jangan bilang tidak. Aku hanya butuh teman sekarang, kamu satu-satunya temanku," ucap Stefan.
Kanaya diam sejenak, memikirkannya. Alex tahu, ia bersahabatan dengan Stefan, dia akan sangat marah padanya tetapi saat ini, Stefan membutuhkan dirinya.
"Please Kanaya," suara Stefan bergema melalui gagang telepon.
__ADS_1
"Baiklah Stefan, kamu dimana?"
"Aku di depan rumahmu," jawabnya.
Tidak memikirkan apa yang akan dia lakukan di depan rumahnya, pikirannya hanya berfokus pada bagaimana cara cepat melihatnya dan bergegas kembali sebelum Alex kembali.
"Baik, aku akan segera kesana," ucap Kanaya menutup sambungan teleponnya dan berlari ke bawah.
Kanaya melihat mobil Stefan parkir di seberang jalan, ia melangkah ke sana.
"Stefan ada apa?" Kanaya bertanya khawatir seraya membuka pintu mobil untuknya masuk. "Kamu baik- baik saja?" lanjut Kanaya bertanya.
"Maaf telah mengganggumu," ucap Stefan dengan suara seraknya.
"Tidak apa-apa, mari kita anggap itu sebagai balasan karena telah menyelamatkanku tempo hari," kata Kanaya.
dia mencoba tersenyum pada kata- katanya tetapi gagal.
"Terima kasih, ayo pergi ke suatu tempat kita bisa bicara," ajak Stefan yang dibalas Kanaya mengangguk.
Saat Kanaya dan Stefan pergi ada mata yang mengawasinya mereka.
Stefan mengajak Kanaya ke rumah sakit.
Kanaya memandangnya, bingung, "Kenapa kita ada di sini?"
__ADS_1
Stefan menatap ke depan seolah takut masuk ke dalam, "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."