Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy

Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy
Bab 31


__ADS_3

Suasana pagi ini begitu sepi dan muram.  Angin diam, seperti tertahan oleh  suatu duka yang mendalam. Dibalut kabut dan awan kelabu yang berarak pelan. Bulir-bulir embun yang jatuh dari langit pun beku di atas daun-daun kemarau yang menguning kering. Begitu sunyi. Tak ada kicau burung atau kokok Ayam jantan sebagaimana pagi-pagi biasanya.


Dewi tersenyum pahit sembari bangkit menuju jendela, berharap angin segar menyapu wajahnya. Namun lagi-lagi yang ia dapat hanya sepotong pagi yang sunyi, dengan langit kelabu, aroma tanah kering, dan debu-debu kemarau yang hinggap di jendela.


Ia bergegas keluar kamar menuju dapur untuk membuatkan kopi suaminya. Dengan secangkir kopi di tangannya, ia berjalan ke ruang tamu untuk meletakkan di meja kaca yang sedikit retak itu.


 "Sampai sekarang, putrimu yang tidak berguna masih menjadi berita utama," ucap Adi  meludah.


 "Maksudmu Kanaya?" tanya Dewi dengan meletakkan bobot tubuhnya di sofa yang telah sedikit pudar warnanya.


"Apa kamu memiliki anak perempuan lain?" Adi menjawab dan ia mengambil majalah yang baru saja ia baca dengan cepat. Lalu melempar ke arah Dewi.


 Dewi mengambilnya, ia sangat  merindukan putrinya tetapi berusaha menyembunyikannya dari suaminya. Ia tidak mau suaminya itu marah padanya, itu sangat beresiko. Pasti ia akan menemukan cara untuk pergi menemui putrinya, tanpa Adi ketahui.

__ADS_1


Dewi dengan cepat menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku harus membalik tempe yang aku goreng," bohong Dewi untuk segera pergi dari depan suaminya.


"Dasar ibu sama anak tidak ada gunanya," hina Adi.


***


Kanaya keluar dari rumah sakit, sejak hari kejadian, ia tidak menatap Alex. Da juga tidak datang ke rumah sakit atau meneleponnya. Rasanya ia sangat depresi, dunianya yang bahagia baru saja runtuh dalam sekejap.  Berharap ia bisa bangun dari mimpi buruk yang mengerikan ini, calon bayinya yang berharga telah pergi dan Alex.


"Kenapa kamu kembali di sini?" Mariana mendesis.


 Kanaya mengerutkan kening, ia sedang tidak ingin menghadapi Mariana sekarang. Ia terlalu patah hati, jadi, ia tidak menjawab. Ia mengambil langkah menuju tangga, tetapi sebelum itu tangan  Mariana memblokir jalannya.

__ADS_1


 "Kamu tidak malu, kamu masih punya keberanian untuk kembali kesini setelah apa yang kamu lakukan?" tanya Mariana.


"Aku tidak melakukan apa-apa," jelas Kanaya.


 "Kamu masih berpura-pura tidak bersalah, 'kan? Kami semua melihat apa yang kamu lakukan, namamu terpampang di semua surat kabar, majalah. Kamu tidak membawa apa-apa selain nasib buruk sejak kamu memasuki keluarga ini, bagaimana kamu bisa kembali ke sini?" ejek Mariana.


Kanaya menundukkan kepalanya seraya berkata lirih, "Inii sekarang rumahku dan aku tidak akan pergi kemana-mana."


"Jal*ng tak tahu malu," teriak Mariana sebelum berbalik dan meninggalkan Kanaya di sana sendirian.


Kanaya menaiki tangga dengan lemah, ia merasa lemas dan tidak berdaya. Rasa sakit di hatinya terlalu berat, ketika ia menjadi lebih kuat, ia akan menemukan Stefan, dia harus menjelaskan mengapa dia melakukan itu padanya. 


Kini ia berbaring di tempat tidur, memeluk dirinya sendiri dengan erat, dan lama kelamaan ia  tertidur. Ia telah tidur selama beberapa jam sebelum tangan menyentakkannya dengan kasar dari tempat tidur.  Ia berjuang melawan tangan yang tiba-tiba menariknya paksa dan ia jatuh di lantai kesakitan. Rasa sakit menusuk tulang punggungnya dan ia bangkit berdiri.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini?" teriak Alex menatap jijik Kanaya.


__ADS_2