
Kanaya mendengar ketukan pintu, ia beranjak melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
"Nona Kanaya, ada tamu mencari Anda," ucap seorang pelayan.
"Siapa namanya?"
"Dia bilang dia teman Anda. Kalau nggak salah Stefan namanya," jelas pelayan itu.
Hati Kanaya berdebar, apa yang dilakukan Stefan di sini? Alex akan kembali kapan saja dan ia mengingat janji Alex yang akan pulang lebih awal.
Kanaya melirik ke arah pelayan, "Di mana dia?"
"Di ruang tamu," kata pelayan itu. "Nona apa aku melakukan sesuatu yang salah, Nona?" Pelayan bertanya tidak yakin apakah ia melakukan kesalahan dengan membiarkan dia masuk.
Kanaya menarik napas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa, kamu bisa pergi saja."
Kanaya berganti pakaian dan turun, ia harus menyuruh Stefan pergi sebelum Alex kembali. Ia tidak ingin Alex marah padanya.
Kanaya melihat Stefan duduk di sofa menyeruput jus anggur yang mungkin ditawarkan pelayan itu padanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini? Aku pikir kita sudah setuju dengan kesepakatan kita?! Kamu harus menjauh dariku, dan sebaiknya," tegas Kanaya.
Stefan berbalik mendengar suaran Kanaya "Maaf Kanaya, aku harus datang, karena ini sangat penting sehingga aku datang menemuimu."
"Apa yang begitu penting Stefan?" Kanaya bicara hampir berteriak.
"Minumlah, dulu," ucap Stefan. "Aku akan memberitahu hal penting ini," ucap Stefan menyeringai.
Kanaya yang haus itu karena berjalan sedikit berlari, ia meminumnya agar dia mau mengatakan hal penting itu.
Kanaya yang meneguk sedikit saja, kepala tiba-tiba terasa pusing, lalu berkunang-kunang. Sesaat matanya terpejam.
"Sekarang mari kita bawa dia ke dalam, pertunjukan akan segera dimulai," kata Marian dengan gembira.
Mariana telah merencanakan semuanya, para pelayan sudah berada di tempat mereka, kecuali Sari. Karena dia sudah ia minta untuk pergi belanja, itu memang akan menjadi bagian dari rencananya. Mereka dengan cepat membawa Kanaya ke dalam dan menanggalkan pakaian dia, Stefan menanggalkan pakaiannya sendiri, hanya mengenakan celana pendeknya sementara Maria kembali ke kamar suaminya. Pertunjukan akan segera dimulai.
Alex mengemudi pulang tetapi duduk di mobilnya sebentar, ia menatap amplop di kursi di sampingnya. Ia tidak percaya apa yang baru saja ia lihat di foto-foto itu.
"Kanaya sebaiknya kamu memberikan penjelasan padaku," lirih Alex saat membelokkan mobilnya ke halaman rumah.
__ADS_1
Matanya menyempit ketika ia tiba-tiba melihat sebuah mobil yang dikenalnya.
"Apa yang dilakukannya di sini?" Hatinya Alex terengah-engah karena marah, ia dengan cepat mengambil amplop itu dan berjalan masuk. Ia langsung pergi ke kamarnya, ia mendengar suara laki-laki mendengarkan, kata-kata yang ia dengar membuat darahnya mendidih karena amarah karena merasakan penghianatan.
Kanaya membuka matanya, kepalanya terasa pusing. Ia ingat betul, ia pergi ke ruang tamu untuk berbicara dengan Stefan dan setelah itu ia pusing.
Kanaya berbalik dan matanya membelalak pada siapa yang d
ia lihat berbaring di sampingnya.
"Stefan?! Apa yang kamu lakukan di sini?" lirih Kanaya. Ia dengan cepat duduk dan memeriksa tubuhnya di dalam selimut. Ia mengalihkan tatapan marah padanya, "Bagaimana beraninya kamu?" teriak Kanaya.
"Shhhh, semuanya akan baik-baik saja sayangku, Alex tidak akan tahu tentang cinta kita satu sama lain, ketika kamu mengambil properti yang kita inginkan, akhirnya kita akan bersama tanpa dia menghalangi cinta kita," jelas Stefan.
Kanaya bingung dengan kata-kata Stefan, apa yang dia bicarakan? Tapi sebelum ia bisa mengucapkan sepatah kata pun, Alex menerobos masuk ke tatapan dingin saat ia menatap ke Stefan.
"Apa yang kalian lakukan di kamarku?" teriak Alex. Ia telah mendengar kata-kata Stefan dan mempercayainya.
Alex dengan cepat berjalan ke arah Stefan dan mencengkram lehernya, memberi bogeman beberapa kali. Stefan mengerang dan jatuh di lantai. Alex mengikutinya ke sana dan masih memberikan pukulan sebanyak mungkin, Stefan pantas mendapatkan ini. Ingin rasanya membunuhnya, namun ia tidak ingin dipenjara karena pembunuhan. Akan tetapi ia masih ingin terus menghajarnya sampai babak belur.
__ADS_1
Kanaya berlari ke arah Alex berupaya untuk menghentikannya sebelum dia melakukan pembunuhan dan pada saat itu, Stefan mengayunkan pukulan. Pukulan itu mendarat di Kanaya, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh, perutnya terbentur dengan sangat keras di lantai.