
Kanaya yang penasaran dengan wanita yang ada di kamar Doni segera membuka pintu dengan cepat. Berharap dugaannya itu salah dan bukan suara sahabatnya.
"Nisa?" Napas Kanaya tiba-tiba mulai terengah-engah, bagaimana mereka bisa mengkhianatinya dengan cara ini. Ia menatap Nisa, sahabatnya yang tidak terlihat sedikit pun menyesali tindakannya yang berselingkuh dengan kekasihnya.
"Kamu bisa memanggilku sebelum datang," geram Dani yang aktivitasnya terganggu oleh Kanaya.
Kanaya melirik dari arah Doni ke Nisa, ia masih tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Besok adalah pernikahan mereka dan dia di sini bermain-main dengan sahabatnya. Ia mengira kalau Doni akan berubah jika menikah, tapi nyatanya tidak.
"Bagaimana kalian bisa melakukan ini padaku?" tanya Kanaya terkesiap di tengah rasa sakit yang menyumbat tenggorokannya, ia merintih dan menggunakan tangan yang gemetar untuk menutup mulutnya karena tak percaya. Sahabat tempat ia bercerita, dan sangat ia percayai ternyata mengkhianati dirinya.
"Kamu bisa menghindari ini jika kamu memanggil Doni,” ucap santai Nisa. “Dan, aku sudah bosan mendengar cerita kamu tentang Doni. Perlu kamu tahu, Doni adalah laki-laki yang sempurna, kalau kamu tak mau dengan dia. Kamu bisa berikan dia padaku,” lanjut Nisa dengan menatap kebencian ke arah Kanaya. Ia benci karena setiap laki-laki tak pernah melirik dirinya, hanya Kanaya yang mereka lihat.
“Kanaya, dengarkan penjelasanku dulu,” ucap Doni dengan cepat memakai pakaiannya.
“Sudahlah, Don. Dia perlu tahu hubungan kita ini,” ucap Nisa mencegah Doni yang akan mengejar Kanaya. “Nay, aku dan Doni sudah menjalin hubungan ini cukup lama,” jelas Nisa.
Kanaya merasa seperti ada pisau panas di dadanya, "Jadi ini sudah berlangsung lama?"
“Ya, dari hari pertama kami bertemu dengannya di terminal bus aku sudah jatuh cinta dengan dia, tapi kamu juga mencintai Doni. Dan aku mengalah, saat Doni melamar kamu dia juga mengatakan cinta padaku, saat itulah hubungan kita terjalin," jawab Nisa dengan gembira.
"Pulang saja, untuk saat ini, kita akan membahas ini nanti,” potong Doni pada Nisa.
Nisa tidak mau pulang, ia masih ingin terus disisi Doni karena hubungan ia sudah terjalin cukup jauh. Sedangkan Kanaya yang tidak tahan lagi, ia berbalik dan berlari keluar rumah. Namun, belum sempat ia kabur pukulan keras dari belakang membuat keseimbangannya hilang dan ia jatuh pingsan.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, ia yang mulai membuka matanya melihat tangannya diikat serta kaki yang diikat ia mulai mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat itu juga ia melihat Doni masuk ke ruangan itu.
“Jangan pernah kamu coba-coba kabur?! Jangan buat malu keluarga kita,” tegas Doni untuk memperingatkan Kanaya agar tak kabur karena acara nanti siang akan dimulai.
“Don, buat apa kita menikah kalau kamu cinta sama Nisa?” tanya Kanaya.
“Aku tak cinta sama dia, dia hanya pelampiasan hasratku. Aku cinta sama kamu, sudah jangan banyak tanya lagi. Kita akan ke rumah kamu, semua orang telah menunggu kita,” ucap Doni.
Doni mulai melepaskan ikatan pada tangan Kanaya dan kakinya. Kini ia menuntut Kanaya untuk masuk ke dalam mobil menuju kediaman orang tuanya.
Satu jam kemudian, Kanaya duduk di meja rias dan menatap bayangannya, ia berpakaian seperti pengantin, ia akan menjadi pengantin iblis sendiri, ia sangat berharap keajaiban terjadi, seseorang menyelamatkannya dari kekacauan ini dan membawanya pergi dari penjara dengan mengataskan nama pernikahan.
“Kamu terlihat sangat cantik sayang," puji Dewi yang berjalan mendekati putrinya dengan wajah yang berseri-seri. “Kamu sangat beruntung. Kamu membuat keputusan yang benar,” ucapannya lagi.
“Apakah ibu yakin?" tanya Kanaya mengerutkan kening pada kata-kata ibunya. Ia tidak merasa beruntung dan ia tahu bahwa ini jauh dari pilihan yang tepat untuknya, tetapi sangat disayangkan bahwa hanya ia yang bisa melihat keburukan Doni.
"Ayah akan menjualku karena uang kalian terlalu buta,” batin Kanaya yang tak berani mengatakan langsung dengan ibunya.
"Ibu pikir kita sudah membicarakan ini. Ayo pergi semua orang menunggumu cukup lama hari ini,” jelas Dewi dengan mengulurkan tangannya untuk membantu putrinya berdiri.
Kanaya menerima uluran tangan dengan berat hati. Ia berjalan keluar rumahnya untuk menuju tempat yang akan diadakan acara ijap kabul.
"Dia terlihat sangat cantik.”
__ADS_1
Samar-samar Kanaya mendengar seseorang berbisik memuji dirinya.
"Aaww, mereka terlihat sangat serasi. Itu suaminya tampan sekali.”
Kanaya mendengar yang lain dan dia merasa ingin berteriak, mereka jauh dari sempurna dari pada ia saat ini. Baginya Doni hanyalah monster.
“Apakah kamu mengambil wanita ini sebagai istri sah kamu, untuk melindungi cinta, dan menghargai selama sisa hidupmu?” tanya penghulu.
Doni semua tersenyum saat ia dengan cepat menjawab ya.
Kanaya dapat melihat sorot mata Doni yang melirik ke arahnya dengan sorot kemenangan di matanya saat dia menatapnya. Seketika perutnya bergejolak karena jijik.
“Apakah kamu menganggap pria ini sebagai suami yang akan kamu hormati, cintai, dan disayangi sampai maut memisahkan?” tanya penghulu pada Kanaya.
Kanaya menatapnya, kilasan semua yang telah dia lakukan terlintas di benaknya, dia telah berselingkuh berulang kali, bahkan berselingkuh dengan sahabatnya, dia telah memukulnya beberapa kali dan meremasnya hingga sekarang berpikir bahwa semuanya baik-baik saja.
Doni berbisik pada Kanaya saat wanita disampingnya itu tak kunjung menjawab pertanyaan penghulu.
“Cepat jawab ‘iya’. Jangan buat aku marah dan kamu mempermalukan pernikahan kita,” bisik Doni dengan tegas.
Penghulu pun telah pertanyaan untuk Kanaya, lagi dan lagi. Serta tak hanya penghulu yang menunggu jawabannya, para tamu pun juga ikut menunggu jawaban dari mempelai wanita.
“Saya ulangi lagi, apa saudara Kanaya Putri Dewi akan menjadikan Doni Anggriawan sebagai suami yang akan selalu dihormati, disayangi, dicintai sampai maut memisahkan?” tanya penghulu dengan suara yang lantang agar mempelai wanita mendengarnya.
__ADS_1
"Ya.” Kanaya menjawab sambil menghela nafas.
Kanaya mulai berpikir ketika Doni mulai berjabat tangan dengan penghulu, ia akan dijadikan budak oleh Doni. Kini bayangan dia dan Nisa di tempat tidur tepat di hari pernikahannya terus berkelebat di kepalanya, dia membuatnya jijik. Ia dengan cepat harus memikirkan cara menyelamatkan dirinya sendiri. Ia mulai mengambil aba-aba untuk dirinya sendiri setelah ia memegang gaun panjang di tangannya. Ia mulai berlari keluar dari tempat di tengah-tengah keramaian tamu yang datang. Ia tidak berhenti atau menoleh ke belakang, ia terus berlari. ia ingin berlari lebih cepat dari rasa sakit, trauma, ia tidak melihat mobil yang melaju, ia mendengar derit ban dan logam menghantam tubuh sebelum ia diselimuti kegelapan setelah itu juga ia kehilangan kesadaran.