Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy

Terjebak Pernikahan Dengan Play Boy
Bab 11


__ADS_3

 "Kamu telah kembali," kata Zuna.


 Alex mengangguk, ia yang tidak ingin memulai percakapan dengannya, ia bergegas untuk pergi. Akan tetapi Zuna  meraih tangannya membuat ia menghentikan langkah kakinya.


"Alex tolong, dengarkan aku," ucap Zuna memohon.


"Maaf, tidak ada yang perlu dibahas," ucap Alex melepas cengkraman tangan Zuna yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kudengar kamu sudah menikah," tanya Zuna.


 "Ya aku sudah menikah."


Zuna mendengar jawaban telah menikah, ia justru memeluk erat Alex.


"Maafkan aku, aku mencintaimu. Aku tidak bermaksud menyakitimu waktu itu, aku menyadari kesalahanku, tolong maafkan aku," ucap Zuna.


Alex melepas pelukan Zuna, ia sangat membenci wanita yang telah menorehkan luka di hatinya. 


Saat pelukan mereka lepas, Zuna sedikit berjinjit dan mencium bibir Alex sekilas. Berharap Alex ingat kenangan yang mereka lalui waktu itu.


 "Jangan pernah menyentuhku lagi. Kamu harus tahu, aku sudah menikah," ucap Alex tegas.

__ADS_1


"Maafkan aku, anggap saja itu tadi sebagai ucapan perpisahaan kita," ucap Zuna yang telah berhasil melancarkan aksinya.


***


Kanaya baru saja keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk pada tubuh, serta tangan kanannya yang membawa handuk terus menggosokan pada rambutnya agar segera kering.


Saat ia bersenandung menyanyikan lagu favoritnya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar. Seketika ia menjerit.


"Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu," hardik Kanaya. Ia meletakkan kedua tangannya di dadanya.


Alex menelan salivanya saat melihat belahan buah dada yang begitu tertampang jelas. Tak hanya itu saja, melainkan kaki jenjang yang begitu mulus membuat ia panas dingin dibuatnya.


"Haruskah aku mengingatkanmu, bahwa ini juga kamarku? Kenapa aku harus mengetuk pintu," jawab Alex dengan santainya.


Alex menyeringai, bergerak mendekat ke arah Kanaya dan ia berkata dengan menggoda, "Aku melihat istriku merindukanku sehingga kamu bicara seperti itu, Sayang."


"Jangan omong kosong! Aku merindukanmu, itu hanya di alam mimpimu," ucap Kanaya.


Kanaya mencoba untuk menjauh, ia berjalan mundur menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian gantinya. Namun, Alex terus saja berjalan maju ke arahnya dengan tangan yang cekatan, Alex melepas jaket kulit yang menempel pada tubuhnya dan melempar sembarangan.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Kanaya khawatir.

__ADS_1


"Menurut kamu?" Alex menyeringai dengan tatapan mesumnya.


Kedua netra Kanaya melebar ketika ia menyadari Alex bertelanjang dada, "Apa yang kamu lakukan?"


 Alex menyeringai, tangannya kini berada di ikat pinggangnya seolah-olah dia akan melepas celananya juga.


"Tolong jangan lakukan  itu!" mohon Kanaya dengan wajah yang ketakutan.


Tiba-tiba tatapan mereka bertemu dan Alex mengarahkan pandangan ke arah Kanaya yang terus berjalan mundur. Sementara Alex terus bergerak maju untuk mendekat. 


"Tolong aku," rintih Kanaya dalam hatinya. Ia terpaksa berhenti ketika punggungnya membentur dinding. Kini bisa meletakkan telapak tangannya didadanya agar handuk yang ia kenakan tidak terjatuh ke lantai.


 "Kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Alex yang di jawab gelengan kepala oleh Kanaya. 


"Lalu? Kita lakukan kapan ini?" tanya Alex seraya mengangkat tangannya ke atas untuk membelai pipi mulus Kanaya.


"Jangan …."


Kanaya menatap mata kebiruan milik Alex, ia bisa kehilangan apa yang ia jaga selama ini. Ia hanya ingin memberikan pada laki-laki yang benar-benar mencintainya.


"Hai, kamu lupa kita sudah menikah. Apa kamu tidak tahu itu? Aku ingatkan, aku belum menagih sesuatu dari kamu," ucap Alex.

__ADS_1


Mata Alex menyipit ke arah Kanaya, dan wajahnya semakin mendekat seolah-olah dia ingin menciumnya. Kini bayangan Doni mencium dirinya tiba-tiba muncul, tidak. Ia tidak siap untuk ini. Ia berusaha menolak perlakuan Alex, tetapi Alex semakin mendekat.


__ADS_2