Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 10


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nurfa sudah datang ke perusahaan menggunakan motornya.Bukan tanpa alasan ia kembali mengendarai motornya,ia tidak ingin hal seperti semalam terulang kembali.Syukur dia mendapat taksi semalam,jadi dia tidak terlalu terlihat menyedihkan.


Saat ini ia sedang berjalan masuk ke dalam perusahaan.Memang masih sedikit karyawan yang datang,karena dia datang pukul 07.00 WIB.Sedangkan waktu datang untuk seluruh karyawan jam 08.00 WIB.


Sambil berjalan santai,ia masuk ke dalam lift khusus untuknya dan Brayen.Lift khusus untuk CEO dan sekretarisnya,dan orang-orang yang di khususkan saja yang bisa menaiki lift ini.Setelah menekan tombol angka delapan pintu lift tertutup dan mulai bergerak.


Nurfa melihat penampilannya lagi.Ia memakai pashmina berwarna hitam,kemeja bermotif warna coklat,serta mengenakan rok berwarna hitam.Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Ting


Saat pintu lift sudah terbuka,ia langsung keluar dan masih memasang senyumannya.Ketika membuka pintu ruangan CEO,senyum yang sedari tadi terukir di bibirnya pun langsung menghilang seketika.Ia melihat Brayen sudah duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu,sambil satu kaki naik ke atas kakinya satu lagi.Ia mengerjab-ngerjabkan matanya sambil melihat ke arah jam yang ada di tangannya.


"Jamku tidak rusak kok,"gumam Nurfa.


Tidak sampai disitu,ia juga melihat handphone yang ada di dalam tasnya dan waktu di hp nya sama dengan jam nya.Sibuk dengan kegiatannya,ia tidak menyadari Brayen sekarang sudah ada di depannya,berdiri sambil memasukkan tangan kirinya pada saku celananya.


"Terlambat,Nona Zahwa?"tanya Brayen dengan sinis.


Nurfa yang mendengar suara pria itu yang terasa dekat dengannya,langsung mendongak dan spontan mundur.


"Sejak kapan anda berdiri disini,Pak?"tanya Nurfa dengan heran.


"Sejak kau berbicara sendiri seperti orang gila,"cemooh Brayen.


"Apa?!"


"Sudahlah,kenapa kau bisa terlambat?Seharusnya kau sudah datang sebelum aku datang!" ujar Brayen.


Nurfa dibuat melongo mendengar itu"Anda bercanda ya,Pak?Bagaimana bisa anda mengatakan saya terlambat?Bukannya jam kerja dimulai pada pukul 08.00 WIB ya,Pak?"


"Memang,"jawab Brayen santai.


Nurfa semakin bingung mendengar jawaban dari atasannya itu.


"Kalau begitu,saya tidak terlambat dong,Pak,"protes Nurfa.


"Kau itu bodoh atau bagaimana?Itu khusus untuk karyawan biasa!Sedangkan kau,kau itu sekretaris dari CEO,"kata Brayen sambil mengangkat jari telunjuk kanannya ke arah Nurfa.

__ADS_1


"What?!"tanya Nurfa dengan mata yang membola.


"Kenapa?Kau tidak tahu itu?"tanya Brayen dengan mata memicing menatap ke arah Nurfa.


Nurfa masih syok mendengar perkataan Brayen barusan,dan berusaha mengendalikan diri.


"Tentu saja saya tahu,Pak.Tapikan,saya sudah datang satu jam lebih awal,Pak,"kata Nurfa berusaha tenang.


"Lagi pula,anda tidak mengatakan akan datang sepagi ini ke perusahaan,"sambung Nurfa.


Brayen mengangkat kedua alisnya,lalu terkekeh kecil."Ohh ..., jadi kau menyalahkan ku,Nona Zahwa?"


Brayen menatap Nurfa dengan dingin.Nurfa yang ditatap seperti itu,hanya menundukkan kepalanya.Namun,siapa yang tahu dia sedang mencaci pria di depannya ini habis-habisan di dalam hatinya.


"Dasar pria menyebalkan,Ya Allah semoga enam bulan cepat berlalu"batin Nurfa merasa prihatin dengan kondisinya saat ini.


"Semakin lama,sikapmu semakin tidak dapat ditolerir lagi,Nona Zahwa.Aku rasa aku terlalu baik hingga sampai sekarang masih tidak memberi hukuman padamu,"sambung Brayen dengan nada mengintimidasi.


Nurfa mengangkat kepalanya dan menatap kesal ke arah Brayen.


"Hebat sekali,setelah berbuat kesalahan lalu minta maaf lalu membuat kesalahan lagi.Seakan kata maaf tidak ada artinya bagimu."Sindir Brayen sambil berjalan ke arah singgle sofa lalu mendudukkan diri di sana,bersandar dengan satu kaki terangkat di kaki satunya,sambil bersedekap dada dan menatap tajam ke arah Nurfa.


"Saya rasa lebih baik,dari pada tidak pernah mengucapkan kata maaf padahal selalu menyakiti orang lain,"kata Nurfa sambil balas menyindir.


Brayen mengangkat satu alisnya sambil menatap Nurfa."Kau berusaha menyindirku,Nona Zahwa?"tanya Brayen dengan masih memasang wajah datar.


"Memangnya saya menyebutkan nama anda tadi?"tanya Nurfa dengan wajah tenang.


"Ternyata dia sadar.Hahaha ..."gelak Nurfa dalam hati.


"Jangan pernah mencoba mempermainkan emosiku,Nona Zahwa,"kata Brayen dengan tajam.


"Saya tidak pernah mempermainkan emosi anda,Pak,"kata Nurfa dengan tenang,tapi di dalam hatinya ia bersorak gembira.


Salah siapa membuatnya kesal.Memang di dalam surat perjanjian yang di tanda tanganinya terdapat beberapa peraturan yang harus ia ikuti.Salah satunya ia harus datang lebih awal dari Brayen.Dan ia memang sudah datang awal,tetapi pria itu sudah datng sepagi ini.


"Damn! Berani-beraninya kau mempermainkanku!"Brayen dengan berkata dengan suara yang meninggi dan menatap Nurfa dengan pandangan yang sangat tajam.

__ADS_1


"Kau tahu?Jika aku ingin aku bisa memecatmu sekarang juga!"sambung Brayen.


Nurfa yang mendengar itu bukannya emosi,tetapi dia merasa bahagia."Benarkah?Kalau begitu anda  bisa memecat saya sekarang Pak,saya tidak akan memprotesnya,"kata Nurfa.


Mendengar hal itu dari Nurfa,emosinya bukan mereda bahkan sudah mencapai puncaknya.


"NONA ZAHWA!"Brayen bangkit dengan kasar dari kursinya,lalu membanting vas bunga yang ada di atas meja didepan pria tersebut.


Prang


Melihat hal itu,Nurfa merasa sangat terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Matanya membelalak kaget melihat hal itu.Nafasnya memburu melihat pecahan vas kaca itu di lantai.Apa pria di depannya ini mengalami bipolar?


Brayen berjalan tergesa ke arah Nurfa dengan ketukan sepatu yang kuat,serta dengan muka yang memerah dan mata yang menghunus tajam ke arahnya.Melihat hal itu,Nurfa pun segera memundurkan langkahnya hingga sampai tembok.


Ya ampun!


Dia terjebak!


Brayen sudah sampai di depannya,menatap Nurfa dengan tajam.Bahkan mata biru pria itu menjadi sedikit lebih gelap,dan Nurfa baru mengetahui warna mata pria itu berwarna biru.


"KAU PIKIR DIRIMU SIAPA HA?!BERANI SEKALI KAU MERENDAHKANKU!"Amuk Brayen.


Nurfa yang mendengar itu ingin protes,tetapi melihat bagaimana kondisi pria di depannya ini dia hanya bisa diam.


Kemudian Brayen mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya ke arah Nurfa.


"Dengar ini baik-baik.Jangan pernah sekali-kali kau memancing emosiku,Nona Zahwa.Jika aku mendengar kau mengatakan itu lagi,maka jangan salahkan aku membuat cafemu tutup untuk selama-lamanya!"ucap Brayen dengan penekanan di setiap katanya.


"Suruh OB membersihkan itu!Jika aku masih melihat berantakan, kau lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu!"


Setelah mengucapkan itu,Brayen langsung keluar dan menutup pintu dengan kerasnya.Mendengar suara dentuman keras pintu itu,barulah Nurfa seakan tersadar dan menghirup udara dengan rakusnya.


Bersambung...


Maafin kalau ada typonya ya🙏🏻


See you on the next time

__ADS_1


__ADS_2