Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 25


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak kejadian itu, dan Nurfa masih bekerja sebagai sekretaris dari Brayen. Semenjak kejadian itu, Nurfa menjadi lebih waspada pada Brayen.


Namun seringkali Brayen meluapkan kekesalannya dan semakin menampakkan bahwa pria itu tidak menyukainya. Nurfa menganggap itu angin lalu saja, dan tetap bekerja sambil berharap waktu enam bulan cepat berlalu.


Namun yang namanya waktu tidak akan dapat bisa dipercepat, dan Nurfa sadar akan itu.


"Permisi?" Ucap seorang wanita pada Nurfa.


Nurfa yang mendengar itu langsung melihat ke arah wanita itu. Dan betapa terkejutnya dia melihat siapa wanita itu. Rambut wanita itu yang berwarna pirang bergelombang, dengan wajah yang oriental. Serta staylish wanita itu yang mengenakan celana jeans denim, baju kaos putih serta jas yang dilampirkan di bahunya yang warnanya selaras dengan celana yang dikenakan wanita itu.


Wanita itu adalah Felycia Arvaz, model ternama sekaligus mantan kekasih dari Brayen. Dalam hati Nurfa mengagumi pilihan pria itu yang sudah pasti penampilan harus nomor satu. Tapi akhirnya terbersit pertanyaan, kenapa mereka bisa putus?


"Maaf, ada yang bisa saya bantu Miss?" Tanya Nurfa sambil berdiri.


"Kau sekretaris baru Brayen?" tanya balik Felycia dengan kernyitan kecil di dahi. Tapi tetap dengan suara lembutnya.


"Benar, saya sekretaris baru pak Zacky," jawab Nurfa yang ikut tersenyum juga.


"Aa ..., begitu. Perkenalkan namaku Felycia Arvaz," ucap Felycia sambil menyodorkan tangan kehadapan Nurfa.


"Nama saya Nurfa Mysha Zahwa, anda bisa memanggil saya Nurfa." Nurfa menjabat tangan Felycia.


Felycia mendengar itupun tersenyum menanggapinya. Lalu melihat ke arah Nurfa, lebih tepatnya menilai cara berpakaian Nurfa.


"Wow, ternyata kau sangat berbeda dari sekretaris Brayen yang dulu-dulu. Tapi aku lebih suka melihat penampilanmu, kau seperti tidak mudah terpengaruh dengan orang sekitarmu," ucap Felycia pada Nurfa.


"Terimakasih, Miss. Saya juga sudah sering mendengar itu dari orang lain, tapi mendengar anda yang mengucapkannya jauh terdengar lebih baik." Ungkap Nurfa dengan jujur.


Felycia yang mendengar itu tersenyum lebar, lalu mengusap bahu Nurfa. " Tetaplah pada pendirianmu sekarang. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, karena yang menjalani kehidupanmu ini adalah dirimu bukan orang lain."


"Oh, ya. Kau bisa memanggilku dengan nama saja. Mulai hari ini, aku sudah menganggap kita berteman," sambung Felycia dengan semangat.


Nurfa yang mendengar itupun sempat tak menyangka, bahwa Felycia akan se-humble ini dengannya. Ia pikir Felycia akan bersikap biasa saja dengannya, mengingat Felycia adalah model kelas atas. Tapi sepertinya apa yang dikatakan pepatah itu benar. Bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu dari luarnya saja.


"Tapi, ..."


"Tidak ada tapi-tapian. Kau tahu? Aku sangat jarang memiliki teman yang se frekuensi denganku. Dan melihat dirimu yang memiliki prinsip yang sama denganku, membuat aku sangat senang," ucap Felycia dengan gembira  diikuti binar matanya yang berwarna biru itu.


"Baiklah kalau itu mau mu Felycia, mulai sekarang kita berteman," ucap Nurfa dengan suara yang gembira juga.


"Aku hampir melupakan niat awalku kemari, apa Brayen ada di dalam?" tanya Felycia pada Nurfa dengan senyum manis yang senantiasa terukir di bibirnya.


"Ah, ya. Pak Zacky ada di dalam ruangannya, mari saya antar anda menemuinya," ucap Nurfa


Felycia berdecak mendengar bahasa Nurfa yang kembali formal padanya. "Sudah kubilang, tidak perlu bahasa formal denganku seperti itu Nurfa," ucap Felycia sambil menggembungkan pipinya kesal, namun tetap mengikuti langkah Nurfa.


Nurfa mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah itu memutar knop pintu. Ketika pintu terbuka, terlihatlah Brayen yang sedang fokus dengan laptopnya.


Brayen tidak mengenakan jasnya, sebaliknya ia melampirkannya di sandaran kursi kerjanya. Baju kemeja pas membentuk tubuhnya yang lengannya digulung  hingga mencapai siku, membuat penampilan pria itu bertambah berkali lipat.


"Permisi, Pak. Miss Felycia ingin bertemu dengan anda." Nurfa mengatakan itu ketika sudah sampai tepat di depan meja Brayen.


Brayen yang mendengar nama Felycia disebut, langsung mengangkat kepalanya dan menatap tepat ke arah dua wanita yang ada di depannya sekarang ini.

__ADS_1


"Hai, Brayen. Long time no see," sapa Felycia dengan semangat.


Brayen pun berdiri dan mengahampiri Felycia dengan senyuman yang merekah. Kemudian Felycia memeluk Brayen terlebih dahulu.


Tapi bedanya, pelukan ini tidak seperti pelukan sepasang kekasih. Lebih tepatnya seperti pelukan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa.


Tangan kanan Felycia menepuk pelan pundak Brayen, begitu juga dengan Brayen. Lalu mereka melepaskan pelukan mereka, dan tersenyum lebar satu sama lain.


"You look so beautiful my angel," ucap Brayen pada Felycia.


Felycia yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas, seakan apa yang dikatakan oleh pria itu adalah hal yang memuakkan.


"C'mon, Dude. Kau tidak pernah berubah sejak terakhir kali kita bertemu. Dasar perayu ulung," cela Felycia pada Brayen yang diiringi dengan kekehan kecil yang keluar dari bibirnya.


Nurfa yang melihat interaksi mereka berdua merasa aneh. Bukankah mereka berdua dulu terlibat jalinan kasih, sampai-sampai mereka dikabarkan akan menikah?


Tapi yang dilihatnya sekarang ini hanya seperti pertemanan yang sudah lama terjalin.


"Kalau begitu saya permisi, Pak," pamit Nurfa pada Brayen, yang dibalas dengan lirikan kecil dari Brayen.


Kemudian Nurfa keluar dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu.


Brayen dan Felycia memilih untuk duduk pada sofa yang ada di ruangan itu. Felycia kemudian melihat ke arah Nurfa yang sudah kembali fokus dengan tugasnya.


"Aku menyukai sekretaris barumu, Brayen. Dia memiliki prinsip yang sangat bagus, dan sampai sekarang masih memegangnya," ucap Felycia sambil tersenyum lembut melihat Nurfa.


"Seleramu memang aneh, Fel." Dengus Brayen tidak senang mendengar apa yang diucapkan oleh Felycia.


"Sudahlah, kenapa kau datang kemari? Sepertinya ada hal yang penting, hingga seorang model sibuk ini meluangkan waktunya untuk datang ke perusahaanku," tanya santai pada Felycia.


Kemudian Felycia mengeluarkan sebuah kartu undangan mewah kepada Brayen yang diterima dengan baik oleh pria itu.


Brayen membuka pita merah yang mengikat kartu undangan tersebut. Lalu membacanya langsung, dan setelah itu matanya melotot tidak percaya pada Felycia.


"Kau akan menikah?!" Tanya Brayen dengan tidak santainya, yang dibalas anggukan semangat oleh Felycia.


"Wah, jadi ceritanya sekarang mantan kekasihku mengundangku untuk datang ke pernikahannya? Sungguh ironi," ucap Brayen dengan berdrama seakan sedih.


Felycia yang melihat itu mencebikkan bibir seksinya. Lalu menatap sinis ke arah Brayen.


"Tidak perlu berdrama seperti itu, kau sangat tidak cocok melakukannya. Lagi pula kita berdua tau, bahwa berita itu kau sendiri yang membuatnya agar kau selamat dari perjodohan yang dilakukan ayahmu dulu," ucap Felycia sinis pada Brayen.


"Ck! Jika dipikir-pikir, aku merupakan pria yang malang hingga sampai sekarang tidak memiliki seorang kekasih," ucap Brayen seperti mengasihani dirinya.


"Hey! Apa-apaan perkataanmu itu! Tidak memiliki kekasih? Jadi para wanita yang kau bawa tidur itu apa namanya kalau begitu?" Felycia tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Brayen.


Brayen kemudian terkekeh kecil mendengarnya, lalu bersandar pada sofa yang didudukinya.


"Kau kan tahu, mereka hanya mainan kecilku. Lagipula aku tidak pernah memaksa mereka, mereka sendiri yang menyerahkan diri padaku," jawab Brayen dengan jujur dan masih dengan nada yang sangat santai, seakan apa yang diucapkannya itu sama sekali tidak ada yang salah.


"Sudahlah, berdebat denganmu memang tidak alan pernah menang. Aku prihatin pada Nurfa karena menjadi sekretaris dari pria arogan sepertimu." Felycia berdiri dari duduknya berniat ingin pergi, karena dia mendapat pesan dari calon suaminya yang sudah menunggunya di luar.


Mereka berdua sekali lagi melakukan pelukan perpisahan, kemudian Felycia berniat untuk keluar dari ruangan itu, bahkan tangannya sudah menyentuh gagang pintu.

__ADS_1


Namun ia kembali berbalik, dan menatap Brayen dengan pandangan yang tulus.


"Carilah wanita yang bisa kau jadikan rumahmu Brayen. Berhentilah bermain-main dengan wanita yang tidak jelas lagi. Jika kau masih tetap begini, aku khawatir kau akan merasakan sakit nantinya. Aku berkata seperti ini karena aku adalah sahabatmu, dan aku tidak ingin melihatmu hancur nantinya karena wanita," ucap Felycia dengan mata yang berkaca menatap Brayen, kemudian dia benar-benar keluar dari ruangan itu.


Brayen masih melihat datar ke arah pintu keluar Felycia tadi, dan memikirkan apa yang diucapkan oleh Felycia.


Lalu sedetik kemudian, dia tertawa tidak menyenangkan bahkan lama-kelamaan tawanya makin besar sampai-sampai matanya berair.


Lalu seakan lelah tawanya menjadi kecil dan berubah dengan tatapan tajam yang memiliki dendam di dalamnya. Bahkan kedua tangan pria itu sudah mengepal kuat.


"Kau berkata seperti itu, tapi kau tidak tahu apa artinya itu untukku. Aku tidak akan pernah hancur karena wanita, tapi aku yang akan menghancurkan mereka. Seperti dia yang telah menghancurkan keluargaku," kata Brayen dengan mata merah yang menyiratkan kebencian yang sangat besar.


Nurfa yang fokus dengan berkas serta laptopnya, seketika kaget ketika melihat layar laptopnya sudah berubah menjadi surat undangan.


Ya, pelakunya tak lain adalah Felycia yang saat ini sedang tersenyum manis ke arahnya. Nurfa lalu mengambil surat undangan yang disodorkan oleh Felycia.


"Apa ini Felycia?" Tanya Nurfa heran.


"Itu surat undangan pernikahanku, dan kau harus datang Nurfa. Aku sangat menantikan kedatanganmu nantinya." Felycia berucap sambil tersenyum pada Nurfa.


Mata Nurfa membola sempurna, lalu membaca surat undangan tersebut, untuk memastikan nama pengantin pria nya. Lalu, dia seketika mengernyit heran.


"Kau pikir aku akan menikah dengan Brayen, Nurfa?" tanya Felycia sambil tertawa melihat ekspresi Nurfa saat ini.


"Bagaimana kau bisa tau?" Tanya Nurfa kaget, yang dibalas senyuman oleh Felycia.


"Bukan cuma kau yang berpikir seperti itu, hampir semua orang yang mengenalku berkata seperti itu," ucap Felycia sambil tertawa kecil, yang membuat penampilannya sekarang menjadi cantik berkali lipat.


Lalu dia mencondongkan tubuhnya pada Nurfa, dan berbisik tepat di telinga Nurfa.


"Sebenarnya, aku tidak pernah menjalin ikatan sepasang kekasih bersama Brayen dulu. Berita itu dibuat agar Brayen dapat terbebas dari perjodohannya." Setelah mengatakan itu, Felycia langsung menjauhkan tubuhnya dan melihat Nurfa yang lagi-lagi kaget.


"Sudahlah, rahasia ini hanya kau yang tahu. Kalau begitu aku akan pergi dulu, calon suamiku sudah menungguku di bawah. Sampai jumpa Nurfa," ucap Felycia berpamitan pada Nurfa.


Nurfa juga membalas Felycia dengan tersenyum lebar, dan melambaikan tangannya ke arah Felycia.


Sepeninggal Felycia, Nurfa masih tidak percaya dengan yang diucapkan oleh Nurfa. Wah, ternyata kita tidak bisa mempercayai berita dari media sepenuhnya.


Lalu Nurfa menatap ke arah pintu penghubung yang transparan. Dan dia kaget mendapati Brayen yang juga melihat ke arah yang sama dengannya. Bahkan saat ini Brayen melihatnya intens.


Dengan canggung, Nurfa mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptopnya. Lalu kembali menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas yang ada di mejanya.


Bersambung ...


Hayoloh, siapa 'dia' yang dimaksudkan oleh Brayen?


Maaf untuk teman-teman yang masih nunggu aku update ya🙏🏻


Insyaallah kedepannya aku bakalan rajin update karena sudah masuk waktu libur kuliah🎉


Terimakasih atas dukungan dan supportnya ....


See you at the next episode

__ADS_1


__ADS_2