Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 8


__ADS_3

"Wait,kau sekretaris baru Brayen kan!"kata pria itu lalu tersenyum lebar ke arah Nurfa.


Mendengar hal itu,Nurfa sontak melebarkan matanya kaget.Bagaimana pria didepannya ini bisa tahu,padahalkan dia tidak mengatakan jika dia sekretaris dari Brayen.


"Bagaimana anda bisa tahu,Pak?"tanya Nurfa.


"Aku sepupunya Brayen,kau tidak usah memanggilku Pak.Panggil saja Adrean,"kata Adrean dengan memasang senyum manisnya.


Ya ampun,jika saja Nurfa tidak ingat dosa mungkin dia akan terus menatap pria itu dengan kagum.Untungnya ia bukan orang yang mudah oleng hanya karena melihat wajah tampan.Jika saja Siska dan Natasya ada disini,sudah bisa dipastikan mereka akan cari perhatian dengan pria yang ada didepannya ini.


"Maaf,Pak.Saya pikir tidak sopan memanggil penerus perusahaan Smith hanya dengan nama saja,"kata Nurfa sambil tersenyum canggung.


"Tidak masalah.Namamu Nurfa kan?Mulai sekarang kau panggil saja aku Adrean,lagi pula kau juga tidak bekerja denganku,"kata Adrean masih dengan memasang senyum di wajahnya,sambil berjalan di samping Nurfa.


"Baiklah Adrean,tapi jika saat bekerja aku akan tetap memanggilmu memakai embel pak.Bagaimana?"Nurfa memilih mengalah,dari pada memperpanjangnya.


"Absolutely,begitu juga tak masalah,"katanya sambil berjalan memasukkan tangannya kedalam kedua saku celananya.


Nurfa melirik jam tangannya sebentar,dan melihat waktu jam makan siang akan berakhir.Ya ampun,ia tidak boleh terlambat!


"Oke Adrean,aku pamit dulu.Soalnya jam makan siang akan berakhir sebentar lagi.Assalamu'alaikum."Pamit Nurfa sambil sedikit membungkukkan diri,lalu berlari kecil menuju lift tanpa menunggu balasan dari Adrean.


Adrean yang melihat itu pun hanya terkekeh kecil melihat kelakuan sekretaris baru sepupunya itu.Sebenarnya dia begitu terkejut melihat penampilan sekretaris Brayen yang sekarang ini.Jika mengingat penampilan para mantan sekretaris pria itu,maka orang lain akan sulit percaya dengan melihat Nurfa sekarang.


"Ya ampun,bisa-bisanya pria arogan itu mendapatkan sekretaris sepertinya."Adrean menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil.


Adrean tidak menyadari,apa yang baru saja dia lakukan oleh pria itu membuat para wanita menahan jeritannya.Para karyawan wanita yang ada disana pun mulai cari-cari perhatian dengan sesekali lewat di depan pria itu.Bahkan,tak jarang ada yang langsung menyapanya,sambil memasang senyum terbaik.


Adrean hanya membalas dengan senyuman tipis,dan sedikit anggukan kepala.Lalu,pergi berbalik meninggalkan tempat itu.


"Yah ...."Keluh para wanita itu.


Lalu secara spontan pergi juga meninggalkan tempat itu,dan masuk untuk langsung bekerja.Bagi mereka,melihat penerus perusahaan Smith disini adalah hal langka yang tidak boleh di sia-siakan.

__ADS_1


Adrean memiliki penampilan dan wajah yang tidak kalah tampannya.Dengan tinggi 187,tubuh atletis serta tampilannya yang yang memukau membuat para wanita mendambakan pria itu.Apalagi citra dari pria itu yang terkenal baik.Meskipun dia sama seperti Brayen,tapi tidak ada rumor yang megatakan dia memiliki skandal dengan wanita.


Tapi,tetap saja jika di suruh memilih antara Adrean dan Brayen maka mereka akan tetap memilih Brayen.Bahkan rumor pria itu yang sering gonta-ganti wanita,tidak menyurutkan pesona pria itu di mata mereka.Malah mereka ingin menjadi salah satu wanita dari Brayen.Dan karena alasan itulah mengapa mereka selalu mengenakan pakaian yang dirasa dapat memikat pria itu.


********


"Pak,ini berkas-berkas yang harus anda tanda tangani,"ucap Nurfa sambil membawa berkas-berkas itu kehadapan Beayen.


Brayen menghentikan pekerjaannya sejenak,lalu duduk bersandar pada kursinya.


"Hm,letakkan saja disitu,"kata Brayen sambil melirik ke arah meja.


Nurfa yang sudah paham,langsung saja meletakkan setumpuk berkas itu di atas meja.Lalu akan melangkah pergi menuju ruangannya kembali.


"Kau tidak mengatakan jadwalku hari ini?"kata Brayen sambil membaca-baca dokumen tersebut.Lalu melirik tajam ke arah Nurfa yang akan membalikkan badannya.


Glek


"Maaf,Pak.Jadwal anda hari ini meeting bersama perusahaan Lee Entertainment di gedung xxxx pada jam 4 sore nanti,Pak,"kata Nurfa dengan hati-hati.


Suasana hening setelah Nurfa berbicara tadi.Nurfa hanya bisa pasrah,saat mendapat tatapan tajam dari Brayen yang seakan ingin membunuhnya saat itu juga.


"Apa aku harus selalu mengingatkanmu Nona Zahwa?"kata Brayen dengan dingin sementara Nurfa hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Inilah kenapa aku tidak ingin mempekerjakanmu dari awal.Apa hebatnya menjadi lulusan terbaik jika hal sepele seperti ini saja kau teledor!Jika aku tidak mengingatkanmu,bisa kau bayangkan kerugian yang akan dialami perusahaan ini!"kata Brayen dengan suara lebih keras dan meletakkan dengan kasar dokumen yang ada di tangannya.


"Maaf,Pak.Saya tidak akan mengulanginya lagi,"kata Nurfa sambil menunduk.


"Tatap aku jika berbicara,Nona Zahwa!"


"Lihatlah,bagaimana bisa kau tidak memiliki sopan santun terhadap atasanmu!Pantas saja kau dipecat dari pekerjaanmu dulu!"kata Brayen sambil berdiri dari posisi duduknya,dan berjalan menghampiri Nurfa.


Mendengar kalimat terakhir bosnya itu,Nurfa langsung mengangkat wajahnya dan menatap Brayen dengan tatapan tidak terima.

__ADS_1


"Kenapa?!Kau tidak terima?!"kata Brayen sambil bersedekap dada di hadapan Nurfa.


"Tentu saja!Mengapa anda menghubungkan hal sepele ini dengan pekerjaan lama saya?Anda pikir saya tidak tahu,anda dalang di balik pemecatan saya kan?"kata Nurfa dengan kesal.


"Kau bilang ini masalah sepele?Wah,Nona Zahwa.Wah ...,"kata Brayen sambil bertepuk tangan pelan,lalu kembali melihat Nurfa dengan amarah yang memuncak.


Brayen melangkah pelan mendekati Nurfa.


"Jika kau lupa,hal sepele yang kau anggap itu dapat merusak citra perusahaanku,"kata Brayen dengan nada mengintimidasi serta terus berjalan ke arah Nurfa.


Nurfa yang melihat pria itu semakin mendekat,perlahan memundurkan langkahnya.


"Dapat kau bayangkan apa dampak jika hal itu terjadi?!"seru Brayen sambil terus melangkah ke arah Nurfa.


"Kenapa kau diam saja?!Berakting menjadi bisu?!"tanya Brayen dengan suara yang meninggi.


"Ish,bicara salah,diam juga salah"gumam Nurfa namun berhasil di dengar oleh Brayen.


"Kau mengatai atasanmu,Nona Zahwa?!"tanya Brayen dengan suara yang lebih tinggi,membuat Nurfa terlonjak kaget dan sontak menatap pria itu yang tengah memandangnya tajam.


"Apa anda harus membentakku seperti itu?"tanya Nurfa dengan kesal.


"Masih bisa melawan?"tanya Brayen dengan nada tak percaya.


"Saya memang terlupa,dan saya sudah minta maaf tadi.Tapi anda yang memulai dengan menyangkut pautkan masalah ini dengan pekerjaan lama saya,"kata Nurfa berusaha keras menahan kekesalannya.


"Apa?!Jadi kau menyalahkanku?!"


"Saya tidak menyalahkan anda,tapi apa harus anda berbicara seperti itu?Saya tidak melupakan jadwal anda, Pak.Saya hanya lupa memberitahukannya,"kata Nurfa dengan menurunkan emosinya berusaha bersikap tenang.


"Oh,jadi kau ingin aku berbicara seperti apa?Dengan lembut dan mendayu-dayu begitu?!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2