
Entah sudah seperti apa bentuk ruangan Brayen sekarang, yang saat ini Nurfa lihat ruangan itu tidak nampak baik-baik saja. Lihatlah berkas yang harusnya ada di atas meja menjadi berjatuhan di lantai.
Parahnya lagi setiap lembar berkas itu berserakan dimana-mana, dan Nurfa diperintahkan Brayen untuk membereskan ruangannya seorang diri.
Bahkan memerintahkan dirinya untuk memberesi berkas-berkas itu, sesuai per-halamannya dan tidak boleh salah. Jika berkas itu satu Nurfa akan mengerjakannya tanpa membantah, tapi berkas yang harus disusunnya itu lebih dari satu. Jika di ingat-ingat lagi, jumlah berkas yang ada di meja Brayen berjumlah sepuluh berkas.
Itupun yang hanya dia ingat, selebihnya Nurfa tidak tau lagi.
"Dasar! Jika memang dia tidak pernah punya hubungan dengan Felycia, kenapa ruangan pria gila itu jadi begini?!" Kesal Nurfa sambil menghentakkan kakinya ketika mengumpulkan beberapa kertas yang ada di lantai.
Ya, semenjak Felycia pergi dari ruangan itu Nurfa mendengar suara kegaduhan di dalam ruangan Brayen. Nurfa mengintip melalui pintu penghubung dan melihat betapa gilanya pria itu meluapkan amarahnya. Sialnya lagi, dia ketahuan oleh Brayen makanya dia di perintahkan pria itu untuk membersihkan ruangannya.
"Kenapa waktu enam bulan lama banget sih?! Bisa mati aku lama-lama ngadepin sikap Brayen kalau kayak gini," gerutu Nurfa masih dengan mengumpulkan lembaran kertas yang ada di lantai.
"Dasar CEO gila! Bisa-bisanya banyak cewek yang suka sama dia. Padahal mereka ngak tau aja kalau Brayen ada kelainan jiwa." Nurfa masih meluapkan kekesalannya.
"Aku sumpahin dia dapat istri pemarah, biar habis dia dimarahin istrinya tiap hari," ucap Nurfa sambil meyusun kertas-kertas yang sudah ia kumpul di atas meja. Ia menhentakkan kertas itu dengan kuat, sambil mendumel setiap saat.
"Awas aja kalau dia nyuruh aku kayak gini lagi, aku akan-"
"Kau akan apa?" tanya Brayen yang entah kapan sudah berdiri di belakang Nurfa.
Nurfa refleks mengulum kedua bibirnya dan meringis kecil, entah sejak kapan pria itu ada di belakangnya. Kenapa pria itu sudah seperti hantu saja sih?!
Pergerakan tangan Nurfa menjadi lambat, bahkan tidak terdengar suara saat dia menghentakkan kertas. Dalam hati dia berdoa keras agar tidak terjadi sesuatu yang buruk nantinya.
Tapi sepertinya sudah terlambat, saat ini Brayen tengah menatap tajam padanya tanpa ia sadari.
Nurfa kemudian berbalik secara perlahan menatap Brayen di belakangnya. Setelah itu dia tersenyum sopan pada pria itu, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Selamat siang Pak." Nurfa memasang senyum tersopannya pada Brayen.
Ekspresi Brayen tidak terpengaruh, dia tetap menatap Nurfa dengan dingin.
Nurfa masih tetap tersenyum, tapi hatinya sudah meringis sedari tadi. Melihat ekspresi Brayen saat ini, mungkin saja pria itu mendengar perkataannya sejak tadi.
"Ada apa dengan wajahmu itu?" Tanya Brayen yang berhasil membuat Nurfa kaget.
"Memangnya ada apa dengan wajah saya, Pak?" Balik tanya Nurfa dengan perasaan yang was-was.
Brayen kemudian berdecak, kemudian menyampingkan wajahnya tidak menatap Nurfa. "Ck! Sudahlah. Kau memang aneh."
Setelahnya Brayen memilih duduk di kursi kerjanya, meninggalkan Nurfa yang sudah bernafas lega.
Nurfa kemudian kembali memperbaiki beberapa berkas yang sempat terhenti tadi.
Sementara Brayen memandang Nurfa yang masih membereskan berkas-berkas itu, pastinya tanpa sepengetahuan Nurfa.
Ia memandangnya dengan pandangan yang rumit. Entah apa yang ada di pikiran pria itu.
"Kenapa kau lama sekali menyelesaikannya?"
Mendengar suara pria di belakangnya, membuat Nurfa menjadi jengkel.
__ADS_1
"Dia pikir gampang apa nyusun nih kertas?" Gerutu Nurfa.
"Selain aneh, sepertinya kau juga sudah gila. Lihatlah, hari ini sudah seberapa sering kau berbicara dengan dirimu sendiri. Aku sarankan lebih baik kau pergi ke psikiater," ucap Brayen saat mendapati Nurfa yang tengah menggerutu tadi.
Nurfa meredam amarahnya, jika dia terpancing oleh omongan pria itu maka pekerjaannya tidak akan pernah selesai. Jadi, dia memilih mengabaikannya saja.
Setelah selesai dengan tugasnya, ia meletakkan beberapa dokumen itu di atas meja kerja Brayen. Ia melihat Brayen yang sudah kembali fokus dengan laptopnya.
Jas pria itu ia lampirkan di sandaran kursinya, yang menyisakan kemeja pria itu saja berwarna latte. Dengan bagian tangan yang di gulung hingga lengan pria itu, memperlihatkan tangannya yang berurat dan tegap.
"Ini dokumen yang tadi, Pak. Saya sudah membereskannya sesuai dengan yang Bapak ucapkan tadi," ucap Nurfa sambil meletakkan dokumen itu.
"Kau taruh saja disitu, tidak usah mengganggu ku!" Jawab Brayen dengan ketus.
"Siapa juga yang ingin mengganggunya?" Nurfa berucap dengan pelan, namun siapa sangka Brayen masih dapat mendengarnya.
"Ooo, jadi begitu Nona Zahwa. Sedari tadi ternyata kau sedang mengolok-olok ku begitu!" Suara bass Brayen berhasil membuat Nurfa merinding.
"Haruskah ku ingatkan padamu, bahwa kau itu hanya bawahanku, rendahan ku. Jadi bersikaplah sesuai posisimu, terkadang sadar diri itu penting, Nona Zahwa." Brayen menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursinya, lalu melipat tangannya di depan dada menatap Nurfa intens.
Brayen tersenyum sinis melihat Nurfa yang menatapnya marah. "Kenapa? Kau tidak terima dikatai begitu?"
"Kau ingat ini baik-baik, sampai sekarang aku masih sabar melihat kelakuanmu yang tidak tahu diri itu, namun jangan kau pikir aku tidak akan membalas perbuatanmu padaku." Ucapan Brayen kian pedas, bahkan tidak peduli dan malah terus tersenyum sinis dengan mata yang menatap Nurfa rendah.
"Seharusnya kau bersyukur, karena aku sudah mengangkat mu menjadi sekretaris ku. Tapi memang susah jika berbicara dengan orang seperti mu." Sambung Brayen.
"Lihatlah ba-"
"Apa anda sudah selesai menghina saya? Bagaimana rasanya setelah menghina diri saya? Anda merasa puas?!" Potong Nurfa dengan amarah yang membuncah bahkan nafasnya sudah memburu.
"Hemh! Anda marah hanya karena saya berkata begitu? Baiklah, aku minta maaf akan itu," ucap Nurfa dan Brayen masih menatapnya tajam, bahkan pria itu mengepalkan tangannya kuat.
"Tapi perlu anda ingat juga, bahwa bertemu dengan anda adalah suatu musibah bagi saya. Entah kenapa sejak bertemu dengan anda, semuanya menjadi begitu sulit. Lalu anda mengatakan saya harus bersyukur dengan itu?" Ujar Nurfa pada Brayen.
Sedangkan Brayen mendengar itu sudah tersenyum lebar, bahkan senyumnya hingga sampai ke matanya.
"Baguslah jika kau merasa tersiksa bersamaku, setidaknya itu terdengar lebih baik," ucap Brayen sambil menyeringai mengerikan.
Nurfa menatap heran kepada Brayen. Entah apa yang pria itu mau dari hidupnya.
"Aku tidak bisa membayangkan jika kau bersamaku selamanya. Sekarang saja dalam waktu dua bulan ini, kau merasa tersiksa," ucap pria itu yang terdengar aneh di telinga Nurfa.
"Kalau soal itu, anda tidak perlu khawatir. Tidak usah memikirkan saya akan selamanya bersama anda, karena selama empat bulan kedepan saya akan pergi dari kehidupan anda," kata Nurfa sambil tersenyum.
"Really?" Brayen mengangkat kedua alisnya, seolah tidak percaya.
"Tentu saja. Bahkan jika bisa, besok saya tidak usah bekerja dengan anda lagi." Nurfa mengatakan itu dengan santai.
Brayen yang mendengar itu mengangguk seolah paham, lalu menegakkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang sudah bertaut di atas meja.
"Namun bagaimana jika kau harus terus bersamaku bersamanya Nona Zahwa. Entah kenapa aku mempunyai firasat bahwa kau akan terus bersamaku nantinya," ucap Brayen, yang mendapat pelototan kaget dari Nurfa.
"Dan semoga itu tidak pernah terjadi Pak." Nurfa langsung mengucapkannya, sambil bergidik ngeri membayangkan ucapan pria itu.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti Nona Zahwa, siapa yang tahu akan masa depan seseorang. Hari ini bisa saja kau berkata begitu, namun jika di masa depan adalah hal sebaliknya, aku tidak akan heran."
Nurfa masih tak mengerti arti dari ucapan pria itu.
"Anda berkata apa sebenarnya Pak?" Tanya Nurfa tak paham.
"Sudahlah, nanti kau akan memahaminya juga. Dan aku harap kau menyiapkan energi serta emosimu nantinya, karena aku tidak akan tanggung jawab." Brayen mengangkat bahunya acuh.
"Anda benar-benar aneh. Sudahlah, saya pamit undur diri, Pak. Selamat siang." Nurfa sedikit menundukkan kepalanya lalu memilih berbalik meninggalkan Brayen.
Brayen memandang punggung Nurfa yang semakin lama menghilang di halangi oleh pintu. Lalu, ia melihat layar hp nya yang menyala di ikuti dengan suara getaran.
Ia lalu mengambil handphone nya, dan mengangkatnya dengan santai.
"Halo Dad." Sapa Brayen pada ayahnya yang sedang menelponnya.
"...."
"Aku belum mengatakan kepadanya, lebih baik Dad sendiri yang mengatakannya nanti," ucap Brayen dengan malas.
"...."
"What ever! Kalau begitu aku tutup dulu." Setelah mengatakan itu Brayen langsung menutup telponnya.
Ia meletakkan handphone nya kembali, dan bersandar pada sandaran kursinya.
Ia menggoyangkan sedikit kusinya, lalu matanya terjatuh pada sosok Nurfa yang terlihat dari pintu penghubung transparan. Terlihat saat ini ia tengah fokus melihat-lihat ke arah layar laptopnya.
Lalu perempuan itu beralih pada buku catatan kecil yang ada di mejanya, lalu seakan menulis sesuatu.
Brayen lalu tersenyum miris melihat perempuan itu, seakan mengasihani nasib Nurfa.
"Menyedihkan. Tapi tak apa, bukan salahku juga kau terlihat seperti itu. Persiapkan saja dirimu untuk kedepannya Nona Zahwa. Karena aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia, walaupun untuk tersenyum sekalipun nantinya." Brayen menyeringai menyeramkan.
Sementara itu, Nurfa sibuk menulis sesuatu di buku catatan kecilnya.
"Sudah selesai. Baiklah besok jadwal Pak Brayen untuk melakukan meeting di perusahaan Arkas group. Okey, aku akan menyiapkan semuanya."
Nurfa tampak sibuk menghubungi sekretaris dari Arkas group untuk pertemuan besok. Pertemuan ini harus berjalan lancar, karena kesepakatan yang dilakukan saat ini terbilang sangat penting dan sangat menguntungkan.
Ia tidak ingin terjadi kesalahan yang mengakibatkan dia terkena amukan dari Brayen lagi nantinya.
Setelah merasa sudah mengatakan semuanya, ia kemudian menutup telponnya. Tidak lupa memberikan salam yang sopan terlebih dahulu.
Setelah memastikan semuanya aman, ia pun merasa lega. Setidaknya dia harus bertahan dengan semua ini hingga empat bulan mendatang.
Dan ia tidak sabar menantikan hari itu.
Bersambung ....
See you at the next chap guys😘
Oh iya, kayaknya aku bakalan buat spoilernya melalui story ig aku aja deh, buat kalian yang mau tau spoiler atau kapan aku update bisa follow akun ig aku @me_nulash.
__ADS_1
Oke babayyy