Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 15


__ADS_3

"Mari Nona,"ucap pria yang sedari tadi bersama mereka, mengarahkan kedua temannya ke tempat yang sudah disiapkan untuk kedua temannya itu.


Setelah melihat kedua temannya pergi, Nurfa baru berniat menghampiri pak Zacky. Ia mengetok pintu sebentar lalu membukanya secara perlahan, melihat seorang pria paruh baya yang berpakaian santai sedang duduk di singgel sofa.


Nurfa tak bisa tidak kagum melihat ruangan ini, pertama kali membuka pintu, mata akan di suguhkan pemandangan di luar ruangan yang dibatasi oleh dinding kaca sehingga nampak tanaman-tanaman hias, serta dua kolam bundar berukuran sedang yang terletak berseberangan.


Nurfa pun melangkah masuk, menghampiri pria paruh baya yang sedang duduk menghadap pemandangan luar.


"Assalamu'alaikum, Pak Zacky"sapa Nurfa sambil berdiri.


"Wa'alaikummussalaam, Nak Nurfa. Silahkan duduk Nak"sapa balik pria paruh baya itu,sambil mempersilahkan Nurfa untuk duduk.


"Maaf jika saya mengganggu waktu libur Nak Nurfa, padahal mungkin Nak Nurfa bisa saja ingin beristirahat."


"Tidak masalah Pak Zacky, pasti ada hal yang penting makanya bapak mengundang saya kesini"respon Nurfa.


Pria paruh baya itu tersenyum tipis menatap Nurfa."Begini Nak, aku memanggilmu kemari karena aku ingin minta bantuan lagi kepadamu, Nak.Tapi, permintaanku ini masih berhubungan dengan pekerjaanmu yang sekarang."


Nurfa mengernyit heran sebentar."Insyaallah kalau saya bisa, saya pasti bantu Bapak,"kata Nurfa, dan entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.


"Begini nak Nurfa, aku ingin meminta Nak Nurfa menjadi mata-mata dari putraku, Brayen"


Nurfa yang mendengar itu sontak saja kaget, pantas saja perasaannya tidak enak tadi ternyata ini berhubungan dengan Brayen. Menjadi mata-mata? Itu artinya dia harus selalu mengawasi pria itu dan artinya dia juga akan selalu bersama pria itu?


Tidak, ini tidak baik!


"Maaf, Pak Zacky. Saya rasa saya tidak bisa memata-matai putra Bapak.Saya tidak tahu menahu tentang hal itu,lagi pula saya tidak bisa senantiasa bersama putra Bapak"tolak Nurfa halus dan hati-hati.

__ADS_1


"Aku tidak memintamu menjadi pengintai putraku seharian penuh, Nak. Cukup laporkan saja apa yang dilakukan olehnya selama kalian bekerja. Kurasa itu lebih baik, dan Brayen tidak akan menyadarinya karena Nak Nurfa memang bekerja dengannya,"jawab Zacky dengan santai sambil memasang senyum.


"Tapi bukankah anda bisa membayar jasa mata-mata yang sudah sangat profesional, Pak?Dibandingkan saya, saya merasa tidak yakin akan bisa melakukan ini,"tanya Nurfa.


Zacky yang mendengar itu tersenyum."Sudah sering aku melakukan itu Nak Nurfa, namun selalu ketahuan oleh Brayen. Putraku tidak bodoh Nak Nurfa, dia bisa mendapatkan informasi dari mana saja dan menyadari jika dia sedang di mata-matai,"jawab Zacky dengan senyuman hangat pada wajahnya.


"Aku hanya ingin mengetahui apa saja yang di lakukan oleh putraku, Nak.Terkadang aku merasa seolah sendiri dan tidak memiliki seorang putra,"sambungnya sambil tersenyum miris.


"Brayen dulu anak yang penurut bahkan sangat sopan. Jika melihat sifatnya yang sekarang ini,sangat sulit untuk dapat dipercaya. Entah apa yang menyebabkan dia berubah seperti sekarang. Disaat aku ingin menanyakan itu, aku lupa bahkan aku tidak punya waktu untuk itu karena sebagian besar waktuku dilakukan untuk bekerja,"kata Zacky sambil menerawang membayangkan masa-masa itu.


Lalu, dia tersenyum kecut dan Nurfa dapat melihat itu dengan jelas."Bukankah aku adalah orang tua yang paling buruk, Nak Nurfa? Bagaimana bisa seorang ayah tidak tahu pertumbuhan anaknya seperti apa, bahkan meluangkan waktu pun sangat jarang."


Nurfa yang melihat itupun menjadi tidak tega, walaupun dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, namun melihat bagaimana pria paruh baya ini terlihat sangat mengkhawatirkan putranya, membuat perasaannya menjadi menghangat.


"Anda tidak boleh putus asa seperti itu, Pak. Saya yakin putra Bapak juga paham bagaimana kondisi Bapak saat itu,"ucap Nurfa menenangkan.


Nurfa menatap prihatin pria paruh baya didepannya ini. Ternyata kekayaan tidak berarti jika tidak bersama dengan orang yang disayangi, apalagi itu keluarga sendiri.


"Hanya kau yang bisa menolongku, Nak Nurfa.Kedekatanmu dengan bekerja bersama Brayen tidak akan bisa membuat dia curiga, setidaknya dalam jangka waktu yang lama. Tidak perlu selalu menempel padanya, cukup laporkan saja apa yang dilakukannya selama kalian bekerja saja, Nak."


Nurfa tampak merenung memikirkan keputusan yang akan di ambil. Jika melihat ekspresi dari Pak Zacky, maka dengan senang hati dia menerimanya. Namun yang menjadi masalahnya, yang akan dia mata-matai itu Brayen. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh pria itu nanti kepadanya setelah ketahuan nanti.


"Emm ..., begini Pak. Saya takut akan ketahuan nanti oleh pak Brayen."Dan jika itu terjadi,bisa mati aku.Sambungnya dalam hati.


"Kau pasti takut dihukum oleh putraku kan, Nak Nurfa?"


"Hey! Bagaimana Pak Zacky bisa tahu?"batin Nurfa sambil melototkan matanya kaget.

__ADS_1


"Wah!Ternyata bukan pria itu saja yang bisa membaca pikiranku,ayahnya juga?!"


"Melihat ekspresimu, sepertinya tebakanku benar. Bukan begitu, Nak Nurfa?"kata Zacky sambil tersenyum menghadap Nurfa, sedangkan Nurfa mengulum bibirnya dan menunduk.


"Kau tenang saja Nak Nurfa, aku akan melindungimu jika itu terjadi. Kau bisa pegang kata-kataku ini, Nak,"lanjutnya sambil menatap sungguh-sungguh pada Nurfa.


Nurfa yang melihat itu,menjadi berpikir lagi dan ia yakin pria paruh baya didepannya ini serius dengan ucapannya. Tapi, menerima tawarannya pun bukan hal yang bagus juga.


Bismillahirrahmanirrahim


"Baik, Pak! Saya bersedia bekerja sama dengan Bapak,"ucap Nurfa yakin.


Iya,dia memilih menerima saja.Lagi pula tidak cukup sulit kan?Hanya mengawasi Brayen saat bekerja saja.Dia yakin bisa melakukan itu.Benarkan?


"Aish!Kenapa setelah bilang iya aku jadi ragu lagi sih?!"


"Alhamdulillah, terimakasih banyak, Nak Nurfa. Terimakasih,"ucap Zacky dengan terharu.


Nurfa yang melihat itu ikut tersenyum hangat menanggapi. Melihat bagaimana respon dari Pak Zacky, ia jadi tidak tega jika menolak permintaan itu tadi. Brayen merupakan orang yang beruntung, ayahnya begitu menyayanginya walaupun terkesan tidak menampakkan, tapi itu membuat Nurfa terharu.


Bersambung ...


Aaa ..., akhirnya bisa update juga.


See you on the next chap


Sayang kalian banyak-banyak 😘❤️

__ADS_1


__ADS_2