
Sudah seminggu Nurfa bekerja menjadi sekretaris dari Brayen, dan selama itu juga dia tidak pernah tenang. Saat ini Nurfa sedang memarkirkan motornya di parkiran yang masih terlihat sunyi, bahkan hanya baru dia yang memarkirkan motornya disitu. Dengan percaya diri yang tinggi, dia masuk kedalam perusahaan dengan perasaan ringan serta senyum yang selebar mungkin di pasangnya.
Sesekali Nurfa bersenandung kecil di setiap langkahnya.Ia merasa bahagia karena dia datang dengan sangat cepat. Kali ini bukan jam tujuh lagi,tapi dia datang pada pukul enam pagi. Iya, jam enam pagi. Dia nekat pergi sepagi ini agar Brayen tidak memiliki alasan untuk memarahinya.Setidaknya, dia bisa bebas dari omelan pria itu pagi ini.
Saat sudah tiba di pintu lift, tiba-tiba pintu lift terbuka dan menampilkan Brayen yang juga saling berhadapan dengannya.
"Ha? Sejak kapan?"
Nurfa melongo di tempatnya sesaat. Ia sudah datang sepagi ini,dan pria di depannya ini juga sudah datang lebih dulu?
"Oh, kau sudah datang rupanya. Ayo ikut aku,"ujar Brayen sambil berjalan mendahului Nurfa.
"Pak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa anda bisa datang sangat pagi seperti ini?"tanya Nurfa sambil mengiringi langkah pria di depannya ini.
"Sudah kau jangan banyak tanya! Ikuti saja apa yang ku ucapkan!"
Mendengar itu Nurfa hanya memberenggut kesal, namun tetap mengikuti Brayen. Lalu mereka berhenti tepat di depan mobil Lamborghini merah yang ada di parkiran khusus. Brayen langsung masuk kedalam mobil, dan sudah menghidupkan mesinnya.
Tin!
Mendengar itu Nurfa terlonjak kaget, dan melihat ke arah Brayen yang juga memandangnya dengan kesal.
"Kenapa kau masih diam disitu?!Cepat masuk!"titah Brayen dengan suara meninggi.
Nurfa memberenggut kesal, lalu masuk kedalam mobil seperti yang di perintahkan pria itu.
"Kenapa kau senang sekali bertele-tele?! Cepat pasang sabuk pengamanmu!"
Tanpa disuruh dua kali, Nurfa langsung berniat memakai sabuk pengaman.Tapi masalahnya, dia kesulitan mengambilnya dan terus mencari dimana letaknya.
"Ck! Kenapa kau lambat sekali!"
"Aaa! Anda diam saja Pak, saya akan melakukannya sendiri."Cegah Nurfa saat sudah melihat Brayen ingin mencondongkan diri.
"Alhamdulillah "
Nurfa lalu bersandar lega setelah berhasil memasang sabuk pengamannya. Namun, kenapa mobilnya belum jalan juga? Ia lalu menolah ke arah Brayen, dan seketika dia dibuat meringis melihat pria itu menatapnya dengan tajam.
"Pak?"tanya Nurfa dengan hati-hati bahkan dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
__ADS_1
"Kenapa kau suka sekali menyusahkan orang lain?!" Ketus Brayen sambil melajukan mobil.
Nurfa memilih diam saja tanpa berniat membalas sedikitpun, lagi pula siapa yang menjamin dia tidak akan di marahi nanti. Jika dia tidak sedang berdua dengan Brayen di mobil seperti ini, mana mau juga dia diam. Ia memilih menolehkan kepalanya menatap keluar.
"Eh? Ini mau kemana ya?"Seakan baru mengingat sesuatu ia segera melihat ke arah Brayen yang sedang fokus mengemudi.
Pesona Brayen memang tidak usah diragukan lagi. Pandangannya yang tajam melihat kearah jalanan, rambut pria itu yang tertata dengan sangat rapi. Dan jangan lupakan pakaian yang dikenakan oleh pria itu yang menambah auranya. Wajah yang tampan membuat siapa saja merasa ingin memilikinya.
"Pak, sebenarnya kita mau kemana pagi-pagi begini?"tanya Nurfa penasaran.
"Ayahku menelponku untuk pulang kerumah sebentar, dia sedang sakit saat ini, dan kebetulan aku melihatmu jadi ku ajak saja sekalian. Mungkin kau akan berguna disana nanti,"jawab Brayen tanpa menoleh ke Nurfa.
Berguna?
"Maksudnya, Pak?"tanyanya lagi.
Berguna apa maksudnya?Bukankah jika seperti ini ia harusnya tetap di perusahaan menggantikan tugas-tugas pria itu?
"Sudahlah kau tidak usah banyak tanya, ternyata kau sangat-sangat cerewet."Hardiknya.
"Saya hanya bertanya Pak, bagaimana bisa anda menganggap itu cerewet?"Kesal Nurfa.
"Lihatlah! Baru saja aku mengatakannya kau sudah mempraktekkannya,"kata Brayen sambil melirik sinis ke arah Nurfa.
Memang jika meladeni Brayen maka tidak akan pernah menang. Jangankan menang,imbang saja pria itu tidak mau.
"Tumben kau datang sepagi ini?"tanya Brayen tanpa menoleh.
Nurfa yang mendengar itu mendelik menatap Brayen."Setiap hari juga saya selalu datang pagi sekali Pak, anda saja yang suka mengatakan saya terlambat"
"Bukannya memang begitu? Kau itu selalu terlambat, bagaimana bisa aku yang pertama datang di banding kau?"Brayen mengangkat satu alisnya sambil berbicara santai.
"What! Jadi anda ingin saya datang jam berapa Pak? Setelah subuh?"tanya Nurfa sambil melongo.
Brayen mengangkat bahunya acuh."Itu terserah kau, jika kau menganggap dengan itu kau tidak terlambat lagi, silahkan lakukan saja"
Nurfa dibuat menganga mendengar ucapan dari pria di sampingnya ini. Bahkan dia kesulitan untuk mengeluarkan suara seperti ada yang mencegat. Berulang kali dia mencoba untuk berbicara,tapi tidak keluar suara. Alhasil, ia hanya seperti mangap-mangap tidak jelas.
Brayen meliriknya dari ujung mata pria itu, lalu tersenyum miring lalu berdecih sinis. Sudah dia bilang, perempuan disampingnya ini memang aneh. Tidak, bukan aneh lagi. Melainkan gila!
__ADS_1
Ya, kata itu yang paling tepat mendeskripsikan wanita di sampingnya ini. Lihat saja ekspresi wanita itu, sama sekali tidak ada anggun-anggunnya. Benar kata Alex, wanita ini memiliki sifat bar-bar.
"Ada apa dengan ekspresimu itu? Kekurangan oksigen?"tanya Brayen sambil melirik sinis.
Seakan mendapatkan kembali suaranya, Nurfa langsung menjawab pria itu dengan lantang.
"Pak! Yang benar saja saya harus datang ke perusahaan setelah subuh?! Memangnya anda datang jam berapa sih?!"Kesal Nurfa, sekaligus lega akhirnya kata yang sedari tadi ingin diucapkannya keluar juga.
"Aku mengatakan terserah, jika kau mau silahkan lakukan saja. Jika kau menolakpun aku tidak peduli, kau juga sudah tahu apa konsekuensi jika kau terlambat,"jawab Brayen dengan santai.
"Dan jika kau bertanya jam berapa aku datang, kau tidak perlu tahu. Aku bebas datang jam berapa saja yang aku inginkan, jadi kau tidak usah berkomentar,"sambungnya dan memandang Nurfa dengan sinis.
Nurfa yang mendengar itu menjadi kesal dan memandang Brayen dengan tajam. Memang melawan pria di sampingnya ini tidak akan pernah menang. Namun dia juga tidak mau mengalah! Enak saja!
"Iya, memang terserah anda ingin datang jam berapa saja, saya tidak akan mengomentari itu. Tapi yang menjadi masalah disini, anda selalu menghukum saya dan mengatakan saya terlambat. Padahalkan anda yang menginginkan datang dengan cepat, kenapa menyalahkan orang lain ?"protesnya tidak terima.
Ciiit!
Brayen yang mendengar itu langsung menginjak rem mendadak dan menatapnya tajam. Nurfa yang tidak siappun langsung terantuk pada dashboard mobil. Untung saja mobil pria itu berada di pinggir jalan, dan tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Jika tidak, dia yakin banyak pengendara yang akan protes.
Nurfa mengelus-elus dahinya, sambil meringis kesakitan. Ya ampun, pria ini ingin membunuhnya atau apa?!
"Kenapa anda berhenti mendadak sih, Pak?!"tanyanya dengan kesal sambil mengelus dahinya dan memandang tidak habis pikir pada Brayen.
Gawat
Seketika kekesalannya menguap saat melihat Brayen menatapnya tajam seakan ingin menghabisinya. Jika saja dia todak berada dalam satu mobil begini, dia akan biasa saja. Tapi ini dia sedang berdua didalam mobil, jikapun ingin kabur,kabur bagaimana?
Nurfa meringis melihat Brayen, tau begini dia memilih diam saja tadi.
"Kau sudah selesai bicara?"tanya Brayen dengan nada berat, sedang Nurfa hanya diam tak berani berbicara lagi.
"Dengar ini, jangan pernah mengomentariku apalagi membantahku! Memangnya kau pikir kau ini siapa? Perlu kutekankan kepadamu bahwa kau itu hanya bawahanku, dan seorang bawahan tidak pantas mengomentari apalagi membantah atasannya. Sadarlah dengan posisimu itu, Nona Zahwa,"sambung Brayen dengan penekanan.
Nurfa tertegun mendengar itu, dia sudah sering mendengar pria itu berkata buruk padanya. Tapi tetap saja walaupun sudah biasa, tapi tetap menyakitkan.
"Dasar pria bermulut cabe!"
Brayen mulai kembali menjalankan mobilnya. Kemarahannya masih terlihat jelas dari wajah pria itu, bahkan dia menggenggam setir kemudi dengan kuat sehingga menimbulkan buku-buku tangannya. Ia melirik Nurfa dari ujung matanya, lalu menyeringai kecil karena melihat Nurfa bergeming diam.
__ADS_1
Brayen merasa puas melihat wanita di sampingnya ini tidak bisa berkata-kata lagi. Padahal dia saja yang tidak tahu,kalau pria itu sudah di maki habis-habisan oleh Nurfa, walaupun dia diam saja.
Bersambung ...