
"Oh,jadi kau ingin aku berbicara seperti apa?Dengan lembut dan mendayu-dayu begitu?!"kata Brayen dengan nada meninggi.
Sementara Nurfa,dia membayangkan pria di depannya ini berbicara dengan mendayu-dayu seperti yang Brayen ucapkan.Detik itu juga,dia langsung merasa jijik dengan pemikirannya,hingga tanpa sadar wajahnya juga ikut berekspresi.
"Apa yang kau bayangkan?"tanya Brayen setelah melihat ekspresi Nurfa tadi.
"Membayangkan anda berbicara mendayu-dayu,dan itu membuat saya jijik,"kata Nurfa polos.
Brayen yang mendengar hal itu sontak tertegun kaget.Namun dia berhasil mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar kembali.
"Dari pada kau membayangkanku seperti itu.Kenapa bukan kau saja yang berbicara begitu?Setidaknya mungkin dapat menghilangkan rasa benciku kepadamu!"Brayen berkata dengan ketus.
"Jika saya berbicara begitu pada anda,maka sudah dapat dipastikan saya akan pingsan saat itu juga,"kata Nurfa sambil bergidik ngeri.
"Apa?!"
"Bagaimana bisa seorang wanita berbicara tidak ada lembut-lembutnya!Dasar kau gadis aneh!"Cerca pria itu.
"Sudahlah,PakTidak perlu berbicara keras begitu.Anda tidak lihat urat leher anda menjadi tegang.Jika saja itu putus,saya tidak mau tanggung jawab ya,Pak."
Brayen yang mendengar hal itu,lagi-lagi tertegun tidak menyangka.Baru kali ini sekretarisnya berani menasehatinya.
Brayen menaruh tangan kirinya di pinggang,lalu tangan kanannya memijit pangkal hidungnya.Tiba-tiba saja ia merasa pusing.
"Seharusnya kau itu sudah ku pecat sejak pertama kali kau menginjakkan kaki ke perusahaanku,"kata pria itu masih sambil memijit pangkal hidungnya dan menutup matanya.
"Ya sudah.Saya juga tak ingin menjadi sekretaris anda kok,"kata Nurfa dengan kesal.
Mendengar hal itu,Brayen langsung membuka matanya dan menatap Nurfa dengan tajam tanpa menurunkan tangannya.
Nurfa yang ditatap begitu,langsung mengalihkan tatapannya tidak berani melihat balik.
Brayen membuang nafasnya berat,lalu menyentak tangannya dari hidungnya.Setelah itu memasukkan tangannya kembali ke kantong celanannya,dan menatap Nurfa datar.
"Sudahlah,kembali ke ruanganmu.Kali ini aku memaafkanmu,tapi jika kau membuat kesalahan lagi kau akan tahu akibatnya,"ucap Brayen dengan nada mengintimidasi pada Nurfa.
Glek
"B-baik,Pak.Siap!"ucap Nurfa,lalu menganggukkan sedikit kepalanya dan berjalan cepat ke arah ruangannya.
Nurfa terus berjalan cepat ingin ke ruangannya.Dia memang tipikal orang yang tidak bisa diam jika ia di rendahkan.Hanya karena Brayen membentaknya pria itu pikir dia akan diam saja?
Oho,So to the ry.
Sorry-sorry aja,ia bukan orang seperti itu.
__ADS_1
Brayen melihat Nurfa hingga masuk ke ruangannya.Pria itu tidak habis pikir,bagaimana bisa dia mendapat sekretaris seaneh itu.Lelah dengan pikirannya,ia lalu berbalik dan duduk kembali di kursi kerjanya dan mulai memeriksa dokumen-dokumen itu.
"Dasar gadis gila!Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu nanti!"
"Tsk!Dia benar-benar membuatku kesal,"kata Brayen sambil menatap tajam ke arah pintu penghubung ruangan Nurfa.
Merasa seakan dipandangi,Nurfa mengalihkan pandangannya dan ...
Deg
Mata Brayen yang tajam bertabrakan dengan matanya.Sontak ia langsung mengalihkan pandangannya kembali ke arah laptonya.Namun,diam-diam tangannya menarik tali tirai dan ...
Wush
Pintu itu sudah tertutup dengan tirai yang ia tarik tadi.Akhirnya ia dapat bernapas dengan lega,setidaknya untuk saat ini.
******
"Terimaksih atas kerja samanya,Pak Zacky.Suatu kehormatan besar bagi saya dapat menjalin kerjasama dengan anda"ucap pria paruh baya itu kepada Brayen.
"Anda terlalu berlebihan,Mr.Lee,Perusahaan saya hanya perusahaan biasa"jawab Brayen,dengan merendahkan dirinya.
'Ya,merendah untuk meroket''batin Nurfa.
Kesepakatan tetap terjalin dengan lancar,tapi mungkin tidak sesuai dengan perjanjian awal.Jika di dalam perjanjian perusahaan Zacky Corporation hanya akan mendapat keuntungan sebanyak 25%.Tetapi,karena keahlian yang dimilikinya ia berhasil melipat gandakan keuntungan menjadi 50%.
Nurfa seakan tidak percaya,dan ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti meeting seperti ini.Lee Entertainment merupakan perusahaan yang bergerak di bidang media.Mendapat kesepakatan dengan Zacky Corporation,merupakan suatu peluang yang tidak boleh mereka lepaskan.Walau kesepakatan tidak seperti perjanjian awal,namun kapan lagi mereka dapat menjalin kerjasama dengan perusahaan besar yang sudah di akui di seluruh negara.
"Anda sangat pemurah pak Zacky.Nampaknya rumor yang mengatakan anda CEO yang menawan dan bijaksana sangat benar adanya,"sambung pria paruh baya itu,sambil tersenyum ke arah Brayen.
"Benarkah?Aku tidak tahu akan hal itu,aku baru mendengarnya dari anda,"jawab Brayen dengan sekali tertawa kecil.
Melihat hal itu,Nurfa mati-matian menahan agar tidak menertawakan pria itu.Ia turut memasang senyum ke arah Mr.Lee dan sekretarisnya.Tapi tunggu,ia baru sadar bahwa sekretaris dari Mr Lee selalu melihat kearah Brayen dengan tatapan memuja.Bahkan,pipinya pun sudah memerah saat melihat pria itu tertawa kecil.
"Ah iya nona,anda sangat beruntung menjadi sekretaris dari CEO sukses seperti,Pak Brayen,"ucap pria paruh baya itu pada Nurfa.
"Hmm,saya rasa begitu,Pak,"jawab Nurfa seadanya sambil memasang senyum.
"Baiklah Mr.Lee,saya rasa sampai disini saja perbincangan kita.Sangat menyenangkan berbincang dengan anda,tapi sayangnya saya masih memiliki urusan lain"kata Brayen sambil memasang wajah kecewa,sambil berdiri dari kursinya yang di ikuti oleh Nurfa.
"Tidak masalah Pak Brayen,saya merasa sangat beruntung dapat berbincang dengan anda.Jika ada kesempatan,kita dapat berbincang-bincang lagi seperti ini,"ucap pria itu dengan kekehan kecil,dan turut berdiri yang di ikuti oleh sekretarisnya.
Setelah itu Brayen dan Mr Lee berjabat tangan,sedangkan Nurfa menangkupkan tangan di depannya.Setelah selesai berpamitan,mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu dan pergi keluar gedung yang di luarnya sudah tersedia mobil berwarna hitam.Nathaniel menunggu Brayen dan langsung membukakan pintu kursi belakang untuk Brayen.
Brayen pun mulai memasuki mobil,lalu Nathaniel membungkuk sedikit setelah itu menutup pintu mobil.Sementara Nurfa,ia membuka pintu sendiri di samping kursi pengemudi.Namun ...
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu naik?"kata Brayen dengan santai.
"Maaf,Pak?"tanya Nurfa mengernyit heran,begitu juga Nathaniel.
"Bukannya saya pergi tadi juga bersama Bapak?Kalau saya tidak bersama Bapak,jadi saya pulang bersama siapa,Pak?"tanya Nurfa dengan senyum yang dipaksakan.
Melihat hal itu,Brayen hanya memasang seringainya sambil menatap dingin ke arah Nurfa.
"Terserahmu,itu bukan urusanku,"kata Brayen santai tanpa merasa bersalah.
"Anda masih marah karena masalah di kantor tadi siang,Pak?Bukannya saya sudah minta maaf."
"Huh...,untuk apa membuang energi ku untukmu.Kau tidak sepenting itu,Nona Zahwa,"kata Brayen dengan terkekeh kecil.
Mendengar hal itu,Nurfa langsung menutup pintu mobil itu.Lalu tak lama setelah ia menutup pintu tersebut,mobil langsung melaju meninggalkan Nurfa.
Nurfa yang melihat itu melongo tidak percaya,serta mengedip-ngedipkan matanya.Ia benar-benar ditinggalkan?Ya ampun,benar-benar menyebalkan,rasanya amarahnya sudah di ubun-ubun.
"Astaghfirullah ya Allah.Pria itu benar-benar!"Kesal Nurfa dengan napas memburu,sambil berjalan keluar dari kawasan gedung itu dan memberhentikan taksi saat sudah di tepi jalan.
Dia sangat bersyukur,masih mendapatkan taksi.Jika tidak,ia tidak tahu apa yang akan dia lakukan.Setelah taksi itu berhenti,ia langsung masuk dan mobilpun melesat pergi.
Sedangkan Brayen tersenyum senang di dalam mobilnya,dan sesekali menggoyangkan kakinya.Ya,ia memang sengaja memerintahkan wanita itu untuk turun dari mobilnya.Suruh siapa wanita itu membuatnya kesal.Sekali-kali wanita itu harus diberi pelajaran,agar tahu ia sedang berhadapan dengan siapa.
"Maaf,Pak.Apa tidak apa-apa meninggalkan Nona Zahwa seperti itu?"tanya Nathaniel hati-hati.
"Kau menyukainya?"tanya Brayen dengan sinis.
"Tidak pak!Bukan begitu maksud saya!"buru-buru Nathaniel menyangkal hal itu.
"Kalau begitu diamlah!Jangan berani-beraninya kau ikut campur!"kata Brayen sambil menatapnya tajam.
"B-baik pak"kata Nathaniel gugup mendapatkan tatapan tajam dari Brayen.
Setelah itu,tidak ada terdengar lagi pembicaraan.Brayen masih memasang wajah kesalnya mendengar perkataan asistennya tersebut.Namun,tak lama ia merubahnya dengan seringaian mengerikan.
"Dasar wanita malang!Ini hanya permulaan,akan ku buat hidupmu menderita,"kata Brayen dengan suara rendah dan penuh penekanan disetiap katanya.
Bersambung...
Hiyaaa
See you at the next chap my love❤️
Love you
__ADS_1