Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 21


__ADS_3

"Bagaimana pelayanan yang diberikan oleh hotel kami, Mr. Kim?" ucap Brayen sambil memasang senyum serta duduk dengan tegap mengahadap pria paruh baya, yang dihalangi oleh meja makan panjang.


"Apa yang harus saya bilang, Mr. Zacky? Rasanya hotel ini memang tidak memiliki celah kesalahan, sehingga saya tidak bisa berkomentar buruk lagi," kata Mr. Kim diakhiri dengan tawa kecil.


Brayen juga turut menanggapi itu dengan ikut tertawa kecil.


"Kalau begitu saya akan memerintahkan para staf untuk membuat kesalahan kecil, supaya anda bisa mengomentari hotel kami," canda Brayen.


Mr. Kim mendengar candaan itu juga ikut terkekeh kecil, diikuti oleh kedua wanita yang ada di samping kirinya.


Nurfa yang melihat itu hanya turut tersenyum kecil saja, di samping Brayen. Nurfa merasa bersyukur ternyata tidak terjadi kesalahan apapun.


Akhirnya dia dapat bernapas dengan lega. Sebelum dia datang ke hotel ini bersama Brayen tadi, ia tidak bisa tenang. Kata-kata pria itu terngiang-ngiang di kepalanya. Melihat semuanya baik-baik saja barulah dia merasa tentram.


"Sepertinya sekretaris anda sudah bekerja dengan keras untuk menyiapkan ini semua, Mr. Zacky. Tapi, aku tidak melihat sekretaris anda di ruangan ini. Atau mungkin pria yang bersama anda tadi adalah sekretaris anda?" tanya lelaki paruh baya itu hingga terlihat lipatan di dahinya.


Nurfa yang mendengar itu tidak bisa tidak kaget. Jadi sedari tadi pria paruh baya di depannya ini menganggapnya apa?


Lain halnya dengan Brayen, pria itu sudah meliriknya rendah sekaligus tersenyum sinis. Nurfa yang menangkap pandangan pria itu, juga membuatnya seketika emosi. Brayen terkekeh kecil kepada Mr. Kim, lalu meminum minumannya sebentar sebelum melanjutkan perkataannya.


"Sekretaris saya tepat berada di samping saya, Mr. Kim. Sedangkan pria yang bersama saya tadi adalah pengawal pribadi saya," ucap Brayen sambil memasang senyumnya.


Seperti seharusnya, kedua wanita yang ada di ruangan itu juga turut tersenyum malu-malu melihat Brayen. Nurfa hanya memutar matanya jengah. Setelah itu tersenyum canggung kepada pria paruh baya yang ada di depannya itu, karena saat ini Mr. Kim juga memandangnya dengan senyuman canggung juga.


"Anda tidak usah menjadi sungkan begitu, Mr. Kim. Bukan salah anda beranggapan begitu, lagipula saya juga lupa memperkenalkannya tadi kepada anda," sambung Brayen.


"Bagaimanapun saya tetap minta maaf Nona, karena tidak menganggap anda sekretaris dari Mr. Zacky. Untuk itu saya meminta maaf," ucap Mr. Kim kepada Nurfa.


"Tidak apa Mr. Kim, saya memakluminya. Salah saya juga tidak memperkenalkan diri lebih awal," jawab Nurfa sambil tersenyum kearah pria paruh baya di depannya itu.


"Perkenalkan nama saya Nurfa Mysha Zahwa, anda bisa memanggil saya Zahwa saja, Pak." Nurfa menyatukan tangannya di depan dada sambil tersenyum.


Meski canggung, Mr. Kim juga membalasnya sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nurfa. Lalu tersenyum  membalas pada Nurfa. Bagaimanapun juga, Mr. Kim tetap merasa sedikit aneh, apalagi melihat penampilan Nurfa yang sangat tertutup dan sopan. Tidak seperti para sekretaris wanita yang sering dia jumpai selama ini.


"Saya juga tidak menyangka penampilan sekretaris anda tidak seperti biasanya, Mr. Zacky. Itu kenapa saya tidak mengenali sekretaris anda tadi." Mr. Kim melihat ke arah Brayen, yang dibalas balik oleh pria itu juga.


"Begitulah, Mr. Kim. Anda tahu saya merupakan orang yang sangat sulit untuk ditebak," ucap Brayen.

__ADS_1


Mr. Kim tersenyum pada Brayen sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu mereka mulai membahas kerja sama yang mereka lakukan.Cukup lama mereka membahas kerjasama yang mereka lakukan hingga mencapai titik kesepakatan.


Terdapat beberapa pertentangan antara kedua belah pihak. Namun, tentu saja yang namanya Brayen pasti harus keinginannya yang dia utamakan. Buktinya, sekarang ini dia berhasil mendapatkan kerjasama itu tanpa adanya kerugian pada perusahaannya.


"Benar yang dikatakan oleh para pengusaha lain, bahwa anda sangat hebat dalam melakukan kerjasama seperti ini. Bahkan, saya merasa terhormat bisa melakukan kerjasama sekaligus dapat bertemu dengan anda" Mr. Kim tersenyum penuh ke arah Brayen yang dibalas Brayen dengan senyuman tipis.


"Sepertinya kita harus merayakan kesepakatan ini, sangat tidak sopan jika kita tidak melakukan apa-apa pada hari yang bahagia ini," ucap Mr. Kim sambil mengangkat gelas di depannya yang sudah berisi dengan cairan berwarna ungu.


Brayen pun melakukan hal yang sama. Sama halnya dengan dua wanita berpakaian serta penampilan seksi yang ada disitu. Mereka lalu mengangkat gelas lalu menyatukannya di tengah, sehingga terdengar suara dentingan gelas. Mereka bertiga lalu meminum minuman itu dengan senyuman yang tidak lepas dari bibir mereka.


"Kau tidak minum, Nona?" tanya Mr. Kim heran melihat Nurfa yang diam saja tanpa menyentuh minuman yang ada di depannya.


Nurfa sempat kaget mendengar itu, namun tak lama kemudian dia tersenyum kepada Mr. Kim. Ia pun mengambil gelas yang ada di depannya itu, lalu berniat untuk meminumnya. Kelihatannya seperti jus, jadi dia berniat untuk meminumnya saja.


Ketika minuman itu akan sampai pada bibirnya, dengan tiba-tiba ia menghentikan aksinya itu setelah mendengar ucapan Brayen.


"Kau akan meminum alkohol, Nona Zahwa?" ucapan Brayen itu sontak menghentikan niat awal Nurfa.


"Dasar ceroboh," kata Brayen dengan pelan yang hanya dia dan Nurfa saja yang bisa mendengarnya.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu anda tidak bisa meminum alkohol," ucap Mr. Kim dengan raut wajah bersalah.


"Bukan salah anda, dia saja yang tidak bisa berhati-hati," kata Brayen memotong ucapan Nurfa.


Mr. Kim terlihat heran dengan interaksi antara Brayen dengan sekretaris barunya itu. Biasanya Brayen akan bersikap lembut dengan para sekretarisnya. Tapi, jika mendengar rumor yang beredar yang mengatakan sekretaris Brayen ini bukan dipilih olehnya tetapi ayahnya sendiri. Lalu, Mr. Kim seakan paham dengan situasi yang sedang terjadi ini.


Nurfa hanya dapat menahan kegeraman dalam hatinya. Lalu tersenyum canggung kepada tiga manusia yang ada di depannya itu. Walaupun dia mendapatkan tatapan sinis dari dua wanita tersebut.


Lalu Brayen menyodorkan dia jus apel berwarna coklat bening.


"Minumlah, ini jus apel bukan alkohol" Brayen menyodorkan minuman itu padanya.


Nurfa sempat meragu, namun ia tetap mengambil dan meminumnya. Benar saja seperti yang diucapkan oleh pria itu, minuman itu tidak terdapat alkohol melainkan jus apel. Walaupun pria itu sering menghinanya, namun baru kali ini dia merasa Brayen berbuat baik padanya.


"Sekretaris anda sangat lucu, Mr. Zacky," ucap lelaki paruh baya itu sambil menatap Nurfa.


"Tidak sebaik dengan kedua wanita yang ada di sampingmu, Mr. Kim." Brayen menatap kearah kedua wanita itu, yang dibalas tatapan malu-malu oleh keduanya.

__ADS_1


"Tentu saja, Mr. Zacky. Saya sudah menyiapkan hadiah yang sesuai dengan selera anda pastinya," ucap Mr. Kim sambil tersenyum penuh arti pada Brayen.


Brayen yang mendengar itupun sontak tertawa, membenarkan letak duduknya kembali. "Yaampun, anda ternyata sangat memikirkan saya Mr. Kim"


Nurfa yang mendengar percakapan antara dua pria itu, awalnya tidak paham. Namun, sekarang dia paham maksud dari ucapan itu. Pria paruh baya di depannya ini memberikan hadiah kepada Brayen, tapi hadiah yang dimaksud adalah kedua wanita yang ada di depannya ini.


Nurfa pun sontak melotot kaget, dan bergidik ngeri. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa wanita menjadi seperti barang. Dia merasa tidak ingin ikut campur, namun dia baru ingat jika ayah dari pria itu memintanya untuk membatalkan pemberian hadiah yang dilakukan oleh Mr. Kim nantinya.


Awalnya Nurfa sempat heran, namun setelah melihatnya langsung ia menjadi mengerti mengapa ayah Brayen menyuruhnya untuk membatalkan hadiah 'itu'. Sebenarnya dia sangat malas jika menyangkut-pautkan dirinya dengan masalah pria itu. Namun ia juga sudah berjanji kepada ayah pria itu.


"Bagaimana? Anda menerima hadiah yang saya berikan, Mr. Zacky?" tanya Mr. Kim memandang Brayen penuh arti.


"Tentu saj-"


"Tentu saja tidak, Mr. Kim," ucap Nurfa memotong perkataan Brayen dengan tiba-tiba.


Brayen menatapnya tajam, namun Nurfa menguatkan diri agar tidak terpengaruh.


"Jika saja aku tidak berjanji tadi, aku juga tidak mau melibatkan diriku pada monster ini" Batin Nurfa.


"Apa yang kau lakukan, Nona Zahwa?" tanya Brayen dengan suara berat dan penuh penekanan pada Nurfa.


"Maksud saya, Pak Zacky tidak bisa menerima hadiah anda karena beliau hanya mengaguminya saja, tidak lebih. Beliau berusaha untuk menghormati mereka sebagai wanita, Mr. Kim. Begitulah yang dikatakan Pak Zacky kepada saya, ia takut anda akan merasa kecewa jika dia menolak itu dengan langsung," ucap Nurfa dengan mulus dari mulutnya. Nampaknya dia semakin baik dalam memutar balikkan fakta sekarang, dan dia meringis mengingat itu.


"Baiklah jika begitu, anda tidak perlu merasa sungkan begitu, Mr. Zacky. Saya dapat memaklumi hal itu, malah saya yang harus meminta maaf karena ketidaksopanan saya tadi," ucap Mr. Kim dengan raut wajah yang menyesal.


"Tidak apa, Mr. Kim. Seperti yang kita kenal, Pak Zacky memiliki hati uang lembut. Beliau pasti memaafkan anda, bukan begitu, Pak?" Ujar Nurfa sambil melihat ke arah Brayen dengan senyum yang mengembang.


Sementara Brayen hanya dapat memasang senyum kaku pada Mr. Kim, dan tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar Nurfa tadi.


"Kalau begitu, mengapa kita tidak mulai untuk menikmati makanan yang sudah disediakan ini?" tanya Nurfa mengalihkan pembicaraan.


Lalu beberapa saat kemudian, masuklah para pelayan hotel menghidangkan makanan di atas meja mereka sehingga meja itu terisi penuh. Merekapun mulai memakan makanan yang sudah disajikan itu.


Namun, Brayen diam-diam menatap Nurfa dengan tajam. Jangan lupakan tangan pria itu yang memegang erat garpu dan sendok yang ada di tangannya.


"Dasar sialan! Lihat saja, aku akan membalasmu lebih dari ini nanti" Batin Brayen.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2