
Setelah kejadian tidak mengenakkan yang terjadi pagi tadi,hingga kini Brayen masih menatap Nurfa dengan dingin.Seakan membalas kekesalannya terhadap Nurfa,Brayen selalu memerintahkan Nurfa sesuka hati pria itu.Seperti beberapa menit yang lalu,ia harus bolak-balik membuatkan pria itu kopi.
Pria itu memang hanya ingin segelas kopi,namun harus sesuai dengan selera pria itu.Terkadang ia mengatakan kopi itu kemanisan,kepahitan,terlalu panas,bahkan sampai bau dari kopi itu pun di kritik oleh pria itu.Lalu setelah semua yang dilakukannya,Brayen menyuruhnya membuang semua kopi-kopi itu dan menyuruh asistennya untuk membelikan dia kopi.
Rasa-rasanya Nurfa ingin menjerit sekeras mungkin.Tak sampai di situ saja, Brayen juga memerintahkannya untuk merevisi seluruh dokumen yang dirasa pria itu tidak cocok tanpa dibantu siapapun. Padahal tidak ada yang salah dengan dokumen-dokumen itu, dan jika ada beberapa yang salah maka bukan tugasnya untuk menyiapkan itu semua. Itu merupakan tugas dari divisi pekerja.
Ya ampun, dia baru saja menyiapkan dua dokumen dan ada tiga dokumen lagi yang belum di selesaikan. Untuk istirahat jam makan siang pun, dia hanya sebentar.Sampai-sampai Siska dan Natasya dibuat melongo melihat Nurfa makan dengan cepat,lalu pergi terburu-buru kembali bekerja. Padahal saat itu jam istirahat masih tergolong lama.Bersyukur dia saat ini sedang kedatangan tamu,jadi ia tidak perlu takut jadwal sholatnya terganggu.
Sesekali ia keluar dari ruangannya, menghadap Brayen dan mengatakan jadwal pria itu hari ini yang dibalas pria itu dengan deheman saja.
"Ya Allah,rasanya jari-jariku mau patah,"gumam Nurfa sambil merenggangkan jarinya dan bersandar di kursinya sebentar.
"Kau terlihat sangat lelah,Nurfa,"kata seorang pria yang sudah masuk ke ruangannya melalui pintu luar tanpa Nurfa sadari.
Nurfa yang mendengar itupun langsung menegakkan posisi duduknya kembali.Ia melihat seorang pria yang memakai kemeja putih,jas dan celana yang berwarna coklat,rambut yang tertata rapi,serta memakai sepatu kulit berwarna hitam,dan jangan lupakan mata pria itu berwarna hijau yang menambah ketampanan pria di depannya ini.
"Yaampun, Pak Smith. Maaf tidak menyadari kehadiran anda, Pak. Anda ingin bertemu dengan pak Zacky, Pak? Sebentar saya akan mengatakannya,"ucap Nurfa berdiri dari kursinya menundukkan kepala sebentar,dan berniat akan melangkah.
"Tidak perlu,Nurfa.Kau tidak perlu melaporkannya pada Brayen.Tanpa kau melapor pun,aku dapat masuk begitu saja dan Brayen tidak akan masalah,"ucap Adrean menghentikan langkah Nurfa.
"Maaf saya tidak menyadari kehadiran anda, Pak ...,"ringisnya.
"Take it easy,"kata Adrean dengan senyum yang menghiasi wajahnya."Nampaknya kau sangat sibuk ya?"sambungnya melirik meja kerja Nurfa.
Nurfa tertawa hambar mendengar hal itu."Hahaha ..., biasa saja,Pak."
Tanpa mereka berdua sadari,sedari tadi sepasang tajam senantiasa menatap mereka,dengan seringaiannya yang mengerikan.Pria itu bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju pintu penghubung.
"Kau sudah menyelesaikan tugas yang kuberi padamu, Nona Zahwa?"tanya Brayen dengan datar.
"Maaf,Pak.Hanya tinggal satu dokumen lagi,"ucap Nurfa sambil meringis.
Adrean yang melihat itu langsung mengangkat kedua alisnya,seakan baru juga menyadari kehadiran Brayen.
"Jangan terlalu keras padanya,Brayen.Aku yang mengganggunya tadi,jadi jangan salahkan dia"ucap Adrean dengan santai.
__ADS_1
Mendengar hal itu,Brayen mengangkat satu alisnya lalu terkekeh kecil."Kau membelanya?Tumben sekali kau membela seorang wanita seperti ini,seperti bukan dirimu saja,Adrean"ucap Brayen dengan sinis.
"Tsk!Chill, Dude.Ada yang ingin ku bicarakan denganmu,itu sebabnya aku datang kemari"ucap Adrean dengan serius.
Mendengar hal itu,Brayen masih menatapnya datar namun berbalik dan melangkah ke luar dari ruangan sekretarisnya itu.Adrean yang melihat itupun mengikuti langkah pria di depannya.Namun,sebelum itu ia berhenti dan berbicara kepada Nurfa.
"Maaf mengganggumu, Nurfa. Aku tidak tahu pria itu memberikan tugas kepadamu,"ucap Adrean merasa bersalah.
"Tidak masalah, Pak. Ini sudah kewajiban saya,"kata Nurfa sambil memasang senyum tipis.
Melihat hal itu,mata Brayen langsung memicing.Apa-apaan gadis gila itu!Ia tersenyum kepada orang lain,tapi jika bertemu dengannya dia hanya menunduk jika berbicara.
"Kau jadi berbicara denganku atau tidak?!"tanya Brayen dengan suara yang meninggi dan kesal.
Mendengar itu,Adrean langsung berpamitan pada Nurfa dan pergi menemui Brayen.
Setelah melihat kepergian dua pria itu,ia langsung duduk dan menghembuskan nafas pelan.Berada diantara dua pria yang memiliki kuasa kuat,membuat atmosfernya terasa sempit.Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.Sekarang ini sudah jam 16.35 WIB,ia harus menyelesaikan ini dengan cepat.Jika tidak,ia akan lembur dan ia tidak menginginkan itu.
...*****...
Akhirnya,semua pekerjaannya sudah selesai dan ia akan bergegas untuk pulang.Namun sebelum itu,ia harus menunggu Brayen keluar dari ruangan pria itu baru dia bisa pulang.Entah apa yang di lakukan pria itu di dalam ruangannya,sehingga ia harus menunggu selama ini.
"Ya ampun,sedang apa pria itu!"rutuk Nurfa dalam hati.
Tiba-tiba pintu itupun terbuka,lalu Brayen melangkah keluar bersama seorang wanita seksi di sampingnya.
Tunggu,Apa?!
Wanita?!
Sejak kapan ...
"Ayo kita pergi."Titah pria itu lalu melangkah menuju lift yang di ikuti oleh Nathaniel dan wanita yang ada di samping pria itu.
Dan jangan lupakan tangan wanita itu yang merangkul mesra lengan Brayen,sambil menyandarkan kepalanya pada pria itu.Nurfa seakan membeku seketika melihat itu. Jadi dari tadi dia menunggu pria itu keluar,karena pria itu sedang ada 'urusan' dengan wanita itu?
__ADS_1
"Kenapa kau masih berdiri disitu?Kau tidak ingin pulang, Nona Zahwa?"tanya Brayen menatap heran Nurfa yang belum melangkah,sedangkan mereka sudah berada tepat di depan pintu lift.
Mendapat pertanyaan itu,Nurfa mengerjabkan matanya lalu melihat ke arah Brayen,dengan raut terkejut.Setelah itu,ia melihat tatapan wanita di samping pria itu yang menatapnya tajam.
"Anda pulang saja terlebih dahulu, Pak. Saya ingin mengambil kunci motor saya yang tertinggal di atas meja,"kata Nurfa sambil memasang senyum terpaksanya.
"Ya Allah,maaf hamba sudah berbohong"
Brayen menatapnya dengan dingin,tanpa berkata sepatah kata lagi.Setelah itu,ia masuk ke dalam lift bersama Nathaniel dan wanita yang ada di sampingnya.Sebelum pintu lift tertutup Nurfa menyempatkan untuk memberi salam dan sedikit menundukkan kepala.
Setelah di rasa lift sudah tertutup,ia baru dapat bernafas lega.Tidak mungkinkan ia berada satu lift dengan pria itu,sementara ada wanita yang selalu bermanja di lengan pria itu.Bisa-bisa dia menjadi nyamuk disana.
Setelah dirasa sudah lama,Nurfa pun segera memasuki lift dan langsung memencet angka satu.Ia tidak percaya rumor yang menyebar tentang pria itu ternyata memang benar adanya,dan ia menyaksikannya sendiri.
Haish ...
Kenapa harus di kantor sih?!
Ting
Melihat pintu lift yang sudah terbuka,ia pun bergegas melangkah menuju parkiran dan mengambil motornya.Keadaan parkiran sudah sunyi,tentu saja karena para karyawan sudah pulang sejak tadi.
Ia segera menstarter motornya,lalu melaju pergi meninggalkan kawasan perusahaan.
Akhirnya,hari melelahkannya sudah selesai.Setidaknya untuk hari ini.
•
•
•
•
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih untuk teman-teman yang udah suport cerita ini.
Love you kalian banyak-banyak ❤️❤️