Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 13


__ADS_3

"Nis, aku matiin dulu ya. Assalamu'alaikum."Putus Nurfa secara sepihak dan langsung berdiri.


"Melupakan pekerjaanmu, Nona Zahwa?"tanya pria di depannya yang tak lain adalah Brayen.


"Kenapa anda ada disini, Pak?"tanya Nurfa heran, kenapa tiba-tiba Brayen ada didepannya?


Pria itu bersandar di dinding dengan tangan bersedekap di dada, dan melihat Nurfa dengan alis yang dinaikkan satu.


"Apa itu penting untukmu?Seharusnya aku yang bertanya, bagaimana bisa kau tidak menyadari kehadiranku?"tanya Brayen.


"Oh, aku lupa. Kau terlalu fokus bercerita dengan temanmu melalui telepon. Apa aku salah?"tanya Brayen.


Nurfa menundukkan kepalanya tidak berani melihat Brayen. Tidak bisa ia tampik,ia sebenarnya sedikit takut jika pria itu sudah berbicara dengan nada begitu.


"Jawab aku, Nona Zahwa"Brayen menekan setiap kata yang diucapkannya.


"Maaf, Pak,"kata Nurfa sambil meringis.


"Ayolah, Nona Zahwa. Baru tiga hari kau menjadi sekretaris ku, tapi kau sudah meminta maaf terlalu sering"kata Brayen dengan sinis.


"Aku tidak mau tahu, semua berkas ini sudah harus siap hari ini. Kau tidak ku izinkan pulang sebelum ini semua selesai."Perintah Brayen.


Nurfa mendongakkan kepalanya kaget."Tapi, Pak. Bagaimana bisa begitu?"Protesnya.


"Oh, kau mau tugasmu ditambah?"tanya Brayen santai.


"Apa?!"


"Kalau begitu jangan membantahku, Nona Zahwa. Kau tahu, aku sangat tidak suka dibantah apalagi olehmu. Jika kau masih berani membantahku, akan kupastikan kau tidak bisa pulang dari perusahaan ini"ucap Brayen dengan nada mengintimidasi.


"Kau paham?"


Nurfa hanya mengangguk saja, lagi pula ia malas berdebat sekarang. Biar saja dia mengalah untuk sekarang, mungkin dengan cara ini pria itu dapat pergi dengan cepat dari ruangannya.


Dan benar saja, Brayen pergi meninggalkannya begitu saja setelah dia mengalah. Setelah melihat pria itu keluar dari ruangannya, Nurfa langsung duduk di kursinya menghela nafas lega. Setidaknya pria itu tidak mengamuk kesetanan seperti kemarin.


Ia melihat jam tangannya,sebentar lagi jam makan siang. Syukurlah, setidaknya dia dapat merefreshing dirinya walau hanya sebentar.


*****


"Hey! Ada apa dengan wajahmu itu?"tanya Siska sambil menarik kursi untuk dia duduki, dan meletakkan pesanannya diatas meja bundar, yang menampung lima orang.


Mendengar pertanyaan Siska, ketiga orang lainnya pun melihat ke arah Nurfa. Kini Nurfa mendapatkan dua teman baru, atau lebih tepatnya teman Siska dan Natasya yang otomatis menjadi temannya juga.


"Memangnya kenapa dengan wajahku?"tanya Nurfa bingung.


"Kau terlihat sangat kusut, Nurfa.Memangnya apa yang terjadi padamu?"tanya Natasya penasaran.

__ADS_1


"Benarkah?"Nurfa mengedip-ngedipkan matanya,dia tidak menyadari ia berekspresi seperti itu.


"Tentu saja, kau lihat saja di kamera handphone mu jika tidak percaya"jawab Mike, teman laki-laki Natasya yang ikut bergabung bersama mereka.


"Sudahlah abaikan saja ekspresi wajahku, aku malas membahasnya"kata Nurfa dengan ketus dan menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


"Wah, wah. Apa yang terjadi dengan sekretaris ini?"tanya Zayn sambil terkekeh kecil.


"Aku diberikan banyak tugas oleh pak Zacky, dan semuanya harus siap hari ini. Jika tidak, maka aku tidak di izinkan pulang."Mau tak mau Nurfa menjawabnya saja, dari pada mendengar pertanyaan yang bertubi dari mereka berempat.


Mendengar hal tersebut, mereka berempat menjadi heran, pasalnya Brayen selalu bersikap baik terhadap semua sekretarisnya. Bahkan para sekretaris pria itu mendapatkan tempat yang istimewa yang tidak dapat dimiliki karyawan lain.


"Terserah kalian ingin percaya atau tidak, aku akan kembali ke ruanganku. Makananku juga sudah habis, aku tinggal dulu."Nurfa buru-buru meninggalkan mereka berempat,dan tergesa-gesa menuju ruangannya.


Sementara itu, di ruangan Brayen ia tengah menikmati segelas wine bersama Alex. Ia menyesap wine di tangannya itu dengan nikmat, seperti itu adalah minuman terenak yang pernah ia minum. Alex melihat itupun hanya dapat mendengus tidak habis pikir, bagaimana wajah Brayen yang sejak tadi terasa bahagia dan penuh kepuasan?


Alex pun mulai meminum wine itu, sambil bersandar di sofa yang empuk di ruangan itu.


"Sesuatu membuatmu bahagia, Brayen?"tanya Alex, walaupun dia sudah tahu jawabannya.


Brayen langsung mengangkat kedua alisnya mendengar pertanyaan dari temannya itu, lalu tersenyum lebar. Setelah itu dia menatap ruangan Nurfa yang berhubungan dengan ruangannya dengan penuh kepuasan.


"Sepertinya begitu, bahkan aku merasa jauh lebih baik,"ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap tersenyum.


Alex mengikuti pandangan pria itu. Lalu-


"Ternyata kau kejam juga ya"kata Alex sambil melihat Nurfa yang sedang sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.


"Aku tersanjung atas pujianmu itu"kata Brayen sambil tertawa kecil.


Lalu tak lama setelah ia tertawa, Nurfa keluar dari ruangannya dan menghampiri dirinya sambil memegang beberapa berkas. Brayen memilih meminum minumannya, lalu bersandar di sofa seperti yang Alex lakukan.


"Permisi, Pak. Ini beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani, saya sudah mencek nya, Pak"kata Nurfa meletakkan berkas itu di meja depan Brayen dan Alex.


Brayen hanya balas berdehem dan melirik sekilas ke arah berkas itu. Alex yang melihat itupun mati-matian menahan senyumnya, melihat bagaimana temannya menanggapi itu dengan santai dan bagaimana wajah Nurfa yang menahan kesal.


"Kau terlihat sangat sibuk, Nona Zahwa"kata Alex berbasa-basi.


Nurfa melihat ke arah pria yang baru berbicara itu, mengingat sesuatu. Ah, benar pria itu yang pernah datang bersama Brayen ke cafenya. Dia baru tahu pria itu juga bekerja bersama Brayen.


"Alexander Antonio, terserah kau mau memanggil apa,"ujar Alex sambil mengulurkan tangannya.


Nurfa membalas menungkupkan tangan di depan dada sambil tersenyum tipis. Melihat hal itu, Alex juga menarik tangannya dan melakukan seperti yang dilakukan Nurfa sambil tersenyum. Sejujurnya dia ingin tertawa, jika seperti ini ia merasa seperti pria baik-baik.


"Salam kenal, Pak Antonio. Saya rasa saya tidak perlu memperkenalkan nama saya lagi,"ujar Nurfa.


"Hahaha ..., kurasa begitu,"kata Alex sambil terkekeh kecil, sementara Brayen menatap mereka dengan datar.

__ADS_1


"Tampaknya kau sangat tekun, Nona Zahwa. Melihat betapa banyaknya berkas yang ada di mejamu,"kata Alex sambil tersenyum miring.


Nurfa yang melihat itupun,mengangkat kedua alisnya masih menampilkan senyum terpaksanya.Satu yang dia tangkap dari senyum pria itu,ia sedang mempermainkannya dan dia yakin pria di depannya ini sama dengan Brayen.


"Ya Allah, ternyata mereka berdua sama menyebalkannya,"ucap Nurfa dalam hati.


"Ya ampun, Brayen. Kenapa kau tega sekali kepada sekretarismu. Kau tidak lihat penampilannya,dia terlihat lelah,"kata Alex berlaga prihatin.


"Nona Zahwa, apa kau baik-baik saja?Kau istirahat waktu jam makan siang kan? Bukan maksudku, tapi melihat kondisimu yang sedikit buruk membuat aku merasa prihatin padamu,"sambung Alex lagi.


Nurfa yang mendengar itupun berusaha keras meredam amarahnya.


"Benarkah? Maaf saya lupa melihat penampilan saya tadi, Pak Antonio.Seperti yang anda lihat, Bapak Brayen memberikan saya tugas yang banyak, bahkan beliau juga meminta bantuan saya untuk menyelesaikan tugas beliau. Jadi saya tidak terlalu punya waktu untuk duduk-duduk santai dan melihat penampilan saya, Pak,"balas Nurfa dengan memasang senyum tipis.


Brayen yang mendengat itu langsung menatap tajam pada Nurfa, entah kemana senyum pria itu pergi. Alex yang mendengar itu juga tak kalah terkejutnya, pantas saja temannya itu sampai marah-marah tidak jelas saat di club.


Alex kemudian melihat ke arah Brayen, dan seperti yang di bayangkannya pria itu menatap tajam sekretaris barunya itu. Bukannya berhenti menjahili Nurfa, ia makin bersemangat lagi setelah melihat bagaimana wanita itu menjawabnya tadi. Sangat jarang dia bertemu dengan perempuan seperti ini.


"Kau juga harus memperhatikan penampilanmu, Nona Zahwa. Kau tidak ingin dipecat secepat ini kan, Nona Zahwa?"Alex berkata santai, tetapi Brayen langsung menatap tidak suka pada Alex.


"Aku tidak paham dengan penampilan yang anda maksud, Pak Antonio. Bukankah setiap orang memiliki gaya fashionnya masing-masing?"ujar Nurfa dengan tenang juga.


"Jika masalah pemecatan, saya tidak akan berkomentar lagi soal itu. Karena Pak Brayen sendiri yang melarang saya berbicara tentang topik itu,"sambungnya lagi.


Brayen yang mendengar itu mendengus kasar, bangun dari duduknya dan berdiri menghadap Nurfa dengan kedua tangannya berada di saku celana pria itu.


"Bukannya pekerjaanmu masih banyak? Aku tidak ingin mendengar alasan kau tidak bisa menyiapkan semua dokumen-dokumen itu, jadi kembalilah ke ruanganmu"kata Brayen dengan ketus.


"Anda benar sekali, Pak.Maaf, Pak Antonio saya harus segera bekerja karena saya tidak punya waktu untuk duduk dengan santai."Sindir Nurfa secara halus.


Setelah mengatakan itu, Nurfa pun sedikit menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan dua pria menyebalkan itu"Permisi, Pak."






Bersambung...


Thank you my love❤️


See you on the next chap


Sayang kalian banyak-banyak 😘❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2