Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 20


__ADS_3

"Katanya Felysia  Arvaz sudah kembali ke negara ini ya?"kata Natasya sambil menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Iya, bahkan beritanya sudah membuat heboh para wanita di perusahaan ini,"jawab Siska sambil memandang ke arah Natasya.


Nurfa yang sedari tadi asik makan pun menjadi penasaran dengan pembahasan mereka. Apa katanya tadi? Perempuan di perusahaan ini di buat heboh?Kenapa dia tidak tahu ya?


Ia menghentikan acara makannya sejenak dan menatap kearah kedua temannya itu.


"Kenapa perempuan di perusahaan ini bisa heboh?"tanya Nurfa penasaran.


Mendengar pertanyaan Nurfa, Siska memberikan tatapan melotot tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Ya ampun, Nurfa! Selama ini kau kemana saja? Bisa-bisanya kau tidak tahu berita penting seperti ini!"kata Siska dengan nada sedikit tinggi mengakibatkan seluruh orang yang ada di cafetaria itupun menatap kearah mereka.


Menjadi bahan tontonan seperti itu, sontak membuat Nurfa sedikit malu. Memangnya ada yang salah dengan pertanyaannya? Untungnya orang-orang itu kembali mengalihkan pandangan mereka dan melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda tadi.


Nurfa menatap kesal ke arah Siska yang masih memasang wajah tak percaya. Ia lalu membuang nafas sebentar, dan beralih menatap Natasya yang sedang menatapnya juga dengan tatapan tak percaya tapi tidak seheboh Siska.


"Dengarkan ini, bukan hanya wanita yang ada disini saja yang dibuat heboh, bahkan para wanita yang mengagumi Brayen dan dekat dengannya juga dibuat heboh oleh itu,"ujar Natasya.


Mendengar itu, Nurfa tambah mengernyit heran"Lalu hubungannya dengan pak Brayen apa?"tanya Nurfa tidak paham.


Siska memutar bola matanya dengan jengah, lalu mendengus kasar dan bersandar di kursinya sambil bersedekap dada. Tidak beda jauh dengan Natasya yang dibuat geleng-geleng mendengar pertanyaan Nurfa. Sementara Nurfa masih menatap mereka dengan heran.


"Kau tidak tahu Felysia Arvaz?"tanya Siska.


"Tentu saja aku tahu, dia model yang terkenal itukan?"jawab Nurfa sambil meminum minumannya yang ada di atas meja.


"Jadi mengapa kau tidak tahu dia pernah memiliki hubungan dengan Brayen dulu, bahkan dikabarkan mereka akan menikah dulunya"


Nurfa yang mendengar itu pun mulai paham kenapa para wanita disini begitu heboh dengan berita itu. Sepertinya mereka merasa saingan mereka kali ini semakin berat. Entah apa keuntungan yang didapat mereka dengan bersaing satu sama lain hanya untuk mendapatkan Brayen. Padahalkan masih banyak pria baik dan tampan di dunia ini.


Tapi dia juga tidak menampik jika mendapatkan pria seperti Brayen juga terasa sangat tidak mungkin. Memang banyak yang tampan, tapi tidak semua memiliki kekuasaan, karisma, serta kekayaan seperti pria itu. Brayen merupakan paket komplit jika dijadikan pasangan, seperti yang para wanita itu harapkan selama ini.

__ADS_1


"Lalu mengapa mereka tidak jadi menikah?"tanya Nurfa sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangannya yang ada di atas meja, dan melihat serius kearah Siska.


"Karena karir, apalagi? Felysia pasti lebih memilih untuk melanjutkan karirnya ketimbang menikah. Padahlkan, jika dia menikah dengan Brayen dia tidak perlu repot-repot memikirkan itu lagi. Menikah dengan Brayen seperti kau sudah menikahi bank dunia. Rasa-rasanya jika aku yang menjadi dia, aku akan langsung memilih untuk menikah saja ketimbang mengejar karirku,"jawab Siska dengan muka berseri membayangkan kalimat yang diucapkannya di akhir tadi.


Nurfa yang melihat itu hanya mengelengkan kepalanya. Rasanya yang dilakukan oleh Felysia sudah benar. Pasti wanita itu mengetahui bagaimana seluk beluk kehidupan Brayen yang sangat bebas. Lihatlah, bahkan saat ini pria itu masih saja tidak berubah.


"Lalu bagaimana denganmu Fa?Apa kau tidak tertarik untuk menjadi pendamping Brayen?"tanya Natasya tiba-tiba sambil menatap memicing ke arah Nurfa.


Nurfa sontak melebarkan matanya."Kenapa kau bertanya begitu?"


Natasya mengedikkan kedua bahunya sambil menatap pada Nurfa."Biasanya para sekretaris Brayen akan sangat gencar mencari perhatian dari pria itu. Sudah jelas alasan mereka karena ingin menjadi pasangan pria itu. Yah walaupun kau tidak berprilaku seperti mereka. Tapi, apa kau yakin kau tidak memiliki keinginan menjadi pasangan pria itu?"tanya Natasya yang diangguki oleh Siska menyetujui perkataan dari Natasya.


"Jika kalian takut memiliki saingan baru lagi, kalian tenang saja. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun, bahkan keinginan untuk menjadi pasangan pria itu,"jawab Nurfa sambil memandang malas kearah kedua temannya itu.


Wajah Siska dan Natasya yang tadinya menatapnya dengan tatapan intimidasi, berubah menjadi lega. Walaupun tidak terlalu kentara, karena mereka menutupinya dengan senyuman.


"Tenang saja, Fa. Kau tidak masalah jika memiliki perasaan pada Brayen kok,"kata Siska tapi masih belum menghilangkan wajah bahagianya.


"Ya ampun kalian ini, ucapan kalian tidak sinkron dengan ekspresi kalian saat ini. Sudahlah, aku ingin kembali ke ruanganku. Lagipula jam makan siang akan berakhir"


Setelah sampai di ruangannya, Nurfa langsung mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Bersyukur dia datang terlebih dahulu dari pada Brayen, jika tidak maka pria itu akan memarahinya kembali. Saat ingin melanjutkan pekerjaannya, ia mendapat telpon dari Zahra yang langsung di angkat olehnya.


"Halo Assalamu'alaikum, Fa"


"Wa'alaikummussalaam, Zah. Kenapa Zah?"tanya Nurfa sambil bersandar pada kursinya.


"Ini aku cuma mau ngingetin, kalau nanti malam kamu harus wajib datang ke acara pernikahan Rasya. Ngak boleh enggak, soalnya kamu ngak datang siang ini,"ujar Zahra dengan suara menggebu-gebu.


"Astaghfirullah, untung kamu ingetin aku, Zah"sentak Nurfa.


"Dasar Nurfa, kebiasaannya ngak ilang-ilang. Udahla, aku mau lanjut bantuin Rasya dulu ini. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikummussalaam"

__ADS_1


Setelah menutup telpon dari Zahra, Nurfa kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Namun, lagi-lagi terganggu karena suara telponnya. Tanpa melihat siapa yang menelpon ia langsung mengangkat telpon itu.


"Halo"


"Ke ruanganku sekarang!"


"Ba-"


Tut!


Nurfa melongo melihat handphonenya, lalu melihat ke arah Brayen. Dengan sedikit kesal dia berdiri dari duduknya, lalu membuka pintu penghubung ruangannya dan Brayen, kemudian berjalan menghampiri pria itu yang kini entah sejak kapan sudah duduk di kursi kerjanya lagi.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"tanya Nurfa dengan sopan.


Setelah memastikan Nurfa ada di depannya, Brayen langsung menatap Nurfa dengan lekat. Nurfa yang di tatap begitupun merasa risih sekaligus agak sedikit takut. Pasalnya jika pria itu menatapnya seperti itu, pasti dia sudah melakukan kesalahan. Tapi bukannya hati ini dia tidak ada berbuat kesalahan sedikitpun? Bahkan dia datang lebih dulu sebelum Brayen tadi.


"Kau sudah menyiapkan pertemuanku dengan perusahaan Kim di hotel, Nona Nurfa?"tanya Brayen dengan memandang mengintimidasi ke arah Nurfa.


Nurfa yang tadinya sedikit takut berubah lega. Untung saja dia sudah menyiapkan itu tadi.


"Sudah Pak, saya sudah menghubungi pihak hotel agar menjamu dan menyambut tamu anda dengan baik. Saya juga sudah meminta pihak hotel untuk menyiapkan jamuan untuk tamu anda Pak,"jawab Nurfa dengan lugas.


"Ya Allah, kupikir apa tadi"


"Yasudah kalau begitu, kembali ke ruanganmu. Jika aku melihat kau tidak melakukan seperti yang kau katakan tadi, kau akan tahu akibatnya,"ucap Brayen menatap Nurfa tajam.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi Pak"


Setelah mengatakan itu, Nurfa langsung berbalik tapi sebelum itu dia membungkukkan diri sedikit. Jika tidak, dia bisa di semprot lagi oleh Brayen nantinya. Sekarang saja dia sudah melakukan hal yang benar masih saja pria itu menatapnya dengan tajam, apalagi jika dia berbuat kesalahan nanti.


Huft


Dari pada membayangkan yang tidak-tidak, Nurfa memilih untuk melanjutkan pekerjaaannya yang sempat tertunda tadi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2