
"Apa yang anda lakukan?"tanya Nurfa merasa risih.
"Ck,bisa-bisanya aku mendapatkan sekretaris berpenampilan kuno seperti kau."Decak pria itu lalu merasa raut wajah seakan merasa kasihan.
"Maaf,Pak?"tanya Nurfa mengernyitkan alisnya.
"Sudahlah,seleramu memang kuno."Cerca pria itu secara terang-terangan.
"Maksud anda apa mengatakan itu?Bagaimanapun penampilan saya itu bukan urusan anda,Pak.Lagi pula,ditempat saya bekerja dulu saya juga mengenakan pakaian seperti ini.Satu-satunya orang yang mengkritik cara berpakaian saya hanya anda,"jawab Nurfa dengan kesal.
Apa salahnya coba?
Dia mengenakan flatshoes berwarna hitam,rok berwarna hitam,tak lupa kemeja berwarna biru muda serta hijab yang senada dengan warna bajunya.Apa-apaan pria itu?!
"Kau tidak bisa membandingkan perusahaanku dengan perusahaan tempat bekerjamu dulu,Nona Zahwa.Aku yakin kau juga setuju akan hal itu,"kata Brayen dengan nada meremehkan.
"Ya ampun,kenapa anda suka sekali menghina saya?Anda pikir segala hal harus sesuai dengan keinginan anda?Dengar ya Pak,buruk untuk Bapak belum tentu buruk untuk orang lain.Jadi jangan selalu memaksakan kehendak Bapak dengan saya,"kata Nurfa dengan kesal.
"Huh!Siapa yang peduli dengan pandangan orang lain tentangmu,yang jelas dipandanganku kau terlihat memang begitu,"kata Brayen santai sambil memandang sinis pada Nurfa.
"Kalau begitu saya juga tidak akan peduli dengan pandangan anda terhadap saya.Percaya tidak percaya pak, sejujurnya jika bertanya pandangan,pandangan saya terhadap Bapak juga tidak terlalu baik,"balas Nurfa dengan santai.
"Kau!"Tunjuk Brayen pada Nurfa sambil memasang mata tajam.
"Sudahlah,Pak.Bukankah saya datang kesini untuk bekerja?"tanya Nurfa dengan malas tanpa menghiraukan perkataan pria itu.
"Tsk!Entah apa yang dipandang ayahku dari dirimu.Dengan sikapmu yang seperti ini,aku yakin perusahaan ini akan hancur,"kata Brayen tanpa memiliki perasaan.
"Terima saja,Pak.Menyenangkan hati orang tua pahalanya besar lho,Pak."
Brayen yang mendengar hal itu,memandang memicing kearah Nurfa.Dipandangi begitu,ia jadi mengalihkan tatapanya ke arah lain,menelusuri interior ruangan ini.Mau bagaimana lagi,dari pada melihat kearah pria itu lebih baik mengalihkan pandangan saja.
__ADS_1
"Aku bisa gila jika terus berbicara denganmu.Itu ruanganmu,"kata Brayen sambil menunjuk ruangan itu dengan dagunya.
Ruangan yang terhubung dengan ruangan Brayen,dan memiliki pintu kaca yang transparan.Tentu saja agar Brayen dapat mengawasi pekerjaannya,begitu juga sebaliknya.
"Itu kunci ruanganmu."Sambil menunjuk ke arah meja kerja pria itu.
"Baik,Pak.Saya permisi,selamat pagi,Pak,"ucap Nurfa sambil sedikit membungkukkan badannya,lalu berbalik menuju ruangan yang dimaksud setelah mengambil kunci.
Brayen terus memandangi kearah Nurfa dengan pandangan dingin.Setelah itu ia mendecakkan lidahnya,lalu duduk ke kursinya melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
**********
"Wah!Jadi Mr.Zacky sendiri yang memilihmu untuk jadi sekretaris Brayen?"kata Siska dengan semangat kepada Nurfa,yang dijawab anggukan olehnya.
"Kau beruntung sekali,Fa."Potong Natasya dengan wajah takjub.
"Beruntung apanya?Kalian belum merasakan saja menjadi sekretaris dari pria itu,"kata Nurfa sedikit kesal,sambil meminum minuman yang ada di depannya.
"Ck!Kau ini tidak bersyukur,banyak yang ingin ada di posisimu sekarang ini.Jika aku yang ada di posisimu,aku pasti bisa besar kepala dan bahagia karena selalu berada di dekat Brayen,"kata Siska sambil tersenyum bahagia membayangkan apa yang baru saja di ucapkannya,tidak beda jauh dengan ekspresi Natasya.
"Kalian tidak takut?"tanya Nurfa hati-hati.
"Apa yang harus ditakutkan.Mungkin aku akan sedikit dirugikan,tetapi tetap saja Brayen tetap memberikan perhatian lebih kepada mantan sekretaris-sekretarisnya.Mereka memang tidak di pekerjakan lagi disini,tapi mereka dapat bekerja di kantor cabang dan memiliki posisi yang fantastis,"jelas Natasya.
Nurfa yang melihat ekspresi dari teman barunya itu,hanya bisa menggeleng-geleng tidak habis pikir.Ia lalu berdiri dari kursinya,berniat keluar dari kafetari itu.
Ternyata,berita Brayen yang suka bermain dengan para sekretarisnya,tidak hanya di ketahui oleh ayahnya saja.Mungkin seluruh karyawan kantor ini sudah tahu akan rumor itu.
"Kau mau kemana?"tanya Natasya.
"Ke Musholla,sudah masuk waktu zuhur.Kalian mau ikut?"
__ADS_1
"Pergilah terlebih dahulu.Kau sudah tahu letaknya dimana kan?"tanya Natasya,yang dibalas anggukan oleh Nurfa.
Setelah melaksanakan sholat Zuhur,Nurfa berniat akan kembali keruangannya.Lagi pula,jam istirahat akan segera berakhir.Saat berjalan ingin kembali,ia melihat ke arah pria yang sedang mendahuluinya dari arah kanannya.
Nampaknya pria itu terlalu fokus pada handphone ditangannya,sehingga tidak memerhatikan sekitar dan terkesan terburu-buru.Ketika Nurfa melihat ke bawah,ia melihat dompet pria itu yang terjatuh.Dompet berwarna cokelat yang terbuat dari bahan kulit premium.
Nurfa langsung mengambil dompet tersebut dan berlari kecil menghampiri pria itu.
"Permisi!"kata Nurfa dengan sedikit keras membuat pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik memandang ke arah Nurfa.
Pria itu memiliki wajah yang tampan,dan seperti orang barat.Rambut yang tersusun rapi dan sedikit basah,hidung yang mancung,alis yang tebal,serta jangan lupakan mata pria itu yang teduh dengan iris berwarna hijau.Serta jas berwarna cokelat yang dipakai pria itu terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
"Astaghfirullah,"ucap Nurfa sambil menundukkan pandangannya.
"Ya,ada apa?"tanya pria itu dengan sopan.
"Ini,saya ingin mengembalikan dompet anda.Dompet anda terjatuh saat anda sedang berjalan tadi,"kata Nurfa sambil menyerahkan dompet itu.
"Oh my Gosh, Thank you miss,"ucap pria itu sambil tersenyum tipis dan mengambil dompet itu lalu menyimpannya didalam saku jasnya.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya,perkenalkan namaku Adrean Tris Smith,"kata pria itu sambil menjulurkan tangannya.
"Nama saya Nurfa Mysha Zahwa,Pak"kata Nurfa menangkupkan dada.
Bukan tanpa sebab ia memanggil pria itu dengan kata 'pak'.Setelah mendengar nama belakang pria itu,ia baru sadar bahwa pria didepannya ini adalah penerus perusahaan Smith Enterprise,perusahaan yang termasuk berpengaruh di negara ini.
Mendengar nama Nurfa,pria itu mengernyitkan dahi nya,seakan berpikir.
"Wait,kau sekretaris baru Brayen kan!"kata pria itu lalu tersenyum lebar ke arah Nurfa.
Mendengar hal itu,Nurfa sontak melebarkan matanya kaget.Bagaimana pria didepannya ini bisa tahu,padahalkan dia tidak mengatakan jika dia sekretaris dari Brayen.
__ADS_1
"Bagaimana anda bisa tahu,Pak?"
Bersambung...