Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 27


__ADS_3

Hari ini tepatnya hari dimana Nurfa sudah menjadwalkan pertemuan meeting perusahaan Brayen, dengan perusahaan Arkas group. Mulai dari malamnya dia sudah mewanti-wanti agar tidak terjadi kesalahan kecil, yang mungkin dapat berakibat fatal nantinya.


Dan pagi ini, dia sedang melihat-lihat kembali berkas yang akan dibawanya.  Membaca satu persatu berkasnya, ia kemudian tersenyum lega karena membawa semua berkas tersebut ke kantor dan tidak meninggalkannya di rumah.


Ia memegang berkas itu, lalu berjalan masuk menemui Brayen melalui pintu penghubung yang menjadi sekat ruangannya dan Brayen. Ia mendapati pria itu tengah berbicara dengan serius bersama seseorang melalui media telepon.


Sesampainya di depan meja pria itu, ia hanya berdiri diam menunggu Brayen siap menelpon.


"Ya ampun, Dad. Dad saja yang memberitahukannya nanti, tidak perlu harus aku juga kan?" Nada suara Brayen sedikit kesal, kemudian ia melirik Nurfa yang berada di depannya.


"...."


"Baiklah, nanti aku akan menyuruhnya untuk datang ke rumah." Pandangan Brayen masih menatap Nurfa.


Nurfa menjadi heran, namun ia menepis itu semua mungkin hanya perasaannya saja.


"...."


"Hmm. Aku tutup dulu telponnya." Sesaat mengucapkan itu, Brayen langsung mematikan telponnya.


Entah kenapa, mata pria itu masih menatapnya dengan tatapan yang dalam. Nurfa takut melihat tatapan pria itu, apalagi aura dari pria itu yang tinggi membuat ia semakin takut saja.


"Enyahkan pikiran buruk mu itu Nurfa," batin Nurfa.


Nurfa berdehem kecil guna mengurangi rasa takut yang tiba-tiba menyerangnya. Ia kemudian tersenyum hormat pada Brayen, dan sedikit menundukkan kepalanya.


"Pak, saat ini anda harus melakukan meeting bersama perusahaan Arkas group. Lebih tepatnya meeting ini akan diadakan di perusahaan Arkas group, Pak."


Nurfa menjelaskan kepada Brayen, lalu menunjukkan sebuah berkas dan meletakkannya dia tas meja pria itu dengan posisi sudah terbuka.


Brayen melihat berkas yang disodorkan oleh Nurfa dan terlihat rinci membaca dokumen tersebut.


"Kau sudah menyiapkan semuanya dengan benar?" Tanya Brayen dengan satu alis pria itu terangkat seakan tidak yakin.


Nurfa tersenyum bangga. "Sudah, Pak. Saya sudah menyiapkan semuanya, bahkan sedari semalam saya sudah menyelesaikannya Pak."


"Tidak perlu merasa bangga begitu, awas saja jika terjadi kesalahan nantinya. Kau barus bertanggung jawab seumur hidupmu untuk balasannya," ucap Brayen datar, sambil berdiri dari duduknya dan berjalan lalu berhenti di samping Nurfa dengan jarak yang wajar.


Nurfa meringis kecil, memang sepertinya pria ini tidak suka melihatnya bahagia.


"Lalu apalagi yang kau tunggu, cepat kita berangkat." Suara Brayen mengagetkan Nurfa.


Nurfa mengangguk spontan pada Brayen. "Baik Pak. Nathaniel juga sudah menunggu di luar ruangan ini, mari Pak."


Nurfa mempersilahkan Brayen untuk berjalan lebih dulu. Tapi bukannya berjalan, Brayen menatap Nurfa dengan pandangan tajam. Bahkan pria itu mendekati Nurfa dengan perlahan.


Nurfa yang merasa tidak melakukan kesalahan pun merasa heran mengapa Brayen bersikap demikian.

__ADS_1


"Kau berkata apa tadi? Nathaniel?" Suara Brayen terdengar lebih berat dengan seringai menyeramkannya serta sorot mata yang kian menatap Nurfa tajam.


"M-maksud saya, James Pak. James asisten pribadi anda, Pak," jawab Nurfa dengan gugup, bahkan ia tak sadar mundur secara perlahan seiring Brayen kian mendekat ke arahnya.


"Lalu mengapa kau memanggilnya Nathaniel, ada hubungan apa kau bersamanya nona Zahwa?" Tanya pria itu yang semakin terdengar aneh bagi Nurfa.


"Kenapa kau hanya diam? Atau semua yang kukatakan ini benar adanya?" Nada suara Brayen semakin mengintimidasi Nurfa,  bahkan terkesan memojokkannya.


Nurfa terdiam cengo melihat tuduhan gila Brayen.


"Sebenarnya ada apa dengan anda, Pak? Saya memang terbiasa memanggil nama orang dengan nama depannya, tapi apa harus anda bersikap demikian terhadap saya?" Tanya Nurfa heran, namun tetap saja ia melangkah mundur menghindari Brayen.


Langkah Brayen kemudian berhenti dengan mata pria itu yang menatap Nurfa seolah dengan tatapan penuh cemooh.


"Lalu? Apa itu bisa dijadikan alasan?" Brayen masih terus mendesak Nurfa dengan pertanyaannya.


Nurfa membuang nafas lelah, lalu sedikit berdecak kecil.


"Baiklah, saya yang salah disini dan saya minta maaf dengan itu. Bisakah kita pergi sekarang, Pak?" Nurfa menekan kata panggilnya terhadap Brayen.


Tak bisa dipungkiri bahwa ia terkadang lelah melihat sikap Brayen yang terkadang tidak masuk di akal. Itulah kenapa ia berharap kesepakatannya menjadi sekretaris pria itu segera dapat berakhir.


"Kenapa jadi aku yang harus menuruti perintahmu?" Tanya pria itu, sambil sedikit menegakkan dagunya bersikap angkuh di depan Nurfa.


Nurfa menangkupkan kedua tangannya di depan menatap iba pada Brayen. "Saya mohon, Pak. Jika kita terlambat itu dapat merusak citra perusahaan ini," ucap Nurfa.


Brayen tersenyum penuh kemenangan. "Baiklah, tanpa kau mengatakan itu pun aku sudah tahu dengan tugasku. Tidak perlu kau ingatkan!" Setelah itu Brayen lalu berbalik meninggalkan Nurfa yang menatapnya penuh amarah di belakang.


Nurfa mengusap dadanya berusaha sabar, lalu mengucapkan istighfar berkali-kali berharap kemarahannya akan meredam.


"Apa lagi yang kau tunggu! Cepatlah, jangan sampai kerja sama ini tidak terjadi hanya karena mu!" Bentak Brayen tiba-tiba pada Nurfa.


Nurfa menghentakkan kakinya kesal dengan kedua tangan yang terkepal. Ia kemudian menyusul Brayen dan Nathaniel yang sudah berjalan lebih dulu darinya.


Rasa kesal itu masih tetap ada, tapi dia tidak ingin kekesalannya menyebabkan dirinya mendapat masalah nantinya. Jadi dia berusaha keras untuk melupakan kekesalannya saja.


Saat ini mereka bertiga tengah berada di dalam lift. Dengan posisi Brayen berdiri paling depan, sedangkan Nurfa dan James berada di belakang pria itu dengan bersampingan.


"Menagapa kau berdiri di sampingnya?" Suara Brayen memecah keheningan yang terjadi.


"Hmm..., saya Pak?" Tanya Nirfa sambil menunjuk dirinya sendiri.


Ting!


Pintu lift terbuka dengan segera mereka langsung keluar menuju keluar gedung, yang mana kendaraannya telah disiapkan oleh James.


Saat sudah dekat dengan mobil, Brayen masuk terlebih dahulu di kursi belakang, sesaat setelah James membukakan pintu untuknya tadi.

__ADS_1


Setelah Brayen masuk, James membungkuk hormat lalu kemudian menutup pintu dan berjalan memutar menuju kemudi.


Sedangkan Nurfa dengan santai membuka pintu di samping kemudi. Dengan kata lain, saat ini dia tengah duduk berdampingan dengan James dan Brayen di belakang mereka.


"Apa yang kau lakukan disitu Nona Zahwa?" Tanya Brayen dengan suara rendah, serta sorot mata yang menatap Nurfa dingin.


Nurfa menoleh kebelakang, melihat kearah Brayen.


"Tentu saja saya sedang duduk, Pak," jawab Nurfa kebingungan serta heran.


Wajah Brayen semakin keruh mendengar jawaban Nurfa.


"Kau pikir aku bodoh? Aku juga tahu kau sedang duduk, maksudku mengapa kau duduk di depan bersamanya. Pindah kebelakang!" Perintah Brayen tegas.


"Apa bedanya sih, Pak? Yang terpenting kan kita pergi dan datang tepat waktu di perusahaan Arkas grup," ucap Nurfa.


"Lalu kau ingin aku terlihat buruk, sedangkan kalian berdua terlihat seperti sepasang kekasih begitu?" Pernyataan Brayen berhasil membuat Nurfa bahkan James sedikit terlonjak.


Namun James bersikap seolah tidak mendengar apa-apa sejak tadi. Ia hanya membiarkan pertikaian antara Tuannya bersama sekretaris nya.


"Ya Allah. Sebenarnya anda kenapa sih Pak?" Tanya Nurfa dengan heran.


"Aku bilang pindah Nona Zahwa! Jika dalam hitungan ketiga kau tidak pindah juga, kau keluar saja dari mobilku sekarang!" Ucap Brayen dengan kali pria itu yang disilang.


Nurfa kaget mendengar perintah dari Brayen, dengan segera dia bergegas membuka sabuk pengaman yang sudah di pasangnya tadi.


"Dua!"


"Ya Allah, kenapa langsung dua Pak?!" Pekik Nurfa sambil bergegas keluar, dan membuka pintu di samping Brayen.


"Tiga!"


Tepat saat Brayen mengatakan itu, Nurfa juga sudah duduk pada kursi yang berada di samping Brayen. Nafasnya patah-patah karena harus bergegas dan buru-buru tadi.


Brayen tersenyum penuh kemenangan melihat kondisi Nurfa yang kualahan.


Nurfa tentu saja menangkap senyum pria itu dari ekor matanya, namun ia terlalu sibuk untuk menenangkan dirinya. Lagi pula dia juga sudah lelah menghadapi tingkah gila Brayen.


Brayen menghadap kedepan, dan bersandar pada kursinya.


"Jalan!" Perintah Brayen pada James, yang langsung di patuhi oleh asisten pribadinya itu.


Akhirnya mobil mereka bergerak juga setelah terjadi perdebatan antara Brayen dan Nurfa.


Nurfa hanya bisa mengucapkan istighfar berkali-kali di dalam hati. Berhadapan dengan Brayen memang menguras energi yang banyak, bahkan emosi.


Bersambung ......

__ADS_1


See You ...


__ADS_2