
Tibalah mereka di kediaman keluarga Zacky, yang tak lain rumah Brayen sendiri tentunya. Mereka turun saat mobil sudah berada tepat di pintu utama. Para pelayan segera berlari kecil, untuk membukakan pintu Brayen. Brayen langsung menyerahkan kunci mobilnya pada pria yang membukakan pintunya tadi, lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Nurfa.
Pintu yang tadinya tertutup, langsung terbuka lebar dan menampilkan para pelayan yang berjejer menyambut mereka. Nurfa yang melihat itu merasa takjub. Ya ampun, baru kali ini dia disambut seperti ini. Sedangkan Brayen, masih tetap memasang wajah datarnya dan masuk kedalam yang diikuti Nurfa dibelakangnya.
Semua pelayan membungkuk memberi hormat serta salam pada Brayen.
" Selamat datang, Tuan muda "Para pelayan membungkuk hormat, serta memasang senyum terbaik mereka.
Brayen hanya balas berdehem saja dan melirik mereka sekilas. Lalu datanglah seorang pria berpenampilan muda dan segar datang ke arahnya dan Nurfa. Pria itu membungkuk hormat terlebih dahulu.
"Tuan besar sedang ada di dalam kamarnya, Tuan muda"ucap pria yang menghampiri mereka tadi.
Brayen melirik malas pada pria itu, lalu melangkah lebih dulu meninggalkan pria itu. Nurfa melongo melihat itu sekaligus prihatin pada semua pelayan yang sudah menyambut Brayen.
"Sia-sia saja Pria ini disambut dengan baik"batin Nurfa.
Nurfa tersenyum canggung pada pelayan pria yang ada di depannya ini, lalu mengikuti Brayen yang sudah berjalan terlebih dahulu sejak tadi. Pelayan pria yang tadi bersama merekapun tak jadi mengantarkan Nurfa lagi, karena melihat respon tuan mudanya tadi.
Nurfa berlari kecil menyusul Brayen yang berjalan dengan cepat ke arah tangga. Setelah berada tepat di belakang pria itu, barulah Nurfa bernafas lega dan menormalkan langkahnya kembali.
"Dasar lambat!" kata Brayen sambil melirik sinis pada Nurfa.
"Iya Pak, iya" balas Nurfa malas.
Brayen hanya acuh mendengar itu, lalu tetap berjalan santai dengan Nurfa yang masih mengekori Brayen di belakang. Saat tiba di depan pintu kamar ayahnya, tanpa aba-aba Brayen langsung membukanya lebar sehingga menampilkan seorang pria paruh baya yang sedang bersandar di atas tempat tidur, dengan selimut yang menutupi hingga perut saja.
Para pelayan yang ada disana pun sontak kaget dengan kedatangan tuan muda mereka yang tiba-tiba. Jangan pelayan itu, Nurfa yang ada di belakang pria itu juga kaget.
"Keluar!" Brayen menatap datar kepada para pelayan yang ada dikamar itu.
Para pelayan yang ada disana pun langsung patuh, dan membungkukkan badan mereka pada Brayen dan ayahnya. Nurfa yang mendengar itupun juga ingin keluar. Mungkin Brayen ingin berbicara privasi dengan ayahnya, pikirnya.
"Kau tetap disini!"ucap Brayen menghentikan langkah Nurfa yang ingin ikut berbalik.
Nurfa celingukan melihat kanan-kiri.
"Aku?"batin Nurfa.
Para pelayan itupun menutup pintu kamar, dan meninggalkan mereka bertiga di dalam kamar.
"Eh-eh? Kenapa pintunya ditutup?"tanya Nurfa heran, lalu melangkah ingin membukanya.
"Apa yang kau lakukan, Nona Zahwa?! Aku bilang kau tetap disini!"kata Brayen sambil menatap tajam ke arah Nurfa.
"Tapi Pak, untuk apa saya disini?"tanya Nurfa mengernyitkan dahi.
"Tidak apa Nak Nurfa, kau bisa duduk di sofa itu saja,"kata Zacky sambil menunjuk ke arah sofa yang ada dikamar itu, dan tersenyum kepada Nurfa.
__ADS_1
Nurfa membalas senyum canggung, lalu mengikuti apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu. Sementara Brayen menghampiri ayahnya yang sedang duduk bersandar diatas ranjang. Ia lalu mengambil kursi yang ada di kamar itu, lalu meletakkannya tepat disisi ranjang di sebelah ayahnya.
"Apa ini, Dad? Bagaimana bisa begini?" Brayen melihat ayahnya dengan ekspresi yang tidak berubah, namun nada bicara pria itu terdengar mengkhawatirkan ayahnya.
Mendengar suara putranya itu, membuat dia tersenyum hangat pada Brayen. Meskipun dia membuat ekspresi datar namun kekhawatiran putranya padanya tidak bisa di sembunyikan.
"Ayah hanya kelelahan Brayen, hanya butuh istirahat sebentar"
Mendengar balasan ayahnya, Brayen mendecakkan lidahnya.
"Sudah kubilang padamu Dad, jangan suka melakukan hal yang membuat dirimu lelah. Jangan pikir aku tidak tahu, setiap malam Dad sering merenungkan sesuatu akhir-akhir ini,"ucap Brayen dengan tegas.
"Jika yang Dad pikirkan tentang perusahaan, Dad tidak perlu khawatir. Aku akan bekerja dengan baik dan menghandle itu semua. Jadi, jangan berpikir yang bukan-bukan yang dapat membuatmu lelah,"sambung Brayen.
"Ayah tidak memikirkan perusahaan, Brayen. Aku tahu kau bisa menghandle itu,"jawab Zacky sambil menatap lembut putranya.
"Yang kupikirkan disini adalah kau Brayen"
Brayen langsung menatap ayahnya, dengan alis yang dinaikkan satu. Tapi dia juga malas ingin memprotes perkataan ayahnya itu.
"Sudahlah, Dad. Tidak usah memikirkan hal yang tidak penting. Dari pada memikirkanku, lebih baik Dad sarapan sekarang. Aku tahu Dad pasti belum memakan sarapan itu secuilpun sejak tadi,"kata Brayen dengan jengah.
Brayen melihat ke arah nakas yang ada di samping tempat tidur itu, lalu memberikannya pada ayahnya. Bukannya menerima, ayahnya itu hanya menatap makanan itu tanpa minat.
"Kau tahu, ayah tidak akan memakan makanan itu jika sakit Brayen"
Dulu sekali saat dia masih kecil, dia pernah bertanya kenapa ayahnya tidak mau memakan masakan koki saat sedang sakit. Dan jawaban ayahnya sangat simpel. Karena sejak kecil, jika ayahnya sakit yang akan memasak untuknya adalah ibunya dan dia sudah terbiasa dengan itu.
Masalahnya sekarang, ibu dari ayahnya itu tidak ada di sini. Itulah kenapa dia membawa Nurfa tadi bersamanya.
"Nona Zahwa!"panggil Brayen dengan suara agak keras.
Nurfa yang sedari tadi melihat-lihat pada pemandangan diluar balkon yang terhubung dengan kamar itu, sontak mengalihkan pandangannya dan menatap terkejut ke arah Brayen.
Ia langsung berdiri dari sofa, dan menghampiri pria yang memanggil dirinya tadi.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"tanya Nurfa.
Brayen melirik sekilas sebelum melanjutkan perkataannya pada Nurfa.
"Buatkan ayahku sup ayam yang sesuai dengan resep ini,"ucap Brayen sambil menyerahkan secarik kertas pada Nurfa.
Nurfa kebingungan mendengar itu, namun tetap menerima kertas yang disodorkan oleh Brayen.
"Maksud anda, saya harus memasak sup ayam, Pak? Tapi untuk siapa?"tanya Nurfa masih dengan kebingungannya.
Brayen yang mendengar itu,langsung menatap tajam ke arah Nurfa.
__ADS_1
"Salahku apa lagi sih?"Ringis Nurfa dalam hati.
"Brayen menyuruh itu untukku Nak Nurfa. Bisakah kau membuatkannya untukku, sebab bapak tidak suka jika itu di masak oleh koki manapun,"jelas Zacky sambil menatap lembut ke arah Nurfa.
Nurfa mengangkat kedua alisnya, lalu tersenyum penuh ke arah pria paruh baya itu.
"Kalau anda yang mengatakan begitu, tidak mungkin saya menolak, Pak. Saya akan membuat sup ayam dengan resep ini supaya Bapak bisa kembali pulih dengan cepat,"ucap Nurfa masih memasang senyum diwajahnya.
Namun ada yang terusik mendengar dia mengatakan itu. Ya siapa lagi jika bukan Brayen.
"Apa maksudmu jika ayahku mengatakan itu kau tidak akan menolak? Jadi tadi kau protes karena aku yang memintamu begitu?!"tanya Brayen dengan suara agak keras.
Mendapatkan hal itu dati Brayen, Nurfa menjadi jengah sendiri. Kenapa jika berbicara dengannya pria didepannya ini tidak bisa jika tidak membentaknya?
"Sudahlah Brayen, bukankah kau menyuruhku agar cepat sarapan? Jika kau memarahi Nak Nurfa, maka sup ayam itu tidak akan pernah jadi,"ucap Zacky.
Nurfa yang mendapat pembelaan tidak langsung itupun tersenyum puas. Dan melirik kearah Brayen yang sudah menatapnya tajam. Brayen yang menyadari hal itupun langsung menatap tak suka pada sekretarisnya itu.
"Ada apa dengan senyummu itu?"
"Apakah salah jika saya tersenyum, Pak?"tanya Nurfa pura-pura tidak tahu maksud dari pria itu.
"Jika kau tersenyum biasa aku tidak akan pernah peduli dengan itu. Namun sekarang kau tersenyum seperti kau sedang mengolok-olok ku saat ini,"jawab Brayen tanpa menghilangkan tatapan tajamnya pada Nurfa.
"Bagaimana bisa anda menganalogikan senyuman saya seperti itu, Pak?"tanya Nurfa masih memasang tampang tidak tahu.
"Kau jangan senang dulu Nona Zahwa, setelah ini kau akan tetap pergi ke kantor bersamaku. Dan saat jadwal makan siang, kau harus kembali lagi disini memasak untuk ayahku."Brayen tersenyum sinis menatap Nurfa yang sedang melotot mendengar ucapannya tadi.
"Kenapa kau begitu Brayen?Untuk hari ini, Nak Nurfa aku liburkan dari pekerjaannya. Aku akan meminta Alex untuk membantumu nanti"
Mendengar itu, Brayen langsung terkejut dengan keputusan ayahnya. Sedangkan Nurfa tersenyum bahagia mendengar hal itu. Wah, tak disangka dia akan mendapatkan pembelaan double dari ayah pria di depannya ini.
"Are you kidding me Dad?Bagaimana bisa begitu?"protes Brayen tidak terima.
"Kenapa tidak bisa? Jika Nak Nurfa melakukan hal seperti yang kau bilang tadi, dia bisa kelelahan, Brayen. Lagipula, biasanya Alex sering membantumu. Jadi itu tidak ada masalah,"jawab ayahnya dengan santai.
Brayen menatap tidak percaya pada ayahnya. Niatnya membawa Nurfa kemari karena ingin memperumit pekerjaan wanita itu. Namun dengan mudahnya ayahnya memutuskan rencananya.
"Baiklah Pak Zacky, saya pamit dulu ingin memasakkan sup ayam untuk anda."Pamit Nurfa dengan memasang senyum lebar lalu segera berlalu dari sana meninggalkan ayah dan anak itu berdua.
"Bukankah kau juga ada pekerjaan Brayen? Jangan menjadi atasan yang buruk dengan tidak tepat waktu dalam bekerja,"ucap ayahnya sambil menasehati.
Mendengar pengusiran halus yang dilakukan ayahnya kepadanya, membuat Brayen menjadi tambah kesal dengan wanita itu. Entah apa yang dibuat wanita itu pada ayahnya, hingga ayahnya berlaku demikian padanya. Sialan memang wanita itu.
"Baiklah aku akan pergi sekarang. Beristirahatlah Dad,jangan lupa memakan sarapan dan obatmu nanti,"ucap Brayen sambil bangkit dari duduknya,dan memeluk ayahnya sebagai salam perpisahan.
Setelah itu dia benar-benar pergi dari sana, dan berjalan keluar dengan perasaan yang dongkol. Ia langsung masuk kedalam mobilnya yang sudah di siapkan oleh para pelayan, lalu menancap gas dan segera pergi meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
Bersambung ....