
"Mengapa kau melihatku begitu?"tanya Brayen heran melihat Nurfa memandangnya dengan kesal.
Bagaimana dia tidak kesal, jika waktu liburnya diganggu oleh pria di depannya ini. Sesudah pulang dari kediaman Zacky, Nurfa dan kedua temannya ingin melanjutkan rencana mereka yang sempat tertunda tadi. Bahkan, mereka sudah di separuh jalan menuju tempat yang akan mereka kunjungi.
Namun, dia mendapat panggilan dari nomor yang tak dikenal lagi. Panggilan pertama Nurfa sengaja tidak menjawab. Lalu saat ia dipanggil lagi untuk kedua kalinya, seketika ia menyesal mengangkatnya sekaligus mengaktifkan handphonenya. Ya, yang memanggilnya adalah pria yang ada di depannya ini, Brayen.
Brayen memintanya untuk menemuinya di apartemen pria itu. Mendengar itu sontak saja Nurfa menolak keras. Berduaan bersama yang bukan mahramnya, apalagi dengan pria seperti Brayen yang jelas-jelas sangat berbahaya. Tapi yang namanya Brayen, mana mau mengalah apalagi dibantah. Pria itu berkata ada pekerjaan yang harus dirinya selesaikan di apartemen pria itu.
Nurfa tetap tidak mau, karena mana mungkin dia bersama Brayen tanpa ada orang satupun. Lalu, pria itu menyuruhnya untuk datang ke perusahaan dan dia tidak boleh menolak lagi. Jika tidak, Brayen akan mengancam menutup cafenya lagi.
Nurfa sebenarnya bosan mendengar ancaman itu, namun tak berani juga untuk mengabaikannya. Akhirnya Nurfa memutuskan turun dari mobil, membiarkan kedua temannya pergi tanpanya, lagi.
Dan disinilah dia sekarang, di ruangan Brayen lebih tepatnya di sofa yang ada di ruangan itu, dan menatap kesal ke arah Brayen dan Alex, serta seorang pria yang bersama mereka, yang Nurfa sendiri tidak tahu siapa. Dan jangan lupakan tiga orang perempuan seksi yang masing-masing di samping mereka, sambil merangkul mesra.
"Tsk! Sebenarnya Bapak memanggil saya kesini untuk apa sih, Pak?"tanya Nurfa tanpa menghilangkan kekesalannya.
Brayen yang mendengar itu hanya tersenyum tenang, sementara wanita yang berada di samping pria itu sedang menatapnya sinis.
"Nih perempuan kenapa mandang aku kayak gitu sih?!"
"Hey Nona! Kau tidak boleh berkata seperti itu kepada atasanmu,"kata pria yang Nurfa tidak tahu siapa, sambil memandang Nurfa seakan lelucon.
"Ah iya, kau tidak tahu namaku rupanya. Perkenalkan namaku Gabriel Garcia Carles, kau bisa memanggilku Gabriel, atau sayang juga boleh."Gabriel menjulurkan tangannya sambil mengedipkan satu matanya kepada Nurfa.
"Nama saya Nurfa Mysha Zahwa,"kata Nurfa sambil bergidik ngeri dan menangkupkan tangan di dada.
"Maaf-maaf. Aku melupakan itu. Nomong-ngomong kau memiliki nama yang cantik, sama seperti orangnya,"sambungnya sambil tersenyum penuh.
"Ya Allah,nih orang kenapa lagi sih?"
__ADS_1
Nurfa yang melihat itu, langsung segera memalingkan kepalanya dari Gabriel dan menatap ke arah Brayen. Brayyen yang melihatnya pun seperti pura-pura tidak tahu, dan tetap memandangnya santai.
"Pak, anda sebenarnya sedang mempermainkan saya ya?"Nurfa menatap jengkel ke arah Brayen.
"Tenanglah, Nona Zahwa. Aku memanggil kau kesini karena temanku ini penasaran dengan wajah sekretaris baruku,"jawab Brayen santai.
"Jadi tidak ada pekerjaan seperti yang anda katakan?!"Nurfa melongo mendengar apa yang baru di dengarnya.
Sedangkan Alex dan Gabriel melihatnya dengan kekehan kecil. Lalu, Alex meletakkan map berwarna biru di atas meja yang menjadi penghalang mereka.
"Sebenarnya Brayen ingin memberikan ini padamu, dia melupakan tugas ini kemarin. Jadi dia menyuruhmu untuk mengerjakannya,"kata Alex sambil tersenyum kecil.
Nurfa mengambil map itu dengan malas, lalu mengeceknya tanpa memperdulikan enam orang yang ada di hadapannya ini. Lalu seketika dia terlonjak kaget.
Inikan ...
"Pak, bukannya saya sudah menyelesaikan ini kemarin dan BapakĀ hanya tinggal menanda tangani saja?"tanya Nurfa tidak paham.
"Jadi anda memanggil saya hanya untuk mengerjakan tugas yang sebenarnya sudah saya selesaikan itu, Pak?"tanya Nurfa dengan kesal.
Brayen hanya mengangguk santai tanpa merasa bersalah. Alex dan Gabriel yang melihat itupun mati-matian menahan diri agar tidak tertawa, sedangkan para wanita yang bersama mereka memandang cemooh pada Nurfa.
Nurfa yang melihat itupun sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Bagaimana bisa anda berbuat seperti ini! Ini hari libur saya Pak, dan anda sudah mengganggunya hanya karena ini?!"Nurfa memandang nelangsa ke arah Brayen.
"Kau marah, Nona Zahwa?"tanya Brayen santai.
"Marah? Tidak, Pak.Saya sedang tertawa bahagia saat ini. Hahaha"jawab Nurfa dengan tawa yang ditekan.
__ADS_1
Alex dan Gabriel yang melihat itupun sudah tertawa dengan keras. Sedangkan Brayen hanya tersenyum sinis melihat Nurfa. Ya, dia tahu berkas itu sudah diselesaikan olehnya, sesuai dengan apa yang diucapkan Nurfa. Dia sengaja ingin mengganggu wanita yang ada di depannya ini, dan berhasil.
"Baiklah, Pak. Nampaknya tidak ada lagi yang harus saya kerjakan. Kalau begitu, saya permisi,"kata Nurfa sambil berdiri dari kursinya lalu menunduk sedikit kepada Brayen dengan sangat terpaksa.
"Tunggu dulu Nona Zahwa,kau tidak melihat kita kedatangan tamu?"ujar Brayen menghentikan gerakan Nurfa yang ingin melangkah.
Nurfa yang melihat itupun mengernyit heran. Tamu? Tamu yang mana? Pria yang bernama Gabriel itu atau para wanita yang ada di depannya ini?
"Maksud anda, Pak?"
"Kau tidak melihat ada orang lain selain aku dan Alex disini?"tanya Brayen dengan santai sambil bersandar dan tangan bersedekap di dada.
"Bukannya tamu anda saja, Pak?"kata Nurfa merasa perlu mengkoreksi.
"Kita? Dia yang mengundang kenapa aku jadi dibawa-bawa juga?"batin Nurfa tidak terima.
"Kau tidak tahu peraturan atau apa, Nona Zahwa? Kau tidak melihat mereka ada di perusahaan, dan tamuku yang ada disini juga termasuk tamu perusahaan. Dan kau harus memperlakukan mereka dengan sebaik mungkin Nona Zahwa, karena kurasa aku tidak perlu mengingatkan posisimu yang sekarang ini,"kata Brayen memandang Nurfa datar.
Nurfa yang mendengar itupun langsung berbalik melihat ke arah Brayen dengan pandangan melongo.
"Maaf Pak sebelumnya. Jika anda berbicara seperti itu saat hari bekerja, maka saya pun menganggap hal itu sangat benar adanya. Namun, sekarang ini hari libur Pak, bahkan seharusnya jika anda memiliki urusan dengan pekerjaan ataupun kedatangan tamu, saya tidak memiliki keharusan untuk melakukan itu. Semuanyakan sudah ada di peraturan surat perjanjian yang sudah Bapak buat sendiri,"jawab Nurfa dengan penekanan setiap katanya.
Brayen yang mendengar hal itu langsung menaikkan satu alisnya, dan tertawa remeh melihat Nurfa. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepala seakan merasa prihatin. Tidak beda jauh dengan Alex dan Gabriel mereka juga terkekeh pelan mendengar ucapan Nurfa barusan. Namun, para wanita yang ada di samping pria-pria itu makan menatap sinis kepadanya.
Nurfa tidak memperdulikan itu, lalu berniat ingin pergi dari sana secepatnya. Jika terlalu lama disana bisa-bisa da tidak dapat menahan emosinya yang akan meluap. Namun, kembali terhenti karena mendengar perkataan Brayen lagi.
"Apa kau benar-benar tidak ingat, Nona Zahwa?"tanya Brayen lagi dengan suara yang berat dan menatap nya dingin.
Nurfa mengernyit heran lagi, jelas-jelas dia tidak lupa."Maksud anda apa sih, Pak?"
__ADS_1
Bersambung ...