Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 6


__ADS_3

Pagi menyingsing mengatakan hari baru akan dimulai.Semangat baru,pagi baru.Yah,itu kata sebagian orang yang entah kenapa terfokus pada hal itu.Tapi bukannya itu memang benar?Entahlah,entah itu sekadar teori atau fakta yang harus dijalani.Nyatanya pagi ini Nurfa merasakan hal yang tak bisa ia deskripsikan.Entah ia harus semangat  menjalani pekerjaan barunya,atau merasa suram?


Yah,hari ini.Hari dimana ia akan menjadi sekretaris dari pria menyebalkan itu.Bahkan pagi ini,ia merasa jengkel dan itupun hanya karena mengingat perkataan pria itu.


"Bismillahirrahmanirrahim,semangat Fa!"batinnya berusaha menyemangati diri sendiri.


Setelah merasa penampilannya baik-baik saja,ia segera berpamitan pada ibunya dan berniat akan pergi bekerja.Ia berada di depan rumahnya menunggu mobil yang akan menjemputnya.Ya,sesuai dengan yang diperintahkan pria itu.


Tak berapa lama sebuah mobil mewah berwarna hitam datang,dan berhenti tepat didepannya.Setelah itu seorang pria keluar dari mobil tersebut,mengenakan kemeja berwarna putih,serta jas dan celana senada berwarna hitam yang menambah karisma pria tersebut.


Jika kalian berpikir bahwa supirnya itu sudah tua,maka kalian salah besar.Nyatanya pria itu masih muda,mungkin sepantaran dengannya.Dan jangan lupakan penampilan pria itu,itu kenapa dia terlihat berkharisma tadi.


"Selamat pagi,Nona,"sapa pria itu dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Selamat pagi,"balas Nurfa dengan senyum kecil.


"Saya asisten dari Mr. Zakcy,Nona.Beliau menyuruh saya agar menjemput,Nona."Pria itu berkata dengan sopan.


"Ah, baiklah.Kalau saya boleh tau,nama kamu siapa?"tanya Nurfa memandang pria didepannya itu.


"Nama saya Nathaniel James,Nona"jawab pria itu.


"Baiklah,Nathaniel.Perkenalkan namaku Nurfa Mysha Zahwa,"sapa Nurfa sambil menangkupkan tangan didepan dadanya.


Tak menunggu lama, pria yang bernama Nathaniel itupun membukakan pintu untuk Nurfa dan berangkat menuju perusahaan.


Nurfa yang duduk di bangku penumpang tak bisa untuk tidak cemas.


Bahkan,rasanya baru kali ini ia merasakan hal ini.Dulu saat dirinya bekerja dia merasa hanya sedikit gugup,tapi tidak separah yang dirasakannya saat ini.


Selama mobil berkendara,Nurfa berusaha untuk menormalkan dirinya.Dia juga tidak tahu kenapa dia bereaksi seperti itu.Mungkin karena dia tidak menginginkan pekerjaan ini,apalagi harus berhadapan dengan pria arogan itu.


"Astaghfirullah,kenapa akhir-akhir ini aku sering kesal?"


"Nona,anda baik-baik saja?"tanya Nathaniel sambil melirik pada spion mobil,melihat gerak-gerik Nurfa.


"Oh,aku tidak apa-apa kok.Hanya sedikit nervous,"kata Nurfa sambil tersenyum canggung.

__ADS_1


"Oh iya,kenapa kamu memanggil nama pak Brayen menjadi Mr.Zacky?Atau pak Zacky masih menjadi CEO?"tanya Nurfa dengan bingung,dan berharap apa yang diduganya itu benar.


Jika benar seperti apa yang diduganya ini,dia akan merasa sangat senang.Setidaknya,bekerja dan berbicara dengan ayah dari pria itu akan lebih mudah dari pada dengan dirinya.


"Memang pak Brayen Marqes Zacky yang menjadi CEO sekarang,Nona.Semenjak masa jabatan beliau,ia memutuskan untuk memanggil semua orang dengan nama belakangnya,Nona,"terang Nathaniel dengan jelas dan sopan.


Nurfa yang mendengar itu langsung mengangguk-angguk paham.


"Jadi,aku harus memanggilmu apa?Nathaniel atau James?"tanyanya berusaha mencari topik pembicaraan agar rasa cemas yang dirasakannya berkurang.


"Terserah anda saja,Nona.Nona bisa memanggil nama saya Nathaniel atau James-pun tidak masalah"jawab Nathaniel sambil tersenyum tipis.


"Baiklah aku akan memanggilmu Nathaniel saja.Kamu juga jangan memanggilku nona,panggil Nurfa saja"kata Nurfa.


"Maaf,Nona Zahwa.Saya tidak bisa,"kata Nathaniel menolak halus,dengan memasang senyum merasa tak enak.


"Yasudah,tidak apa-apa.Santai saja."Nurfa mengatakan demikian karena ia paham kondisi pria itu.


Baiklah,satu fakta baru yang didapatnya lagi dan itu terasa asing untuknya.Selama ia bekerja dulu,semua orang tetap memanggil dengan nama depan,atau nama yang lebih nyaman dipakai.Sebenarnya,tidak ada peraturan ketika memanggil nama seseorang di tempat kerjanya dulu.


**********


"Kita sudah sampai,Nona."


Perkataan Nathaniel membuyarkan lamunan Nurfa,dan benar mereka telah sampai di perusahaan yang sangat megah berdiri di depannya ini.Ia langsung keluar dari mobil,dan sedikit membenarkan letak tas selempangnya.Sebenarnya Nathaniel sudah akan membukakan pintu untuknya,namun dengan cepat ia membukanya sendiri.Lagi pula hanya membuka pintu mobil.


"Mari,Nona.Saya akan mengantarkan anda ke ruangan pak Zacky,"kata Nathaniel membungkuk sedikit dan berjalan mendahului Nurfa.


Ketika memasuki perusahaan,Nurfa tidak bisa tidak di buat kaget.Apa-apaan itu?Semua orang yang bekerja di perusahaan ini di dominasi oleh para bule?Dan jangan lupakan penampilan mereka yang terlihat seperti model.


Wah ...


Benar-benar,ia seperti orang asing di negaranya sendiri?


Ia terus mengikuti langkah Nathaniel,hingga memasuki lift.Sesampainya di lift,pria itu langsung menekan tombol angka delapan.Sebenarnya ia merasa risih harus berdua dengan orang yang bukan mahramnya,tapi mengingat ia sedang bekerja saat ini maka dia harus profesional.Lagi pula,ia tidak merasa Nathaniel memiliki aura akan menjahatinya.


"Emm ... Nathaniel, di perusahaan ini semua karyawannya memang berasal dari luar negeri ya?"tanya Nurfa hati-hati.

__ADS_1


"Tidak,Nona.Di perusahaan ini juga memiliki karyawan dalam negeri.Tetapi,jika melihat presentasenya memang lebih dominan berasal dari luar negeri."Nathaniel menjelaskan sambil melihat kearah Nurfa.


"Ah,begitu.Lalu,jika berkomunikasi harus menggunakan bahasa Inggris juga?"tanya Nurfa penasaran,jujur saja ia hanya ingin menghilangkan sedikit rasa nervous nya.


"Tidak selalu,Nona.Lebih dominan berbahasa indonesia juga.Karena,para karyawan yang berasal dari luar juga terkadang sudah harus mengerti bahasa indonesia,"ucap Nathaniel.


Ting


Bunyi pintu lift terbuka menandakan mereka telah sampai.Merekapun melangkah keluar dan menuju ruangan CEO yang di pimpin oleh Nathaniel.Hingga tibalah mereka di pintu berwarna cokelat megah yang terlihat mewah.


Tok tok tok


"Masuk!"


Nathaniel langsung membuka pintu tersebut,dan masuk kedalam ruangan yang di ikuti oleh Nurfa dibelakangnya.Sekali lagi,ia dibuat takjub dengan desain interior di ruangan ini.Ruangan yang didominasi berwarna coklat gelap,serta warna gold,terlihat sangat cocok dan mewah.


Didepan Nurfa sekarang terdapat meja besar berwarna hitam,dengan pinggiran berwarna emas.Disebelah kanannya terdapat dua buah sofa yang berwarna cokelat muda.Lalu dibelakang meja tersebut terdapat dinding yang terbuat dari kaca,yang memperlihatkan pemandangan luar.


Ck!Benar-benar sangat mewah.


Lalu mereka berhenti tepat didepan meja besar tersebut,yang di seberangnya terdapat Brayen yang sedang duduk di kursi kerja miliknya sambil memainkan cincin di jari telunjuknya.Sambil sesekali menggoyangkan kursi kerjanya.


"Permisi,Pak.saya sudah bersama Nona Zahwa,Pak."Natahniel langsung membungkukkan badannya,sementara Nurfa hanya melihat tanpa berniat untuk melakukan itu.


"Baiklah,kau boleh keluar,"ucap Brayen yang langsung di amini oleh asistennya itu.


"Terimakasih,Nathaniel,"ucap Nurfa sebelum pria itu membalikkan tubuh.


"Tidak masalah,Nona,"ucapnya dengan sopan lalu sedikit membungkukkan diri dan keluar dari ruangan itu.


Brayen bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan santai hingga kedepan mejanya,lalu mendudukkan diri disana.Ia lalu memandangi Nurfa dari bawah sampai atas.


"Apa yang anda lakukan?"tanya Nurfa merasa risih.


"Ck!Bisa-bisanya aku mendapatkan sekretaris berpenampilan kuno sepertimu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2