
Nurfa mengernyit heran lagi, jelas-jelas dia tidak lupa"Maksud anda apa sih, Pak?"
Brayen berdiri dari duduknya menghampiri Nurfa yang berdiri tak jauh di depannya. Brayen mengenakan pakaian santai, celana kain panjang berwarna abu-abu, serta baju kaus berwarna putih. Begitu juga dengan kedua pria yang ada di ruangan itu, jelas sekali mereka tidak dalam hubungan pekerjaan.
Lalu Brayen berhenti tepat di hadapan Nurfa dengan tangan bersedekap menatap wanita itu dengan dingin dan sedikit menunduk. Karena tinggi Nurfa yang hanya sebatas dadanya saja. Nurfa pun segera melangkah mundur guna memberi jarak antara mereka.
Lihatlah! Ada orang saja berhadapan dengan pria ini sangat berbahaya. Apalagi jika sampai dia jadi untuk ke apartemen pria itu seperti yang diucapkan Brayen tadi.
Nurfa bukannya terlalu percaya diri, mungkin juga tidak akan terjadi apa-apa. Tapi yang namanya waspada harus tetap ada bukan? Apalagi dengan Brayen yang sudah seharusnya sangat-sangat diwaspadai.
"Alex! Bacakan peraturannya!"kata Brayen masih dengan menatap Nurfa dingin.
Alex pun juga langsung berdiri, dan membawa sebuah map yang berbeda dengan yang tadi. Ia berdiri di samping Brayen, membuka map tersebut lalu membacakannya.
"Peraturan nomor 19. Apabila perusahaan atau pimpinan perusahaan memiliki tamu, baik itu saat bekerja maupun di hari libur, maka seluruh karyawan berkewajiban untuk melayaninya dengan baik dan sopan tanpa mengurangi citra perusahaan."setelah mengatakan itu, Alex memberikan map itu kepada Nurfa yang langsung diterima dan dibaca oleh Nurfa.
Nurfa yang membacanya pun terlonjak kaget. Sejak kapan peraturan ini dibuat?
"Baru sadar, Nona Zahwa?"ucap Brayen dengan nada meremehkan, yang tidak mendapatkan respon dari Nurfa.
"Jika kau bertanya-tanya sejak kapan peraturan itu dibuat, maka jawabannya adalah kemarin. Seharusnya kau mendengar berita itu sejak kemarin, Nona Zahwa,"sambung Brayen.
Dan seakan teringat, Nurfa langsung tertegun di tempatnya. Ya, kemarin dia sempat mendengar dari Natasya jika perusahaan membuat beberapa peraturan baru. Sayangnya dia tidak bertanya peraturan apa saja itu, karena sudah kelimpungan dengan tugas yang diberikan oleh Brayen.
Ya ampun!
Ini tidak baik!
"Kenapa kau diam saja, Nona Zahwa? Menyadari kesalahanmu lagi?"tanya Brayen sambil menyindirnya.
Nurfa yang mendengar itupun hanya bisa diam saja, tidak berniat untuk menyangkal. Lagi pula apa yang bisa dia jawab?Mengatakan dia tidak tahu karena mengerjakan tugas yang pria itu berikan kemarin? Sama saja artinya dia masuk ke dalam kandang harimau.
"Nampaknya dia memang tidak tahu, Brayen,"jawab Alex yang mendapat tatapan tajam dari Brayen.
"Kenapa aku merasa kau sedang membelanya?"protes Brayen.
Alex sontak melebarkan kedua matanya."What! Kata-kataku yang mana kau bilang membela?"tanya Alex, namun tak ditanggapi oleh Brayen.
__ADS_1
"Kau buatkan kami minum, karena tidak ada orang lain selain dirimu yang ada disini."Perintah Brayen.
Seakan baru tersadar, Nurfa lalu menatap Brayen dengan heran. Bukankah di depan mereka sudah ada minuman dia atas meja yang Nurfa sendiri tidak tahu namanya apa.
"Bukannya di meja sudah ada banyak minuman, Pak?"tanya Nurfa hati-hati.
"Tsk!Itu berbeda Nona Zahwa, minuman yang kumaksud disini itu kopi dan jus untuk tamu-tamu ku, Nona Zahwa,"jawab Brayen santai.
"Jus? Bukannya itu juga jus ya Pak?"tanya Nurfa sambil melihat ke arah gelas yang didalamnya sudah tertuang cairan berwarna ungu pekat.
Mendengar hal itu, semua orang di dalam ruangan itu langsung tertawa kecuali Brayen tentu saja. Bahkan pria itu masih menatapnya dingin.
Nurfa keheranan, kenapa mereka semua tertawa? Bahkan pria yang bernama Gabriel itu sudah memukul-mukul pahanya sendiri. Aneh.
"Ya ampun Brayen, bagaimana bisa kau mendapatkan sekretaris sepolos ini?"ucap Gabriel di sela tawanya.
"My Gosh! Tak kusangka kau sangat polos, Nona Zahwa,"kata Alex dengan tawa yang masih tersisa di wajahnya.
Brayen yang melihat itu, hanya berdecak "All done!" kata Brayen sambil melirik memperingati ke arah Alex dan Gabriel.
Mendengar itu, Alex dan Gabriel berusaha untuk menutupi tawa mereka yang masih tersisa.
Nurfa yang mendengar itupun sontak kaget. Apa-apaan? Baru saja dia ditertawakan masal, sekarang sudah di bentak tiba-tiba.
"Kenapa anda tiba-tiba marah, Pak? Lagi pula ruangan dapurkan terkun-"
"Ini kuncinya, Nona Zahwa."Potong Alex sambil menyerahkan kunci kepada Nurfa dengan wajah yang memandangnya lucu.
"Baik sekali anda sudah nenyiapkan kunci ini."Sindir Nurfa sambil mengambil kunci itu.
Mendengar itu, Alex hanya terkekeh kecil."Begitulah Nona Zahwa, banyak yang mengatakan seperti itu padaku"
"KAU TIDAK AKAN PERGI!"tanya Brayen dengan suara yang keras.
"Ish, iya Pak. Ini juga saya mau pergi, tidak usah teriak-teriak,"jawab Nurfa dengan ketus lalu berbalik ingin keluar.
"Oh iya, Nona. Kopiku jangan terlalu manis, karena orang yang membuatnya sudah sangat manis,"kata Gabriel sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Nurfa hanya memutar malas kedua matanya lalu keluar dari ruangan itu. Ya ampun, bisa-bisanya hari ini dia terjebak oleh dua orang. Parahnya lagi, dua orang itu memiliki hubungan ayah dan anak. Sempurna sudah hari libur yang dinantikannya.
...*****...
Kini sudah pukul lima sore, dan dia baru sampai di rumahnya saat ini. Entah kenapa, sejak bertemu dengan Brayen rasanya dia menjadi tidak pernah tenang seperti sebelumnya. Dimulai dari cafenya yang ditutup, pemecatannya, pdan sekarang menjadi sekretaris pria itu?Oh, satu lagi. Secara tidak sadar, hari ini dia juga sudah bertugas menjadi mata-mata pria itu sesuai dengan kesepakatannya dengan ayah dari pria itu juga.
"Ya Allah"
"Kamu baru pulang, Fa?"tanya Anita ibu Nurfa sambil menghampiri Nurfa yang sedang duduk bersandar di sofa.
Mendengar suara ibunya, Nurfa langsung mendongak dan memeluk perut ibunya yang sedang berdiri dihadapannya saat ini. Anita yang melihat itu hanya tersenyum, sambil mengelus sayang kepala putrinya yang tertutup khimar.
"Kenapa, hm?"tanya Anita dengan lembut sambil duduk disebelah Nurfa.
Tanpa melepaskan pelukannya, Nurfa menceritakan semua yang terjadi padanya hari ini kepada ibunya. Anita yang mendengar itu hanya mendengarkan tanpa berniat memotong, membiarkan putrinya itu mengeluarkan unek-uneknya.
Yah, walaupun Nurfa bukanlah putri kandungnya, namun Anita sangat menyayangi Nurfa. Apalagi dia sudah hidup sendiri sejak kematian suaminya tanpa adanya kehadiran seorang anak. Dokter mengatakan ia tidak bisa mengandung, karena terdapat kesalahan pada rahimnya.
Sedangkan Nurfa merupakan anak yang dia adopsi setelah sahabatnya atau ibu Nurfa meninggal dunia saat Nurfa berumur tujuh tahun. Juga ayah Nurfa sudah meninggal sejak dia berumur empat tahun, saat melakukan tugas negara.Ya, ayah Nurfa merupakan seorang abdi negara.
Itu kenapa Anita sangat menyayangi Nurfa seperti putri kandungnya sendiri. Nurfa yang masih kecil harus sudah kehilangan kedua orang tuanya dan menjadi yatim piatu. Sedangkan dia, sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi bahkan suaminya pun sudah meninggal dunia setahun sebelum dia mengadopsi Nurfa.
Anita yang sedang tidak ingin berumah tangga lagi, memutuskan untuk fokus merawat putri sahabtnya ini dengan penuh kasih sayang.
"Jadi gitu, Bu ceritanya,"kata Nurfa mengakhiri ceritanya.
Anita yang mendengar itu tersenyum, lalu mengelus kepala putrinya.
"Udah, ngak papa. Putri ibu kan hebat, pasti bisa jalani ini semua. Semua pasti sudah Allah takdirkan, maka tugas kita menjalani itu dengan penuh keikhlasan dan bersungguh-sungguh."Nasihat Anita.
Nurfa yang mendengar itupun merasa tenang. Bercerita kepada ibunya memang adalah hal yang paling terbaik, dan Nurfa sangat menyukai itu. Setidaknya dia sudah berbagi cerita pada orang yang tepat.
Bersambung ...
Terimakasih teman-teman yang ngedukung cerita ini.
See you at the next chap
__ADS_1
Sayang kalian banyak-banyak 😘❤️❤️