Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 23


__ADS_3

"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, hampir aja kita mau jemput kerumah kamu, Fa." Zahra memandang Nurfa dengan pandangan kesal. Namun tak lama ia melihat takjub pada Nurfa yang berpenampilan lebih dari biasanya.


Saat ini Nurfa memakai gamis satin berwarna salem peach, yang dibagian pinggang terdapat manik-manik kecil yang bersusun manis. Lalu mengenakan warna hijab senada dengan bajunya. Serta memakai riasan yang simple, tapi tidak sesimple saat riasannya ingin bekerja.


Sebenarnya warna baju Zahra dan Anisa sama dengannya. Sebab baju yang mereka kenakan sudah disiapkan oleh Rasya, teman mereka yang saat ini sedang menjadi pengantin bahagia. Tak beda jauh dengan Zahra, Anisa juga sama takjubnya. Bukan apa-apa, Nurfa merupakan wanita yang sangat malas untuk berdandan. Melihat temannya itu berpenampilan seperti hari ini, merupakan hal yang jarang.


Awalnya Nurfa juga tidak ingin terlalu memakai riasan. Tetapi sebelum datang kesini tadi, Zahra dan Anisa sudah menelponnya dan menyuruhnya untuk berdandan dengan baik dan harus memakai riasan. Nurfa sempat malas dan ingin membantah, namun ibunya juga menyarankannya agar berdandan juga. Jadilah dia berdandan sesuai dengan keinginan ibunya dan kedua temannya itu.


"Masyaallah, Fa. Seriusan lo cantik banget hari ini, kalah deh aku sama Zahra," kata Anisa dengan ekspresi yang lebay.


"Tsk! Sudahlah, ayo kita samperin Rasya aja. Takutnya dia bakalan marah nanti sama aku karena datangnya telat," ucap Nurfa dengan ekspresi khawatir.


"Iya, iya. Biasa aja dong mukanya, entar cantiknya hilang loh," kata Anisa sambil menaik turunkan alisnya menggoda Nurfa.


Zahra yang melihat itupun ikut tertawa dibuatnya. Sedangkan Nurfa menatap kedua temannya itu lelah. Lalu ia berjalan lebih dulu untuk menjumpai pengantin. Bukannya berhenti, kedua temannya itu makin menertawakannya. Lalu saat akan menaiki pelaminan, ternyata Anisa dan Zahra turut ikut dengannya.


Mereka bertiga pun menaiki pelaminan bersama-sama. Rasya yang melihat ke-tiga temannya datang secara bersamaan, menjadi senang. Bahkan dia langsung berdiri secara tiba-tiba, dan melambai heboh kepada ketiga temannya itu.


Mereka bertiga melotot kaget melihat itu. Mereka pikir saat menjadi pengantin seperti ini, sikap bar-bar Rasya akan berkurang. Ternyata tidak sama sekali, bahkan baju pengantin yang mengembang dan elegan seperti itu tidak menghambat dirinya sama sekali.


"Astaghfirullah, itu si Rasya emang ngak ada malunya emang. Bisa-bisanya dia ngak ada anggun sama sekali," ucap Anisa dengan pelan yang h0anya didengar oleh Nurfa dan Zahra.


"Kasian lakiknya, mana baru nikah lagi," tambah Zahra memandang prihatin kearah suami Rasya, yang saat ini sedang tersenyum canggung kepada para tamu.


Nurfa mengangguk membenarkan, dan turut memandang prihatin kearah suami dari temannya itu. Mereka mendekat kearah Rasya, yang sudah heboh sedari tadi.


"Akhirnya lo datang juga, Fa. Hampir aja gua lumutan nungguin lo disini, untung udah punya crush halal disamping," ucap Rasya sambil mengedipkan sebelah matanya pada suaminya, yang sudah berdiri disampingnya memasang senyum canggung.


"Yee, mentang-mentang udah punya suami, seenak jidat mesra-mesraan." Cibir Nurfa sambil memandang Rasya dengan tatapan memicing.


"Biarin, yang penting udah halal," ucap Rasya sambil menyenderkan kepalanya pada pundak suaminya.


Setelah itu mereka mengucapkan selamat kepada kedua pengantin baru. Tak sampai disitu, mereka juga melakukan foto bersama. Selesai berfoto, mereka ingin pergi membantu menyambut para tamu. Namun terjadi perdebatan karena Rasya ingin ikut bersama mereka.


Sontak saja mereka menolak keras. Masalahnya, Rasya ingin ikut bersama mereka dan meninggalkan suaminya sendiri di pelaminan. Mereka merasa miris pada suami dari temannya itu. Baru saja nikah, sudah harus ditinggal istri.


"Gila emang si Rasya, dia ngak pikirin perasaan suaminya apa?" tanya Anisa sambil menyuap sepotong kue yang ada dihadapannya.


"Aku pikir sifatnya berubah, ternyata ngak sama sekali," timpal Nurfa yang asyik juga memakan kue yang sudah tersaji di meja makan untuk tamu.


Zahra mengangguk saja, sebab saat ini dia tengah fokus dengan berbagai makanan yang diambilnya. Ya, mereka tidak jadi untuk menyambut para tamu seperti rencana awal. Saat melihat pintu untuk datangnya tamu, mereka melihat sudah ada beberapa orang yang juga turut menyambut.


Saat akan kembali mereka melihat berbagai makanan yang sudah tersaji di meja. Hal itu membuat niat mereka yang tertunda tadi langsung berubah. Mereka memilih untuk makan, dan menikmati pesta pernikahan temannya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja handphone Nurfa yang di dalam tas kecilnya berdering. Dengan segera Nurfa mengangkatnya, namun dia kaget sebab melihat nomor yang dikenalinya. Dengan segera dia mengangkat telpon itu.


"Halo," sapa Nurfa.


"Datang ke alamat yang aku kirimkan padamu, ada hal penting yang harus diselesaikan," ucap Brayen dengan tegas.


"Tapi pak, malam-malam begini?" tanya Nurfa tidak percaya, tang mengundang itensitas Zahra dan Anisa.


"Lalu mengapa jika malam hari? Kau pastinya tidak lupa apa tugasmu kan, nona Zahwa?" Kata Brayen tidak mau dibantah.


"Tap- "


"Aku tidak mau tahu, kirim alamatmu sekarang. James akan menjemputmu tidak lama pagi. Jangan pernah mencoba untuk mengelabuiku, jika itu terjadi lihat apa yang akan kulakukan dengan cafemu itu."  Setelah mengucapkan itu, Brayen langsung memutus panggilan secara sepihak.


Nurfa melongo kaget melihat itu, lalu berpamitan kepada kedua temannya setelah menceritakan apa yang terjadi. Ia lalu bergegas menuju parkiran dan mendapatkan Nathaniel yang sudah menunggunya di depan mobil. Ternyata Brayen tidak main-main dengan ucapannya.


Nurfa langsung masuk kedalam mobil setelah menyapa Nathaniel tadi. Ia memilih duduk dibelakang, ketimbang duduk di samping Nathaniel karena mereka hanya berdua saja di dalam mobil.


Saat sudah sampai ditempat yang mereka tuju, Nurfa mengernyit heran sebab tempat itu merupakan sebuah Club malam. Ia keluar dari mobil, sebelum Nathaniel bergerak untuk membukakannya pintu. Ia langsung menoleh kepada Nathaniel, dengan keheranan yang belum hilang.


"Mengapa kita ada disini, Nathaniel?" tanya Nurfa.


"Saya juga tidak tahu, Nona. Tuan menyuruh saya untuk mengantarkan anda ketempat ini, mungkin ada hal yang penting yang akan dibicarakan tuan dengan Nona," jawab Nathaniel dengan sopan.


Ia terus mengikuti Nathaniel, karena penerangan ditempat itu yang redup-redup. Hingga langkahnya terhenti karena salah seorang pria yang tidak sengaja menabraknya. Untungnya Nurfa tidak sampai terjatuh, dan Nathaniel yang menyadari itupun langsung berbalik.


"Mari, Nona Zahwa," kata Nathaniel.


Nurfa pun menganggukkan kepalanya, lalu pamit kepada orang yang menabraknya tadi. Sedangkan pria yang menabraknya itu hanya memandangnya dengan lekat, dan terkesan dingin. Nurfa yang tidak mau ambil pusing langsung mengikuti Nathaniel.


Mereka lalu menaiki lift, dan Nathaniel menekan angka lima. Setelah pintu lift terbuka, mereka langsung keluar.


"Memangnya kita akan kemana, Nathaniel?" tanya Nurfa masih mengikuti dari belakang.


"Tuan mengatakan untuk menemuinya di ruangan nomor tiga, Nona," jawab Nathaniel, yang diangguki oleh Nurfa.


Kemudian mereka berhenti di pintu bernomor tiga. Nathaniel mengetuk sebentar pintu, setelah mendengar sahutan dari dalam ruangan baru dia membuka pintu itu. Setelah pintu terbuka, Nurfa langsung masuk bersama Nathaniel.


"Tuan, saya sudah membawa Nona Zahwa kemari," Lapor Nathaniel sambil membungkuk hormat pada Brayen, yang sedang duduk santai membelakangi di sofa yang ada di ruangan itu.


"Kau boleh pergi sekarang," jawab Brayen tanpa menoleh.


Setelah itu, Nathaniel pergi meninggalkan Nurfa didalam ruangan itu. Lalu Nurfa melihat menjelajahi ruangan itu, yang bisa dibilang sangat luas. Ia melihat dua buah sofa besar yang terletak membelakangi pintu masuk, lalu terdapat meja panjang penghalang yang diseberang meja tersebut juga terdapat satu buah sofa berukuran besar.

__ADS_1


Di single sofa itu terdapat seorang pria yang sedang duduk, serta wanita seksi yang senantiasa disampingnya. Pria itu menatap Nurfa melotot, setelah itu dia melemparkan senyum manisnya pada Nurfa.


"Hay, Nona Zahwa. Kau terlihat sangat luar biasa malam ini." Sapa Gabriel pria yang sedang duduk di sofa singgle itu, sambil melambaikan tangannya heboh ke arah Nurfa.


Mendengar Gabriel yang berkata heboh seperti itu, membuat Brayen dan Alex berbalik melihat Nurfa. Pandangan Alex tidak beda jauh dengan yang diberikan oleh Gabriel. Sementara Brayen memandangnya tajam dan dingin.


"Wow, Nona Zahwa. You look so beautiful tonight," Respon Alex, membuat Nurfa tersenyum canggung sekaligus sedikit risih.


"Kemari, Nona Zahwa. Silahkan duduk disini," ucap Gabriel mempersilahkan Nurfa untuk duduk di kursi yang kosong dekat dengan Brayen.


"Pak, sebenarnya ada hal apa Bapak memanggil saya disini?" tanya Nurfa pada Brayen yang dibalas pria itu hanya dengan lirikan saja.


"Ada urusan pekerjaan yang harus di urus sebentar tadi, Nona Zahwa," jawab Alex sambil memandang Brayen lucu.


"Memangnya kau dari mana? Kenapa pakaian dan penampilanmu seperti kau dari pesta saja?" tanya Brayen sinis.


"Saya memang dari pesta pernikahan teman saya, Pak. Saya sampai buru-buru kesini saat anda menyuruh saya untuk menemui anda di tempat ini," jawab Nurfa dengan sedikit kesal.


"Sepertinya kau terlihat haus, sebentar aku akan menyiapkan minuman untukmu," tawar wanita berbaju hitam itu pada Nurfa.


"Eh, tidak perlu repot-repot, saya tidak merasa haus sama sekali," jawab Nurfa berkata jujur.


"Sudah tidak apa, kau pasti ingin minum. Kau tahu, tidak perlu merasa haus untuk minum bukan?" ucap wanita berbaju hitam itu, sambil meletakkan gelas pada meja yang ada tepat didepan Nurfa.


"Minumlah, Nona Zahwa. Setelah minum kau akan jauh lebih tenang," tambah Gabriel.


"Tapi saya sama sekali tidak haus, Pak. Kenapa saya merasa kalian sangat menginginkan untuk minum?" tanya Nurfa sambil memandang Gabriel dengan mata memicing.


"Sudah tidak apa, setidaknya kau bisa menghargai perjuanganku untuk membuat ini," Timpal wanita yang berbaju hitam yang sudah berada di samping Brayen dan menyender mesra pada bahu pria itu.


Merasa tidak enak juga, Nurfa pun berniat untuk meminumnya. Lagipula, hanya sedikit mungkin tidak masalah. Yang pentingkan dia sudah menghargai kerja keras wanita berbaju hitam tadi. Namun, saat akan meminum itu dia menghentikannya sebentar dan menoleh ke arah kiri melihat ke Brayen.


"Ini bukan alkohol kan, Pak?" tanya Nurfa memastikan.


"Bukan," jawab Brayen, yang langsung dipercayai oleh Nurfa.


Bukan tanpa alasan Nurfa dapat langsung percaya. Waktu siang tadi, pria itu juga sudah memberitahunya bahwa minumannya mengandung alkohol. Benar saja, ucapan pria itu benar dan dia bersyukur atas itu.


Saat minuman itu akan mencapai bibir Nurfa, tiba-tiba saja Nurfa menghentikannya setelah melihat apa yang terjadi pada minuman itu.


BRAK!


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2