
"Sial, sial, sial!" Umpat Brayen sambil melampiaskan kemarahannya dengan membanting gelas yang ada di depannya.
"Kau ingin menghancurkan ruangan ini, Brayen?" tanya Alex memandang tidak habis pikir pada ruangan kerja pria itu, yang sudah berubah menjadi kapal pecah.
"Hey, Brayen! Kenapa kau terlihat stres begitu? Jangan bilang ini ada hubungannya dengan sekretarismu itu lagi?" tanya Gabriel yang turut menyaksikan Brayen, sambil menyender santai pada sofa di ruangan itu.
Brayen langsung menatap tajam pada Gabriel, setelah dia menyelesaikan ucapannya tadi. Gabriel terkekeh kecil melihat respon yang diberikan pria itu.
"Sepertinya tebakanku benar," ucap Gabriel memandang Brayen lucu.
Brayen mendengus kasar, lalu memandang Gabriel dengan sinis."Ada urusan apa kau keperusahaanku?" tanya Brayen masih belum menghilangkan tatapan sinisnya.
Seingatnya, dia tidak mengundang pria itu untuk datang ke perusahaannya. Jika Gabriel hanya diam saja, tidak berperilaku aneh seperti Alex tidak apa-apa. Ini masalahnya Gabriel merupakan pria yang tidak bisa diam saja. Pasti ada saja hal absurd yang dilakukan pria itu, seperti saat ini.
Brayen lalu duduk bergabung di sofa, bersama kedua temannya itu. Mengambil botol alkohol yang ada di atas meja itu, lalu meneguknya dengan kasar. Ia meneguk hampir setengah dari isi botol itu. Alex melihatnya tak habis pikir, sedangkan Gabriel melihatnya lucu.
Setelah itu Brayen meletakkan botol itu dengan kasar diatas meja. Lalu dia menyandarkan tubuhnya pada sofa, dan memejamkan matanya kuat.
"Sudahlah, tidak usah repot-repot memikirkan hal yang tidak penting. Bagaimana jika nanti malam kita ke club saja?" Usul Gabriel pada Brayen.
"Tanpa kau ajak pun, aku akan pergi kesana. Pembicaraanmu memang tidak penting," kata Brayen memandang sinis Gabriel.
"Kalau begitu, kita pergi sekarang saja. Jika aku membiarkanmu lebih lama disini, entah apa jadinya ruangan ini kau buat," kata Alex sambil berdiri dari duduknya.
"Woah! Kalau begitu aku setuju! Itu lebih baik dari pada berada di ruangan yang sudah tidak berbentuk ini" Gabriel berkata heboh sambil berjalan lebih dulu kearah pintu.
Brayen memandang malas ke arah Gabriel, yang sebentar lagi akan membuka pintu. Namun ketika Gabriel akan keluar dari pintu, pria itu berbalik dan memanggil Alex dan Brayen.
__ADS_1
"Kalian tunggu apa lagi? Ayo cepat kita pergi!" Desak Gabriel.
"Tsk! Ingatkan aku untuk mengusir pria itu jika datang lagi," kata Brayen pada Alex, yang dibalas kekehan kecil dari Alex.
Lalu dengan malas, ia pun bangkit dari sofa itu dan ikut keluar seperti yang diinginkan Gabriel. Sementara Alex, ia menghubungi salah satu office boy untuk membersihkan ruangan Brayen. Baru setelah itu, dia ikut menyusul kedua temannya itu.
Tak butuh lama, mereka telah sampai pada tempat yang mereka tuju. Bahkan Gabriel sudah asik sejak tadi mengajak para wanita disana untuk mengobrol dengan dirinya. Sedari tadi ia sudah tertawa bahagia, begitu juga para wanita yang bersamanya itu.
Alex yang melihat itu hanya bisa menggeleng saja. Entah siapa yang butuh hiburan, entah siapa yang bersenang-senang sekarang. Memang jika bersama Gabriel, maka pria itu akan cepat melupakan situasi ketika sedang bersenang-senang. Karena sudah biasa dengan itu, Alex membiarkannya saja.
Lalu dia melihat Brayen yang tetap meminum minumannya kembali, walau tidak sekasar tadi. Disamping kanan-kiri pria itu terdapat wanita yang sama-sama berpakaian seksi dan ketat, sehingga menampakkan lekuk tubuh kedua wanita tersebut.
"Hey, Brayen! Sampai kapan kau akan minum begini saja?" tanya Alex yang tidak mendapat respon balik dari Brayen.
"Kalian cobalah untuk menghentikannya agar tidak minum terlalu banyak" Perintah Alex kepada kedua wanita tersebut.
"Jika kau tidak bersikap seperti sekarang ini, aku tidak akan sibuk dengan urusanmu Brayen. Namun sedari tadi kau meluapkan kemarahanmu yang tidak jelas itu dengan dirimu sendiri. Apa sebenarnya yang dilakukan sekretaris barumu itu padamu?" Alex mencoba bersikap sabar menghadapi sikap temannya ini, walaupun rasanya ia ingin menonjok keras mulut pria itu tadi.
"Kau tahu, dia membatalkan pemberian hadiah yang dilakukan oleh Mr. Kim untukku. Yang lebih parahnya lagi, dia mengatasnamakan namaku menyuruhnya untuk melakukan itu!" Kata Brayen sambil bersandar pada sofa itu sambil melihat kepada Alex dengan tatapan tajam.
Alex yang duduk tepat di depan pria itu pun, tidak paham maksud dari Brayen. Begitu pula dengan para wanita yang ada di samping Brayen. Bahkan, sedari tadi Gabriel juga turut ikut menyimak percakapan Brayen dan Alex pun ikut penasaran.
Seakan mengetahui situasi, Brayen langsung menceritakan apa yang terjadi tadi. Saat dia bercerita, ekspresi orang-orang yang mendengarnya pun berbeda-beda. Alex tetap tenang mendengar cerita Brayen, Gabriel yang sudah menganga lebar, dan para wanita disitu yang sudah menahan kemarahan mereka.
"****! Sekretarismu itu memang sudah gila, Brayen!" Ucap Gabriel dengan keras.
"Yaampun, bagaimana bisa dia berbuat seperti itu padamu, Brayen. Dasar b*tch!" Timpal wanita berbaju merah menyala di samping kiri Brayen.
__ADS_1
"Rasa-rasanya aku ingin memberinya pelajaran, Brayen. Bagaimana jika kami memberinya pelajaran saja Brayen?" Usul wanita berbaju hitam seksi di samping kanan Gabriel.
Brayen mengangkat kedua alisnya, seakan menunggu usulan wanita berbaju hitam itu. Melihat itu, para wanita disana pun merasa bahagia. Sedangkan Alex memandang para wanita itu dengan lucu. Lalu, Alex memilih untuk meminum minumannya, dan duduk bersandar pada sofa itu menunggu usulan para wanita tersebut.
"Bagaimana jika wanita itu kita undang untuk datang malam ini kesini. Kau bisa memberi alasan apapun agar dia percaya nantinya, Brayen," kata wanita berbaju hitam tersebut.
"Lalu setelah itu apa? Kalian akan menyiksanya dan membully-nya begitu?" Potong Alex sambil memandang kearah wanita yang berbicara tadi.
"Tsk! Bukan begitu. Wanita seperti ya itu pasti sangat menjaga kehormatan dirinya, dan menjunjung tinggi hal itu. Jika kehormatannya kita rusak, maka bisa dipastikan b*tch itu pasti akan merasa hancur nantinya!" jawab wanita itu sambil tersenyum sinis.
Gabriel yang mendengar itupun melongo tidak percaya.
"Aku tidak menyangka, kalian bisa memikirkan hal jahat seperti itu. Padahalkan kalian juga seorang wanita sama sepertinya," ucap Gabriel dengan ekspresi tidak percayanya.
"Jadi, kau ingin aku menodai kehormatannya begitu? Kau pikir aku apa? Pemerkosa?!" Tanya Brayen dengan suara keras.
"Bukan seperti itu maksudku, Brayen. Kita bisa memberinya minuman, tetapi minuman yang sudah diberi obat tidur di dalamnya. Saat dia sudah pingsan nantinya, kau suruh saja orang bayaran yang menodainya, Baryen. Kau tidak harus menyentuhnya, Brayen ..." Ucap wanita yang berbaju merah di samping Brayen dengan lirih.
Alex menggeleng tidak habis pikir dengan pemikiran para wanita itu. Sedangkan Brayen sudah mengangguk-angguk menganggap usulan itu ada benarnya juga.
"Jangan bilang kau menyetujui usulan itu, Brayen?" tanya Gabriel memandang memicing kearah Brayen.
Brayen lalu tersenyum sinis, dan meminum minuman yang ada di depannya dengan nikmat. Lalu, ia bersandar diikuti wanita yang ada di kedua sisinya. Ia kemudian mengelus kepala para wanita itu.
"Tidak ada salahnya untuk mencoba. Wanita itu harus diberi pelajaran besar, agar dia tahu dia berurusan dengan siapa," jawab Brayen sambil menyeringai kecil.
Alex hanya mendengus pelan melihat itu. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran temannya itu. Semoga saja temannya itu tidak menyesali perbuatannya itu nantinya.
__ADS_1
Bersambung ...