Terjerat CEO Arrogant

Terjerat CEO Arrogant
Episode 24


__ADS_3

BRAK!


Nurfa sontak kaget saat minumannya terjatuh, akibat senggolan dari lengan Brayen yang membuat gelasnya pecah.


"Kenapa kau ceroboh sekali!" Bentak Brayen.


Nurfa yang tak terima pun tentu saja langsung protes. Sudah jelas itu salah Brayen tadi yang dengan sengaja menyenggol lengannya.


"Kenapa anda menyalahkan saya, Pak? Jelas-jelas anda yang sudah menyenggol lengan saya tadi, makanya gelas itu jatuh," jawab Nurfa dengan kesal.


"Kau menyalahkanku, Nona Zahwa?" tanya Brayen memandang Nurfa dengan tajam.


"Tentu saja! Memangnya siapa yang akan menyenggol lengan saya disini, jika bukan anda?" kata Nurfa tidak mau kalah.


Melihat itu, Gabriel sudah menahan tawanya mati-matian. Tadi saja pria itu bersemangat untuk memberi pelajaran sekretaris barunya itu. Namun sekarang? Pria itu juga yang merusak rencanannya sendiri. Gabriel hanya memandang itu dengan pandangan lucu, dan menahan tawa yang akan meledak sedari tadi.


"Kau!" Tunjuk Brayen pada Nurfa sambil memandangnya tajam.


"Sudahlah, Brayen. Akui saja itu salahmu. Jika tahu begini, aku tidak akan percaya dengan rencanamu yang menggebu-gebu tadi," Potong Alex sambil memandang Brayen sinis.


"Rencana apa yang anda maksud?" tanya Nurfa heran pada Alex.


"Sudahlah! Lebih baik kau pulang saja! Dasar ceroboh!" Perintah Brayen  dengan suara yang keras.


"Sebenarnya anda memanggil saya kemari untuk apa sih, Pak? Saya sudah datang ketempat ini juga karena perintah anda yang berhubungan dengan pekerjaan. Jika tahu begini, saya juga tidak mau datang kesini!" Kata Nurfa meluapkan segala kekesalannya.


"Berani sekali kau berkata begitu, b*tch!" Kata wanita yang berbaju hitam itu sambil ingin maju kearah Nurfa.


Tok, tok, tok


"Permisi, Tuan. Apa wanita itu sudah meminum minumannya?" tanya seorang Pria yang masuk keruangan itu bersama dua temannya yang lain.


"Minuman? Minuman apa maksudmu?" Tanya Nurfa pada pria yang baru masuk itu.


"Hah? Kenapa kau masih bangun?" Tanya pria itu balik dengan ekspresi heran dan kaget.


"Keluar kalian sekarang!" Sentak Brayen pada ketiga pria itu.


"Tap- "


"AKU BILANG KELUAR!" Perintah Brayen dengan suara yang menggelegar membuat semua orang yang disitu menjadi kaget termasuk Nurfa.


Mendengar itu, ketiga pria itupun langsung keluar dari ruangan itu dengan cepat. Wajah Brayen masih tampak merah dengan tangan yang terkepal kuat.


"Apa maksudnya itu, Pak? Kenapa mereka berkata begitu tadi? Apa sebenarnya rencana anda?" tanya Nurfa pada Brayen secara beruntut.


"Kenapa kau masih disini? Aku bilang pulang!" kata Brayen masih dengan suara yang keras.

__ADS_1


"Anda jawab dulu pertanyaan saya!" Desak Nurfa dengan suara yang tinggi dan muka yang memerah membuat Brayen, Alex, dan Gabriel kaget mendengar itu.


"Berani sekali kau membentak Brayen begitu?" Ucap wanita yang memakai dress merah serta rambut blonde pada Nurfa.


"Aku tidak bertanya padamu, jadi diamlah!" Sentak Nurfa pada wanita itu.


"Kami yang mengusulkan rencana agar kau diberi alkohol dan obat tidur, agar nantinya kau disetubuhi oleh ketiga pria tadi. Tapi karena kecerobohanmu rencana kami menjadi gagal!" Terang wanita yang berbaju hitam yang sudah berdiri di dekat Nurfa dengan muka kesal.


"Memangnya apa yang kulakukan padamu?" Tanya Nurfa yang sudah ikut berdiri juga.


"Karena kau telah mempermalukan Brayen, dan kami tidak terima itu!" jawab wanita yang berbaju merah mendekati Nurfa yang sudah berdiri.


"Benar begitu, Pak? Jadi pekerjaan yang anda bilang tadi semuanya bohong, begitu?!" tanya Nurfa pada Brayen yang masih duduk di sofa tanpa mau membalas.


"Jawab saya, Pak!" Desak Nurfa dengan keras.


"Dasar b*tch!"


Wanita berbaju merah itu maju, dan berniat untuk menampar Nurfa. Melihat itu Nurfa pun terkejut, begitu juga Alex dan Gabriel yang sudah berdiri untuk menahan wanita itu.


Namun sebelum itu terjadi, Nurfa lebih dulu menangkap tangan wanita itu lalu memplintirnya kebelakang. Setelah itu Nurfa menendang bagian betis wanita itu yang membuat wanita itu jatuh bersimpuh membelakangi Nurfa, dengan tangan yang masih terkunci.


Melihat itu, wanita yang berbaju hitam juga turut ingin menampar Nurfa. Lagi-lagi, Nurfa sempat mengelak dan menarik rambut wanita itu kuat sehingga kedua wanita itu merintih kesakitan. Setelah itu Nurfa membanting kepala wanita itu kesisi kiri, mengakibatkan kepala wanita itu terantuk dengan sisi meja dan megeluarkan darah.


Alex dan Gabriel melongo melihat itu, dan hanya tetap berdiri tanpa sempat melerai. Bahkan Brayen yang melihat kejadian itu langsung di depan matanya pun, dibuat kaget. Jika dilihat dari penampilan Nurfa, orang tidak akan tahu bahwa dia bisa melakukan itu.


Beberapa wanita yang ada disana pun yang tadinya ingin membantu, menjadi ciut dan diam saja menyaksikan temannya yang kesakitan.


"Dan untuk anda, Pak. Terimakasih karena sudah membuktikan pada saya, bahwa perkiraan saya pada anda selama hari ini adalah benar," ucap Nurfa.


Setelah itu, Nurfa mendorong wanita berbaju merah itu kedepan dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan membanting pintu keras. Namun saat akan berjalan menuju lift, ia sempat bertemu dengan Adrean yang sempat tertegun melihatnya. Ia kemudian menunduk sebentar tanpa tersenyum padanya, lalu tetap melanjutkan jalannya.


"Tunggu, Nurfa!" ucap Adrean menghentikan langkah Nurfa, dan membuatnya berbalik.


"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Adrean heran ketika sudah berada di samping Nurfa.


"Selamat malam, Pak Smith. Saya diperintahkan oleh pak Brayen untuk menemuinya disini," kata Nurfa dengan datar.


"Memangnya ada urusan apa hingga dia memanggilmu kemari?" tanya Adrean penasaran sekaligus heran melihat ekspresi Nurfa tidak seperti biasanya.


"Mungkin anda bisa menanyakan itu pada pak Brayen nanti," kata Nurfa.


"Baiklah, sekarang ini kau ingin pulangkan? Mari, aku akan mengantarmu sampai luar. Tempat ini sangat tidak aman untuk wanita sepertimu." Tawar Adrean sambil tersenyum pada Nurfa.


"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri," kata Nurfa agak sedikit canggung.


"Tidak ada penolakan! Aku akan mengantarmu sampai luar, dan jangan memanggilku Pak saat tidak bekerja begini. Kau panggil aku Adrean saja," ucap Adrean tidak mau dibantah.

__ADS_1


"Tapi, aku memang bisa sendiri," kata Nurfa mulai jengah.


"Ini bukan tempat yang sekali wanita sepertimu masuk bisa keluar begitu saja, Nurfa. Aku akan mengantarkanmu sampai depan pintu, lalu kau bisa pulang dengan taksi," ucap Adrean lagi.


Mendengar itu, Nurfa pikir ada benarnya juga. Ia lalu menyetujui perkataan Adrean untuk mengantarkannya hingga depan pintu. Selama perjalanan, Ia hanya diam tanpa berbicara sepatah kata lagi. Adrean yang melihat itu juga memakluminya saja, mungkin ada hal yang membuat Nurfa menjadi begitu.


Akhirnya mereka berdua telah sampai hingga depan pintu. Dan Nurfa bersyukur ada Adrean bersamanya tadi. Pasalnya saat berjalan kesini, ia sempat ditarik pria mabuk tadi. Namun Adrean dengan cepat meninju pria itu hingga jatuh tersungkur. Lalu, membawa Nurfa sampai keluar dengan selamat.


"Terimakasih untuk yang tadi, Adrean," kata Nurfa sambil tersenyum tipis.


"Sudah tugasku, Nurfa. Sebentar, aku akan memanggilkan taksi untukmu." Setelah mengucapkan itu, Adrean langsung memberhentikan salah satu taksi untuk Nurfa. Nurfa pun memasuki taksi itu, setelah mengucapkan terimakasih kepada Adrean. Tanpa menunggu lama taksi itupun langsung melaju mengantarkan Nurfa.


Adrean yang sudah melihat taksi itu pergi, kembali masuk menuju tempat yang ingin ditujunya tadi. Sesampainya ditempat itu, ia dibuat kaget karena kondisi tempat itu yang tidak baik-baik saja. Pecahan gelas dilantai, serta dua orang wanita yang sedang diobati oleh wanita yang ada disitu.


Ia kemudian berjalan menuju sofa, dan saat mendudukkan diri ia melihat ketiga pria yang ada di ruangan itu hanya diam saja. Ia melihat minuman yang ada di atas meja yang baru sedikit disentuh. Lalu, di ujung meja tersebut terdapat bercakan darah.


"Apa baru saja terjadi tindak kriminal disini?" Tanya Adrean pada Alex.


"Seharusnya kau datang lebih dulu tadi, agar kau bisa melihat betapa kerennya sekretaris baru Brayen," jawab Gabriel yang mendapat lirikan tajam dari Brayen, namun tidak dia pedulikan.


"Apa yang terjadi pada Nurfa?" tanya Adrean segera setelah mendengar Nurfa disangkut pautkan.


Mendengar respon dari Adrean, Brayen langsung meliriknya sinis laulu kembali mengalihkan pandangannya, dan meminum minumannya yang ada di atas meja. Gabriel mulai menceritakan pada Adrean apa yang terjadi tadi. Mendengar itu, Adrean juga dibuat takjub sekaligus marah pada apa yang akan dilakukan Brayen.


"Pantas saja dia tadi terlihat berbeda. Ternyata semua itu karenamu, Brayen?" tanya Adrean dengan nada sinis.


"Lalu, apa urusannya denganmu? Kau menyukainya?" tanya Brayen balik sambil menatapnya tajam.


"Apapun alasannya, kau tidak berhak melakukan itu padanya Brayen. Setidaknya kau memikirkan konsekuensi dari apa yang kau buat itu, Brayen!" kata Adrean dengan tegas dan memandang Brayen dengan tajam.


"Sudahlah, lagi pula semuanya sudah terjadi. Tapi aku masih tetap tidak menyangka, bahwa penampilan Zahwa dapat berubah juga ternyata. Jangan lupakan juga bagaimana saat wanita itu melakukan bela diri tadi, entah kenapa dia sangat keren menurutku," kata Gabriel heboh.


"Aku setuju denganmu untuk yang satu itu," sambung Alex sambil meminum minumannya.


"Berhenti membicarakan wanita itu di depanku!" Sentak Brayen tiba-tiba.


"Kenapa kau yang jadi marah? Lagipula yang kubicarakan ini memang fakta," ucap Gabriel karena kaget mendengar Brayen bicara tiba-tiba tadi.


Mendengar itu, Brayen memandang tak suka pada Gabriel. Namun Gabriel tidak ambil pusing dan dengan santai meminum minuman yang ada di depannya, lalu kembali melanjutkan cerita bagaimana Nurfa berkelahi tadi pada Adrean.


Brayen yang sudah muak mendengar itupun, pergi meninggalkan tempat itu.


"Kau mau kemana?!" tanya Alex kuat.


"Kemana saja, aku muak melihat kalian yang hanya membicarakan wanita gila itu. Lebih baik aku pergi dari tempat ini, lagi pula moodku juga sudah hancur sedari tadi," jawab Brayen lalu pergi keluar meninggalkan mereka bertiga.


"Dasar Brayen. Sikapnya seperti wanita saja." Cibir Gabriel yang mengundang tawa Adrean.

__ADS_1


__ADS_2