
Jam menunjukan pukul dua belas siang, waktunya karyawan untuk istirahat dan makan siang.
Reno terlihat sedang buru-buru keluar dari kantornya, dia sudah berjanji kepada Rosa akan menjemput wanita itu di studio pemotretan untuk makan siang.
Setibanya di sana, Rosa sudah terlihat berdiri di pintu masuk studio menunggu dirinya.
"Maaf sayang, aku telat ya?" Tanya Reno, sambil berjalan menghampiri kekasihnya.
"Gak kok, aku juga baru keluar." Jawab Rosa sambil memberikan senyuman manisnya kepada sang pujaan hati.
"Ayo kita pergi sekarang, aku ada meeting habis makan siang." Ujar Reno sambil menjulurkan tangannya, dan dengan cepat Rosa menyambutnya lalu melangkah bersama menuju mobil Reno.
Mereka pergi menuju restoran favorit Rosa, dan memesan makanan yang menjadi makanan kesukaan Rosa pula.
"Kamu mau langsung pulang? Biar aku antar ya?" Ujar Reno.
"Aku masih ada pemotretan habis ini." Jawab Rosa, sambil menyendok makanan dan memasukkannya kedalam mulut.
Mereka menyantap makanan hingga semua makanan itu tandas. Usai membayar bill, Reno segera menghantar Rosa kembali ke studionya, karena dia harus segera kembali lagi ke kantornya.
Saat sedang berjalan menuju mobil yang ada di parkiran, terlihat seorang wanita yang baru saja turun dari mobil memanggil Rosa sambil berjalan terburu-buru ingin menghampiri mereka.
"Rosa!" Panggil wanita itu masih dari kejauhan. Sepasang kekasih itu pun nampak menghentikan langkah mereka, dan menoleh ke sumber suara.
"Lina?" Setelah lama memperhatikan sosok wanita yang mendekati mereka, akhirnya Rosa mengenalinya dan menyebut namanya dengan tersenyum, mereka pun menunggu gadis yang berjalan semakin mendekat ke arah mereka.
"Kamu apa kabar, Rosa?"
"Aku baik. Kamu gimana?" Mereka terlihat berpelukan lalu cium pipi kanan dan kiri sekilas.
"Aku juga baik, sudah lama ya kita tidak ketemu." Ujar Lina, lalu matanya terlihat tertuju kepada Reno yang berdiri di samping Rosa.
"Iya lama banget. Oh ya, ini kenalin, Reno. Pacar aku." Rosa dengan percaya diri memperkenalkan pria tampan dan juga mapan itu dengan teman sekolahnya dulu.
"Lina." Ia pun menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Reno." Reno menyambut tangan wanita yang diakui Rosa sebagai temannya itu.
"Kalian sudah mau pergi ya? Aku minta nomer WA kamu dong, Rosa." Ujar Lina sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Boleh, boleh." Rosa pun melakukan hal yang sama. Mengambil ponselnya dan memberikan nomer WA nya kepada Lina.
__ADS_1
"Eh, Rosa. Aku bekerja di salah satu Brand kecantikan ternama sekarang. Waktu itu Owner aku pernah bilang ingin pakai jasa kamu untuk jadi Brand Ambassadornya, kebetulan sekali kita ketemu di sini." Ujar Lina.
"Wah, beneran kamu, Lin." Rosa terlihat sangat senang mendengar hal itu.
"Iya. Waktu itu dia pernah liat foto Kamu di majalah, dan bilang dia tertarik dengan kamu untuk jadi Brand Ambassador nya. Kamu mau kan?"
"Hah, serius?? Aku mau dong, Lin.'' Jawab Rosa dengan wajah senang.
"Oke, ntar aku coba tanya Owner ku lagi ya, kalau beliau masih mau pakai jasa kamu, ntar aku hubungi kamu, biar kalian bisa ketemu langsung, dan ngobrol. Siapa tahu langsung tanda tangan kontrak. Lumayan, Sa. Kamu bisa makin terkenal kalau produknya masuk iklan di TV. Aku denger-denger owner ku juga berani bayar besar, Sa. Kebetulan, sekarang prodak kami memang baru tapi sudah cukup laris manis di pasaran." Ujar Lina lagi.
"Wah, aku mau banget, Lin. Semoga aja Owner kamu masih mau pakai aku ya." Mata Rosa nampak berbinar mendengar ucapan Lina.
"Mudah-mudahan ya, Sa. Sampai sekarang sih memang belum ketemu model yang cocok. Ntar aku bantu buat bicarakan deh dengan Owner ku. Lagian kamu cocok banget kok jadi Brand Ambassadornya." Ucapan Lina, samakin membuat Rosa berharap.
"Oke, Makasih ya, Lin."
"Iya sama-sama."
"Kalau gitu aku duluan ya, Lin. Reno, harus balik lagi ke kantor."
"Oke deh, hati-hati ya." Mereka saling melambaikan tangan.
Rosa dan Reno menuju mobil mereka setelah berpamitan dengan Lina, selama di perjalanan menuju studio mereka tampak diam saja.
"Maksudnya, Yank?" Rosa belum mengerti apa yang ditanyakan oleh kekasihnya itu.
"Itu lho, teman mu tadi, yang di parkiran restoran." Reno menoleh sekilas.
"Oh, Lina?" Reno tampak menganggukkan kepalanya.
"Kalau memang mereka mau pakai aku untuk jadi Brand Ambassadornya, ya aku mau dong. Sayang, ini kan mimpi aku bisa masuk TV, gak cuma jadi model pemotretan majalah dan busana saja seperti sekarang." Jawab Rosa.
"Tapi, Sa. Kita kan mau menikah, bukannya kamu sudah berjanji sama aku, buat berhenti dari dunia model." Wajah Reno tampak cemberut.
"Kan masih lama sayang, dua tahun lagi. Lumayan, Sayang. Bayarannya besar, aku bisa bantu ibu di kampung dan sambil nabung, nanti setelah dua tahun ke depan aku berhenti." Bujuk Rosa, sambil mengusap lembut lengan Reno.
"Tapi, Sa. Aku takutnya nanti kamu malah gak bisa benar-benar berhenti, Sa. Dan menunda pernikahan kita lagi." Ujar Reno, sambil sekilas melihat Rosa di sampingnya. Ia tahu betul sikap Rosa yang tidak mudah puas dengan pencapaiannya.
"Gak dong, Sayang." Rosa memutar tubuhnya menatap sang kekasih yang sudah tampak masam wajahnya.
"Ini semua memang mimpi aku untuk jadi model terkenal. Tapi kamu juga masa depan aku, menikah itu adalah hal yang sangat di mimpi-mimpikan oleh semua wanita, hanya saja aku belum siap untuk saat ini berumah tangga. Aku janji, setelah aku bisa membahagiakan Ibu dan Rossi, juga bisa membalas budi om dan tante, aku pasti akan hengkang dari dunia model, dan menjadi istri yang hanya akan melayani kamu." Ujar Rosa sambil mencolek hidung Reno lembut.
__ADS_1
Reno pun tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari Rosa.
"Aku harap kali ini kamu benar-benar memikirkannya, Sa. Karena mama dan papa gak main-main kali ini untuk menjodohkan aku."
"Aku janji, aku tidak akan biarkan satu pun wanita di dunia ini untuk dekati dan rebut kamu dari aku, karena kamu cuma milik aku." Rosa memeluk lengan Reno, lalu meletakkan kepalanya di pundak Reno.
Reno kembali menuju kantornya usai menghantarkan Rosa, ia segera mempersiapkan diri dan segera menuju ruang meeting.
Dua jam berlalu, meeting pun selesai. Reno terlihat beranjak dari tempat duduknya seperti yang lain, namun belum sampai di pintu, langkah Reno di hentikan oleh pimpinan yang memanggil dirinya.
Reno menghentikan langkahnya, dan kembali memutar tubuhnya menunggu pimpinan yang berjalan mendekati dirinya.
"Pak Reno, tolong ikut saya keruangan sebentar." Ujar pimpinan perusahaan itu.
"Baik, Pak." Jawab Reno, disertai anggukan kepalanya.
Reno segera melangkah mengikuti atasannya dari belakang, berjalan menuju ruangan dengan perasaan yang penuh dengan tanda tanya. Tidak biasanya pimpinan memintanya menghadap seperti itu, ia pun merasa takut jika telah melakukan kesalahan.
Pimpinannya segera menuju kursinya setelah sampai di ruangan dan tak lupa ia juga mempersilahkan Reno untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Pak, Reno. Kinerja bapak di perusahaan ini sangat baik dan selalu memuaskan." Ujar Pimpinan itu dengan senyum, namun ucapan pujiannya masih menimbulkan tanda tanya besar bagi Reno, karena belum mendengar kelanjutan ucapan Pimpinannya.
"Maka dari itu, Pemilik perusahaan kita meminta agar pak Reno bersedia pergi ke kota S untuk mengawasi perusahaan cabang baru yang ada di sana." Ucap pimpinannya.
"Maksudnya, saya di pindah tugaskan pak?" Tanya Reno.
"Iya, betul sekali. Anda tidak perlu khawatir, di sana Pak Reno di fasilitas sebuah rumah dan juga mobil, gaji anda juga akan di naikan lima puluh persen."
Jumlah yang ditawarkan cukup tinggi memang, mampu membuat Reno langsung tergiur untuk menerima tawaran itu. Karena gaji dirinya saat ini adalah dua puluh lima juta, jika dinaikan lima puluh persen maka akan menjadi lima puluh juta.
Tapi Reno tidak langsung menerimanya, ia ingin meminta persetujuan kedua orang tua dan Rosa terlebih dahulu.
"Bagaimana, Pak Reno?" Pimpinannya kembali bertanya melihat Reno yang hanya diam saja.
"Saya belum bisa memutuskannya sekarang, Pak. Saya akan memikirkannya dulu dan membicarakannya kepada kedua orang tua saya." Reno memberikan alasan yang cukup masuk akal.
"Baiklah, tapi tolong secepatnya beri keputusan pak, Reno. Karena cabang di sana membutuhkan segera pimpinan." Ujar atasannya itu.
"Baik, Pak. Saya akan putuskan secepatnya." Jawab Reno.
" Baiklah."
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak." Pimpinan itu menganggukkan kepalanya, dan Reno segera meninggalkan ruangan dan kembali ke ruangannya.