Terjerat Cinta OM Tampan

Terjerat Cinta OM Tampan
24. Pasar Malam 2.


__ADS_3

Firman kembali mengajak Rossi untuk berkeliling, mereka terlihat menaiki beberapa wahana yang ada di pasar malam itu. Dan saat jam menunjukan pukul sembilan malam, Rossi meminta Firman untuk menghantar nya pulang.


"Ini masih jam sembilan, Ros. Masih banyak wahana permainan yang belum kita coba. Atau kamu mau beli sesuatu?" Bujuk Firman saat Rossi meminta dihantarkan pulang.


"Maaf, Man. Aku gak bisa pulang terlalu lama, nanti ibu bisa marah kalau aku pulang terlalu malam dan hanya berdua dengan kamu. Ibu, belum mengenalmu, dan selama ini hanya Yuda yang selalu menemani aku saat keluar." Jawab Rossi.


"Lagian Yuda kemana sih?" Rossi menoleh ke sana kemari mencoba mencari sosok Yuda di tengah keramaian. Rossi juga berusaha menghubungi Yuda dengan ponselnya, tapi tidak ada jawaban.


"Ah, sial. Ternyata dia sangat bergantung kepada Yuda." Batin Firman.


"Mungkin sudah pulang duluan, Ros. Kalau begitu ayo kita pulang, biar aku yang nganterin kamu, kalau ibu mu marah, nanti kita tinggal bilang kalau Yuda sudah pulang duluan." Melihat Rossi yang sudah gelisah membuat Firman terpaksa harus menghantar Rossi pulang.


Mereka berdua menuju parkiran, Firman segera mengambil motornya dan membayar uang parkir.


"Ayo, Ros." Firman mempersilahkan Rossi untuk naik, lalu ia menarik gas sepeda motornya setelah memastikan Rossi duduk dengan benar.


"Ros. Sebenarnya aku mau bilang sesuatu dengan kamu." Firman membuka suara di tengah perjalanan pulang mereka.


"Mau bilang apa?" Tanya Rossi.


"Hmm, mungkin ini terlalu cepat, Ros. Tapi aku rasa ini sudah saatnya aku mengungkapkan perasaan ku ke kamu, karena sebenarnya aku sudah lama memendam perasaan ku." Ujar Firman sambil berpikir mencari kata-kata yang pas untuk menyampaikan tujuannya.


"Maksudmu?" Rossi yang sebenarnya sudah mengetahui maksud dari ucapan Firman, berpura-pura seolah tidak mengetahui apa-apa.


"Aku suka sama kamu, Ros. Kamu mau gak jadi pacar aku, Rossi?" Jawab Firman.


Rossi tidak terkejut lagi dengan pernyataan Firman karena ia sudah menduganya dari awal. Rossi pun diam membisu, saat ini Rossi hanya berharap Yuda segera datang menjemputnya agar ia tidak perlu menjawab permintaan Firman, bagi Rossi ini sangat gila, menjalin hubungan hanya demi taruhan.


"Gimana, Ros. Kamu mau kan?" Tanya Firman lagi karena belum mendapat jawaban dari Rossi.


Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba Firman merasa ketidakstabilan pada motornya. Ia langsung menghentikan motornya dan meminta Rossi untuk turun.


"Kenapa, Man?" Tanya Rossi sambil berusaha turun.


"Gak tau nih, kayaknya ada yang gak beres." Jawab Firman sembari turun pula dari atas motornya.


"Yahhh." Keluh Firman.

__ADS_1


"Ada apa, Man?" Tanya Rossi.


"Bannya kempes, Ros." Jawab Firman sambil menunjuk ke arah ban motornya yang kempes.


"Terus gimana dong, masa kita jalan kaki?" Ucap Rossi.


"Mau gimana lagi, disini juga tidak ada tambal ban." Jawab Firman sambil melihat ke pinggiran jalan.


"Di ujung dekat rumah ku sih ada, tapi kan masih jauh." Jawab Rossi.


"Mau bagaimana lagi, Ros. Aku gak mungkin bonceng kamu sampai di tempat bengkel. Kalau aku ke sana sendiri juga, kamu dengan siapa dong, masa jalan kaki sendiri." Jawab Firman sambil nyengir.


"Jadi kita beneran jalan ni?" Tanya Rossi lagi dengan sebal.


"Iya, Ros." Firman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba terlihat sebuah sepeda motor mendekat kearah mereka.


"Rossi, Firman." Sapa Yuda, yang muncul dari belakang.


"Yuda, akhirnya kamu datang. Motornya Firman kempes nih, aku ikut kamu ya, ntar kalau pulangnya kemalaman ibu marah lagi." Rossi berlari mendekati dan langsung naik ke atas sepeda motor Yuda.


"Terus aku, gimana?" Ujar Firman.


"Noh, di sana aja tambal ban, kamu tinggal ke sana saja. Palingan juga tuh motormu cuma kurang angin." Jawab Yuda.


"Maaf ya, Man. Aku duluan bareng Yuda, takut ibu ku marah soalnya." Ujar Rossi.


Lalu Yuda melajukan sepeda motornya.


"Ahh, sial." Umpat Firman, ia pun mencoba menaiki dan mengendarai motornya dengan pelan, dan dalam waktu sepuluh menit ia tiba di tempat tambal ban yang kebetulan masih buka.


"Untung kamu cepat dateng, tadi Firman nembak aku, dan aku bingung harus jawab apa." Rossi bercerita kepada Yuda saat mereka telah sampai di rumah Rossi.


"Aku sudah duga, makanya aku tadi berusaha buat kempesin ban motornya." Jawab Yuda.


"Jadi itu perbuatan kamu, tapi syukur lah bisa pas banget gitu. Aku jadi gak perlu mikirin jawaban untuk Firman." Jawab Rossi. "Tadi kamu kemana aja, kenapa menghilang gitu?"

__ADS_1


"Aku duduk di parkiran, begitu aku liat kalian pergi, aku diam-diam ikuti kalian dari jauh." Jawab Yuda.


"Tapi, apa Firman gak bahaya tuh, dorong motor sampai bengkel.


"Gak apa-apa, motornya hanya tidak bisa di pakai untuk boncengan, tapi kalau dia sendiri masih bisa dibawa jalan. Aku cuma buang anginnya sedikit." Jawab Yuda sambil cengengesan.


"Syukurlah, aku cuma takut dia kenapa-kenapa nanti kamu yang kena." Jawab Rossi.


"Paling juga dia sudah sampai di tempat tambal ban ujung sana." Sambung Yuda.


"Oh ya, tadi kamu benar-benar belum sempat nerima Firman kan?" Tanya Yuda.


"Yang gak dong." Jawab Rossi.


"Syukurlah, kalau sampai kamu terima Firman buat jadi pacarnya, itu artinya dia sudah menang taruh." Jelas Yuda.


"Aku sama sekali tidak menjawab saat dia bicara, tapi aku yakin di sekolah pasti dia akan menanyakannya lagi." Ujar Rossi.


"Itu kita pikirkan lagi besok." Jawab Yuda.


Puas ngobrol, Yuda pulang kerumahnya. Sedangkan Rossi segera masuk kedalam kamar setelah membersihkan dirinya.


Kejadian yang menimpa dirinya, di ceritakan oleh Firman kepada kedua temannya setelah mereka kembali sekolah. Bahkan ia sempat curiga kepada Yuda saat ban motornya yang tiba-tiba kempes.


"Aku curiga kalau sebenarnya itu perbuatan Yuda, karena dari awal aku sudah heran dia seperti mengikuti aku dan Rossi." Ujar Firman kepada kedua temannya.


"Aku bilang juga apa, berhenti saja. Sepertinya mereka berdua memang sengaja ngerjain setiap orang yang berusaha mendekati mereka. Contohnya si Susi, ada-ada saja alasan Yuda untuk menolaknya." Jawab Aris.


"Eh, tapi Rossi belum jawab pertanyaan aku malam itu."


"Kalau begitu kamu harus tanyakan lagi dengan Rossi, Man. Tapi aku gak yakin Rossi mau menerimamu." Ucap Dirman.


"Kita liat saja nanti, tapi kalau aku menang kalian harus membayar ku sesuai perjanjian awal kita.'' Jawab Firman dengan sombong.


''Ya, itu pasti." Jawab Dirman, sedangkan Aris hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Benar saja, Firman kembali menanyakan jawaban kepada Rossi setelah anak perempuan incaran mereka itu tiba di dalam kelas.

__ADS_1


Tapi, Firman pun harus menelan kekecewaan saat mendapatkan penolakan yang di ucapkan Rossi dengan agak sedikit keras agar kedua temannya tahu bahwa ia menolak Firman.


Aris dan Dirman berusaha menyembunyikan senyuman mereka saat mendengar jawaban Rossi. Mereka sudah menduga bahwa Firman tidak adak bisa mendapatkan Rossi dan memenangkan taruhan mereka.


__ADS_2