Terjerat Cinta OM Tampan

Terjerat Cinta OM Tampan
28. Tinggal Di Rumah Yuda.


__ADS_3

Nurmala meletakkan ponsel miliknya di atas meja ruang tamu di mana dirinya tengah duduk seorang diri setelah selesai berbicara dengan Linda dan juga Rosa melalui sambungan telepon. Air matanya tampak berlinang membasahi pipi wanita yang sudah hampir setengah abad itu.


Mendapat kabar putri sulungnya akan menikah, hatinya bahagia bercampur sedih. bayangan Rosa kecil seketika terlintas di ingatannya.


Gadis malang itu harus kehilangan ayahnya di usia yang masih kecil, tinggal terpisah jauh darinya karena keadaan ekonomi, kini belum sempat mereka berkumpul dan tinggal bersama lagi tapi dirinya sudah akan menikah, membuat Nurmala merasa bersalah kepada putri sulungnya itu.


"Mas, dia sudah dewasa." Gumam Nurmala dengan air mata yang semakin deras mengalir, matanya tertuju pada foto pernikahan jadul yang terpajang di tembok dinding rumahnya.


Nurmala menyapu air matanya dengan tangan saat mendengar suara motor Rossi tiba di halaman rumah, gadis bungsunya itu baru saja pulang dari sekolah saat pukul empat sore. Rossi kini tidak pernah lagi mengikuti ekstrakurikuler setelah hampir mendekati ujian, dan lebih banyak mengambil les mata pelajaran untuk mengikuti Ujian Nasional.


"Bu, ibu kenapa?" Tanya Rossi saat melihat Nurmala tengah mengusap pipinya, Ia tahu ibunya itu habis menangis dan berusaha menghapus sisa air matanya.


Rossi segera masuk dan mendekati ibunya, lalu ia ikut duduk di ruang tamu dan menatap ibunya dengan penuh tanda tanya.


"Ibu kenapa nangis?" Rossi mulai khawatir.


"Enggak, ibu gak apa-apa. Tadi ibu dapat kabar dari tante Linda dan juga kakak mu, Rosa. Katanya dia akan menikah tiga bulan lagi, jadi ibu terharu sekali." Jawab Nurmala dengan bibir tersenyum tapi air mata kembali mengalir.


"Kak Rosa akan menikah, Bu?" Tanya Rossi seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar, pasalnya kakaknya itu tidak pernah berbicara apapun kepada ibunya tentang seorang laki-laki yang sedang dekat dengannya, meskipun sebenarnya Rossi tahu siapa kekasih kakaknya itu karena Rosa sering memposting kebersamaannya dengan Reno di media sosial.


"Iya, bulan depan calon kakakmu akan datang ke rumah om dan tante untuk lamaran, dua bulan setelahnya mereka akan menikah. Kamu mau ikut gak? Ibu akan pergi untuk menghadiri lamaran kakakmu." Tanya Nurmala.


"Gak bisa buk, Rossi harus persiapan Ujian dua bulan lagi. Nanti saja Rossi ikut saat hari pernikahan." Jawab Rossi. Nurmala terlihat mengangguk mengerti.


"Oh ya, Ibu akan pergi selama satu minggu bulan depan, gimana kalau nanti ibu akan bicara dengan tante Ratna supaya kamu bisa tinggal bersama mereka selama ibu pergi. Ibu khawatir ninggalin anak gadis seorang diri di rumah." Ucap Nurmala.


"Gak perlu, Bu. Rossi di rumah saja, aku gak takut sendiri." Jawab Rossi.


"Tapi ibu gak tenang, nanti biar ibu coba bicara dengan Ratna, dia pasti mengizinkan kamu tinggal di situ sebentar." Ucap Nurmala lagi, lalu ia beranjak ke dapur mempersiapkan segala keperluan untuk ia dagang kembali esok pagi.


Rossi tidak bisa lagi menolak, Ia juga bangkit dari tempat duduknya, dan segera berganti pakaian lalu membantu ibunya menyiapkan makan malam mereka.


Waktu pun berlalu, hari-hati terus berjalan tidak terasa tibalah di mana saatnya Nurmala harus pergi ke Jakarta menuju rumah kediaman adik iparnya, dan dalam waktu beberapa hari lagi acara lamaran Rosa akan berlangsung.


"Aku gak keberatan, mba. Aku senang kalau Rossi mau tinggal di sini." Jawab Ratna saat Nurmala menemuinya dan meminta izin agar Rossi boleh tinggal di rumah mereka selama ia pergi.

__ADS_1


"Terima kasih, Rat. Maaf selalu merepotkan mu." Ujar Nurmala merasa tak enak hati karena merasa selalu merepotkan keluarga Yuda.


"Mba ini seperti dengan siapa saja. Oh ya, titip salam ya mba buat Rosa, gak kerasa sudah mau lamaran saja dia, semoga di lancarkan sampai nanti hari pernikahannya." Ucap Ratna, sudah lama sekali ia tidak melihat Rosa sejak anak itu di bawa ke Jakarta, kerena memang selama ini Rosa tidak pernah pulang ke rumah orang tuannya.


"Aamiin, terima kasih, Rat. Aku akan sampaikan salam dari mu." Jawab Nurmala.


"Jam berapa besok berangkat, Mba?"


"Jam 5 subuh."


"Kalau begitu hati-hati di jalan, Mba. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai."


"Iya, terima kasih, Rat." Jawab Nurmala sambil bangkit dari tempat duduknya.


Sama-sama, Mba." Jawab Ratna yang juga ikut berdiri.


Nurmala keluar dari rumah Yuda dan pulang ke rumahnya, ia kembali memeriksa segala keperluan yang akan ia bawa selama di Jakarta.


Nurmala membuka dompetnya, melihat uang yang dikirimkan oleh Rosa dua hari lalu untuk ongkosnya pergi ke Jakarta, lalu iya mengeluarkan tiga lembar uang ratusan ribu, dan memberikannya kepada Rossi yang sedang berada di dalam kamar.


"Ini banyak amat, Buk. Rossi cuma butuh buat jajan dan buat bensin." Ucap Rossi sambil mengambil dan memeriksa berapa lembar uang yang di berikan ibunya.


"Gak apa-apa, buat jaga-jaga siapa tahu kamu ada keperluan mendadak." Jawab Nurmala dengan tersenyum.


Kesusahan ekonomi mereka beberapa waktu lalu membuat Rossi menjadi anak yang sangat hemat dan pengertian, ia tidak akan pernah meminta uang lebih dari ibunya dan selalu mensyukuri berapa pun yang di berikan ibunya, meskipun perekonomian mereka sudah membaik semenjak selalu mendapat kiriman dari Rosa dan juga hasil berdagang tapi Rossi tidak pernah berubah, membuat Nurmala merasa sangat bangga kepada putri bungsunya itu.


"Kamu hati-hati selama ibu tinggal, dan jangan sampai menyusahkan tante Ratna." Sambung Nurmala.


"Iya, Bu. Ibu juga hati-hati, salam buat Om Heru, tante Linda dan kak Rosa. Sebenarnya Rossi kepengen sekali ikut, aku sudah kangen dengan kak Rosa." Ujar Rossi.


"Nanti saat pernikahan kakak mu, kamu sudah selesai ujian kan? Kita pergi bersama nanti." Jawab Nurmala.


Keesokan paginya, Nurmala berangkat menuju terminal dengan di hantarkan oleh Rossi menggunakan sepeda motor, setelah bus yang di tumpangi ibunya mulai berjalan meninggalkan terminal, baru lah Rossi kembali pulang.


Ia mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah seperti biasanya, dan saat hari sudah malam barulah ia pergi untuk menginap di rumah Ratna, itu pun setelah Yuda menjemputnya di rumah.

__ADS_1


"Bunda khawatir tuh, kamu di tungguin sebelum makan malam gak datang-datang." Omel Yuda saat menjemput Rossi di rumahnya.


"Aku sudah makan." Jawab Rossi dengan tersenyum.


"Ayo buruan ke rumah, kamu gak takut malam-malam di rumah sendiri. Nanti ada kuntilanak, hiii." Ujar Yuda sambil bergidik membayangkan ucapannya benar terjadi.


"Eleh, aku gak percaya dengan yang begituan." Jawab Rossi sambil berjalan keluar dari dalam rumahnya dan mengunci pintu.


Di rumah Yuda, Ratna sudah membersihkan kamar tamu yang akan di tempati Rossi, iya terlihat senyum-senyum sendiri membayangkan jika dirinya memiliki seorang anak perempuan cantik yang mempunyai kamar dengan nuansa kamar berwarna pink.


Tapi sayang itu hanya angannya saja, karena Ia tidak lagi bisa memiliki anak, setelah melahirkan Yuda rahim Ratna harus segera di angkat karena pendarahan hebat.


"Bun."


"Bunda."


"Bunda di mana?" Yuda berkeliling mencari ibunya yang tidak terlihat.


"Bunda di sini." Jawab Ratna sambil berjalan keluar dari kamar tamu setelah mendengar panggilan Yuda.


Yuda pun menoleh ke sumber suara ibunya, lalu ia melempar senyumnya.


"Rossi, ayo kemari sayang." Panggil Ratna saat melihat Rossi yang masih berdiri di ruang tamu.


"Ayo." Yuda melangkah terlebih dulu sambil menarik pelan tangan Rossi, membawa sahabatnya itu menuju kamar tamu yang sudah di siapkan oleh ibunya.


"Rossi, tidur di sini ya." Rata memukul pelan tempat tidur yang sudah ia rapikan. "Kamar mandinya ada di situ sayang." Lalu Ratna menunjuk kamar mandi yang memang ada di kamar tamu itu.


"Anggap saja rumah sendiri, Ros." Sambung Yuda sambil senyum cengengesan, bisa di lihat oleh Bundanya bahwa Yuda sepertinya sangat senang sahabatnya itu tinggal di rumah mereka.


"Kalau begitu kamu tidur ya, sudah malam kalian besok harus sekolah, bukan? Ujar Ratna.


"Iya.Tante, terima kasih ya." Ucap Rossi.


"Sama-sama sayang." Ratna mengusap lembut lengan Rossi, lalu mengajak putranya untuk keluar dari dalam kamar Rossi.

__ADS_1


__ADS_2