Terjerat Cinta OM Tampan

Terjerat Cinta OM Tampan
12. Pernyataan Cinta.


__ADS_3

Seminggu sudah Yuda kembali menjalani aktivitas di sekolah, meski berjalan saja ia masih sedikit kesulitan, namun tidak menurunkan semangatnya untuk tetap mengikuti pelajaran.


Untuk pulang dan pergi menuju sekolahnya, Yuda akan di hantarkan oleh ayahnya menggunakan mobil. Dan tentu saja, Rossi juga akan ikut bersama mereka, namun saat mengikuti latihan musiknya, biasanya Rossi pulang bersama Rian.


Ketiganya terlihat semakin akrab setiap harinya, perubahan sikap Rian kian hari makin di rasakan oleh teman-temannya, bahkan tanpa di sadari ternyata Rian juga anak yang cukup cerdas, hanya saja selama ini ia tidak bersungguh-sungguh mengikuti pelajarannya dan hanya bermain.


Perekonomian orang tuannya yang terbilang mampu membuat Rian jadi anak yang semena-mena, pergaulannya selama ini juga memang kurang baik.


Terbukti saat ia bersama Yuda dan Rossi, Rian mulai bersungguh-sungguh mengikuti pelajaran, dan ternya ia mampu mengikuti pelajaran dengan benar. Pertemanan yang baik dan tepat memang akan membawa perubahan baik juga.


Seperti biasa, hari ini Rian dan Rossi akan mengikuti latihan bersama, sebelum menuju gedung latihan, mereka terlebih dulu menghantar Yuda menuju gerbang, karena di sana ayahnya sudah menunggu.


"Kalian hati-hati ya. Aku titip Rosa, Ri." Ujar Yuda. Pesan yang akan selalu ia ucapkan kala berpisah dari teman kecilnya itu.


"Tenang aja." Jawab Rian sambil mengacungkan jempol. Lalu mereka saling melambaikan tangan saat mobil Yuda kian menjauh dari gedung sekolah.


"Ayo, Ros." Ujar Rian. Rossi pun memutar tubuhnya, lalu berjalan mengikuti Rian menuju gedung sekolah.


"Nanti selesai latihan kita makan bakso dulu sebelum pulang, gimana?“ Tanya Rian.


"Hmm." Rossi masih memikirkan jawabannya.


"Sudah, ayolah." Bujuk Rian lagi.


Rossi masih tidak menjawab, ia hanya diam dan terus berjalan hingga tiba di ruangan tempat mereka biasa latihan, tapi diamnya Rossi dianggap suatu persetujuan oleh Rian.


Satu jam, dua jam pun berlalu, mereka masih terlihat begitu bersemangat memainkan alat musik yang di pandu oleh guru dan seorang pelatih. Hingga akhirnya mereka mendapat kesempatan untuk mencoba alat musik lainya, agar mereka bisa memahami permainan musik lainya.


"Ros, kamu mau coba main gitar?" Rian menawari permainan alat musik yang sudah sangat ia kuasai, karena di rumahnya Rian juga memiliki gitar sendiri.


"Boleh." Rossi terlihat bersemangat, ia mendekati Rian, dan mengambil gitar yang Rian berikan kepadanya untuk mencobanya.


"Ternyata susah ya." Ujar Rossi yang baru beberapa menit mencoba memainkan gitar. Ia berniat untuk memberikan gitar yang ada di tangannya kepada Rian kembali.


"Enggak kok, Ros. Itu karena kamu belum terbiasa saja, gitar itu permainan alat musik yang paling gampang." Ujar Rian yang kembali meminta Rossi untuk mencobanya.


Rossi begitu serius belajar mengikuti arahan Rian, kedekatan diantara mereka membuat Rian merasa sesuatu yang aneh di hatinya.


Jantungnya terasa berdebar lebih cepat, dan ia memang sudah menyimpan rasa kepada Rossi. Rian berniat untuk mengungkapkannya namun masih mencoba mencari momen yang tepat.


Sikap Rossi memang jauh berbeda saat bersama Rian. Jika bersama Yuda, Rossi terlihat begitu manja dan gampang sekali menangis, namun saat bersama Rian, sikap Rossi berubah seperti gadis dewasa seumurannya, ia menjaga sikapnya saat tidak ada Yuda di sampingnya.


Jam sudah menunjukan pukul empat sore, Rossi dan Rian berkemas untuk segera pulang, dan seperti janji Rian sebelumnya, ia mengajak Rossi untuk makan bakso dulu di tempat biasanya.


Sesampainya di sana, Rian langsung memesankan dua mangkok bakso untuk mereka, dan saat pesanan mereka sampai, terlihat dengan buru-buru Rossi memakan baksonya.


"Kenapa buru-buru sekali, Ros?" Tanya Rian yang melihat Rossi makan dengan cepat, tampak tidak perduli dengan uap panas yang masih mengepul di mangkuk baksonya.


"Aku takut hujan lagi." Jawab Rossi.


"Hehe. Gak bakal, Ros. Gak ada mendung kok, suasana sore ini malah cerah banget." Ujar Rian sambil menatap langit biru melalu celah jendela yang ada di samping mereka.


Rossi ikut melihat keluar untuk melihat suasana di luar, karena yang di ucapkan Rian benar, ia pun tersipu malu, namun ia segera kembali makan baksonya tapi dengan lebih pelan.


Rian terlihat gelisah, berulang kali ia menatap Rossi yang asik memakan makanannya, niatnya ingin mengungkapkan rasanya kepada Rossi membuatnya menjadi gugup dan salah tingkah.

__ADS_1


Rian pun kebingungan ingin memulai bicara dari mana, padahal ini bukan pertama kalinya untuk Rian, karena saat masih SMP dia sering menyatakan cinta kepada anak-anak perempuan sekelasnya yang juga mengejarnya, walaupun itu hanya cinta monyet.


Namun kali ini bersama Rossi, ia merasa sangat berbeda, karena Rossi berbeda dari anak perempuan yang pernah ia pacari.


"Ros." Rian mencoba mulai bicara.


"Iya?" Jawab Rossi, ia pun mengangkat wajahnya menatap Rian yang memanggil namanya.


"Mmm." Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa?" Rossi terlihat bingung dengan tingkah Rian.


"Mmm, gak apa-apa."


Sejenak Rossi masih merasa bingung melihat tingkah Rian, namun kembali ia melanjutkan makannya, karena Rian tak mengatakan apa-apa.


Tapi tiba-tiba Rossi menghentikan sendok berisi bakso yang akan mendarat ke dalam mulutnya, karena sadar sejak tadi Rian tidak memakan makanannya dan hanya terlihat memperhatikan dirinya.


"Kamu kenapa liatin aku terus dari tadi? Itu makanan mu gak dimakan?" Tanya Rossi kepada Rian. Ia sedikit malu karena sadar Rian yang hanya menatapnya dari tadi.


"Eh, iya.'' Rian juga jadi malu karena ketahuan sedang memperhatikan Rossi, seketika ia jadi salah tingkah dihadapan gadis itu. Buru-buru Rian menyantap baksonya.


Makanan di mangkuk mereka sudah habis, tapi Rian masih bingung dan bimbang untuk mengutarakan isi hatinya, sampai akhirnya Rossi meminta Rian untuk menghantarkannya pulang agar tidak terlalu sore.


Rian bangkit untuk membayar makanan mereka, lalu keduanya keluar menuju motor Rian yang ada di parkiran.


Suasana terlihat hening di atas sepeda motor Rian, selama perjalanan menuju rumah Rossi, tak ada dari mereka yang buka suara baik Rian maupun Rossi. Rupanya Rian masih takut untuk mulai bicara dan tak tahu bagaimana caranya mengatakan perasaanya kepada Rossi.


Setibanya di depan rumah, Rossi segera turun, tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada Rian dan hendak melangkah masuk ke dalam rumah.


Rossi pun kembali membalikan tubuhnya menatap laki-laki yang baru saja memanggil namanya itu lagi.


"Ros, sebenarnya tadi aku mau bilang sesuatu sama kamu, tapi.." Rian menggantung ucapannya.


"Tapi kenapa, Ri? Emangnya kamu mau ngomong apa?" Tanya Rossi sambil menaikan kedua alisnya. Tapi Rian malah terlihat salah tingkah lagi.


"Emm, besok aja deh, aku belum bisa bicara sekarang." Jawab Rian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gitu ya? Ya sudah kalau gitu besok saja, aku masuk dulu ya, kamu hati-hati." Ujar Rossi dengan senyum manisnya, lalu melambaikan tangan.


Seketika jantung Rian berdetak semakin cepat seakan ingin melompat keluar dari dalam tubuhnya. Baru kali ini ia mendengar Rossi memberikan perhatian kecil kepadanya. Karena biasanya Rossi akan cuek dan berlalu masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apa-apa selain ucapan terima kasih.


Rian pun menarik gas sepeda motornya setelah berpamitan kepada Rossi, ia terlihat tersenyum bahagia di atas sepada motornya, hati Rian seakan sedang berbunga-bunga, perhatian kecil yang Rossi ucapkan benar-benar mampu membuat Rian bagai tersihir.


Rian semakin mantap untuk mengatakan perasaannya kepada Rossi esok hari, ia berfikir bahwa ia mempunyai kesempatan untuk menjadikan Rossi kekasihnya saat


mengingat sikap Rossi kepadanya tadi dan yakin bahwa saat ia mengatakan cintanya besok, pasti akan langsung di terima oleh Rossi.


***


Semalaman Rian tidak bisa tidur karena memikirkan kata-kata yang tepat untuk ia katakan saat mengatakan perasaannya nanti kepada Rossi.


Matanya masih terlihat mengantuk akibat tidur terlalu larut malam, namun karena ingin bertemu dengan Rossi, dengan semangat ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.


"Gak sarapan dulu, Sayang?" Tanya mama Rian yang melihat putranya sudah rapi dan ingin pergi ke sekolah.

__ADS_1


"Gak, Ma. Aku belum lapar, nanti sarapan di kantin saja." Jawab Rian.


"Kamu sudah mau berangkat sekolah?"


"Iya, Ma. Aku pergi dulu, Ma." Rian mencium tangan orang tuanya itu.


"Hati-hati, Sayang." Mama Rian terlihat bingung dengan tingkah putranya itu, akhir-akhir ini ia memang semakin rajin bangun pagi, tapi tidak biasanya putra kesayangannya itu berangkat sepagi ini.


Ternyata setelah selesai mandi Rian melihat ponselnya, dan mendapat pesan dari Yuda yang meminta dirinya untuk menyinggahi Rossi di rumahnya. Karena hari ini jadwal Yuda kontrol jadi ia tidak masuk sekolah, lalu meminta Rian untuk menyinggahi Rossi untuk berangkat sekolah bersama.


Rian pun dengan senang hati membaca pesan dari Yuda. Setelah membalas pesan dari temannya itu, ia langsung bersiap untuk berangkat pagi.


Tepat di depan rumah Rossi, Rian membunyikan klakson motornya, dan dalam hitungan berapa menit Rossi muncul di ambang pintu.


"Tumben pagi sekali?" Tanya Rossi.


"Tadi Yuda kirim pesan, katanya hari ini dia ada jadwal kontrol, jadi aku berangkat pagi biar bisa bareng kamu."


Rossi hanya terlihat menganggukkan kepalanya dan sebenarnya ia pun sudah tahu, karena Yuda sudah mengirim pesan kepadanya semalam. Rossi kembali masuk untuk berpamitan kepada ibunya, dan kembali keluar lalu segera naik keatas sepeda motor Rian.


Senyum sumringah terlihat jelas di bibir Rian, perasaan suka yang telah tumbuh karena kedekatan mereka akhir-akhir ini membuatnya selalu ingin bersama Rossi setiap saat.


Setibanya di sekolah, keduanya langsung berjalan menuju ruang kelas.


"Rian, bukanya kemarin kamu bilang mau bicara sesuatu dengan ku?" Rossi yang masih mengingat jelas ucapan Rian kemarin, mencoba menanyakan kembali kepada Rian. Ia terlihat penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan teman barunya itu, pikir Rossi mungkin saja itu penting.


"Ah, iya. Jam istirahat." Jawab Rian terlihat gugup. Ia sangat terkejut karena tidak menyangka Rossi masih mengingat ucapannya kemarin, ia mengira bahwa Rossi akan mengabaikan dan melupakan perkataannya kemarin.


"Jam istirahat? Maksudnya?" Rossi terlihat bingung dengan jawaban Rian yang diucapkannya dengan gugup itu.


"Maksud ku, kita bicara saat jam istirahat." Jawab Rian lagi, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ia nyengir kuda.


"Oh, gitu." Rossi mengangguk paham.


Mereka mengikuti pelajaran seperti biasanya, hingga menit, jam pun terus berjalan dan terlewati tanpa terasa karena mereka larut dalam pelajaran yang di berikan oleh guru.


Sampai akhirnya bel pun berbunyi, menandakan jam istirahat telah datang, waktunya untuk anak-anak merilekskan pikiran mereka dan juga mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.


Rian dan Rossi terlihat keluar bersamaan dari ruang kelas, lalu mereka menuju kantin yang ada di sekolah untuk membeli makanan ringan dan menyantapnya di halaman sekolah yang terdapat sebuah bangku di bawah pohon rindang.


Mereka memilih beli cemilan dan memakannya di halaman sekolah, karena banyak terdapat siswa lain yang sangat ramai dan juga berisik di kantin sekolah.


"Kamu mau ngomong apa, Rian?" Tanya Rossi membuka pembicaraan duluan. Ia jadi penasaran dengan apa yang akan dibicarakan anak itu.


Rian terlihat kembali gugup, dia jadi salah tingkah dan terlihat gelisah. Tapi dia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rossi, Rian tidak ingin menundanya lagi untuk berbicara.


"Mmm, Ros. Sebenarnya aku mau bilang.." Rian terdiam sejenak.


"Apa?" Rossi menangkap raut wajah bingung Rian. Ia menaikan kedua alisnya.


"Sebenarnya aku mau bilang, kalau aku suka sama kamu, Ros." Ucap Rian terbata. Jantungnya terasa berdebar, tidak biasanya Rian seperti ini menghadapi wanita, namun bersama Rossi, ia sungguh merasa berbeda.


Rossi terdiam sejenak mendengar ucapan Rian, dia terkejut dan tidak menyangka akan ucapan Rian barusan kepadanya.


Tapi ia masih terlihat santai meski juga sangat terkejut, Rossi membuang pandangnya kearah lain, mencoba untuk menetralisir perasaanya.

__ADS_1


__ADS_2