Terjerat Cinta OM Tampan

Terjerat Cinta OM Tampan
18. Pindah Sekolah.


__ADS_3

Kehidupan Nurmala terlihat jauh semakin membaik beberapa bulan belakangan ini, ia tidak lagi mencari pekerjaan sampingan untuk menambah biaya hidup bersama putri bungsunya.


Meski tidak dapat menjalin komunikasi dengan baik dengan Rosa karena kesibukannya, namun putri sulung Nurmala itu tidak pernah lupa untuk mengirimi orang tua dan juga adiknya uang setiap bulannya.


Jumlah yang di kirim Rosa kepada ibunya pun cukup banyak, bahkan bisa Nurmala pakai sebagai modal untuk berjualan.


Ibu dari dua orang anak itu memutuskan untuk membuka warung sarapan di rumahnya, karena tidak lagi bekerja menjadi buruh setrika keliling, Nurmala memutuskan untuk berjualan menu-menu sarapan sebagai tambahan pendapatannya. Mulai dari lontong sayur, nasi uduk, gorengan,teh hangat dan lain-lain yang ia jual.


Usaha Nurmala pun ternyata di sambut baik oleh warga sekita, terbukti baru buka beberapa hari saja tapi pelanggan Nurmala selalu ramai setiap paginya, itu juga tentu saja karena rasa masakan Nurmala yang memang terasa enak.


Setiap subuh biasanya mereka akan bangun lebih awal untuk menyiapkan dagangan, dan Rossi selalu menyempatkan diri untuk membantu ibunya. Perubahan hidup mereka membuat Rossi juga merasa sangat senang, setidaknya kini ibunya tidak perlu lagi mencari uang tambahan dengan berkeliling dari rumah ke rumah untuk menjadi buruh setrika.


Dari uang yang di kirimkan Rosa, Nurmala juga menyisihkan sebagian uangnya untuk membelikan Rossi sepeda motor. Ia tidak ingin putrinya selalu menyusahkan orang lain, karena setiap hari Rossi harus menumpang dengan Yuda untuk pergi ke sekolah, meskipun hanya motor metik second, namun motor yang di belikan Nurmala untuk Rossi masih sangatlah bagus.


Biasanya sepulang sekolah Rossi akan mengajak Yuda menuju lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah mereka ketika tidak sedang mengikuti ekstrakurikuler, di sana Yuda akan mengajari Rossi menggunakan sepeda motornya.


Rossi sangat antusias belajar dengan Yuda, terbukti dalam waktu tiga hari saja, kini Rossi sudah pandai menggunakan sepeda motornya.


Setelah bisa mengendarai motonya, Rossi tidak lagi menumpang kepada Yuda untuk berangkat menuju sekolahnya, biasanya ia akan menyuruh Yuda untuk pergi sekolah terlebih dahulu, karena Rossi harus membantu ibunya menyiapkan dagangan sebelum berangkat sekolah, jadi ia tidak mungkin selalu membiarkan Yuda menunggunya menyelesaikan pekerjaan.


Meski demikian, namun Yuda tidak akan pernah tega membiarkan Rossi berangkat sekolah seorang diri. Rasa khawatir membuatnya rela menunggu Rossi selesai membantu ibunya.


Dia akan selalu menggiring sahabat kecil tersayangnya itu dari belakang, dan memastikan Rossi selamat sampai di sekolah maupun pulang ke rumah. Yuda masih khawatir karena Rossi baru saja bisa menggunakan sepeda motor dan belum mahir.


Berkali-kali keduanya hampir saja terlambat masuk sekolah, namun hal itu tidak membuat Yuda kesal kepada Rossi, ia malah akan menyesal jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Rossi ketika berangkat sendiri.


******


Sorakan kegembiraan terdengar di setiap ruang kelas. Setelah mengikuti ujian kenaikan kelas, hal yang paling di nanti murid-murid di sekolah adalah pembagian Raport hasil ulangan mereka, untuk mengetahui apakah mereka naik atau tetap tinggal di kelas yang telah mereka tempati setahun belakangan ini.


Setelah menerima Raport dari wali kelas, Rossi dan Yuda terlihat sedang duduk di kursi yang ada di taman sekolah, mereka tidak langsung pulang karena ingin menikmati suasana sekolah sebelum libur panjang selama dua minggu.


"Selamat ya, Ros. Kamu kembali jadi juara kelas, seperti dulu waktu masih SMP." Ucap Yuda yang duduk di samping Rossi.


"Terima kasih. Kamu juga hebat bisa juara dua." Balas Rossi, dan hanya di tanggapi senyuman oleh Yuda.


"Oh ya. Dari tadi aku kok gak liat Rian ya? Waktu bagi raport juga dia gak ada." Ujar Yuda.

__ADS_1


Rossi menggelengkan kepalanya, mengatakan bahwa ia juga tidak tahu tentang keberadaan Rian dengan gerakan tubuhnya.


Tapi baru saja mereka membicarakannya, tiba-tiba terlihat dari gedung ruangan guru Rian keluar dari sana, lalu ia terlihat berjalan mendekat arah mereka.


Tidak hanya Rian, di sampingnya terlihat papa Rian yang juga keluar dari ruangan guru.


"Itu Rian. Tapi kenapa Rian keluar dari ruang guru bersama Papanya, apa ada masalah, atau dia tidak naik kelas?" Ucap Yuda.


"Aku juga gak tahu." Jawab Rossi, sambil menatap Rian yang berjalan semakin dekat dengan mereka.


"Apa jangan-jangan Rian bikin ulah lagi dengan murid lain?"


Rossi hanya menggelengkan kepalanya.


Perlahan Rian semakin mendekati kedua sahabat yang sedang duduk di kursi taman, ia tampak melemparkan senyumannya kepada keduanya.


"Rian. Papa tunggu di mobil." Ujar Papanya yang tadi berjalan di sampingnya.


"Iya, Pa." Jawab Rian.


Papanya menjauh menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan, ia memberikan waktu kepada putranya itu untuk menemui teman-temanya. Rian pun menghampiri Yuda dan Rossi.


"Aku mau pindah, Yud." Jawab Rian yang kini sudah berada di hadapan Yuda dan Rossi.


Seketika jawaban Rian membuat Yuda dan Rossi nampak terkejut mendengarnya, mereka pun terlihat saling melempar pandangan satu sama lain sesaat. Meskipun akhir-akhir ini pertemanan mereka kurang baik, namun jujur saja Rossi merasa sedih mendengar ucapan Rian.


"Kenapa, Rian. Kok mendadak sekali, kamu tidak sedang bercanda kan?" Tanya Yuda lagi.


"Papa di pindah tugaskan oleh kantornya di kota S. Dan sepertinya kami akan menetap di sana selamanya." Jelas Rian dengan tersenyum, namun tidak bisa dipungkiri dari nadanya bicara terdengar ada rasa sedih yang ia rasakan.


Rian yang juga baru mendapat berita itu dari papanya semalam sebenarnya merasa sangat sedih, di kota kelahirannya ini dia sudah sangat nyaman dengan lingkungan sekitar, kini harus beradaptasi lagi dengan lingkungan baru.


Namun apa boleh buat, demi pekerjaan Papanya, Rian dan juga Mamanya harus ikut kemana Papanya di pindahkan. Bagi Papanya kebersamaan adalah hal yang paling penting, jadi dia akan memboyong anak dan istrinya juga keman pun dia di pindahkan.


Yuda menarik nafas berat, baru saja menjalin pertemanan yang baik dengan anak yang pernah berkelahi dengannya saat mereka baru jadi murid baru, kini mereka sudah harus berpisah dengan jarak yang jauh.


Rossi juga tidak kalah sedihnya, meski pertemanan yang baru terjalin itu sempat renggang lagi ulah ungkapan cinta Rian yang di tolaknya, namun berita kepindahan Rian ini mampu membuat Rossi juga merasa akan kehilangan.

__ADS_1


"Terima kasih, Yuda. Kamu sudah mau jadi teman baik buat aku selama hampir satu tahun belakangan ini. Aku tidak akan pernah melupakan kamu. Aku minta maaf, jika sikap dan juga ucapan ku pernah menyakitimu." Ucap Rian dengan senyuman, namun sebenarnya ia sedang berusaha menahan air matanya yang ingin lolos keluar.


"Ah, Rian. Aku sudah melupakan semuanya, aku juga minta." Yuda langsung merangkul temannya itu.


"Ros." Sejenak Rian mematung di hadapan gadis yang pernah ia kerjain itu. "Aku minta maaf kalau selama ini suka bikin kamu jengkel ya." Ucap Rian tersenyum.


Rossi tak berkata apa-apa, tapi di ujung matanya terlihat ada buliran bening yang siap jatuh membasahi pipinya.


Hari-hari yang pernah terlewati bersama Rian cukup berkesan di hati Rossi, meskipun awal pertemanan mereka terasa kurang baik, namun mereka sempat menjadi teman akrab sebelum akhirnya kembali renggang.


Perpisahan dadakan ini membuat Rossi merasa sedih dan kehilangan, ia tidak menyangka bahwa akan berpisah dengan Rian secepat ini.


"Aku juga minta maaf." Ucap Rossi lirih, kali ini ia tidak lagi dapat menahan air matanya.


"Jangan nangis, Ros." Ucap Rian sambil mengusap air mata Rossi.


"Semoga suatu saat kita masih bisa bertemu." Ucap Rian. Dan langsung mendapatkan anggukan dari Yuda dan Rossi.


Usai berpamitan kepada kedua temannya, Rian ditemani Yuda dan Rossi melangkah menuju mobil Papanya yang terparkir di depan gerbang sekolah.


Dengan diiringi lambaian tangan keduanya, kini mobil yang dikendarai oleh Papa Rian mulai menjauh hingga hilang dari pandangan mata.


"Hari yang tidak terduga." Ucap Yuda. "Apa suatu hari kita juga akan berpisah?" Pertanyaan yang begitu saja keluar dari bibir Yuda tanpa ia sadari.


Tapi kalimat itu membuat Rossi tertegun, ia merasakan kesedihan yang tiba-tiba saja menyelimuti dirinya, hatinya pun terasa sakit saat mendengar ucapan Yuda.


Rossi menatap lekat wajah Yuda yang tampak masih melihat mobil Rian yang mulai menghilang, air matanya kini terlihat kembali mengalir di pipi Rossi.


"Kamu kenapa?" Tanya Yuda yang melihat Rossi sedang menatapnya dengan air mata yang mengalir, sungguh ia tidak sadar dengan ucapannya yang telah membuat Rossi sedih.


"Gak apa-apa." Jawab Rossi lalu membuang pandangannya dari Yuda.


"Kamu sedih atas kepergian Rian?" Tanya Yuda


"Enggak." Jawab Rossi singkat, lalu ia melangkah pergi menuju parkiran sepeda motor, meninggalkan Yuda yang terlihat masih berdiri menatapnya.


Entah mengapa membayangkan Yuda pergi jauh darinya terasa sangat menyakitkan bagi Rossi.

__ADS_1


"Ros, tunggu." Yuda berteriak kala melihat Rossi mulai melaju dengan sepeda motornya, dengan cepat Yuda langsung menyusul Rossi yang sudah jalan pulang dengan motornya.


__ADS_2