
"Kalau tidak keberatan, mau gak kamu jadi pacar aku?“ Rian mengulas senyum manis di bibirnya, menunggu jawaban dari gadis di depannya. Rian sangat optimis bahwa ia akan di terima.
Rossi masih terdiam dan tidak bergeming sedikit pun, tapi di dalam pikirannya ia sungguh gusar dan tidak menyangka akan mendengar pernyataan cinta dari Rian.
Dengan berfikir keras Rossi berusaha mencari jawaban untuk menolak Rian karena ia tidak menyukai laki-laki itu dalam urusan percintaan, ia hanya ingin menjalin pertemanan kepada Rian, tapi ia tidak ingin membuat Rian sampai terluka dengan ucapan yang akan keluar dari bibir manisnya, untuk dari itu Rossi memutar otaknya untuk mencari kata yang tepat.
Rian memang memiliki paras yang tampan, bahkan anak-anak perempuan di sekolah mereka banyak yang menyukainya, namun untuk berpacaran sungguh tidak ada di dalam benak Rossi, apalagi bersama Rian, laki-laki yang pernah sangat usil mengerjainya dan baru saja menjalin pertemanan baik beberapa minggu bersamanya dan juga Yuda.
Berada di sisi Yuda dan menjalin pertemanan sejak kecil dengan tetangganya itu membuat Rossi sudah merasa nyaman, kemana saja dan melakukan apa saja berdua membuatnya merasa tidak membutuhkan apa yang dinamakan cinta dari laki-laki, karena semua sudah ia dapatkan dari Yuda, kasih sayang perhatian dan ketulusan seorang laki-laki semua di berikan Yuda kepadanya sebagai seorang sahabat.
Rossi kembali menatap Rian, ia memberikan senyum manis kepada anak laki itu, mencoba membuat Rian tidak merasa kecewa kepadanya saat di tolak.
"Rian, Maaf. Aku tidak bisa." Meski susah tapi Rossi harus tetap mengatakan ini, karena ia memang tidak menginginkan yang namanya berpacaran sekarang.
Ini kali pertama ada laki-laki yang menyatakan suka kepada Rossi. Selama ini setiap ada laki-laki yang menyukai Rossi, pasti akan mengubur perasaannya setelah melihat kedekatan Rossi dangan Yuda yang selalu bersama seperti tak terpisahkan, karena menganggap mereka berpacaran.
"Kenapa, Ros?" Rian sedikit terkejut dengan penolakan Rossi, karena ini tidak sesuai dengan dugaannya yang mengira Rossi pasti akan menerimanya.
"Apa karena Yuda?" Rian mencoba menerka meski pun itu semua tidak ada hubungannya dengan teman dekat Rossi itu.
"Bukan." Dengan cepat Rossi menjawab sambil menggeleng, karena dia tidak ingin Yuda di libatkan dalam hal ini.
"Aku belum kepikiran itu sekarang, kita masih kelas satu, Rian. Aku hanya masih ingin fokus belajar saat ini." Ujar Rossi yang seperti menemukan jawaban tepat di kepalanya.
"Apa benar karena itu, Ros?" Tanya Rian memastikan.
"Hmmm." Rossi mengangguk berulang kali.
"Aku tidak mau sekolahku terganggu hanya karena masalah seperti ini. Aku harap kamu mengerti." Sambung Rossi.
__ADS_1
Rian pun mengangguk mengerti, meski pun dia tahu itu hanya alasan Rossi untuk menolaknya.
"Baiklah, Ros. Aku tidak bisa memaksa. Lagi pula memang benar, kita saja masih kelas satu, masih terlalu dini untuk melakukan hubungan seperti itu." Ujar Rian lalu di sambung tawanya.
Ia sedang berusaha menenangkan diri di hadapan Rossi, meski sebenarnya ia merasa kecewa dan malu karena mendapatkan penolakan dari Rossi.
Rossi hanya mengangguk mendengar ucapan Rian, ia juga sebenarnya merasa tidak enak hati, namun ia memang tidak ingin berpacaran dulu untuk saat ini, sungguh hal itu tidak ada di dalam benaknya.
Suasana kembali membaik, hingga akhirnya bel masuk kelas berbunyi dan mereka bergegas masuk dan mengikuti pelajaran kembali seperti biasa.
***
Di pusat kota, Reno nampak tergesa-gesa keluar dari ruangannya, ia berjalan dengan cepat menuju mobilnya yang ada di area parkiran kantor. Di bukanya pintu mobil lalu masuk kedalam dan kembali menutup pintu mobilnya.
Mobil Reno keluar dari area kantornya menuju jalan raya yang terlihat masih padat namun tidak sampai menimbulkan kemacetan, ia menginjak gas mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota menuju tempat studio Rosa.
Reno turun dari dalam mobilnya setelah memarkirkannya, dijumpainya Rosa yang terlihat sedang berjalan keluar dari studio.
"Sudah selesai?" Tanya Reno, ia mengira akan menunggu Rosa menyelesaikan pekerjaannya dulu saat tiba di tempat pemotretan itu, tapi ternyata Rosa pun sudah selesai dengan kerjaannya.
"Hmm." Jawab Rosa dengan anggukan. Ia juga terlihat sudah mengganti pakaiannya dan siap pergi bersama Reno.
"Kalau begitu, kita habiskan malam ini berdua sayang, karena besok aku harus berangkat pagi." Ujar Reno.
"Ayo, Sayang. Tapi kenapa secepat ini? " Tanya Rosa, lalu melingkarkan tangannya dengan tangan Reno. Mereka berbicara sambil berjalan menuju mobil yang terparkir.
"Aku harus mengawasi perkebunan sejak awal proses penanaman. Jadi pimpinan menyuruhku untuk pergi ke sana besok pagi." Jawab Reno.
"Berjanjilah untuk selalu menghubungi ku saat kamu sudah berada di sana, Sayang." Ucap Rosa lagi.
__ADS_1
"Pasti." Reno mengangkat tangan Rosa, lalu mencium punggung tangan kekasihnya itu.
Sebelumnya, Reno kembali menghadap pimpinan setelah tiba, sekertaris atasannya itu menyampaikan bahwa pimpinan mereka sedang menunggu kedatangannya di ruangan, maka dengan cepat Reno menuju ruangan pimpinan sesaat baru tiba di kantor.
Rupanya ada perubahan jadwal keberangkatan Reno, Pemilik perusahaan meminta Reno untuk segera pergi ke kota S agar bisa segera mengawasi pengerjaan pembangunan perusahaan baru di kota itu yang bergerak di bidang perkebunan.
Reno pun mau tidak mau harus menerima perintah keberangkatannya yang di percepat. Setelah keluar dari ruangan pimpinannya ia segera menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih harus ia selesaikan, Reno juga harus menyiapkan berkas yang perlu ia bawa ke kota S.
Setelah semua pekerjaannya selesai, Reno memberitahukan Rosa tentang jadwal keberangkatannya itu, dan mengajak Rosa pergi menghabiskan waktu sebelum mereka harus menjalani hubungan LDR mulai besok.
Reno membawa Rosa menuju gedung besar pusat berbelanja yang ada di Jakarta, mereka terlihat makan di sebuah restoran, berbelanja di beberapa toko baju, menaiki beberapa wahana permainan yang di sediakan di dalam mall, dan berakhir di dalam bioskop yang juga ada di dalam pusat perbelanjaan itu untuk menonton Film romantis.
Di dalam bioskop saat menyaksikan film romantis, Rosa nampak terlihat meneteskan air mata menyaksikan adegan film yang mengisahkan perjalanan cinta jarak jauh itu, ia sangat terbawa suasana karena sebentar lagi ia dan Reno akan mengalami hal yang sama seperti film itu menjalin cinta jarak jauh.
Melihat Rosa, Reno pun bereaksi dengan menarik kepala Rosa kedalam dekapannya, membelai lembut rambut Rosa dan mengecup pucuk kepalanya.
"Berjanjilah untuk selalu setia." Ujar Rosa lirih, mereka berbicara pelan agar tidak mengganggu penonton lainnya.
"Pasti sayang, aku janji." Ujar Reno sambil mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan wajah Rosa.
Sekilas Rosa mendongakkan kepalanya melihat Reno yang tersenyum kepadanya, lalu Rosa pun mengaitkan jari yang sama pula kepada jari Reno.
Setelah film usai, Reno dan Rosa keluar dari bioskop dan memutuskan untuk pulang, rasa lelah sudah menjalar di tubuh keduanya, dan sebelum Rosa turun dari mobil Reno, terlihat ada adegan berpelukan dulu yang mereka lakukan di dalam mobil.
"Good night sayang, mimpi indah." Ujar Reno.
"good night." Jawab Rosa.
Reno mencium kening Rosa sebelum akhirnya Rosa turun dari dalam mobil. Reno menurunkan kaca mobil lalu melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Besok aku jemput."
"Hmm." Jawab Rosa sambil menganggukkan kepalanya berulang, lalu berlalu masuk ke dalam rumah setelah mobil yang di bawa Reno menjauh dan menghilang di dalam kegelapan malam.