Terjerat Cinta OM Tampan

Terjerat Cinta OM Tampan
11. Pindah Tugas


__ADS_3

Reno kembali menjemput Rosa di studio pemotretan nya setelah pulang kerja.


Sebelumnya ia menghubungi Rosa dan bilang bahwa ia ingin membicarakan sesuatu kepada gadis itu.


"Kamu kenapa, sepertinya lesu banget?" Tanya Rosa yang melihat wajah Reno tampak kusut seperti menyimpan banyak beban.


"Huufff. Aku mau bicara." Ujar Reno yang semula duduk menghadap stir mobil, langsung memutar tubuhnya ke samping, di mana Rosa duduk di sebelahnya.


Reno masih belum menyalakan mobilnya yang terparkir di depan studio, ia memutuskan untuk berbicara dengan Rosa sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing, karena keputusan Rosa akan jadi bahan pertimbangannya utamanya untuk pindah tugas.


"Mau bicara apa, Sayang?" Rosa mengelus wajah Reno dengan jemari tangannya berulang.


Reno masih nampak diam, berfikir akan mulai darimana bicara kepada Rosa, karena ia yakin Rosa tidak akan mengizinkannya untuk pergi. Tapi, ini adalah kesempatan besar bagi karirnya.


Reno menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya kasar.


"Ada apa, Sayang. Ada masalah apa?" Melihat sikap Reno, Rosa jadi merasa cemas, ia sangat takut dengan apa yang akan di sampaikan Reno.


Dan kepala Rosa mulai di penuhi oleh masalah pernikahan mereka. Ia berfikir bahwa Reno akan segera dijodohkan oleh orang tuannya.


''Tidak, ini tidak boleh terjadi.'' Batin Rosa


"Sa." Reno meraih tangan Rosa yang masih mengelus pipinya, lalu menggenggam tangan halus wanita cantik di sampingnya itu.


"Hmm" Rosa memberikan senyum termanis nya, namun sesungguhnya ia sedang berusaha menyembunyikan kecemasan.


"Aku mendapat tawaran untuk naik jabatan. Tapi untuk itu, aku harus pindah keluar kota." Ujar Reno dengan menatap dua bola mata Rosa.


"Hah." Rosa terbelalak. "Pindah tugas? Di mana, Sayang?" Rosa nampak sangat terkejut.


"Di kota S." Jawab Reno yang semakin mengeratkan genggamannya di tangan Rosa.


"Kok bisa si?" Rosa menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Meski pun ia sedikit terkejut, namun ada rasa lega di dadanya, karena pikirannya tentang perjodohan Reno ternyata salah.


"Perusahaan membuka cabang baru di sana, dan butuh pengawasan. Aku di fasilitas rumah, dan gaji juga naik lima puluh persen." Reno mencoba memberi penjelasan.


Rosa kembali terkejut mendengar ucapan Reno, mulutnya tampak menganga, ia pun bangkit dari sandarannya dan kembali menatap Reno.


"Kamu serius, Sayang. Gaji naik lima puluh persen?" Tanya Rosa, memastikan pendengarannya tidak salah.


"Iya." Reno mengangguk.


"Kalau begitu terima saja." Ujar Rosa.


"Hah. Aku gak salah dengar?" Kini Reno yang memastikan pendengarannya tidak salah setelah mendengar ucapan Rosa yang tiba-tiba memintanya untuk menerima tawaran itu.


"Enggak, Sayang. Naik gaji lima puluh persen, itu besar lho." Jawab Rosa.

__ADS_1


"Tapi, Sa. Kita akan berpisah cukup jauh." Ujar Reno yang masih tidak percaya dengan ucapan Rosa, karena ia tahu awalnya raut wajah Rosa menunjukan bahwa ia tidak setuju.


"Gak masalah, Sayang. Asalkan kamu setia, aku juga akan setia di sini. Lagian kan kamu bisa nabung buat kebutuhan biaya hidup setelah kita menikah. Dan aku juga bisa ikut kamu ke sana nantinya. Kota S itu tidak begitu jauh kan dari Jakarta bukan?" Jawab Rosa.


"Kamu yakin?" Tanya Reno lagi yang masih penasaran dan tidak percaya dengan ucapan Rosa.


"Iya, Sayang. Aku yakin." Jawab Rosa dengan anggukan pasti.


Usai berbincang dan saling mempertimbangkan tentang hubungan mereka, mobil yang di kendarai oleh Reno kini mulai terlihat melaju membelah jalanan ibu kota menuju kediaman Rosa.


Usai menghantar Rosa di kediamannya, Reno langsung pulang ke rumahnya, Ia berniat ingin langsung berbicara kepada orang tuanya juga mengenai kepindahannya ini.


Berbeda dengan Rosa yang menyetujui kepindahannya. Kedua orang tua Reno sepertinya nampak keberatan dengan hal itu, terutama mamanya, wanita yang telah melahirkannya itu dengan jelas tidak menyetujui jika Reno menerima tawaran pindah.


"Ma, itu kan baru tawaran saja, aku belum menyetujui atau pun menolaknya." Ujar Reno kepada Sarah.


"Kalau papa, terserah kamu saja, Ren. Semua keputusan ada di tanganmu. Sebenarnya ini juga memang baik untuk masa depan mu nanti, tapi kalau kamu menolaknya, menurut papa juga gak masalah. Toh pekerjaan mu yang sekarang juga sudah cukup bagus." Ujar Papanya.


"Aku juga berfikir begitu, Pa. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, sayang juga rasanya jika gak diambil." Ujar Reno.


"Tapi, Ren. Nanti siapa yang merawat kamu di sana, kamu kan belum pernah jauh dari mama." Sarah menimpali obrolan Reno dan suaminya.


"Ma, Reno ini sudah besar. Reno bisa merawat diri." Jawab Reno.


"Makanya mama suruh kamu buat cepat-cepat nikah, biar ada yang ngurusin kamu kalau jauh dari mama gini." Lagi-lagi Sarah membahas pernikahan yang langsung membuat Reno memutar bola mata jengah.


"Ya, tapi bener kan, Pa?" Sarah meminta pembelaan dari suaminya.


"Ma, Reno bisa jaga diri sendiri, aku bukan anak kecil lagi." Keluh Reno.


"Sudah, sudah. Kenapa jadi bahas pernikahan gini. Ren, semua keputusan ada di tangan kamu, kalau menurut mu baik, Papa akan selalu dukung kamu." Ujar Chandra melerai perdebatan ibu dan anak itu.


"Iya, Pa." Jawab Reno.


Sementara Sarah nampak semakin bersedih, karena ia yakin putranya akan menerima tawaran itu, yang akan membuatnya menjadi jauh dari putra semata wayangnya nanti.


***


Keesokkan paginya, Reno segera menemui pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, setelah berfikir keras selama semalaman, akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran perusahaan untuk menugaskannya di luar kota.


Kesempatan tidak mungkin datang dua kali pikirnya, ini adalah kesempatan emas untuk Reno menata hidupnya agar lebih baik lagi. Ia ingin bekerja keras dan menabung untuk masa depannya dan juga Rosa, karena ia tahu sifat calon istrinya yang cenderung sedikit boros.


"Bagaimana, Pak Reno. Apakah anda menyetujuinya?" Tanya pimpinannya saat Reno telah menghadap dan kini duduk di kursi yang ada di hadapannya.


"Setelah saya pertimbangkan, sepertinya ini adalah kesempatan baik untuk saya. Jadi saya putuskan untuk menerima tawaran ini." Jawab Reno.


"Bagus, pemikiran yang cerdas pak Reno, karena kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Kalau begitu, saya akan hubungi Staf Presdir Utama, dan mengatakan bahwa anda menyetujuinya, Pak Reno." Jawab pria paruh baya di hadapan Reno itu.

__ADS_1


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Jawab Reno sambil mengangkat tubuhnya dari kursi.


"Silahkan, Pak Reno. Saya akan memberitahu kapan Anda bisa berangkat secepatnya."


"Baik, Pak."


Reno, meninggalkan ruangan itu lalu segera menuju meja kerjanya dan mengerjakan kembali pekerjaannya.


Satu jam sebelum makan siang, ia menghubungi Rosa untuk mengajak wanita itu kembali makan bersama.


"Satu jam lagi aku jemput." Ucap Reno di dalam sambungan teleponnya.


"Oke, Sayang." Jawab Rosa.


Dan kurang lebih lima menit menunggu, akhirnya Reno sampai di depan rumah Rosa yang kebetulan saat itu tidak ada jadwal pemotretan dan hanya berdiam diri di rumah.


Mereka segera pergi mencari restoran terdekat, lalu setelah sampai mereka pun masuk kedalam restoran yang terlihat sangat nyaman untuk di jadikan untuk tempat makan hari ini.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Reno.


"Seafood aja, Sayang." Jawab Rosa.


"Oke." Jawab Reno, lalu segera memanggil pelayan.


"Selamat siang, Mas, Mba. Mau pesan apa?" Tanya pelayan yang datang menghampiri mereka sambil memberikan buku menu kepada Reno.


"Seafood, sama gurame pedas manisnya, minumnya es lemon tea aja." Jawab Reno.


"Baik.Tunggu sebentar." Ucap pelayan itu dengan senyum, lalu ia pun pergi meninggalkan Reno dan Rosa.


"Sa, Aku sudah putuskan untuk menerima tawaran pindah tugas itu." Ujar Reno membuka suara dan tanpa basa-basi memberitahu Rosa.


"Kamu serius, Sayang?" Rosa tersenyum lebar.


"Iya, Aku serius. Aku ambil tawaran ini untuk masa depan kita. Aku harap selama kita jauh, kamu akan setia, Sayang." Ujar Reno, lalu ia menarik dan menggenggam tangan Rosa yang ada di atas meja.


"Kamu jangan khawatir, Sayang. Aku janji aku pasti akan setia. Terima kasih ya, kamu sudah mau berkorban demi masa depan kita nanti." Ucap Rosa dengan tersenyum dan perasaan haru.


"Demi kamu, Sayang. Apa pun itu akan aku lakukan. Berjanjilah untuk tidak akan mengkhianati pengorbanan ku." Reno menarik tangan Rosa, lalu menciumnya dengan lembut.


"Iya, Sayang. Aku janji." Jawab Rosa.


Keduanya terus berbincang dengan kata-kata romantis, janji-janji setia pun terucap satu sama lain, hingga akhirnya obrolan mereka terhenti karena para pelayan yang datang membawa dan menghidangkan makanan pesanan mereka.


"Silahkan, Tuan, Nona." Ujar salah satu pelayan yang membawa makanan mereka.


"Terima kasih." Jawab Rosa.

__ADS_1


Pelayan pergi meninggalkan mereka, kedua insan itu pun menyantap makana mereka yang masih hangat. Sesekali mereka masih terdengar mengobrol, dan kali ini yang menjadi bahasan mereka adalah tentang masa depan mereka, dan juga acara pernikahan mereka nanti.


__ADS_2