Terjerat Cinta OM Tampan

Terjerat Cinta OM Tampan
7. Kecelakaan 2


__ADS_3

Saat melintasi tempat kecelakaan kemarin, Rossi kembali teringat akan sepeda motor milik orang yang mengalami kecelakaan itu, dan lagi-lagi ia berfikir bahwa itu memang benar sepeda motor Yuda.


Namun buru-buru Rossi membuang pikiran buruknya itu, dan berdoa agar Yuda baik-baik saja, meski sampai saat ini ia tidak tahu keberadaan Yuda di mana dan bagaimana kabarnya, tapi ia berharap mereka akan bertemu tibanya di sekolah nanti.


Rossi dan Rian berjalan menuju ruang kelas mereka. Rossi baru saja masuk dan duduk di kursi tempatnya, tak lama bel pun langsung berbunyi, menandakan jam pelajaran akan segera dimulai.


Rossi berulang kali melihat tempat di mana Yuda biasa duduk namun ia tidak juga melihatnya, Rossi juga menatap pintu masuk ruang kelas berharap agar Yuda segera datang, namun sampai akhirnya wali kelas mereka masuk ke dalam kelas, Yuda masih tidak kunjung datang juga.


Rossi semakin gelisah, karena tidak biasanya Yuda seperti ini, kalau pun anak itu tidak masuk sekolah, biasanya dia pasti akan memberitahu Rossi, atau menitipkan surat izin untuk di berikan kepada guru, bahkan biasanya Yuda akan menghantar Rossi terlebih dahulu walau ia tidak masuk karena ada urusan keluarganya.


Sebelum memulai pelajaran, Ibu Sri yang merupakan wali kelas mereka biasanya mengabsen muridnya satu persatu dulu, untuk mengetahui siapa saja muridnya yang tidak masuk sekolah.


Dan saat giliran nama Yuda yang akan di sebut menurut abjad, tiba-tiba ibu Sri berhenti dan tak menyebutkan nama itu, dan setelah meletakkan buku absenya ke atas mejanya lagi, ibu Sri pun memberitahu kan hal yang sangat mengejutkan buat Rossi dan teman-temannya.


"Oh ya anak-anak, ibu ingin menyampaikan kepada kalian bahwa teman kalian yang bernama Yuda Pratama, kemarin sore mengalami kecelakaan yang membuat dia tidak bisa masuk sekolah untuk beberapa hari ke depan. Kita doa kan ya, semoga teman kita cepat sembuh." Ujar Bu Sri menyampaikan kepada muridnya.


Pagi-pagi sekali ayah Yuda menghubungi wali kelas anaknya, untuk memberitahukan kepada pihak sekolah tentang kecelakaan yang menimpa Yuda.


Mendengar ucapan yang dikatakan wali kelasnya, seketika tubuh Rossi gemetaran rasa sedih langsung menghantui dirinya, dan ia pun tidak mampu menahan air matanya, ternyata benar pirasat nya tentang motor itu, bahwa memang Yuda lah pemilik motor yang kemarin di lihatnya di tempat terjadinya kecelakaan.


Rossi seketika bangkit dari tempat duduknya dan tak sadar berteriak memanggil nama sahabat kecilnya itu.


"YUDAAA!" Pekik Rossi sambil berdiri lalu berlari keluar kelas, air mata mulai bercucuran membasahi pipinya.


Rian yang ikut terkejut mendengar kabar Yuda langsung ikut berdiri dan mengejar Rossi.


"Rossi!" Teriak Ryan dan wali kelas mereka itu bersamaan.


Kericuhan mulai terdengar di ruang kelas, murid-murid mulai asik mengobrol membicarakan tentang kecelakaan Yuda. Dengan segera ibu Sri menghentikan obrolan muridnya itu, dan kembali meneruskan pelajaran mereka.


Ia membiarkan Rossi yang terlihat menangis, karena menurutnya cukuplah Rian yang menemani Rossi.


Rossi yang tak lagi menghiraukan mereka, terus saja berlari hingga jauh dan keluar dari gerbang sekolah yang di bukanya sendiri, kakinya terus menapaki jalan aspal lurus itu dengan menangis meski ia tidak tahu kemana tujuannya.


Tapi belum jauh dia berlari, sebuah motor pun terdengar mendekatinya.


"Rossi!" Panggil Rian berulang kali, ia segera menyusul dengan motornya saat melihat Rossi berlari keluar gerbang.

__ADS_1


Rian terpaksa berhenti tepat di hadapan Rossi menghalangi gadis itu dengan motor gedenya, karena ia sudah berulang kali berteriak memanggil gadis itu, namun tidak di hiraukan.


Rossi yang sudah kalut dan tidak dapat mengontrol emosinya, tiba-tiba menjatuhkan diri ke aspal hingga ia terduduk di sana saat Rian menghalangi langkahnya dengan sepeda motor. Perasaanya sangat kacau, dia takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terhadap Yuda, orang yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri, selalu ada dan melindungi dirinya kapan saja, dan di mana saja.


Rian turun dari motornya lalu menghampiri Rossi.


"Ros, tenangkan dulu diri kamu." Ujar Rian.


"YUDAAA!" Tapi gadis itu malah kembali berteriak kencang memanggil nama sahabatnya.


"Rossi, tidak ada gunanya kamu berteriak seperti itu, Yuda tidak akan mendengar teriakan mu. Sekarang ayo kita cari di rumah sakit mana Yuda dirawat." Ucap Rian sambil berusaha mengangkat tubuh Rossi yang masih terduduk di aspal.


Rossi menatap wajah Rian, ia pun setuju dengan ucapan Rian, pikirannya yang kacau membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Rossi bangkit dan mengikuti langkah Rian yang mau membantunya mencari rumah sakit tempat Yuda dirawat.


Mereka yang tidak tahu di rumah sakit mana Yuda berada, mencoba mencari dengan mendatangi rumah sakit-rumah sakit terdekat terlebih dahulu, karena saat terjadi kecelakaan pastinya korban akan di bawa ke rumah sakit terdekat pastinya.


Dan benar saja, baru juga dua rumah sakit yang mereka datangi, Rossi langsung melihat dan mengenali mobil om Ridwan yang ada di halaman parkir rumah sakit kedua yang mereka datangi.


"Rian, lihat itu." Rossi mengacungkan telunjuknya ke arah salah satu mobil di parkiran. Dan Rian pun menoleh mengikuti jari telunjuk Rossi, namun dia masih terlihat bingung karena tidak mengerti apa yang di katakan oleh Rossi.


"Apa, Ros?" Rian yang kebingungan mencoba bertanya.


"Berarti Yuda di rumah sakit ini, Ros." Ucap Rian.


Mereka pun berlari masuk ke dalam, bertanya kepada bagian resepsionis, lalu kembali berjalan masuk setelah mendapat informasi dari resepsionis, dan di tengah lorong rumah sakit, mereka bertanya kepada suster yang kebetulan berpapasan dengan mereka.


"Maaf sus, numpang tanya?" Ucap Rian.


"Iya dek, kenapa?" Tanya suster itu ramah.


"Tahu ruangan pasien yang bernama Yuda, Sus? Dia pasien kecelakaan." Tanya Rian.


"Kecelakaan ya?" Suster itu tampak mengingat-ingat dulu, karena memang banyak pasien di rumah sakit itu.


"Kejadiannya kemarin soro, Sus." Ujar Rian lagi memperjelas.


"Oh iya saya ingat. Kalian lurus saja sampai ujung, lalu belok kanan ya, disitu ada salah satu pasien yang kemarin kecelakaan." Jawab suster itu sambil memberi arah dengan gerakan tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Sus." Jawab Rian lalu mereka pergi mengikuti petunjuk suster itu dengan sedikit berlari.


Saat telah berbelok, mata Rossi langsung dapat melihat laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan itu duduk di kursi yang terbuat dari besi berukuran cukup panjang. Ridwan duduk di sana dengan beberapa orang yang sepertinya juga keluarga dari pasien lain.


Rossi langsung menghampiri Ridwan, lalu menanyakan Yuda.


"Om." Sapa Rossi.


Ridwan menoleh ke sumber suara, dan ia sedikit terkejut melihat kehadiran Rossi dan temannya yang masih menggunakan seragam sekolahnya.


"Rossi." Ucap Ridwan, lalu ia menoleh melihat anak laki-laki yang ikut berdiri di samping Rossi, dan tentu saja masih di kenalinya. "Rian. Kalian gak sekolah?" Tanya Ridwan.


"Yuda gimana, Om?" Tanya Rossi yang langsung terlihat menangis, dan tidak menghiraukan pertanyaan Ridwan tadi.


Ridwan tidak heran dengan Rossi yang langsung menangis itu, ia cukup mengetahui sifat Rossi yang memang kadang sangat cengeng, bahkan Rossi dulu juga pasti langsung menangis kalau tahu Yuda sahabat kecilnya sedang sakit, jadi om Ridwan sudah tidak heran kalau saat ini Rossi juga menangis mendengar putranya kecelakaan.


"Jangan menangis, Ros. Kamu gak malu sudah besar menangis." Goda Ridwan yang langsung mendekat dan mengusap pucuk kepala Rossi dengan tersenyum.


"Yuda, Om." Ucap Rossi lagi sudah mulai sesenggukan, belum juga melihat keadaan Yuda, tapi dia sudah tidak dapat mengendalikan tangisnya.


"Yuda baik-baik saja dia ada di dalam. Kalau mau lihat, masuk saja. Di dalam ada tante mu yang lagi suapi dia sarapan." Ridwan menunjukkan kamar Yuda di samping tempatnya duduk.


"Iya om." Jawab Ross.


Lalu ia bergegas masuk menuju ruangan Yuda di rawat, di sana terdapat dua brankar yang terisi semua dan hanya di batasi tirai pembatas, salah satunya berankar itu di tempati Yuda.


"Yuda." Rossi langsung berlari pelan memeluk Yuda yang tengah duduk bersandar di suapi bundanya.


"Rossi." Yuda sedikit terkejut dengan kemunculan Rossi yang kini memeluknya.


Ratna tidak kalah terkejutnya melihat kedatangan Ross. Ia pun bangkit dari kursinya mendekat dan mengusap pelan rambut lurus dan hitam milik perempuan yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri itu.


"Rossi, gak sekolah?" Tanya Ratna masih sambil mengusap rambut Rossi, ia tahu bahwa Rossi sedang menangis saat ini mengingat kebiasannya. Dan yang di tanya pun hanya menggeleng di pelukan Yuda.


"Rian." Sapa Yuda dengan tersenyum melihat Rian yang juga tadi ikut masuk kedalam ruangannya.


Ratna menoleh melihat anak laki-laki yang di sapa oleh putranya, mendengar nama itu, ia teringat akan perkelahian yang pernah membuat suaminya mendapatkan surat panggilan dari sekolah putranya.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Ratna melihat Rian langsung, namun ia bersikap ramah kepada Rian, dan tidak mempermasalahkan lagi kejadian dulu karena Yuda pernah bercerita bahwa sikap Rian yang kini telah jauh berubah.


Dan Ratna tak menyangka, Rian mau ikut dan menghantar Rossi menjenguk putranya.


__ADS_2