Terjerat Cinta OM Tampan

Terjerat Cinta OM Tampan
22. Teh Asin.


__ADS_3

Rossi kembali dengan nampan berisi secangkir teh hangat, ia meletakkannya di hadapan Aris dan mempersilahkan anak laki-laki itu untuk meminumnya.


"Terima kasih, Ros. Harusnya kamu gak perlu repot-repot gini."


"Minum lah, ini sama sekali gak ngerepotin kok." Jawab Rossi.


Aris mengangkat cangkir berisi teh itu dan berniat meminumnya. Tapi baru saja ia menyeruputnya sedikit, Aris tersedak karena rasa teh yang tak biasa itu.


Uhuk


Uhuk


Uhuk.


"Kamu kenapa?" Tanya Rossi, ia bangkit berdiri mendekati Aris. Rossi terlihat mengusap-usap pundak Aris pelan.


"Gak, gak apa-apa." Jawab Aris, mencoba menutupi sesuatu.


"Teh buatan aku gak enak ya? Ini pertama kali aku buat minuman si, biasanya ibu yang selalu buatkan tamu yang datang kesini minuman." Ucap Rossi berbohong.


"Oh, jadi ini teh pertama buatan mu ya? Enak kok enak?" Jawab Aris dengan sedikit bangga karena merasa dialah yang pertama kali mencoba teh buatan Rossi.


"Benar? Jadi, habiskan ya." Rossi kembali mengangkat cangkir teh yang masih di pegang Aris, membimbing tangan laki-laki itu agar segera meminum kembali tehnya hingga habis.


Dengan susah payah Aris menenggak teh buatan Rossi hingga tandas, rasa asin yang begitu tajam membuat tenggorokannya terasa kering, ingin sekali ia berteriak untuk menolak, tapi karena ini teh pertama buatan Rossi, mau tak mau ia harus habiskan untuk menghargai Rossi.


"Gimana, enak gak teh buatan aku?" Tanya Rossi kembali.


Aris menganggukkan kepala dengan wajah yang tidak dapat diartikan. Di dalam mulutnya ia masih mengulum sisa teh yang tidak sanggup lagi untuk dia telan.


Tak kuat lagi dengan teh asin yang masih di dalam mulutnya, Aris bangkit dari duduknya lalu berlari keluar untuk memuntahkan sisa teh yang masih ia tahan di mulut, sedangkan Rossi tertawa dengan suara yang coba ia tahan.


"Kamu kenapa, Ris?" Tanya Rossi yang ikut menyusul keluar karena mendengar Aris yang mulai muntah.


"Air."


"Air."


"Air."


Ucap Aris lirih karena sedikit lemas, ia sudah memuntahkan semua isi perutnya.

__ADS_1


"Oh air, sebentar aku ambilkan." Jawab Rossi sedikit panik, lalu bergegas masuk kedalam untuk mengambil air minum.


"Ini, Ris." Rossi memberikan cangkir berisi air minum yang langsung ditenggak Aris hingga habis.


Setelah menghabiskan secangkir air, barulah Aris merasa sedikit lega, karena tenggorokannya tidak lagi terasa begitu asin dan kering.


"Kamu kenapa, Ris. Kamu sakit?" Rossi kembali pura-pura bertanya, padahal ia tahu itu semua akibat teh buatannya.


"Ros, lain kali kalau buat teh, pakai gula ya jangan pakai garam." Jawa Aris dengan lemas.


"Emangnya kenapa?" Rossi memasang wajah sok polos.


"Tehnya asin banget." Jawab Aris sambil meringis mengingat teh yang baru saja ia minum.


"Hah yang benar, Ris?" Rossi menutup mulutnya dengan tangan seolah terkejut. "Aku minta maaf, Ris. Ini pertama kali buat aku bikin minuman." Rossi memasang wajah memelas, seakan merasa bersalah.


"Gak apa-apa, Ros. Meskipun asin, aku senang bisa minum teh pertama buatan kamu." Aris memasang senyum terpaksa. Meski di dalam hatinya dia sangat kesal.


"Buat teh saja tidak becus." Batin Aris.


"Sekali lagi aku minta maaf ya." Ujar Rossi, yang hanya di balas anggukan oleh Aris.


"Kalau gitu aku pulang saja, Ros. Tubuh ku sudah lemas nih akibat muntah banyak."


"Lain kali saja lagi." Jawab Aris.


"Ya sudah deh." Ucap Rossi pasrah.


Aris masuk untuk mengambil tasnya, lalu pamit pulang, ia pergi dengan perasaan sangat kecewa.


"Lho, teman mu kok sudah pulang?" Tanya Nurmala yang keluar dari dalam kamarnya saat mendengar suara sepeda motor Aris pergi.


"Gak tau tuh. Mungkin memang gak niat belajar, Bu." Jawab Rossi sambil membawa cangkir dan gelas bekas teh Aris, tawanya masih belum hilang dari wajahnya.


Sementara itu di rumahnya, Yuda tampak tertawa senang melihat Aris yang terlihat muntah-muntah di samping rumah Rossi. Sejak tadi ia berusaha mengintip dari tirai jendela rumahnya.


"Kamu ngapain, Yud." Melihat Yuda yang mengintip sambil tertawa membuat Ratna penasaran dengan apa yang sedang di lihat putranya


"Eh, Bunda. Bikin kaget." Yuda yang fokus memperhatikan Aris tidak menyadari kehadiran Ratna di belakangnya.


"Kamu dari tadi Bunda dengar tertawa terus, kamu lihat apa?" Tanya Bundanya penasaran.

__ADS_1


"Itu Bun, aku lagi liat teman satu kelas Rossi sedang mabuk akibat minum teh asin." Jawab Yuda, sambil menunjuk kearah Rossi dan Aris.


"Kok bisa?" Tanya Ratna penasaran, ia pun ikut mengintip dengan putranya.


"Teman satu kelas Rossi melakukan taruhan, Bun. Siapa yang berhasil memacari Rossi, maka akan mendapatkan uang 500 ribu." Jelas Yuda.


"Kurang ajar sekali mereka." Ratna geram mendengar penjelasan putranya.


"Benar, Bun. Saat mendengar percakapan mereka aku juga kesal sekali. Tapi aku pikir lebih baik memberi mereka pelajaran seperti itu, dari pada harus capek-capek kelahi." Jawab Yuda.


"Bagus, anak Bunda sudah bisa berpikir dewasa." Ucap Ranta sambil mengusap lengan putranya.


"Lalu, itu siapa yang ngajarin Rossi berbuat usil gitu?" Ratna memicingkan matanya kehadapan Yuda. Dan Yuda hanya menjawabnya dengan nyengir kuda.


"Sebenarnya aku juga berniat buat ngempesin sepeda motornya, Bun. Tapi liat Aris sudah lemas gitu jadi gak tega." Ujar Yuda disambung tawanya.


"Memberi pelajaran kepada orang yang ingin berniat buruk dengan kita itu boleh saja, tapi jangan sampai kelewatan batas, nanti kalau terjadi sesuatu jatuhnya kamu jadi berbuat kriminal." Ratna memberi peringatan kepada putranya.


"Iya, Bun." Jawab Yuda.


Setelah melihat kepergian Aris dari rumah Rossi, Yuda langsung berpamitan dengan bundanya untuk pergi ke rumah sahabatnya itu. Dan sesampainya di rumah Rossi, terlihat kedua sahabat itu langsung tertawa keras sambil memegangi perut mereka masing-masing.


"Biar tau rasa." Ujar Yuda, dan di jawab anggukan oleh Rossi yang masih tertawa.


"Memangnya kamu kasih berapa sendok?" Tanya Yuda lagi.


"Tiga." Jawab Rossi. Mendengar jawaban itu, Yuda kembali tertawa.


"Gak kebayang gimana rasanya." Ucap Yuda.


"Pasti asin banget, aku aja gak berani nyobain" Jawab Rossi.


"Tadinya aku berniat buat kempesin ban motornya, tapi liat Aris jadi lemas gitu, aku gak tega." Sambung Yuda.


"Kamu kok jadi hobi main kempesin ban motor sih." Tanya Rossi yang ingat Yuda juga pernah mengempeskan ban motornya untuk menolak Susi.


"Itu jurus kepepet baru." Jawab Yuda lalu kembali tertawa.


Mendengar tawa dan obrolan Yuda dan Rossi, Nurmala jadi geleng-geleng kepala, dia tahu pasti terjadi sesuatu dengan anak laki-laki yang datang ke rumahnya tadi hingga membuat ke dua anak yang kini sedang duduk di kursi tamunya itu jadi tertawa senang.


Keesokan harinya, Aris menceritakan kejadian yang dia alami semalam saat berada di rumah Rossi kepada kedua temannya yang ikut dalam taruhan mereka, hingga membuat Firman dan Dirman tertawa keras mendengar ceritanya.

__ADS_1


Aris sadar bahwa sebenarnya dirinya sedang di kerjain oleh Rossi, karena walaupun belum pernah membuatkan minuman, tidak mungkin seseorang bisa keliru harus memberi garam atau gula ke dalam teh.


Aris merasa jera untuk mendekati Rossi, dan mengundurkan diri dari taruhan itu.


__ADS_2