
Hari-hari terus berlalu, meninggalkan catatan kenangan di dalam kehidupan manusia, entah itu baik atau pun buruk, namun begitulah kehidupan yang harus terus tetap berjalan.
Tidak terasa, kini Rossi dan Yuda sudah duduk di bangku kelas tiga SMA, dan dalam dua bulan lagi mereka akan mengikuti ujian nasional untuk menentukan kelulusan.
Meski ruangan mereka terpisah, namun kedua sahabat itu akan terus bersama saat jam istirahat, sudah seperti sepasang kekasih keduanya memang tidak pernah terpisahkan dari dulu.
Tak jarang rasa cemburu terkadang menghampiri kedua remaja itu, ketika salah satu dari mereka ada yang sedang berusaha mendekati maka yang lain akan merasa kesal. Tapi tidak ada salah satu dari mereka yang berani mengatakan kecemburuan mereka, dan memilih untuk memendamnya saja.
"Yuda, ntar pulang aku boleh nebeng kamu gak? Soalnya aku gak bawa motor." Ucap salah seorang teman satu kelas Yuda yang memang diketahui tengah ingin mendekatinya.
"Eh, iya b-boleh, boleh." Jawab Yuda sambil melirik kearah Rossi yang nampak cuek di sampingnya.
"Ros, gak masalah kan kalau aku pulangnya bareng Yuda?" Tanya anak perempuan yang bernama Susi itu.
"Oh, gak apa-apa dong, silahkan saja." Jawab Rossi. Namun ia langsung membuang muka sambil menyunggingkan bibirnya.
Rossi juga sebenarnya sudah mengetahui bahwa Susi sedang mencoba mendekati Yuda, namun ia pura-pura cuek dengan mengizinkan Yuda berboncengan dengannya. Rossi tidak mau kalau sampai Yuda tahu bahwa sebenarnya dirinya tidak suka saat Susi berusaha mendekatinya.
Sebenarnya Yuda pula merasa enggan saat Susi selalu mencari kesempatan ingin pulang bersama dirinya, namun ia terkadang tidak enak jika terus-terusan menolak, karena rumah mereka yang memang kebetulan satu arah.
"Kalau begitu ntar pulangnya jangan buru-buru lagi ya." Ucap Susi yang pernah sengaja ditinggalkan Yuda dengan alasan buru-buru, karena tidak ingin memboncengnya.
"Iya." Jawab Yuda singkat. Lalu Susi pun pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Tiba-tiba Rossi bangkit dari duduknya, ia berdiri dihadapan Yuda dengan sedikit membungkukkan tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah anak laki-laki itu. Yuda terlihat masih diam saja melihat Rossi yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Yuda, ntar pulangnya aku boleh nebeng kamu gak, soalnya aku gak bawak motor." Rossi menirukan ucapan Susi, tapi dengan cara bicara yang sengaja dibuat seolah mengejek.
"Apaan sih, Ros." Ucap Yuda sambil membuang muka.
"Cie-cie yang lagi di taksir Susi." Rossi menggoda Yuda dengan tertawa, namun sebenarnya ia merasa kesal karena Yuda tidak berusaha menolaknya.
"Kamu cemburu ya???" Jawab Yuda sambil menaik turunkan alisnya berulang kali.
"Idih enak saja cemburu, ngapain juga aku cemburu sama si Susi." Rossi melipat kedua tangannya di dada, lalu memutar tubuh memunggungi Yuda. Ia tengah menyembunyikan rona di pipinya karena malu dengan ledekan Yuda, nyatanya Rossi memang sedikit cemburu dengan Susi.
"Ngaku aja deh kalau cemburu, gak usah ditutup-tutupi." Jawab Yuda sambil bangkit dari duduknya lalu mendekati Rossi yang membelakanginya.
Melihat tingkah Rossi sebenarnya Yuda merasa senang, entah mengapa dirinya selalu merasa bahagia saat Rossi seakan jengkel jika ada yang mendekatinya. Dan sebaliknya, Yuda akan merasa sedih jika Rossi bersikap cuek saat ia tengah dengan perempuan lain.
Ketika jam pulang sekolah tiba, Susi terlihat sudah bergelayut manja di samping Yuda, berkali-kali Yuda berusaha melepaskan tangannya yang ada dalam genggaman Susi, namun berkali-kali pula Susi mencoba mempertahankannya.
Susi kini tengah pamer kepada teman-teman kelasnya, menunjukkan bahwa ia mampu menaklukkan salah satu anak laki-laki tampan di sekolah mereka itu, dan juga mencoba membuat Rossi cemburu karena merasa bahwa sahabat Yuda itu adalah penghalang baginya untuk mendapatkan Yuda.
Sementara di belakang mereka, Rossi terlihat sangat jengkel, berulang kali ia memutar bola matanya malas, saat melihat Susi yang tengah menggandeng tangan Yuda. Rasanya, ingin sekali ia menggigit tangan Susi yang menggandeng Yuda.
Setibanya di area parkir siswa, Yuda dan Rossi terlihat bersamaan mengambil sepeda motor mereka yang terparkir bersebelahan, dan tiba-tiba Yuda mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum kepada Rossi.
__ADS_1
Rossi merasa heran dengan sikap Yuda, namun ia mencoba memperhatikan gerak gerik sahabatnya itu. Karena dia tahu Yuda pasti tengah merencanakan sesuatu.
"Yah, Sus maaf ya ban motor aku sepertinya kempes deh." Ucap Yuda saat berada di hadapan Susi.
"Duh, jadi gimana dong?" Susi tampak kecewa saat melihat ban motor Yuda yang ternyata memang agak kempes.
"Ya gimana dong, gak mungkin kan aku bonceng kamu dalam keadaan ban ku kempes, ntar kenapa-kenapa lagi." Jawab Yuda.
"Ya udah deh, kalau gitu aku bareng yang lain aja." Jawab Susi kesal sambil pergi meninggalkan Yuda.
"Eh, iya Sus, maaf ya." Ucap Yuda namun tidak di gubris lagi oleh Susi.
Melihat Susi yang nampak kesal begitu membuat Rossi tertawa senang, ia pun segera menghampiri Yuda yang juga tengah tertawa bahagia, karena berhasil mengerjai Susi lagi.
"Kok bisa kebetulan banget gitu sih." Tanya Rossi sambil menunjuk kearah ban motor Yuda yang memang nampak sedikit kempes.
"Keajaiban Tuhan." Jawab Yuda asal.
Rossi pun geleng-geleng mendengar ucapan Yuda, ia lalu menyalakan sepeda motornya lalu pergi meninggalkan halaman sekolah, dan Yuda langsung menyusulnya dari belakang.
Ternyata sebelum masuk ruang kelas saat jam istirahat, Yuda sengaja menuju area parkir motor siswa untuk mengempeskan ban motornya. Karena bingung dan tidak tahu bagaimana cara menolak Susi, maka ia menggunakan cara itu agar tidak jadi berboncengan dengan anak perempuan yang sedikit centil itu.
Yuda merasa lebih baik tidak ada gadis yang menyukainya dari pada ia harus melihat Rossi yang cemberut melihatnya berboncengan dengan perempuan lain.
__ADS_1