Terjerat Cinta OM Tampan

Terjerat Cinta OM Tampan
21. Bahan Taruhan.


__ADS_3

Tak jarang pula, ada anak laki-laki yang berusaha mendekati Rossi, namun satu pun tidak ada yang berhasil mengambil hati Rossi, gadis itu seakan mengunci hatinya rapat-rapat dan tidak mengizinkan siapa pun untuk memasukinya.


Sesekali Rossi terkadang meladeni anak laki-laki yang mencoba mendekatinya, tapi itu semua hanya bertujuan untuk membuat Yuda merasa kesal. Rossi tahu, bahwa Yuda tidak akan pernah suka dan jengkel bila ada yang sedang berusaha mendekatinya.


Saat ada yang ingin mendekati Rossi, Yuda akan mencari tahu tentang tujuan orang itu mendekati Rossi, karena kebanyakan dari mereka hanya menjadikan Rossi sebagai bahan taruhan, dan tentu saja Yuda tidak akan pernah rela jika sahabatnya itu menjadi bahan mainan.


Kedekatan Rossi dan Yuda membuat banyak orang merasa iri, hingga banyak yang berniat menjadikan Rossi dan Yuda sebagai bahan taruhan.


Mereka akan bertaruh dan memberi uang kepada siapa saja yang berhasil mendapatkan dan memisahkan mereka berdua, dan menjadikan salah satunya sebagai kekasih, karena yang bertaruh tidak hanya anak laki-laki, tapi juga anak-anak perempuan.


"Kita taruhan, jika ada satu diantara kita bertiga berhasil mendekati Rossi dan memisahkannya dari Yuda, maka dia akan mendapatkan uang 500 ribu." Ujar salah seorang anak laki-laki yang kebetulan satu ruang kelas dengan Rossi.


"Oke, siapa takut." Jawab dua anak laki lainnya bersamaan.


"Etsss, aku akan tambah 200 ribu buat siapa saja yang menang. Kalau kalian berhasil dapatkan Rossi, itu artinya aku bisa bebas mendekati Yuda." Ucap Susi tiba-tiba menimpali, Ia kini tengah berada di ruang kelas Rossi menemui salah satu temannya.


Mendengar ucapan ketiga anak laki-laki itu, iya jadi tertarik untuk ikut bergabung, dia berharap salah satu dari mereka benar-benar bisa mendekati Rossi. Baginya Rossi adalah penghalang terbesarnya untuk mendapatkan Yuda.


"Setuju." Jawab ketiga anak laki-laki itu. Mereka juga tahu bahwa Susi memang sedang berusaha mendekati Yuda.


Tampa mereka sadari, ternyata Yuda sedang berada di balik pintu dan mendengarkan ucapan mereka. Yuda yang semula berniat mencari Rossi di ruang kelasnya, dikejutkan dengan obrolan ketiga anak laki-laki itu.


Dengan geram Yuda pun pergi dari ruangan itu, sebenarnya ingin sekali dia menghajar ketiga anak laki-laki yang sudah berani menjadikan Rossi sebagai bahan taruhan mereka. Tapi Yuda mempunyai niat lain, dan berpikir untuk mengerjai mereka balik.


Yuda menceritakan apa yang dia dengar kepada Rossi yang berhasil ia temukan di kantin bersama seorang teman satu kursinya.


Rossi tidak menyangkan akan ada yang berbuat demikian kepadanya, menjadi barang taruhan jauh lebih menyakitkan bagi Rossi dari pada dikunci di dalam toilet seperti yang pernah dilakukan Rian dulu.

__ADS_1


Tangan Rossi terkepal menahan amarah, ingin sekali ia menemui dan memaki orang-orang yang menjadikannya sebagai bahan taruhan, tapi Yuda mencoba menenangkannya, dan memberitahukan tentang rencana yang sedang ia pikirkan untuk mengerjai ke tiga anak laki-laki itu.


"Tenang Ros, kita akan buat pelajaran dengan mereka." Yuda mencoba menenangkan Rossi sudah terbakar emosi.


"Maksud mu?" Tanya Rossi yang belum paham dengan maksud Yuda.


"Nanti kamu tahu sendiri. Kalau salah satu dari mereka mendekatimu, kamu harus tetap berpura-pura baik saja." Jawab Yuda.


Dan saat salah satu dari anak laki-laki itu datang mencoba mendekati Rossi, Yuda pun mengisyaratkan Rossi agar pura-pura bersikap seolah mereka tidak mengetahui apa-apa.


"Ros, aku boleh main ke rumah mu gak? Ada pelajaran tadi yang aku sama sekali tidak mengerti, kamu kan juara kelas, bisa dong sedikit mengajari aku." Ujar salah satu dari ketiga anak laki-laki itu yang bernama Aris. Tenyata dirinya yang maju pertama untuk mencoba mendekati Rossi.


Rossi yang sebenarnya ingin memaki Aris, mencoba menenangkan diri dan mengontrol emosinya. Ia melirik Yuda yang duduk di hadapannya.


Yuda menganggukkan kepalanya, dan Rossi pun memahaminya.


"Oke, boleh saja. Kalau begitu datang saja ke rumah, kapan pun kamu mau." Jawab Rossi.


"Apa kamu lihat kalau aku sedang bercanda dan tidak serius?" Jawab Rossi sambil melipat kedua tangannya di dada. .


"Eh iya, bukan begitu, Ros. Tapi.."


"Tapi apa? Kalau mau aku ajari ya ke rumah saja, kalau gak mau juga gak apa-apa, bukan aku yang minta diajarkan." Jawab Rossi sedikit ketus.


"Iya, iya aku akan ke rumah mu nanti malam." Aris menjawab cepat, dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendekati Rossi.


"Ya sudah, aku tunggu ntar malam." Jawab Rossi.

__ADS_1


"Oke." Aris melangkah pergi dengan tersenyum tipis, tidak menyangka semudah itu mendekati Rossi walaupun ia bersikap sedikit ketus, namun Aris yakin bisa meluluhkan hati Rossi.


Sementara itu, setelah Aris pergi dari hadapan mereka, Yuda tampak membisikan sesuatu kepada Rossi. Gadis itu tersenyum miring sambil sedikit menganggukkan kepalanya, tanda mengerti dengan apa yang di bisikkan oleh Yuda.


"Yes, yes, yes." Aris masuk kedalam ruang kelasnya dengan penuh rasa bahagia. Ia mendekati kedua teman taruhannya yang duduk di atas meja.


"Bersiaplah, karena sebentar lagi kalian harus memberi aku uang 500 ribu." Ucap Aris dengan bangga.


"Maksud mu?" Tanya salah satu yang bernama Firman.


"Nanti malam aku akan berkunjung ke rumah Rossi." Jawab Aris dengan tertawa senang.


"Hah, secepat itu?" Dirman dan Firman seakan tidak percaya dengan ucapan Aris. Mereka saling pandang satu sama lain.


"Ya, kalian lihat saja, dalam waktu beberapa hari lagi, Rossi pasti akan jadi pacar ku." Sambung Aris.


"Tidak segampang itu, Ris. Kamu harus buktikan dulu, setelah Rossi benar-benar jadi pacar mu, baru kami akan memberimu uang sesuai perjanjian kita." Ucap Firman.


"Oke, siapa takut." Jawab Aris.


Rossi yang mendengar obrolan mereka dari balik pintu tampak sangat emosi, wajahnya terlihat merah padam dengan tangan yang terkepal. Tapi saat mengingat kembali rencana yang sudah di beritahukan Yuda, membuat Rossi sebisa mungkin meredam amarahnya, ia sudah tidak sabar menunggu malam nanti tiba.


Rossi masuk kedalam ruang kelas setelah berhasil menguasai emosinya, ketiga anak laki-laki itu terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, dan membubarkan diri satu persatu.


Saat malam tiba, ternyata Aris benar-benar datang ke rumah Rossi, rupanya ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan agar bisa cepat mendapatkan uang dari temannya dan juga mendapatkan Rossi tentunya.


"Silahkan masuk." Rossi mempersilahkan Aris yang baru saja tiba dengan tas punggung yang ia tenteng.

__ADS_1


Rossi yang sudah memberitahu ibunya bahwa akan ada teman yang datang untuk belajar bersama tidak banyak lagi basi-basi, Rossi langsung mengeluarkan beberapa buku pelajarannya dan mulai belajar bersama.


"Aku buatkan minum sebentar." Rossi bangkit meninggalkan Aris yang belum sempat menimpali ucapan Rossi.


__ADS_2