
Mata yang sedikit sembab dan memerah akibat menangis masih terlihat jelas di mata Sarah.
Berpisah tempat tinggal yang jauh dangan putra semata wayangnya baru pertama kali akan terjadi selama hidupnya, hal itu tentu membuatnya tidak bisa menutupi kesedihan yang ia rasakan.
"Ma, sudah ya, nanti mama sakit. Aku janji akan mengabari mama setiap saat di sana." Reno mencoba menenangkan mamanya, ia terlihat mengusap lembut punggung tangan mamanya yang ada di dalam genggamannya.
"Kamu harus janji jaga diri baik-baik, Ren." Sarah mengusap lembut sebelah wajah anaknya dengan tangannya.
"Iya, Ma. Mama jangan khawatir, aku sudah besar dan bisa jaga diri, aku akan baik-baik saja di sana." Jawab Reno dengan tersenyum lebar.
Ia pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergiliran.
"Pa, Reno pergi dulu." Pamit Reno dihadapan papanya.
"Kamu baik-baik di sana." Ujar Chandra.
"Iya, Pa." Jawab Reno, lalu tersenyum di hadapan papanya.
"Yakin gak mau papa dan mama antar ke bandara?" Tanya Chandra.
"Gak perlu, Pa. Papa bujuk mama saja tuh, biar gak nangis kayak anak kecil." Ledek Reno kepada Mamanya yang langsung membuat Sarah terlihat memajukan bibirnya, sedangkan suaminya jadi tergelak mendengar gurauan anak mereka.
Reno segera masuk kedalam taksi online pesannya yang telah menunggu, dan sebelum menuju bandara, Reno meminta sang sopir untuk menuju kediaman Rosa terlebih dahulu.
Setelah tiba di depan rumah Rosa, terlihat gadis itu telah menunggu di depan pagar rumahnya.
Rosa segera masuk kedalam mobil, dan sopir kembali melajukan mobil menuju bandara.
Rosa langsung memeluk Reno dengan mata berkaca-kacanya, bayangan kerinduan yang akan ia alami saat berpisah sudah mulai menghantuinya.
Perpisahan kali ini membuat dirinya merasa amat sedih, karena untuk pertama kalinya mereka akan menjalani hubungan jarak jauh yang tak tahu sampai kapan.
Hubungan Rosa dan Reno memang sangat harmonis dan jarang sekali bertengkar, itu karena Reno yang memiliki sikap lembut dan selalu mampu mengalah kepada Rosa, menahan egonya dan selalu memenuhi keinginan kekasihnya itu.
Wajar saja jika Rosa akan merasa sangat sedih, karena ia akan kehilangan kekasih yang sangat memanjakannya untuk waktu yang cukup lama.
Tapi saat di tanya soal pernikahan, Rosa pasti akan selalu menolak, dengan alasan belum siap, padahal jika ia ingin segera menikah saat ini, tentu saja mereka tidak perlu menjalin hubungan LDR.
Reno mengusap-usap rambut Rosa dengan lembut, dan mencium pucuk kepala kekasihnya itu, ia tahu benar apa yang di rasakan Rosa saat ini, karena sebenarnya ia juga merasakan kesedihan yang di rasakan Rosa, hanya saja sebagai seorang laki-laki ia tidak mungkin menunjukannya secara terang-terangan.
"Aku usahakan akan pulang setiap satu bulan sekali." Reno membuka suara, mencoba menenangkan Rosa yang mulai menangis, meski tidak mengeluarkan suara, namun Reno mengetahuinya karena sebelah tangannya yang menggenggam tangan Rosa terasa terkena tetesan air mata.
"Apa kamu pikir satu bulan itu bukan waktu yang lama." Ujar Rosa dengan nada suara yang sedih.
"Hehehe, kalau tidak begitu sibuk, aku akan usahakan kembali ke Jakarta satu atau dua minggu sekali, bukankah jaraknya tidak terlalu jauh." Ucap Reno menghibur.
__ADS_1
Rosa mendongak melihat Reno, menatap wajah kekasihnya dengan penuh pengharapan, berharap apa yang baru saja di ucapkan Reno benar adanya.
"Aku menunggu mu." Ujar Rosa lirih.
Reno tersenyum, hatinya terharu dengan sikap Rosa yang sepertinya sangat tidak rela berpisah jauh darinya, ia sangat senang karena merasa sangat di cintai oleh kekasihnya itu.
Reno mengusap sisa air mata di wajah Rosa, lalu mencium kening gadis itu sedikit lama.
Kini mereka telah berada di dalam bandara, Rosa terlihat sedang membuat cerita di laman Instagram miliknya, ia juga mengambil beberapa gambar dan juga vidio dengan ponselnya saat mereka tengah menunggu jam penerbangan Reno yang hanya tinggal beberapa menit lagi, menulis caption yang cukup sedih tentang perpisahan mereka.
Dan saatnya jam keberangkatan pesawat pun tiba. Rosa dan Reno pun harus berpisah, air mata Rosa tampak mengiringi kepergian Reno, lambaian tangan masih terlihat sampai akhirnya Reno menghilang dari pandangan Rosa.
***
Sementara itu di sekolah, sikap Rian dan Rossi nampak sedikit berubah, terlihat terjadi kecanggungan di antara keduanya dan itu sangat bisa di rasakan oleh Yuda yang memperhatikan tingkah mereka yang tak seperti biasanya.
Saat jam istirahat, Rian memilih menghindar dan tidak berkumpul seperti biasanya dengan Rossi dan Yuda, atau saat mereka bertemu, keduanya terlihat seperti salah tingkah dan saling cuek, membuat Yuda merasa ada yang lain diantara keduanya.
"Ros, itu si Rian kenapa ya?" Tanya Yuda, mencoba mencari tahu jawaban lewat Rossi.
"Kenapa apanya? Aku gak tau." Jawab Rossi, tapi ia terlihat gugup.
"Dia seperti menghindar dari kita sejak tadi pagi." Ujar Yuda lagi,
"Aku gak tau." Rossi membuang muka dari Yuda, ia tidak ingin Yuda melihat kebohongan darinya.
"Enggak kok." Rossi menggeleng kepalanya dengan cepat.
"Syukurlah. Oh ya, nanti kamu latihan kan?'' Yuda mencari topik lain.
"Kayaknya gak dulu deh, aku ikut pulang saja bareng kamu." Jawab Rossi. Tapi jawabannya membuat Yuda makin yakin terjadi sesuatu antara mereka.
"Tumben, biasanya gak pernah tinggal latihan?" Yuda menaikan satu alisnya
"Gak apa-apa, aku lagi males aja." Jawab Rossi asal.
"Gak biasanya." Ujar Yuda lagi, namun begitu pelan, hingga Rossi memilih berpura-pura tak mendengarnya.
Namun sebagai teman yang sejak kecil selalu bersama berdua, tentu saja Yuda dapat mengetahui adanya kebohongan yang sedang di sembunyikan oleh Rossi, tapi ia tidak ingin memaksa sahabatnya itu untuk bercerita saat ini, dia sangat yakin nantinya Rossi pasti akan memberitahunya sendiri.
Sudah belasan tahun bersama, tidak ada satu pun rahasia Rossi yang ia sembunyikan dari Yuda, begitu pun sebaliknya, jadi Yuda yakin Rossi pasti akan memberitahunya sendiri nanti.
Tapi rupanya rasa penasaran itu masih menghantui pikiran Yuda, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi Rossi di rumahnya setelah makan malam bersama kedua orang tuanya.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
Pintu rumah Rossi terdengar di ketuk dari luar.
"Ros, itu di luar ada tamu, tolong dilihat dulu." Ujar Nurmala ke pada putrinya dari dapur, ia masih sibuk mencuci piring bekas makan malam mereka, hingga meminta Rossi melihat siapa tamu mereka.
"Iya bu." Jawab Rossi, lalu bergegas keluar dari dalam kamar untuk melihat tamu yang berada di balik pintu rumahnya.
"Siapa malam-malah gini ke rumah ya?" Gumam Rossi.
"Yuda." Rossi terkejut melihat tamu yang berdiri di depan pintu rumahnya, karena biasanya Yuda pasti mengirim pesan dulu sebelum ke rumahnya.
"Aku ganggu gak?" Tanya Yuda sambil nyengir kuda.
"Ah kamu, seperti orang lain saja, ayo masuk.'' Ucap Rossi mempersilahkan Yuda untuk masuk.
"Kita ngobrol di sini saja ya." Jawab Yuda sambil menunjuk kursi yang ada di teras rumah Rossi.
"Ya sudah." Jawab Rossi.
"Siapa, Ros?" Terdengar teriakan pelan Nirmala dari arah dapur rumahnya, menanyakan siapa tamu mereka kepada Rossi.
"Yuda, Bu." Jawab Rossi.
"Oh.. Di suruh masuk, Ros." Ujar Nurmala lagi sambil menyibak gorden pemisah ruang tamu dan dapur rumahnya.
"Di sini saja, bu." Jawab Rossi sambil menoleh kepada ibunya. Nurmala pun kembali ke dapur, sedangkan Rossi langsung duduk di sebelah Yuda.
Yuda tidak langsung menanyakan hal yang membuatnya penasaran hingga akhirnya mengunjungi rumah sahabatnya itu untuk bertanya, karena ia tidak ingin mengganggu privasi Rossi, meski sebelumnya tidak pernah ada kata rahasia dalam sejarah persahabatan mereka.
Awalnya Yuda memilih topik pembicaraan mengenai pelajaran mereka dan juga keinginan mereka setelah lulus sekolah, obrolan-obrolan yang biasa mereka ucapkan saat sedang berdua diulang kembali oleh Yuda. Ia sedang mencari momen yang pas untuk bertanya prihal sikap Rian dan Rossi di sekolah tadi.
Sampai akhirnya Yuda melihat tawa bahagia dari sahabatnya itu, dan menemukan kesempatan untuk bertanya tentang sikap Rian dan Rossi yang terlihat saling menghindar.
Rossi terkesan menutupi dan memilih untuk tidak menceritakannya kepada Yuda, namun karena kegigihan Yuda bertanya, dan meminta Rossi untuk tidak menyembunyikan masalah apapun darinya, akhirnya Rossi tidak bisa lagi menutupi dan menceritakan tentang Rian yang menyatakan perasaannya kepadanya.
Yuda cukup terkejut dengan cerita Rossi, namun sebisa mungkin Yuda mencoba tenang.
"Perasaan apa ini?" Batin Yuda.
Karena tiba-tiba ada perasaan aneh yang menerpa dirinya. Ia merasa seperti tidak suka terhadap Rian yang tiba-tiba menyatakan perasaanya kepada Rossi, ia seakan takut kehilangan sahabatnya, karena dengan Rossi memiliki pacar, tentu persahabatan mereka akan merenggang.
Buru-buru Yuda menyadarkan dirinya. Ia tidak bisa egois, karena bagaimana pun Rossi berhak untuk memiliki pacar.
__ADS_1
Sebenarnya Yuda merasa senang dengan penolakan Rossi kepada Rian, tapi dia juga sedih karena sikap Rian dan Rossi yang terlihat saling menghindar dan cuek seperti dulu.